
Raihanah dan putrinya Afsheen sedang menikmati bakso bersama. Keduanya hanya berdua di rumah. Afsheen lebih dulu menghabiskan bakso nya, lalu dia membuka hapenya, pesan masuk dari Aa tersayang. Wafi mengirimkan foto Shafiyah yang sedang tidur dan bersandar di bahunya, Wafi nampak menahan tawa di foto tersebut. Dan Afsheen juga terkekeh.
”Mi, katanya Fiyah tidur terus. Di kantor tidur, di bus tidur." Afsheen mengadu dan Raihanah tersenyum.
”Biarin aja, capek kali.” Raihanah menyahut.
”Mi, kayaknya aa mau berhenti kerja deh,” ucap Afsheen tiba-tiba dan Raihanah tersentak.
”Hah! kenapa? aa kamu bilang sesuatu?” tanya Raihanah panik.
”Enggak si, cuma dia ngeluh terus, kalau dia ngerjain sesuatu yang dia gak suka biasanya gak bakal lama, mau gaji nya besar sekalipun. Kalau itu kejadian, bukannya kita harus mendukung umi? pekerjaan memang mapan di perusahaan, tapi untuk kenyamanan itu menambah beban." Afsheen berterus terang dan Raihanah menunduk sedih. Dia tidak bisa memaksa, tapi dia berharap Wafi memikirkan kelangsungan hidupnya, apalagi dia sekarang sudah menikah.
”Umi kurang setuju sebenarnya, dia udah nikah, kamu juga tahu keluarga Shafiyah kayak apa. Cuma ayahnya sama Fajar yang mendukung, kalau aa kamu pengangguran lagi, kerja serabutan, umi takut keduanya bakal benci sama Aa kamu lagi Niyyah," ujar Raihanah serak dan Afsheen langsung mendekat.
”Iya sih umi, tapi kasihan aa,” imbuh Afsheen dan Raihanah mengangguk.
********
Setelah Fiyah puas terlelap, gadis itu bangun dan suaminya sedang makan. Wafi diam memperhatikan jemari lentik itu meraih potongan mentimun dari nasi kotak nya. Dia membiarkannya.
”Sudah kenyang bobo nya?” tanya Wafi dan Shafiyah tersenyum.
”Hehe iya, lama ya? masih jauh gak a?” ucap Shafiyah sambil merangkul lengan suaminya.
”Masih lama, makan dulu ya." Wafi menawari dan Shafiyah mengangguk, Shafiyah mengambil nasi kotak nya tapi Wafi malah menyuapinya.
”Fiyah mau makan sendiri,” ucap gadis itu dan Wafi mencebik.
”Enggak mau di suapi?" Wafi nampak kecewa dan tatapannya begitu sayu.
”Kami sibuk menyuapi aku kalau begini. Aa makan aja yang banyak, aa sibuk, bukan sekedar piknik, harus punya tenaga banyak,” tutur Fiyah menjelaskan agar suaminya itu tidak salah paham padanya. Wafi tersenyum, dan mengelus pucuk kepala Shafiyah.
”Ya sudah, ayo makan kalau begitu,” ujarnya dan Shafiyah mengangguk-anggukkan kepala.
Setelah makan selesai, keduanya bergenggaman tangan, Shafiyah terus menatap keluar kaca bus dan Wafi memperhatikan kedua kelopak mata dengan bulu mata lentik itu dengan seksama, bergerak-gerak memperhatikan sekitarnya, Wafi tersenyum. Setiap jengkal tubuh Shafiyah adalah kebahagiaan baginya, setiap yang diucapkan gadis itu adalah penyemangat dan juga bisa jadi penggugur semangatnya. Suami mana yang tak bahagia, memiliki istri tak banyak menuntut dan ridho dengan nafkah sedikit maupun banyak yang diberikan sang suami. Tapi Wafi, dia sangat ingin bisa mencukupi semua kebutuhan istrinya, in sha Allah dia akan selalu berusaha, jika dengan materi tidak mampu, maka dengan sikap dan perilaku yang akan dia perbaiki.
”Sayang." Wafi memanggil dan Shafiyah menoleh.
”Apa?” ucap Shafiyah.
”Aku mau cerita, biar gak bosen.”
”Ya udah sok," ucap Shafiyah sambil tersenyum.
”Aku dulu waktu kecil sebenarnya tukang ngintip,” tutur Wafi dan dia langsung menerima pukulan di lengannya.
”Ih gak boleh tahu, entar bintitan."
