
Suara tangisan bayi akhirnya terdengar, semuanya berseru mengucap syukur atas kelahiran anak pertamanya Chairil dan Khalisah. Wafi menatap jam tangannya, pukul 17:15 menit bayi tersebut lahir. Bibirnya tersenyum dan melirik Shafiyah yang nampak tegang.
”Neng kenapa?" tanya Wafi sambil mengusap bahu Shafiyah.
”Aku takut," bisik Shafiyah dan Wafi tersenyum tipis.
”Istighfar, jangan sampai rasa takut kamu itu jadi kenyataan. Khalisah udah lahiran, sebentar lagi kamu dan Bayyin.” Wafi berbisik lagi.
”Hah? teh Bayyin hamil?" tanya Shafiyah dan Wafi mengangguk.
”Niyyah sama Bayyin udah di rumah, Bayyin chat aku tadi,” tuturnya dan Shafiyah tersenyum.
”Alhamdulillah." Shafiyah bergumam.
Wafi melepaskan tangannya dari bahu Shafiyah, dia beralih dengan meraih tangan istrinya dan istrinya diam. Hanya tersenyum tipis dibalik cadarnya.
Setelah keluarga menunggu dengan rasa khawatir dan penasaran, akhirnya bayi dibawa keluar, digendong oleh perawat dan di susul Chairil.
”Perempuan," kata Chairil penuh suka cita.
”Alhamdulillah.” Seru semuanya.
Ibu Khalisah mengikuti langkah menantu dan perawat yang membawa cucunya. Shafiyah hanya melihat sekilas, bayi perempuan itu, begitu lucu dan cantik.
”Aku jadi gak sabar, mau lihat anak-anakku nanti," gumam Shafiyah, lalu mengelus perutnya." Nak, anak-anak umi Habibah sama abi Mumu, sehat-sehat ya sayang kalian berdua.” Gumamnya lagi sambil tersenyum. Wafi menoleh dan memperhatikan gerakan tangan Shafiyah, dia tersenyum, melihat ketidaksabaran Shafiyah dengannya ternyata sama. Wafi tersentak, saat hape Shafiyah di tas selempang nya berdering, semua mata tertuju dan Shafiyah menarik tas selempang yang menggantung di bahu Wafi. Dia mengambil hapenya, lalu melangkah menjauh, takut menganggu.
”Assalamu'alaikum kak," ucap Shafiyah lembut, panggilan masuk dari Qais. Entah berapa lama, dia dan Qais tidak bicara. Dengan Adi dan Seno masih suka saling menyapa, di media sosial. Walaupun begitu dingin, tidak seperti dulu.
”Wa'alaikumus Salaam, dek, ibu dirawat." Qais mengadu dan Shafiyah terdiam membeku.” Ibu sering sakit, setelah kamu pergi, temuin ibu dek."
”Fiyah gak pernah ninggalin ibu kak, jangan bilang begitu. Ibu dirawat dimana?”
”Kamu lupa sama ibu, setelah menikah sama pria itu.”
”Ya ampun kak, aku juga lagi di rumah sakit, Khalisah lahiran. Jangan ngajak aku debat."
”Di rumah sakit tempat Adi yang baru, gak jauh dari rumah kak Fajar, rumah sakit ****.”
Shafiyah terdiam sejenak mendengar nama rumah sakit tersebut, lalu dia mengedarkan pandangannya." Fiyah di rumah sakit itu juga kak, kamar berapa? ruangan mana?” tanya Shafiyah panik dan Wafi bangkit dari duduknya, mendekati istrinya yang nampak gelisah dan entah berbicara dengan siapa.
Qais akhirnya menyebutkan nomor kamar dan nama ruangan Sara dirawat. Shafiyah menurunkan lengannya yang mengenggam hape, dan Wafi memegang bahu istrinya itu.
__ADS_1
”Telepon dari siapa? kamu panik banget kelihatannya, ada sesuatu?" tutur Wafi dan Shafiyah mengangguk, ia mendongak dan menatap suaminya lekat.
”Ibu sakit, dirawat bi.”
”Astaghfirullah, ibu kenapa? ayo kita lihat, ruangan mana katanya neng?" Wafi ikut panik, dan Faiza mendekat.
”Mu, kenapa?” tanyanya sambil mengusap bahu Wafi.
”Ibunya Shafiyah sakit, katanya dirawat di rumah sakit ini, aku sama Shafiyah mau lihat dulu bi.” Wafi pamit.
”Ya sudah bibi ikut,” kata Faiza dan Wafi saling menatap dengan Shafiyah.
”Bibi kan lagi repot, di sini aja, takutnya kang Chairil butuh sesuatu bi," tutur Shafiyah. Bukan dia tidak mau, tapi dia takut sikap ibunya yang kurang baik, didapatkan Faiza juga.
”Iya bener juga,” imbuh Faiza, dan benar saja Chairil kini datang dan mencarinya.
