Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 80: Selingkuh dan Poligami itu beda


__ADS_3

Bayyin dan Afsheen sedang menikmati rujak bersama, di belakang rumah, berdua saja sambil bercakap-cakap, membicarakan acara pasaran yang tinggal dua hari lagi, dan keduanya akan kembali pulang ke rumah masing-masing.


”Umi bakalan sedih gak ya? Kita pulang?” Tanya Afsheen dan Bayyin membuang nafas panjang.


”Ya pasti, kita kasih paham aja ke umi. Kita kan harus bisa ngurus rumah tangga kita sendiri, cuma mungkin nanti, kita harus lebih sering kesini. Jangan kayak diawal, jarang banget, terlalu sibuk sama suami kita,” ucap Bayyin tegas.


”Iya," jawab Afsheen serak.


****


Di kamar Wafi dan Shafiyah. Keduanya sedang berbaring bersama. Wafi memeluk istrinya erat istrinya, dan begitu juga sebaliknya.


”Bi, pasaran berapa hari lagi?”


”Baru lima hari."


”Berarti dua hari lagi, aku udah pengen bobo malam sama abi tahu.” Keluh Shafiyah dan Wafi tersenyum seraya membuka mata.


”Cuma dua hari lagi, sabar ya.” Timpalnya lembut, sambil mengecup rambut berbau keringat itu, karena ulahnya.


”Abi betah ya di sana, kan banyak santriwati dari mana-mana, cantik-cantik.” Shafiyah cemburu, dan khawatir, perasaan yang wajar dialami para istri yang mengkhawatirkan kesetiaan sang suami.


”Habibah yang paling cantik." Puji Wafi sambil tersenyum dan Shafiyah mencubit dadanya.” Auw! sakit sayang."


”Gombal! muji aku supaya aku gak marah kan. Aku tahu!" ketusnya berucap dan bibirnya mencebik.


”Enggak sayang, kamu emang paling cantik buat aku, banyak lelaki juga di luar sana yang menginginkan kamu, tapi sayang udah aku ikat dengan ijab qobul. Mau apa mereka, gak bisa, maaf-maaf aja, kamu cuma punya aku!” tuturnya berdecak kagum kepada dirinya sendiri, karena sudah mendapatkan perempuan idaman para ustadz itu, dan kini yang dia sedang memeluknya.


Keduanya hening, tak saling bicara lagi, Wafi menggigit telinga Shafiyah dan Shafiyah menjerit kecil.


”Mandi,” ucap pria itu.


”Emm...!” Shafiyah menggeliat dan Wafi menahannya.” Aku mandi duluan."


”Aku dulu, aku mau ngajar. Kamu habis mandi makan ya." Wafi tersenyum manis, lalu mengecup sekali kening istrinya.


”Pengen jalan-jalan bi.” Pinta Shafiyah merengek-rengek, dia goyangkan lengan suaminya itu, berharap suaminya mau.


”Nanti, habis ngajar aku harus berangkat. Dua hari lagi, oke? sabar ya.” Tolak Wafi dengan alasan yang tak mungkin ia tinggalkan, Shafiyah mengangguk walaupun jujur dia sangat sedih.


Shafiyah menunduk dalam dan Wafi menarik dagu lancip itu. Shafiyah memang sangat manja, tapi tidak pernah memaksa. Sentuhan, pelukan dan ciuman suaminya adalah obat segala macam kegundahannya.


”Bibah anak baik kan, mau jadi seorang ibu, istri yang baik buat suaminya ini. Aku janji, nanti kita jalan-jalan.” Bujuk Wafi, berharap bisa menghibur Shafiyah yang kecewa padanya.


”Iya gak apa-apa.” Shafiyah tersenyum lebar, untuk membuat suaminya tidak cemas, tapi netra nya tidak berbinar-binar, tidak setuju dengan apa yang ia ucapkan. Wafi memberikan kecupan mesra di kening Shafiyah, lalu dia meraih handuk dan pergi untuk mandi.