”Serius dulu sering ngintip orang pacaran.”
”Ih!" Shafiyah ketus.
”Tahu gak siapa yang aku intip?"
"Siapa emangnya?"
”Abi sama umi,” ucap Wafi dan Shafiyah kini tersenyum lebar.
”Jahil tukang ngintip, kamu waktu kecil pasti nakal ya a." Shafiyah mengejek dan Wafi tertawa renyah.
”Aku dulu sering kesel, karena Abi deketin umi terus. Umi lagi masak, umi habis sholat, ada kecemburuan dihati seorang anak lelaki berumur 6 tahun kala itu. Aku sering bertanya-tanya, kenapa sih aku gak diajak, kalau umi sama abi lagi bercanda, ketawa, aku kesel, beda sama Niyyah dan Bayyin yang belum ngerti. Pas aku deketin, keduanya itu langsung ngejauh, langsung diem, kan aku kesel,” tutur Wafi mulai menceritakan, Shafiyah sangat ingin tertawa sepuasnya tapi banyak orang, dia hanya bisa cekikikan sambil menenggelamkan wajahnya ke dada Wafi.
__ADS_1
”Kenapa aa bisa kepikiran begitu si? ya ampun," ujar gadis itu dan terus terkekeh.
”Ya enggak tahu, banyak momen yang kami lalui sama abi, Abi sering pergi berdakwah pulangnya lama, terus sering ngajakin kita semua jalan-jalan, Abi baik banget orangnya, sampai akhirnya abi gak ada," ucap Wafi serak dan Shafiyah pun mengusap-usap dada suaminya itu.
”Kok jadi sedih si ceritanya a,” lirih Shafiyah.
”Semua manusia pasti meninggal kan? aku juga cukup susah menerima kepergian abi. Sampai aku tumbuh dari hari ke hari, dari tahun ke tahun sambil belajar ngaji, sekolah, bantuin umi. Dari semua kitab yang aku pelajari, aku baru paham kalau ternyata abi selama ini berusaha menjadi suami yang baik, begitu juga dengan umi, kisah cinta romantis yang membuat aku tersentuh ya cuma kisah Abi sama umi, umi itu sayang banget sama Abi, umi bisa ajak menikah lagi dan dipaksa sama Abah, tapi umi gak mau. Aku yang paling sensi kalau ada yang deketin umi apalagi sampai datang ke rumah, muak banget apalagi sama ayahnya Amran, aku sama Amran pernah berkelahi dulu.”
”Amran? ustadz Amran?"
”Ya iya siapa lagi, aku pukul matanya, hidungnya, pipinya, hidungnya sampai berdarah."
”Kasihan tahu, terus sekarang aa sama ustadz Amran gimana?"
"Ya biasa aja sekarang mah. Dia dulu sering deketin Bayyin, itu juga yang aku gak suka."
"Iya sih emang, ini juga pernah jadi gosip di asrama santriwati."
”Yang bener neng?"
”Iya, ustadz Amran sering deketin Ning Bayyin, sampai akhirnya dia menikah sama anaknya ustadz Jaidi."
”Oh pantes mereka berduaan terus, ternyata mertua dan menantu.” Wafi baru paham sekarang dengan hubungan keduanya.
”Aku awal masuk ke pesantren benar-benar kagum sih pas denger cerita tentang pak kyai, Bu nyai, dan semua keluarga kamu. Tapi aku sempat mau keluar dari pesantren, saat tahu ada Gus yang terlibat kasus pembunuhan, maafin Fiyah ya a, Fiyah juga sempet salah paham,” tutur Shafiyah sambil menggenggam tangan suaminya erat. Wafi tersenyum dan melepaskan genggaman tersebut, lalu merapihkan cadar istrinya.
”Semua orang pasti berpikiran begitu, gak apa-apa, yang penting kita udah sama-sama. Dari kapan kamu mondok neng? terus sejak kapan di cadar?"
”Aku masuk ke pondok kan awalnya karena ketahuan main, terus ada temen sekelas cowok yang ikut, kakak-kakak aku marah kan, apalagi ibu sama ayah, terus akhirnya aku dimasukin ke pondok aja katanya. Tadinya mau di pesantren Uwa, orang tuanya Khalisah tapi aku sama Khalisah berantem terus, takutnya gak bener, akhirnya uwa nyaranin ke kak Qais buat bawa aku ke pesantren Al Bidayah. Setelah dua tahun mondok, aku langsung dicadar, walaupun ditentang sih, bener bener susah, udah 7 tahun di pesantren keluarga a wafi, Alhamdulillah aku banyak belajar, ” ucap Shafiyah dan Wafi tersenyum simpul.