Wafi dan Shafiyah akhirnya pergi, meninggalkan semua orang, mencari dimana kamar rawat Sara. Sangat kebetulan, keduanya bertemu dengan Meri.
Wafi merapatkan kedua tangannya dan menunduk, sementara Shafiyah menyalami tangan Meri dan memeluknya.
”Ibu dimana kak?" ujar Shafiyah dengan kedua mata berair, tak terbendung sampai akhirnya berjatuhan ke pipinya.
Sesampainya di kamar rawat dimana Sara berbaring, Shafiyah menatap ibunya lekat, ibunya yang sedang terlelap setelah meminum obat. Shafiyah mendekat, meraih jemari tangan kurus dan keriput itu. Menciumnya beberapa kali lembut, lalu meletakkannya di pipi.
”Ibu, ini Fiyah,” ucap gadis itu dan Sara yang mendengar, perlahan-lahan membuka matanya. Matanya langsung tertuju pada Wafi yang sedang berdiri dengan kepala tertunduk, lalu dia menoleh ke sebelah kanan, dimana putrinya duduk dan memegang tangannya.
Sara bahagia, anaknya datang, tapi untuk menantunya, dia masih belum bisa terima. Sara diam memperhatikan, Shafiyah yang sedang hamil. Sara menatap Meri, dan Meri melirik Wafi. Sara ingin berbicara, tapi hanya berdua dengan Shafiyah.
”Mu, keluar dulu ya,” ujar Meri dan Wafi merasa sakit mendengarnya. Ya Allah, kapan, ibu dari istrinya itu merestui? saudara-saudara istrinya merestui juga? Wafi lelah, capek dan itu sangat wajar. Dia juga khawatir, hal tersebut membuat Shafiyah stress, dan mempengaruhi kehamilan anak pertama mereka.
”Iya!" singkat Wafi dan dia meleos pergi, Meri juga keluar dan pergi menuju ke kantin. Adzan magrib sebentar lagi, akhirnya Wafi memutuskan untuk pergi ke mushola di rumah sakit tersebut, dengan raut wajah menampakan kesedihan.
Di kamar, Shafiyah masih menggenggam tangan ibunya erat, dan Sara menatapnya lekat.
”Baru ingat sama ibu?” tuduh Sara dan Shafiyah langsung menggeleng kepala.
”Fiyah tiap saat inget ibu, do'ain ibu,” imbuh Shafiyah dan Sara tersenyum miring.
”Kamu seolah lupa lahir dari ibu yang bernama Sara.” Tuduh Sara lagi.
”Bu, asstaghfirullah!” tandasnya.
__ADS_1
”Sekuat apapun kamu mencoba menjelaskan dan menunjukkan kebahagiaan bersama pria itu, ibu tahu kamu stress, di dunia zaman sekarang, cinta bukan hal utama Shafiyah. Harta adalah segalanya.” Sara berucap begitu yakin.
”Jika Fiyah bisa memiliki keduanya, itu lebih baik Bu. Dan hanya dari Gus Mu Fiyah mendapatkannya, apa ibu gak capek? terus memupuk benci sama suami Fiyah, apa ibu gak penasaran dengan cucu ibu yang masih Fiyah kandung ini?” suara Shafiyah serak, dibarengi tangis, kenapa bisa ibunya begitu keras kepala dan dia yakin suaminya tadi tersinggung karena di usir, untuk kesekian kalinya.
”Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, Ayahnya seorang napi, anak-anaknya akan menjadi apa nanti!” suara Sara mulai meninggi.
”In sha Allah, Fiyah sama Gus Mu bakal mendidik anak-anak kami dengan baik, atas dasar agama. Karena memikirkan dunia saja gak cukup Bu, dunia cuma tempat singgah, yang kekal abadi cuma di akhirat nanti. Bedanya, mau kekal di surga atau di neraka,” tuturnya jelas dan tegas, tapi tetap dengan intonasi lemah.
Sara langsung membuang muka, kenapa anaknya begitu susah di bujuk, jelas dia bisa melihat, Wafi adalah pengaruh buruk untuk anaknya. Sara diam, sampai akhirnya pemikiran gila melintas di pikirannya. Dia menoleh lagi ke arah Shafiyah, dan membalas genggaman tangan anaknya. Hal tersebut membuat Shafiyah terpaku, apakah hati ibunya terketuk? untuk memberikan restu padanya dan Gus Mu? Shafiyah senang, binar mata nya jelas penuh harap.
”Ikut ibu, kita urus anak kamu sama-sama, tapi jangan terus bersama pria itu, tinggalin dia. Ibu mau menerima anak kamu dan mantan napi itu, tapi ini harap kamu mau pergi sama ibu. Ayo nak!” Ujarnya penuh penekanan, Shafiyah sontak melepaskan genggaman tangannya. Penolakan dari sang anak membuat Sara meradang.
