
Setelah acara akad selesai, Raihanah juga nampak tidak tenang setelah tahu kedatangan mendadak Noah, dan anak-anak besok harus sekolah, setelah Dzuhur. Semuanya sepakat untuk melanjutkan perjalanan, kembali ke Bandung.
”Emang bang Noah gak ngasih kabar teh?” tanya Faiza.
”Enggak, tahu-tahu datang. Takutnya ada yang penting, tapi aku udah minta buat nginep aja, buat beberapa hari," imbuh Raihanah menjawab.
”Semoga, cuma mau lihat teteh aja, gak ada yang perlu dikhawatirkan,” Faiza menenangkan.
”Aamiin, Za.” Raihanah tersenyum. Faiza juga tersenyum lalu menoleh, memperhatikan Chairil yang sedang memperhatikan kebersamaan Wafi dan Shafiyah. Andai, Khalisah dan anaknya ada di sisinya, mungkin dia tidak akan merasakan sepi yang begitu menyiksa seperti sekarang. Chairil bahkan tidak menyangka, rupa yang terlindung kain cadar itu menyimpan banyak kebahagiaan, dan Wafi yang mendapatkannya. Wafi pantas mendapatkan Shafiyah yang sangat baik, Chairil ikut berbahagia karenanya.
”Huff.." Shafiyah membuang nafas panjang, dia sudah duduk di dalam mobil dan memegang perutnya. ”Ya Allah, kapanpun anak-anakku lahir, semoga sehat selamat, begitu juga dengan aku, umi mereka. Lancarkan semuanya ya Allah,” imbuhnya berbisik-bisik sambil terus memegang perut. Dia diam saat suaminya masuk, di susul yang lain juga.
”Maaf, kalau jamuan kami disini kurang baik, terimakasih semuanya udah datang," tutur Ahmad, kepada Yaman dan Nafis.
”Sama sekali enggak, semuanya kami suka, kami yang pasti merepotkan,” timpal Yaman. Dan Ahmad menggeleng kepala. Obrolan terus berlanjut, Afsheen dan Salam nampak tidak nyaman di mobil Musa, karena banyak bingkisan makanan. Keduanya melangkah ke arah mobil Wafi, berharap masih bisa masuk. Keduanya akhirnya bisa masuk, di paling belakang.
”Bi, gantiin aku nyetir,” pinta Wafi kepada Fara yang hendak masuk.
”Bibi mana kuat lama-lama, gila kamu,” sahut Fara dan Wafi terkekeh-kekeh.
”Cuma sejam, aku mau tidur sebentar. Nanti aku lagi yang nyetir,” tuturnya menjelaskan.
”Iya, kasihan aa, belum istirahat dia,” imbuh Afsheen yang tahu, jika semalam Wafi bergadang.
”Ya udah deh,” Fara menurut dan Wafi keluar, sambil memperhatikan Shafiyah yang menatapnya lekat. Fara masuk dan Wafi pindah ke tengah, ia memperhatikan keluar, dimana Raihanah dan Fahira masih bercakap-cakap.
”Jangan lupa nanti Shafiyah lahiran datang,” kata Raihanah.
”In sha Allah,” Fahira menjawab. ”Jaga diri baik-baik ya,” katanya lagi.
Raihanah mengangguk, lalu keduanya berpelukan hangat. Tidak lama, Raihanah masuk ke dalam mobil dan kaget saat melihat putranya, Wafi bergeser dan menyenderkan kepalanya di bahu Raihanah, tangannya perlahan memeluk perut uminya itu.
”Mit amit, udah mau punya anak juga, manjanya,” tutur Afsheen dari belakang dan Wafi hanya tersenyum. Dari depan Shafiyah menoleh, dan tertawa kecil melihat sikap suaminya.
”Fara, jangan ngebut ngebut,” tegur Raihanah.
”Ya enggak lah teh,” sahut Fara.