”Sekitar kelas dua SMP?"
”Iya bener, aku gak ngerti apa-apa, stres banget karena kehidupan di pesantren banyak banget peraturannya, aku sampe sering sakit sama pingsan terus. Capek, apalagi banyak senior yang ngajakin berantem mulu," tuturnya sambil mencebik bibirnya. Dia kesal membayangkan bagaimana dulu awal-awal masuk pondok.
”Ih enggak, orang diem terus, kata mereka Fiyah judes sama senior, ketus terus, so' cantik, ah pokoknya banyak banget yang dijadiin alasan." Shafiyah menyangkal dan Wafi terkekeh.
”Tapi emang muka kamu jutek sayang, cantikan jutek manis jadi satu,” ujar Wafi dan Shafiyah cemberut.
”Masa sih?" ketus Shafiyah.
”Tuh, apalagi kalau lagi judes begitu. Waktu pertama kali aku deketin, kamu gitu kan neng, judes banget."
”Ya harus, biar gak dipandang murah.”
”Bagus sih, malah jadi tambah suka sama penasaran."
”Kenapa bisa suka sama Fiyah?"
”Awalnya biasa aja kan, cuma makin lama diperhatiin kok pendiem banget, tapi sekalinya senyum sama ngomong bikin meleleh, gak tahu deh kenapa bisa suka sama Bibah, padahal aku udah rencana gak nikah dulu setelah keluar dari lapas, pengen cari kerja dulu, mapan dulu, tapi pas lihat kamu malah pengen kawin, sama takut, takut keburu di serobot orang. Apalagi Aidan waktu itu gak mau kalah, heuh males deh tuh anak, rese!" tutur Wafi dan nada bicaranya terdengar begitu kesal saat menyebut Aidan. Shafiyah tersenyum dan Wafi menyenderkan kepalanya di kepala Shafiyah, tapi Shafiyah mendorongnya karena berat.
”Kita udah sama-sama sekarang, semoga bisa kayak umi sama abi ya, susah seneng tetep sama-sama,” ucap Wafi dan Shafiyah melayang mendengarnya.
"Aa jangan pernah ada niatan buat poligami ya, Fiyah gak mau."
”Dapetin kamu susah Habibah, penuh perjuangan, sakit dan air mata. Gak mungkin setelah aku dapat, aku sia-siakan, apalagi menyakiti kamu dengan mendua, tetep di sebelah aku ya, apapun keputusan yang aku ambi, tolong di dukung.” Wafi berbicara begitu tulis, dengan suara lembut dan mengelus punggung tangan Shafiyah, Shafiyah mengangguk dan diam saat punggung tangannya dikecup oleh suaminya itu.
*****
Di rumah sakit, Khalisah berbaring begitu lemah, jarum infusan menancap di punggung tangan kanannya, gadis itu mengalami dehidrasi. Dengan setia, Chairil menemani. Khalisah dibawa ke rumah sakit tadi malam, setelah pingsan tidak sadarkan diri. Chairil sangat khawatir, dengan kondisi istri dan calon bayinya di dalam sana. Chairil mengelus perut istrinya lembut, dan Khalisah membuka matanya.
”Sayang,” imbuh Chairil.
__ADS_1
”Umi sama baba udah kesini belum?” tanya Khalisah yang sangat merindukan orang tuanya.
”Masih di jalan, kan jauh, belum lagi macet, semua pasar buka hari ini, sabar ya,” tutur Chairil lalu Khalisah menepis tangannya. Khalisah belum mau punya anak, tapi dia hamil sekarang. Chairil terlihat kesal karena tangannya ditepis kasar.
”Kamu kenapa si? marah-marah terus, itu gak baik buat kandungan kamu Khalis," ujar Chairil.
”Capek banget, aku gak kuat, muntah terus, mual, kepala pusing, kamu kira itu gampang a?” ketus Khalisah dan Chairil mendesah kasar.
”Istighfar, kita sudah diberikan kepercayaan untuk menjadi orang tua, jangan bicara begitu." Chairil menegur, bukan kali ini saja gadis itu mengeluhkan keadaannya.” Hamil gak mudah, aku tahu, tapi ini sudah menjadi kodrat seorang perempuan sayang, sabar ya.” Chairil berseru lagi, lalu mengusap kepala istrinya itu.