Shafiyah diam, meringkuk lagi dengan kedua mata berair. Kenapa juga dia harus menangis? suaminya selalu menyempatkan pulang walaupun capek, memang seperti itu ibu hamil, sensitif dan kadang permintaannya menguji kesabaran Wafi.


Shafiyah perlahan turun dari tempat tidur. Melangkah sambil memegang perutnya. Dia buka lemari dan menatap semua pakaian yang tersusun rapi.


”Abi mau pakai warna apa hari ini?” seru Shafiyah, Wafi di kamar mandi tersenyum tipis.


”Hitam!" sahut pria itu dan Shafiyah tersenyum lebar.


Setelah menyiapkan baju suaminya, Shafiyah merebahkan tubuhnya sambil bermain hape. Tidak lama, Wafi keluar dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Shafiyah terdiam, melihat dada dan perut kekar suaminya basah. Begitu seksi.


”Abi makin seksi ya,” puji Shafiyah dan Wafi menoleh dengan terheran-heran.

__ADS_1


”Sayang, udah tahu yang seksi ya sekarang.” Wafi menggoda dan Shafiyah terkekeh. Wafi hanya tersenyum tipis dan Shafiyah bersiap untuk mandi.


”Aku ngajar ya!" seru Wafi setelah Shafiyah masuk.


”Ya!" Shafiyah menimpali.


Wafi pun akhirnya pergi. Tapi saat dia turun, uminya nampak sudah menunggunya. Wafi pun lekas mendekati, dan Raihanah tersenyum.


”Umi sakit?” Wafi bertanya sambil meletakkan punggung tangannya di kening Raihanah.


”Bahu umi cuma pegel," keluh wanita itu.


Wafi menggulung lengan bajunya, lalu duduk mendekat.” Aku pijitin ya," tawarnya.


”Kamu kan mau ngajar.” Raihanah mendorong tangan Wafi yang sudah sampai di bahunya.


”Enggak apa-apa, diem. Aku pijitin,” katanya lagi.


Raihanah diam, dia terus tersenyum. Pegal dan ngilu di bahunya mulai mereda, karena pijitan puteranya. Wafi hanya mengeluarkan sedikit tenaganya, takut uminya itu kesakitan. Raihanah menutup mata, saat Wafi mulai bersholawat, begitu merdu, memberikannya ketenangan.


Akhirnya, waktu sore Wafi dimanfaatkan untuk menyenangkan uminya sejenak. Raihanah sampai mengantuk sekarang.


"Pasaran gimana Mu?" tanya Raihanah.


”Alhamdulillah lancar. Enggak kerasa, dua hari lagi.”


”Kasihan Fiyah, sedih terus karena kamu gak ada. Ibu hamil sensitif a, kalau mau ngomong ya di jaga, kalau bukan kamu sebagai suami menjaga kesehatan fisik dan mentalnya, siapa lagi. Umi masih terus kepikiran, sikap keluarganya,” tutur Raihanah lemah.


Wafi diam sejenak, sambil membuang nafas panjang.” Umi gak usah khawatir, aku pasti jagain Shafiyah.” Ia menjatuhkan dagunya di bahu Raihanah, begitu manja dan Raihanah tersenyum, tangannya ke belakang, mengelus pipi puteranya itu lembut.


”Umi percaya sama kamu,” ujar Raihanah. Wafi menanggapinya dengan anggukan kepala.


”Neng,” panggilnya lembut. Istrinya yang sedang merebahkan tubuh di atas sofa sambil bermain hape menoleh.” Bukannya aku nyuruh kamu makan tadi?” Suaranya terdengar tidak terima, karena Shafiyah tidak menurut.


”Belum lapar," balas Shafiyah. Wafi mengelus rambut istrinya itu dan berhenti saat melihat Afsheen keluar dari kamarnya.


”Enggak iri, enggak iri, aku juga punya!" Seru Afsheen tiba-tiba dan keduanya terkekeh-kekeh.


”Aku ke masjid ya,” pria itu pamit dan Shafiyah mengangguk.