”Kasihan bang Chairil sendirian, kenapa juga Khalisah gak ikut,” suara Afsheen terdengar, berbicara dengan Salam di sebelahnya. Dia memperhatikan Chairil sedari awal keberangkatan, tidak banyak bicara apalagi bergurau, seperti biasanya.
”Bawa anak kecil kan ribet neng, mungkin Khalisah gak mau anaknya sakit juga, lelah di perjalanan,” ujar Salam.
”Bibi Hasna ikut tuh, anaknya padahal dua, emang dasar si Khalisah nya aja yang sensi,” sahut Afsheen sinis dan Salam membekap mulutnya dengan tangannya. ”Emmm..” Berusaha berontak.
”Neng diem," tegur Wafi saat melihat Faiza mendekat, untuk segera masuk. Afsheen diam dan Salam melepaskan tangannya.
”Jangan ghibah,” imbuh Salam berbisik.
”Kamu juga ikut-ikutan tadi,” timpalnya tidak mau kalah dan Salam hanya tersenyum.
Di atas pelaminan, Sabilla memperhatikan. ”Apa gak ada niatan sedikit saja, buat ngobrol sama aku sebelum pergi? Ungkapan perasaanku waktu itu, begitu merubah sikap kamu, Mu,” tuturnya dalam hati. Dia sangat sedih melepas semuanya pergi, dan kesedihannya di sadari suaminya.
”Neng.” Tangan pria di sebelahnya meraih tangannya, Sabilla tersentak, dan menepisnya kasar. ”Maaf,” imbuh pria itu, merasa malu dengan penolakan Sabilla yang sangat kasar.
”Kami pulang wa, assalamualaikum!” seru Wafi lantang dari dalam mobil, Fahira dan Ahmad tersenyum, lalu menjawab salamnya. Mobil rombongan Majdi perlahan-lahan bergerak, keluar bergantian, dari area pernikahan.
”Semoga selamat semuanya, sampai tujuan,” imbuh Fahira serak, lalu Ahmad merangkul bahunya, mengajaknya kembali untuk menjamu tamu yang baru datang dan pergi.
*****
Malam pun tiba, adzan isya berkumandang, rombongan sudah sampai di depan rumah Bu Nyai. Kepulangan memang santai, dan semuanya sempat menyinggahi tempat wisata sebentar. Kapan lagi bisa jalan-jalan, waktu sedikit sangat dimanfaatkan. Wafi dan Shafiyah keluar buru-buru, melihat Sara dan Herman duduk di kursi, di teras rumahnya. Sara dan Herman tersenyum lebar, dari dalam mobil Raihanah memperhatikan.
”Assalamualaikum,” ucap Shafiyah dan Wafi kompak.
”Wa'alaikumus Salaam,” jawab keduanya.
”Sayang,” ujar Sara, memeluk dan mencium anaknya lembut.
__ADS_1
”Ibu gak bilang mau kesini, udah lama?” Shafiyah khawatir.
”Ibu kamu maksa mau kesini, baru dua puluh menit kami nunggu,” Herman yang menjawab.
”Ya ampun Bu,” kata Shafiyah serak. Dia melirik belanjaan, entah apa yang dibawa ibunya. Baju bayi? Shafiyah mengernyit, melihat plastik dengan logo nama toko perlengkapan bayi di sebuah Mall.
Wafi menoleh sekilas dan dia lekas membuka pintu. "Ayah, ibu. Mari masuk,” ajaknya lembut. Dan mereka masuk.
Kini, Raihanah dan yang lain sudah keluar dari mobil, kecuali Bayyin dan Musa.
”Umi, aku mau nginep, takutnya ada apa-apa,” bisik Afsheen cemas.
”Enggak usah khawatir nak, kalau mau nginep, nginep aja. Kasihan Salam harus bawa motor, dia kelihatannya capek banget, nginep aja ya.” Tangan Raihanah mengusap bahu Afsheen dan Afsheen mengangguk.