Di luar, Faiza diam memperhatikan, dia tidak suka wajah ketus Khalisah kepada putranya, apa gadis itu tidak bisa bersikap sopan kepada suami? dia perhatikan, setiap saat selalu jutek dan ketus, jangan sampai Chairil berpaling, sesuatu hal yang sangat dikhawatirkan Faiza. Seorang pria sangat wajar bila ingin diperlakukan baik, bukannya seorang istri juga mau diperlakukan seperti itu? saling memahami, dan saling menghargai.
Di tempat lain, keluarga Shafiyah berkumpul, tapi Fajar tidak diajak. Herman tersudutkan dengan ucapan-ucapan anak sulungnya Seno. Pria paruh baya itu dianggap paling salah dalam pernikahan Shafiyah dan Gus Mu.
”Dia memang seorang Gus, tapi dia seorang kriminal, apa ayah gak berpikiran sampai kesana? apa ayah gak takut dengan kehidupan anak perempuan ayah satu-satunya?” ketus Seno. Lalu membuang muka saat Herman menatapnya.
”Ayah lebih takut jika Shafiyah dan Wafi melakukan kesalahan, kesalahan fatal karena dihalangi," ucap Herman serak.
”Jika begitu, berarti benar dia bukan pria baik-baik." Timpal Adi sinis.
”Buktinya, apa Wafi pernah menyentuh Shafiyah? dia bukan pria brengsek seperti Farel." Herman menyindir dan Sara langsung terusik.
”Ayah sudah terpengaruh,” ujar Seno.
”Hal seperti itu sama sekali gak ada, ayah bahagia melihat Fiyah bahagia."
”Ini baru beberapa hari, lihat kedepannya, mereka gak bakal bertahan lama, menikah tanpa restu dan tanpa ridho.” Sara berseru tegas dan Herman mendelik sebal.
”Hanya Allah yang mengatur semua kehidupan manusia di dunia ini, kita gak bisa menerka-nerka, takutnya jadi doa Sara. Cukup, jangan begini lagi,” lirih Herman dan Sara tidak perduli.
”Coba telepon Fiyah, ada dimana dia sekarang!" titah Sara. Seno langsung mengeluarkan hapenya dan membuat panggilan kepada adiknya. Di tempatnya, Shafiyah terkejut, melihat panggilan masuk dari kakak sulung, apa dia akan kena omel, kena marah atau lebih dari itu? satu yang dia khawatirkan, takut dipisahkan dari suaminya.
”Halo, assalamu'alaikum, dimana kamu?" tegas Seno.
”Wa'alaikumus Salaam kak Sen, aku lagi ada acara, kenapa?"
”Kakak udah di Bandung, lagi di rumah ayah ibu," tutur Seno dan Shafiyah semakin panik.” Kapan pulang?”
”Nanti malam, soalnya jauh," jawab Shafiyah gugup.
”Besok kita ketemu, di restoran Qais. Sendiri, kakak mau bicara," imbuh Seno dan Shafiyah menggigit bibir bawahnya kelu, dia sangat takut, mendengar nada bicara kakaknya itu saja membuatnya berkeringat dingin.” Sha?"
”Emmm iya kak, siap. Besok ya kita ketemu." Shafiyah menyanggupi lalu panggilan berakhir.
Rombongan piknik sudah sampai di tempat wisata, pada pukul 11. Shafiyah baru selesai sholat, bergantian dengan suaminya. Wafi setelah selesai pun datang, dengan rambut basah karena air wudhu dan dia mendekati Shafiyah yang melamun.
”Neng!” panggil Wafi.
Shafiyah tersentak dan memukul bahu suaminya itu.” Aa, Fiyah kaget."
”Pukul terus, tampar sekalian." Wafi kesal dan Shafiyah terkekeh-kekeh.
”Kan mukulnya, mukul manja, gak sakit kan?"
”Enggak tahu ah,” ucap Wafi sambil cemberut dan Shafiyah mencubit pipinya.
”Eh a, kakak Fiyah datang, besok. ngajakin ketemu.”
”Yang mana?" Wafi bingung.
”Kak Seno,” ucap Shafiyah dan Wafi terdiam.” Mau ketemu kak Sen di restoran, mau ikut? biar kenal.” Ajak Shafiyah padahal jelas-jelas Seno ingin dia sendirian, mendengar ucapan Shafiyah, Wafi paham. Seno mengajak Shafiyah, dan Shafiyah malah mengajaknya.
__ADS_1
”Kamu aja ya,” kata Wafi dan Shafiyah melihat raut wajah suaminya langsung berubah.