
Setelah melihat bayinya dengan seksama, memeriksa setiap inci kesempurnaan fisik kedua bayi nya, Wafi keluar dan mereka yang mau melihat, hanya bisa melihat lewat foto untuk saat ini.
”Masya Allah, cucu-cucu ibu,” tutur Sara dan terus menatap layar hape menantunya.
”Alhamdulillah, Mu,” ujar Fara dan mengusap-usap bahu Wafi. Pria itu sedang duduk dan menunggu Shafiyah keluar atau belum.
Seorang perawat pria mendekat. Wafi berdiri saat nama istrinya disebut, Shafiyah sudah sadar tapi hanya suaminya yang dia cari. Wafi lekas mengikuti langkah perawat dan istrinya akan dipindahkan ke ruangan rawat. Wafi yang hanya mampu kelas biasa, kebingungan saat istrinya dibawa ke sebuah ruangan VIP. Herman mengubahnya, tidak mudah baginya apalagi Adi juga bekerja di rumah sakit tersebut. Shafiyah belum banyak bicara, dia menutup matanya dan merasakan tubuhnya yang tidak bisa digerakkan.
Perawat pergi dan kini Wafi dan Shafiyah berdua. Wafi merapikan kerudung istrinya, lalu ia membungkuk, memeluk Shafiyah erat. Suara tangisan suaminya membuat Shafiyah juga ikut menangis.
”Kenapa? Abi cengeng banget si.”
”Aku sentil boleh gak si? Kamu gak tahu, aku hancur melihat tubuh kamu dilihat dokter dan perawat, aku sakit, saat perut kamu di sayat sayat. Sakit gak sayang? Istri abi kuat banget, Masya Allah,” tuturnya terus memuji, dan membelai wajah pucat Shafiyah.
”Aku udah boleh minum belum? Aku haus,” imbuh Shafiyah serak.
”Nanti kata dokter, sabar ya sayang.”
”Kaki aku gak bisa gerak, setengah badan aku kaku, a. Aku takut."
”Kata dokter, ini reaksi bius. Sabar ya, gak bakal kenapa-kenapa.”
”Aku mau lihat anak-anak kita, kenapa anak-anak aku gak ada bi?"
”Di ruangan bayi, nanti kamu bisa lihat anak-anak kita." Wafi tersenyum, ia menoleh dan keluarga datang. Shafiyah hanya melirik dan memperhatikan ibunya yang menang.
”Anak-anak kamu.” Sara memperlihatkan layar hape Wafi dan Shafiyah memperhatikan dengan seksama, air matanya menetes, melihat kedua bayi yang terus menggeliat di dalam perutnya, kini sudah lahir ke dunia walaupun dengan jalan operasi.
Wafi mengusap air mata istrinya lembut. Hape di tangan ibu mertuanya bergetar, panggilan masuk dari Hanan. Entah yang ke berapa kali, dari pagi sampai sekarang, pria itu terus menelepon gus Mu. Gus Mu menerima hapenya, dia pamit keluar untuk mengangkat telepon. Mungkin ada yang penting, sampai Hanan terus menelepon.
Wafi melangkah sambil berbicara dengan Hanan, Hanan datang dengan seseorang, yang sudah menunggu Gus Mu sejak pagi di toko. Bersikukuh ingin bertemu dengan gus Mu, sampai sekarang, Hanan membawanya ke rumah sakit tersebut. Hanan tidak tega, melihat orang yang ingin bertemu dengan Gus Mu adalah pria tua renta.
Wafi berhenti melangkah, dia melangkah lagi dengan langkah pelan, memperhatikan kasir dan kebingungan bagaimana membayar sisa biaya rumah sakit, untuk acara akikah nanti dan yang lainnya, dia tidak memiliki uang di atas tiga puluh juta, sementara biaya operasi Sc, sekita 18-20 juta.
”Bagaimana membayar semuanya? Ini sulit dan berat,” imbuhnya dalam hati. Wafi menunduk dan melangkah cepat, sepertinya, dia akan menjual mobilnya, walaupun bisa dipastikan, Noah akan sangat marah padanya.
Sepanjang ia berjalan, pikirannya bercabang dan tidak karuan. Sesampainya di luar, di teras rumah sakit, ia melihat Hanan dengan seorang pria renta, memakai setelan jas, membawa tas.
”Itu Gus Mu, anaknya almarhum pak Kyai Fashan Ali,” ujar Hanan dan pria itupun menoleh ke arah Wafi. Wafi hanya diam mematung, ikut memperhatikan, pria yang menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dia terheran-heran dan akhirnya memberanikan diri mendekat.
”Kamu... Anaknya, Fashan?" lirih pria itu bertanya. Tangannya begerak, menyentuh bahu tegap gus Mu.
”Iya, saya anaknya abi Fashan,” Wafi menjawab dengan canggung.
__ADS_1
”Kita bisa bicara? Ini tentang uang, nak,” tutur pria itu dan Wafi menunduk lesu.