”Umi, aku sama a Musa gak nginep ya. Ibunya a Musa kasihan sendiri,” kata Bayyin dan Raihanah menoleh. Dia mengangguk mengiyakan, Musa turun sebentar untuk menyalami tangan ibu mertuanya, setelah itu dia pergi meninggalkan Pesantren Al Bidayah.
Yang lainnnya juga pulang bergantian, setelah itu, Afsheen dan Raihanah melangkah masuk ke dalam rumah. Sara yang melihat Raihanah, langsung berdiri dan mendekat.
”Bu..." Raihanah menyapa.
”Emm iya Bu," Sara gugup. ”Bu nyai, saya minta maaf karena datang mendadak, tapi saya rindu dengan anak saya. Saya minta maaf, atas semua ucapan dan perilaku saya. Saya minta maaf Bu,” tuturnya serak, lalu menunduk malu. Mendengar ungkapan Sara, membuat Herman dan Shafiyah merasa kagum.
”Bu, kenapa harus begini. Yang lalu biarlah berlalu, saya sudah melupakan semuanya, dengan datangnya ibu kesini itu sudah cukup membuat saya yakin dan bahagia, bahwa anak saya Wafi sudah ibu terima. Dengan semua kekurangannya Bu," tutur Raihanah dan disambut dengan gelengan kepala Sara.
”Wafi yang terbaik untuk anak saya, ini telat, saya sadar setelah semuanya terlambat. Setelah semuanya yang saya lakukan, saya minta maaf,” tutur Sara lirih, lalu tatapannya beralih kepada Wafi yang duduk menunduk di sebelah Shafiyah. ”Wafi, maafin ibu,” imbuhnya berat dan Wafi mengangkat kepalanya.
”Ibu bersikap yang wajar, sebagai seorang ibu yang ingin kebahagiaan untuk anak perempuannya, apalagi satu-satunya. Mari kita lupakan semuanya bu, yang penting sekarang, kita sudah bersama. Sekarang, lebih baik, kita fokus untuk kelahiran Shafiyah. Dengan eratnya tali kekeluargaan kita, aku yakin, ini membuat Shafiyah menjadi tenang, iya kan sayang?" tuturnya lembut, setelah selesai dia menoleh kepada istrinya, dan Shafiyah mengangguk sambil tersenyum.
Sara tersenyum hangat, lalu berpelukan dengan Raihanah, saling meminta maaf lagi, dan semuanya hanyut dalam suasana haru. Setelah itu, Wafi dan Herman pergi ke masjid, Afsheen membuatkan minuman, teh hangat untuk semuanya. Sara diajak Shafiyah ke lantai dua, untuk melihat-lihat dan mengajak ibunya sholat. Setelah mandi, sholat dan minum susu. Shafiyah dan ibunya duduk di ruangan lantai dua tersebut.
”Ibu bawa baju bayi, buat si kembar nanti,” tutur Sara begitu antusias. Memperlihatkan semua baju bayi yang dia bawa, berwarna-warni dan berbagai macam model.
”Ini kebanyakan bu, Fiyah juga dibeliin sama kak Fajar, kayaknya Fiyah beneran gak usah beli baju buat si Utun ini mah,” imbuh Shafiyah dan Sara tersenyum. Shafiyah meraih setelan pakaian piyama bayi, lalu memperhatikannya, begitu lucu.
”Kamu beli yang lain, baju mah gak usah,” kata Sara dan Shafiyah tersenyum.
”Malu neng,” imbuhnya menolak secara tidak langsung. Shafiyah cemberut dan Sara tersenyum, wanita itu sibuk melepas bandrolan dari baju bayi, lalu melipatnya begitu rapi.