Semuanya bersiap untuk sholat magrib, setelah sholat magrib. Wafi pergi menuju tempat pasaran. Malamnya, seperti biasa. Afsheen selalu heboh jika ingin makan pedas, dia mengajak kedua ibu hamil itu makan seblak bersama dengannya. Ketiganya sedang di dapur, walaupun sudah pukul 9 malam. Raihanah sudah tidur, di kamarnya.


”Besok fotonya datang," ucap Shafiyah sambil tersenyum.


”Yang bener neng? Umi pasti seneng.” Bayyin tersenyum dan dia tidak sabar untuk melihat.


”Iya, pokoknya besok kita semua ngumpul lihat fotonya.” Shafiyah meraih segelas air lalu meminumnya.


”Mahal?" Tanya Afsheen, mengunyah makanannya lembut dan memperhatikan Shafiyah.


”Itu hadiah dari Fiyah buat umi, jangan khawatir." Shafiyah tersenyum dan mengusap bahu Afsheen.


”Makasih, kamu udah sayang sama umi,” lirih Afsheen.


”Keberuntungan yang aku terima, bukan hanya bersuamikan seorang Gus Mu, tapi juga mendapatkan mertua sebaik umi," imbuh Shafiyah dan kedua wanita itu tersenyum lebar. Keduanya merasa beruntung dan bersyukur, memiliki Shafiyah sebagai kakak ipar mereka.


”Aa pasti bakal jauh lebih sayang sama kamu.” Bayyin meraih jemari lentik Shafiyah dan Shafiyah terdiam. Keduanya saling melemparkan senyuman dan Afsheen memperhatikan.

__ADS_1


Ketiganya menoleh, saat hape Shafiyah bergetar. Bayyin melepaskan tangan Shafiyah, lalu Shafiyah meraih hapenya. Wajahnya yang bahagia, berubah mendung, saat membaca pesan dari fajar.


Kak Fajar:


Bang Seno datang, kita besok kumpul di restorannya Qais. Kakak jemput kamu besok, dan juga nanti kakak telepon Wafi buat minta izin.


Shafiyah mendelik sebal, kenapa bertemu tanpa mau melibatkan suaminya? Fiyah tidak membalas panjang lebar, dia hanya mengiyakan, lalu meletakkan hapenya kembali.


"Kenapa neng?" Bayyin bertanya.


”Enggak apa-apa, cuma chat dari temen,” jawab Shafiyah dan Bayyin mengangguk-anggukkan kepalanya.


******


”Apa ini?” Khalisah meneteskan air matanya. Membaca deretan pesan sang suami dengan gadis lain, yang dia kenali. Chairil sedang mandi, pagi ini dia akan pergi, entah kemana dan Khalisah sudah curiga dengan tingkah lakunya.


”Dia... Selingkuh?" Khalisah menyeka air matanya, merasa tidak percaya atas apa yang terjadi kepada dirinya saat ini. Suaminya berkhianat? menjanjikan status istri kepada gadis lain. Lagi-lagi, Khalisah membaca chat tersebut, untuk memastikan, jika matanya memang tidak salah.


”**Aku takut sama teh Khalisah,” chat dari Romlah.


”Saya bakal ngomong sama Khalisah nanti, yang penting kamu mau apa enggak?" Balas Chairil.


"Iya, saya mau Gus."


”Syukurlah kalau begitu. Tunggu kabar selanjutnya dari saya, setelah istri saya setuju, kita akan menikah. Cuma satu permintaan saya neng, tolong hargai Khalisah, bagaimana pun sikap dan tutur katanya.” Balasan terkirim**.


Khalisah menampar pipi nya sendiri, untuk menyadarkan dirinya.


”Enggak, ini gak mungkin, gimana bisa dia begini sama aku. Romlah! Kurang ajar!" Geram Khalisah. Dia mengenggam hape suaminya kuat, lalu bangkit dari tepi ranjang dan melangkah pergi. Meninggalkan bayinya yang sedang terlelap begitu saja.