”Fiyah bisa ikut ibu, dengan izin a Wafi. Fiyah takut durhaka sama ibu, tapi Fiyah juga takut durhaka sama suami. Anak ibu ini sudah menikah, bukan berarti ikatan kita putus Bu, Fiyah sayang sama ibu, sayang banget. Tolong Bu, terima a Wafi,” tuturnya serak, dengan sorot mata sayu dan Sara menatapnya tajam. Lelah karena permintaannya terus ditolak Shafiyah.
”Kamu emang anak gak tahu diri Fiyah, pergi, terserah mau kemana dan jangan temui ibu lagi. Kalau hidup kamu sengsara, itu buah dari durhakanya kamu kepada ibu kamu ini,” gelegar nya mengutuk putrinya sendiri. Shafiyah merasa tersambar petir yang bersahutan, makian, hinaan dan sumpah serapah yang dia terima dari ibunya begitu menggores jiwa nya, luka di hatinya semakin menganga. Kapan berakhir? kapan Allah menjawab doa-doanya, dia yang terus meminta ibunya di buat luluh belum juga terlihat, tapi dia yakin, itu akan terjadi, nanti, walaupun entah kapan.
”Pergi!” jerit Sara emosi. Shafiyah tersentak, bangkit dan mundur menjauh, dia tidak sadar menabrak kursi yang dia duduki, hampir kehilangan keseimbangan tapi dia terus memegang meja, mempertahankan diri.
”Kamu akan nyesel nanti Shafiyah, anak yang aku kandung, aku lahir kan, aku rawat dan aku jaga malah besarnya menyiksa orang tua. Sangat salah, memasukkan anak ke pesantren, bukan menjadi manusia terdidik malah terus membangkang!” seru Sara lantang, dan Shafiyah menoleh saat suara pintu di buka. Sosok kakaknya Fajar muncul, dan nampak kaget melihat ibunya sedang marah-marah.
”Sha!" seru Fajar dan Shafiyah menangis.
”Bawa dia keluar Fajar! bawa adik kamu yang tidak tahu diri itu.” Tegas Sara meminta dan menatap Shafiyah tajam.
”Bu!" hardik Fajar frustrasi dan Shafiyah akhirnya keluar dengan tumpahan air mata. Fajar pun menyusul dan Sara berhenti, wanita paruh baya itu menangis sejadi-jadinya, merindukan anaknya yang sepenuhnya sudah menjadi hak pria yang dia benci. Kenapa takdir begini? takdir dan Tuhan dia salahkan, tidak paham arti rumah tangga yang sebenarnya, hakikat cinta dibawah naungan Allah SWT, tidak akan lancar sesuatu perkara jika Allah tidak menginginkannya. Bukannya dia Sang Pengatur, lalu kenapa manusia sibuk mengatur seolah dunia adalah milik dan hak nya.
”Kenapa anakku jadi begini! kenapa? dia sama sekali gak mau mendengarkan apapun yang dikatakan ibunya hiks!” teriak Sara terus mempertanyakan, tanpa berkaca pada diri, apa saja yang sudah dia lakukan. Kebahagiaan bagi orang tua adalah anak-anak yang Sholeh dan Sholehah, tapi bagi Sara, anak-anak yang baik adalah anak-anak yang memikirkan duniawi, untuk kelangsungan hidup, bukan kebaikan dunia dan akhirat.
Di lorong, Shafiyah menapaki lantai rumah sakit yang dingin, dan berwarna putih itu dengan langkah kaki yang begitu pelan. Adzan magrib pun berkumandang, dia berhenti dan duduk di kursi panjang. Sambil mendekap tas nya erat. Fajar mendekat, dia duduk dan memberikan satu botol air mineral.
”Sha, ibu masih begitu, tapi kakak yakin ibu akan luluh sebentar lagi, kita gak tahu kapan waktunya. Tapi percaya Sha, ibu gak seburuk itu.” Fajar mencoba menenangkan.
”Keburukan ibu memandang agama, dan kebaikannya hanya memandang dunia. Begitu kan kak?” celetuk Shafiyah dan Fajar membuang nafas panjang.” Kapan? seperti apa? jujur, aku stress banget kak. Apalagi kemarin kak Adi bilang, ibu sama ayah mau cerai, beneran itu kak?” sambungnya serak, dengan tangisan yang semakin hebat.
Fajar menunduk, tidak bisa menjawab, Herman saat ini saja tidak terlihat batang hidungnya.
”Aku belum sempat ngomong sama ayah, kalau kamu ketemu, coba bujuk ayah Sha.” Fajar meminta, lalu tangannya terulur ke atas kepala Shafiyah, mengelusnya lembut. Shafiyah diam, tidak berkata-kata lagi. Sampai akhirnya, suara adzan Magrib berakhir dan dia harus segera ke mushola.
”Khalis udah lahiran, aku sekarang mau sholat,” ujar Shafiyah dan Fajar mengangguk.
”Kita pergi sama-sama,” ajak Fajar dan Shafiyah mengangguk. Keduanya pun bangkit, melangkah pergi menuju mushola.
__ADS_1