”Fiyah, bisa turun sebentar? Om datang," ajak Afsheen dan Shafiyah menoleh. Dia mengangguk, lalu mengajak ibunya juga untuk turun. Noah dan Sandy datang, mendengar semuanya sudah pulang. Sayang, Noah sedikit kecewa karena tidak bisa melihat Bayyin. Dan mungkin besok dia baru bisa bertemu dengan keponakannya itu.
Shafiyah dan Sara turun, betapa tegang dan terkejutnya wajah Sara saat ini, saat melihat anal lelaki Berhan Embrace. Noah nampak tidak perduli, dia hanya sibuk memandangi istri keponakannya yang sedang hamil besar.
”Assalamualaikum,” ucap Shafiyah. Dia merapatkan kedua tangannya dan Noah membalas, sementara Sandy hanya diam.
”Wa'alaikumus Salaam, nak." Noah tersenyum ramah. Tiba-tiba Wafi, Herman dan Salam juga pulang dari masjid. Herman dan Noah berjabat tangan ragu, lalu Noah memeluk Wafi erat, menepuk bahu keponakannya yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
”Aaagh!” Wafi meringis saat bahunya terus ditepuk kasar.
”Lemah dia sekarang,” cibir Noah dan Wafi mendelik.
Sara melipir, mendekati suaminya. Shafiyah pergi ke dapur untuk membantu Afsheen, dia bahkan masih memakai mukena—Terusannya— Shafiyah menyiapkan kue ke atas piring, dan Afsheen membuat kopi.
”Istirahat neng,” kata Afsheen.
”Enggak apa-apa, Fiyah bantuin. Umi dimana?”
”Umi tidur, kecapean. Paling om Noah sama Sandy nginep disini, Umi tidur gak bakal lama, soalnya banyak orang, pasti sebentar lagi juga bangun,” tuturnya menjawab dan Shafiyah mengangguk-anggukkan kepala.
Afsheen mengantarkan semuanya bergantian, di bantu suaminya, karena tiba-tiba Shafiyah merasakan ngilu kembali di perutnya. Wafi pun datang, dan melihat istrinya sedang duduk.
”Sayang.” Tangannya bergerak di kepala Shafiyah, mengelusnya lembut. Shafiyah meraih tangan suaminya itu lalu mengecup punggung nya. Wafi pun duduk, dan membenarkan cadar istrinya perlahan. ”Periksa yuk."
”Ih enggak, capek, Fiyah gak mau kemana-mana.”
”Kalau begitu, besok ya. Kita periksa.”
Shafiyah diam tidak menjawab.
__ADS_1
Wafi mengelus perut istrinya itu lembut dan keduanya menoleh saat Raihanah datang.
”Neng, ibu, sama ayah mau pulang katanya,” imbuh Raihanah dan Shafiyah lekas berdiri.
”Belum juga ngobrol banyak," celetuk Wafi dan Shafiyah menariknya, meninggalkan dapur.
Sara dan Herman sudah di luar menunggu. Keduanya menoleh saat anak dan menantu mereka datang.
”Bu, baru juga sebentar,” tutur Shafiyah.
”Pasti, nanti ibu kesini lagi, jaga diri.” Sara membelai pipi Shafiyah lembut. Shafiyah diam, apalagi saat keningnya di kecup penuh kasih sayang oleh ibunya itu, sudah lama dia tidak merasakannya.
”Jaga si neng,” pinta Herman kepada Wafi.
”Pasti ayah, mohon do'anya,” sahut Wafi.
”Datang ke rumah, kalau kalian gak sibuk, ibu tunggu,” imbuh Sara dan Wafi tersenyum.
”Ibu sama ayah pulang,” kata Sara dan memeluk Shafiyah kembali, hanya sekilas. Shafiyah diam dan kedua matanya berair, dia begitu berat melepas orang tuanya pergi. Bahunya kini dirangkul suaminya, Shafiyah menjerit kecil merasa ngilu dan Wafi melepaskan rangkulannya.