Chairil masuk ke kamar setelah selesai mandi, dia kebingungan melihat Khalisah tidak ada. Padahal, istrinya tidak pernah meninggalkan anak mereka, kecuali mendesak.


”Khalis!" Panggil Chairil, dia melangkah keluar dari kamar dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Khalisah di rumah.” Kemana dia?" Ia bertanya-tanya, sampai suara tangisan bayi di kamar membuatnya panik dan melangkah cepat untuk segera melihat bayinya.


Di pesantren, Khalisah mencari keberadaan Romlah. Shafiyah yang sedang memakai sepatunya memperhatikan.


”Kenapa Khalisah kelihatannya marah? Ada apa ini?” Shafiyah cemas. Dan memakai sepatu hak cepat, dia melangkah pergi untuk menyusul. Kedua matanya membulat, melihat Khalisah melemparkan hape ke punggung Romlah.


”Dasar murahan!" Khalisah tak ragu memaki. Romlah meringis dan memegang punggung nya.


”Ya Allah," lirih Shafiyah dan mempercepat langkahnya." Ustadz Aidan, ustad!" Panggil nya lantang dan Aidan yang baru keluar dari Aula menoleh.


Shafiyah menunjuk Romlah yang kini sudah di tampar Khalisah. Aidan panik dan setengah berlari mendekati pertengkaran.


”Hiks!” Tangis Romlah pecah dan Khalisah menggoyangkan tubuhnya sekuat tenaga.


”Kurang ajar hiks! Kenapa harus suami saya! Kenapa? apa gak ada laki-laki lain di dunia ini, kenapa harus suami orang yang kamu goda? Apa kamu gak punya perasaan, saya kira kamu perempuan baik-baik, tapi nyatanya... Cih! Murahan." Khalisah mendorong tubuh Romlah tapi Aidan lekas menahannya, tatapannya mengarah kepada Aidan saat ini.


”Kita bisa bicarakan baik-baik, cukup! Malu, banyak yang lihat, kamu menganggu kenyamanan orang lain Khalis." Shafiyah menahan Khalisah dengan merangkul bahunya kuat.


”Sha, hiks! Dia yang menganggu pernikahan aku sama suami aku Sha. Dia orangnya, dia mau menikah dengan suami aku yang jelas-jelas sudah beristri, anakku belum lama lahir ke dunia, dan abinya sudah ingin menikah lagi. Kenapa dia jahat sama aku Sha? Dia jahat hiks!" Khalisah terus menangis dan Shafiyah merasa hancur berkeping-keping mendengarnya, dia sebagai sepupu Khalisah, apalagi Khalisah sendiri. Entah, kehancuran seperti apa yang dirasakan sepupunya itu sekarang.


Shafiyah juga menangis, dia memeluk Khalisah erat dan menatap Romlah tajam.


”Ini masalah pribadi, bukan persoalan tentang Pesantren. Ikut saya, kita selesaikan semuanya sekarang juga. Kita cari jalan terbaik, dan teh Romlah, tolong kerjasamanya." Shafiyah berucap lirih, dan menggiring Khalisah pergi. Aidan menatap tajam Romlah, lalu mencekal pergelangan tangan adiknya itu. Aidan menatap layar ponsel retak milik Chairil, dimana isi chat percakapan adiknya dengan Chairil terpampang nyata.


”Romlah! Benar yang aku dengar ini?" Sewot Aidan dan Romlah hanya bisa menunduk." Asstaghfirullah hal adzim, mau di simpan dimana muka aku Romlah. Dan kamu, seorang pengajar, bermesraan dengan suami orang di chat, menganggu rumah tangga orang, apa itu bisa dibenarkan? Poligami bukan dosa, tapi dengan kamu menerima menjadi madu dengan cara murahan seperti ini. Kamu merendahkan diri kamu sendiri." Aidan menarik lengan adiknya itu.

__ADS_1


Suaranya berat, kedua matanya berkaca-kaca, betapa malunya dia sekarang, dan ingin segera pergi saja meninggalkan Pesantren yang sudah menjadi tempat tinggalnya cukup lama itu.


__ADS_2