”Ya Allah, apa abi punya utang? Beban saya sudah banyak, apa bisa ujian saya jangan ditumpuk begini, ya Allah. Jika abi punya utang, dan ini memberatkan abi, hamba janji akan melunasinya, tapi sekarang, keadaan hamba sudah sangat bingung...” Keluh Wafi dalam benaknya.
Wafi dan pria bernama Jafar itupun pergi, ke sebuah restoran sederhana di seberang rumah sakit. Jafar memesan makanan, Wafi diam melamun.
”Berapa usia kamu, nak?" tanya Jafar.
”29, bapak kenal sama abi dimana?” Suaranya serak.
”Kami teman, teman sekolah.” Ja'far menarik tas yang dia bawa ke atas meja. Mendorongnya ke hadapan Wafi. Wafi diam dan tidak paham.
”Apa abi saya punya utang? Berapa? Saya akan bayar, saya janji. Tapi tidak sekarang, istri saya baru melahirkan dengan operasi, apa bisa memberikan saya keringanan waktu, pak?" tuturnya mengemis iba. ”Saya miskin, saya hanya punya uang untuk proses persalinan istri saya sekarang, tolong pak." Wafi menunduk dan kedua matanya merah, tak mampu dia menahannya.
Jafar tersenyum, melihat tanggungjawab yang begitu besar, sahabatnya memang tidak salah mendidik anak.
”Saya yang punya utang sama abi kamu, ini uangnya, saya kembalikan dalam bentuk tunai, seperti abi kamu memberikannya kepada saya juga dalam bentuk tunai. 60 juta, saya sudah menghitungnya berulangkali, tapi takut salah,” tutur Jafar dan Wafi menyenderkan punggungnya kasar.
”Pak...” Wafi menggeleng kepala, entah pria di hadapannya jujur atau bohong, apa ini sebuah jebakan? Dari orang-orang yang tidak menyukainya?
”Demi Allah, saya tidak ada niatan menunda membayar, tapi saya baru mampunyai sekarang. Saya pernah terlilit hutang, keluarga saya kelaparan, saya dan Abi kamu bukan teman yang dekat, saya mendatanginya saat Abi kamu ada acara besar di Jambi, saya memohon-mohon, meminta pinjaman, setelah saya dapatkan, seminggu kemudian, saya mendengar Abi kamu meninggal, jujur... Saya ikut syok." Jafar menunduk, betapa lekatnya dalam ingatan, bagaimana teman yang menolongnya itu tersenyum, tertawa, dan tak sungkan membantunya. ”Fashan Ali pernah bilang sama saya, hartanya begitu susah dihabiskan, disedekahkan malah terus bertambah, dibagikan juga sama, Fashan sangat takut, kekayaaan nya menjadi hisab nya menjadi lama nanti, dia bilang, beruntung bertemu dengan saya, bisa memberikan rezekinya dan dia bilang juga, semua yang terjadi karena takdir Allah. Entah kenapa Allah begitu susah memberikan saya jalan, untuk membayar hutang yang besar ini, karena saya takut, sebelum saya mati, hutang saya masih belum lunas,” sambungnya berat. Matanya berair dan Wafi juga menangis mendengarnya. Sejatinya, sedekah tidak akan pernah membuat kita miskin, semakin bertambah dan mendapatkan pahala, begitu Besarnya Kebaikan Allah. Kegiatan yang begitu menguntungkan, tapi begitu berat untuk dijalankan, apalagi untuk dibarengi dengan rasa ikhlas.
Betapa menyesalnya ia, karena sudah suudzon kepada Allah dan abinya, ini bantuan? Di saat kesusahan mendera, Allah hadirkan sosok masa lalu dari sang ayah untuk membantunya. Tubuh Wafi berkeringat dingin, tangannya bergetar hebat, dia sangat ingin berteriak-teriak, memanggil abinya. Sudah tiada, tapi kenapa, bantuan dari abinya terasa nyata. Tidak ada yang mustahil jika Allah sudah berkehendak, hadiah dari Fashan Ali untuk kelahiran cucu kembarnya, sebuah bantuan dari Fashan Ali, untuk sang anak yang dirundung beban.
”Ya Allah, Abi...” Jeritnya begitu pilu, dia membungkuk dan menutupi wajahnya yang merah karena menangis. ”Abi... Terimakasih, untuk semuanya. Terimakasih udah bantuin aa.”
Permintaan Wafi saat kecil.
Wafi sering naik motor gede milik abinya ketika sedang di parkir, berulang-kali jatuh dia tidak perduli, dia sering dibonceng di bagian depan, dan kedua adiknya di belakang, berkeliling kampung atau berkeliling pesantren bersama abi mereka, adalah kegiatan favorit, setiap senja datang, dan jika abi mereka tidak sibuk.
”Abi, aa kalau udah gede mau motor gede ya,” pintanya begitu polos, sambil mengusap-usap motor abinya, dan Fashan yanh sedang menuliskan daftar jadwal, di sebuah buku note books berwarna kuning, menoleh.