”Sayang,” ia panik. Dan Shafiyah diam. Wafi terus memperhatikan Shafiyah yang seperti kesakitan di lengannya, saat dia sentuh. Sara dan Herman berlalu pergi, mobil semakin jauh dari pandangan dan Wafi masih sibuk memandangi istrinya.
"Ikut sebentar,” ajak Wafi. Dia penasaran dan khawatir, ada apa dengan lengan Shafiyah.
”Fiyah mau masuk,” Shafiyah berucap. Dia meleos pergi meninggalkan suaminya yang langsung mendesah panjang, saat dia tinggalkan.
”Nginep disini ya kak,” pinta Raihanah.
”Enggak tahu, Sandy mau apa enggak,” jawab Noah dan Sandy mengernyit.
”Ya terserah ayah, aku ikut aja,” imbuh Sandy dan Raihanah tersenyum.
”Ya udah kita nginep aja,” ujar Noah, lalu meminum kopinya.
”Apa ada masalah?” tanya Raihanah cemas.
”Apa aku pulang hanya boleh ketika ada masalah, Rai? Aku mau melihat kamu, adikku," tandasnya menjawab dan semuanya tertawa.
”Sewot mulu,” cibir Wafi kepada om nya itu dan Noah tak perduli.
”Ya sudah, Niyyah siapin kamar buat Om sama Sandy,” titahnya dan Afsheen bangkit.
Afsheen pergi, menyiapkan kamar di lantai satu tersebut untuk om dan sepupunya. Raihanah memperhatikan Shafiyah yang terus menguap, lelah, dan mengantuk pastinya.
Malam semakin larut, semuanya pun bubar, mengakhiri obrolan di malam yang dingin ini. Semuanya pergi ke kamar masing-masing. Shafiyah bahkan menolak saat suaminya mengajak untuk bicara, dia mengantuk dan kini rambutnya sedang dimainkan suaminya.
”Cantik,” puji Wafi.
”Bi, Fiyah ngantuk."
”Ya iya sok bobo yang.”
”Ya kamu nya gak bisa diem." Menepis tangan Wafi, tapi Wafi menahan. "Aa!” Jeritnya kesal dan memukul dada suaminya itu. Wafi menahan tangannya, dan langsung menciumnya. Berusaha menolak pun tidak bisa, apalagi kakinya di tindih, kali berat dan besar suaminya itu. Setelah merasa cukup, Wafi melepaskan ciumannya. Shafiyah memukul dadanya kesal dan Wafi terkekeh-kekeh. Lalu mengecup bibir istrinya itu kembali. Shafiyah diam, mulai luluh, bakunya mulai di tarik dan dia tidak tahu niat suaminya yang sebenarnya. Setelah baju Shafiyah di tarik sampai ke perut, Wafi menarik lengan istrinya itu, dan memperhatikan lebam membiru, kehitaman di area sikut.
”Ini kenapa?” ujarnya dan Shafiyah menoleh, melihat lengannya sendiri. ”Siapa? Siapa yang bikin kamu begini, kulit kamu gampangan yang, kamu nyenggol meja aja suka langsung lebam, ini kenapa? Lebam banget.”
Shafiyah diam, tidak berani menjawab, dia menarik bajunya dan dia rapikan seperti semula.
”Enggak mau ngomong?” ketus Wafi.
”Aku gak apa-apa." Dia belai pipi suaminya itu, berusaha merayu, tapi tidak semudah itu. Wafi langsung menahan tangannya lembut.
”Bilang!” tegasnya.
Shafiyah diam dan kini ia menunduk.
”Sayang, bisa jujur?”
__ADS_1
”Iya, iya!” Shafiyah merasa kesal. Dan Wafi diam, untuk mendengarkan aduan istrinya yang susah mengadu itu. Shafiyah akhirnya menceritakan semuanya, obrolan panas dan sekilas nya dengan Sabilla. Sampai Sabilla menahan dengan mencekal lengannya kuat. Wafi meradang mendengarnya, emosi dan kalut.