”Iya a, nanti abi beliin." Gus Fashan tersenyum manis.
”Enggak, aa mau beli sendiri,” Wafi bersikukuh.
”Abi beliin, tapi kalau aa udah kuliah nanti. 19 tahun,” ujarnya memberikan syarat.
”19 tahun, Abi? Aa baru 6 tahun sekarang.” Wafi mengerutkan kening, dan mendekati abinya. Dia naik ke atas pangkuan abinya itu, duduk di sana, yang lebih kokoh dari sebuah kursi yang terbuat dari kayu mahal sekalipun.
"Iya masih lama, belajar yang rajin, do'ain Abi, semoga ada rezekinya, buat beliin kamu moge dan membiayai pendidikan kamu sampai sarjana." Dia belai rambut anak laki-lakinya itu lembut.
”Aa mau jadi atlet bela diri, gak mau kuliah," Wafi mendelik dan Gus Fashan terkekeh-kekeh.
__ADS_1
”Kamu belum paham nak, pendidikan dan hobi itu penting, yang lebih penting, kamu memahami ilmu agama, supaya bisa bantuin abi ngurus pesantren." Berusaha berikan paham.
”Kan Abi ada,” celetuknya asal, anak berumur 6 tahun, mana paham dengan ucapan abinya yang selalu serius.
”Tapi abi pasti akan menua. Kamu harus belajar, jaga sikap, jaga amarah, supaya semua orang menghargai kamu karena perilaku, bukan sebatas dihormati hanya karena gelar seorang "Gus".” Gus Fashan tersenyum, lalu memeluk Wafi erat, menggelitik pinggang anaknya itu sampai Wafi tertawa-tawa di atas pangkuannya.
Sebuah harapan dan doa seorang ayah, di usia 19 tahun. Berharap anaknya berjaya karena prestasi, tapi nyatanya. Anaknya masuk penjara, karena membunuh dua tersangka, yang melecehkan anak perempuannya.
****
”Saya gak tahu, harus ngomong apa. Tapi... Saya ngerasa ini mimpi,” tutur Wafi dan Ja'far tersenyum.
Jafar mengeluarkan buku note books berwarna kuning, yang sudah usang, di makan usia. Buku itu tertinggal di acara, dan Ja'far sempat membacanya,
hendak mengembalikan, tapi dia terlanjur syok saat tahu Fashan tiada. Dan berniat mengembalikannya sekalian membayar utang.
Wafi menerimanya dan memeriksa setiap lembaran yang sudah memudar. Dia tersenyum, melihat coretan nya sendiri, di buku abinya. Wafi terus memeriksa dan memperhatikan setiap lembaran catatan abinya. Dia berhenti di sebuah kertas bertuliskan nama Fashan, Raihanah, dan ketiga anak mereka.
”Aa, Abi sayang sama aa, Abi marah karena Abi sayang. Aa masih kecil, gak tahu mana yang baik dan buruk, kalau udah besar, pasti aa ngerti, kenapa abi melarang ini, dan itu. Sehat-sehat ya, semua anak-anak abi, dan juga kamu, sayangku Raihanah.”
Wafi tersenyum tipis membacanya, jemarinya meraba-raba tulisan tersebut lembut.
Jafar meminta Wafi menanda tangani surat yang membuktikan pelunasan semua utangnya, Jafar merasa lega, dan memberikan selamat juga atas kelahiran anak kembar Wafi dan Shafiyah. Dia tidak bisa melihat, karena harus segera kembali ke Jambi. Tak sia-sia dia datang, utangnya sudah beres, rasa rindu kepada Fashan Ali sedikit terobati, setelah melihat Wafi.
Malam semakin larut, Wafi menemani Shafiyah dan keluarganya datang, uminya begitu senang bisa melihat cucu kembarnya, Afsheen dan Bayyin apalagi, ingin menggendong tapi tidak berani. Di kamar rawat, Shafiyah menangis. Merasakan perih dan ngilu bekas operasi. Bius mulai melemah, Wafi terus menyemangatinya. Sakitnya melahirkan normal ada akhirnya, tapi sakit dengan operasi SC sampai tahunan pun masih terasa, mau melahirkan normal ataupun Sc, keduanya sama, bertaruh nyawa dan sangat mulia.
”Pengen lihat Athalla sama Albanna bi,” rengek Shafiyah.
”Kamu gak bisa jalan dulu, pakai kursi roda ya,” tutur Wafi dan Shafiyah mengangguk.
Wafi pun pergi untuk mencari kursi roda, dan bertanya kepada dokter atau perawat, apa dia bisa membawa istrinya keluar ke kamar bayi.
... 🌿🌿🌿...
... Muhammad Athalla Faiq Zainul Majdi....
...Muhammad Albanna Faiz Zainul Majdi....
...🌿🌿🌿...
...Gus Mu kembar Pesantren Al Bidayah, keluarga Majdi, keluarga dengan duka, suka, dan cinta 🍁...
__ADS_1
Ucapkan selamat buat kelahiran si kembar gemoy gaes🌿