
Siang sudah berganti malam, acara pernikahan sudah berhenti. Semua orang sedang membereskan sampah dan yang lainnya, Wafi diam termenung, sampai sekarang Shafiyah belum memberi kabar. Dia kirim pesan pun tidak ada balasan, dia jelas melihat, gadis itu sedang menangis tadi siang. Cadarnya basah dan kedua matanya berair. Ada apa dengan Shafiyah? Gus Mu sangat khawatir, gelisah dan gundah gulana.
”Wafi, kamu belum makan. Makan dulu sana.” Titah Ahmad.
”Iya uwa, nanti aja,” balas Wafi dan Ahmad menggeleng kepala. Wafi begitu susah makan, karena memang makan sekali saja cukup untuk Wafi. Dia tidak selera makan saat ini, dan akan sabar menunggu kabar dari Shafiyah.
*****
Hari ini, makan keluarga terjadi. Antara keluarga Shafiyah dan Farel, gadis itu nampak murung. Mengunyah makanan yang sudah masuk ke mulut sekenanya, tak ada sepatah katapun yang keluar. Dia hanya diam dan terus teringat dengan permintaan uminya Wafi.
”Shafiyah diem terus, kamu sakit?” tanya Jessie. Shafiyah diam, sama sekali tidak mendengar ucapan wanita paruh baya itu. Farel menoleh memperhatikan Shafiyah.
”Sayang," ucap Sara sambil menggoyangkan bahu Shafiyah. Shafiyah tersentak dan tangannya tidak sengaja menyenggol gelas, air tumpah ke gamisnya." Ya ampun." Sara panik.
”Tisu Tante," ucap Farel memberikan tisu dan Sara menerimanya.
”Hati-hati dong, kamu ini kenapa sih," gerutu Sara berbisik dan Shafiyah menunduk takut.
”Enggak apa-apa nak," ucap Herman dan menepuk bahu Shafiyah. Baru lah Shafiyah tersenyum lebar melihat ayahnya itu tersenyum dan menenangkannya.
”Fiyah izin ke toilet,” ucap Fiyah dan Herman mengangguk. Gadis itu bangkit dan melangkah pergi, tatapan Farel terus menangkapnya, menatap gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.
”Shafiyah pemalu banget ternyata,” ucap Jessie.
”Iya, maaf ya.” Sara tersenyum dan Jessie juga tersenyum.
”Bukan masalah, nanti juga dia terbiasa sama keluarga barunya,” tutur Jessie dan Sara mengangguk. Sementara Herman mendesah kasar mendengarnya, raut wajahnya nampak gelisah dan tidak suka dengan obrolan tersebut.
Tidak lama setelah Shafiyah pergi, Farel juga pergi. Para orang tua diam menunggu, sementara Shafiyah yang baru keluar dari toilet terkejut, saat tangannya ditarik kasar oleh Farel.
”Lepas!” tegas Shafiyah.
”Ikut!” bentak pria itu dan mencekal pergelangan tangan Shafiyah, sampai gadis itu merasa ngilu karenanya.
”Auw, sakit!" pekik gadis itu dan mulai tidak kuat menahan sakit di lengannya, belum menikah saja sudah berani kasar. Apalagi nanti, membayangkannya saja Shafiyah menggigil ketakutan. Apa benar pria itu yang dipilihkan orang tuanya? dia masih tidak percaya, dia korban bisnis antara dua keluarga. Kenapa harus dia? dan kenapa harus seperti itu, dia manusia, bukan barang. Dia anak perempuan satu-satunya, yang selalu dimanja sejak kecil, tapi setelah besar kenapa dia dipaksa berhadapan dengan pria seperti iblis itu.
”Kamu kenapa sih hah!" bentak Farel dan tak kunjung melepaskan tangan Shafiyah.
”Lepas, kita bukan mahram."
”Aku gak perduli." Bisik Farel dengan tatapan tajam dan mencengkeram kedua pipi Shafiyah saat ini, Shafiyah tersentak melihat kedua mata merah karena menahan amarah itu. Dia juga takut, Farel melakukan hal gila. Dan benar saja, Farel menarik ujung niqob Shafiyah, untuk melihat wajah gadis itu secara langsung. Shafiyah menepis kasar tapi Farel memaksa.
”Jangan hiks!”
”Sebentar aja, kita juga akan menikah. Aku mau lihat."
"Kamu gila! lepas!” suara Shafiyah meninggi. Berusaha melawan tenaga besar pria itu, ia tidak mampu. Kedua mata Farel membulat saat bahunya ditarik kasar, begitu kuat dan...
Plak! suara tamparan keras mendarat di pipi kirinya. Shafiyah merapihkan niqob nya lalu dia mengangkat kepala, betapa terkejutnya ia saat melihat Wafi yang menampar Farel.
”A Wafi hiks!" tangis gadis itu pecah, seolah ingin mengadukan semuanya tapi Wafi sudah melihat segalanya. Wafi mengikuti kemanapun Shafiyah pergi sedari rumah, karena gadis itu tidak ada memberi kabar.
"Kemari,” ucap Wafi tanpa menatap Shafiyah, dia tarik baju gadis itu. Menyembunyikan Shafiyah di belakang tubuhnya, Farel sampai tidak bisa melihat Shafiyah lagi, terhalang oleh tubuh besar Wafi.” Dia berusaha menjaga maruah nya, dan kamu berusaha melecehkannya? kamu gila atau sinting dan saya yakin keduanya.” Geram Wafi berucap sambil mengepalkan tangannya kuat.
”Jangan ikut campur, siapa kamu hah!” Farel tak ragu mendorong dada Wafi dan Wafi diam. Tiba-tiba Farel teringat dengan pria yang diceritakan Sara." Oh kamu pria miskin itu ya? yang bermimpi bisa bersanding dengan Shafiyah haha! beneran kata tante Sara, ini beneran lucu. Seorang laki-laki miskin mengidam-idamkan seorang putri raja, kamu bermimpi terlalu jauh.”
Shafiyah menunduk dan sakit hati mendengar penghinaan tersebut.” Terserah apapun yang mau anda katakan, Shafiyah akan saya dapatkan!" Wafi begitu percaya diri dan lagi-lagi membuat Farel tertawa.
”Ada apa ini?" teriak Romi dan ketiganya menoleh. Tatapan Sara dan tatapan Wafi beradu, Sara nampak geram melihat Shafiyah berdekatan dengan Wafi.
Herman melangkah mendekat lebih dulu, menarik Shafiyah dan Shafiyah menangis di pelukannya." Ayah hiks! Farel mau buka niqob aku tadi ayah. Aku gak mau, dia jahat ayah." Bisik Shafiyah dan Herman menatap Farel murka.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu!” teriak Herman.
”Enggak om.." Farel berusaha membantah.
”Itu benar, dia berusaha melecehkan Shafiyah,” timpal Wafi membenarkan.
”Heh kamu, jangan ikut campur ya. Mending kamu pergi." Usir Sara sambil mendorong Wafi agar lekas menjauh.
”Ibu," ucap Shafiyah menegur dengan suara serak. Lalu dia dan Wafi saling menatap, Wafi tersenyum lebar dan Shafiyah mendelik, bisa-bisanya pria itu tersenyum manis di situasi mengancam begini.
”Pulang nak, terima kasih sudah bantuin Shafiyah," lirih Herman meminta. Wafi terdiam mendengar ucapan pria itu begitu lembut padanya. Sara menatap suaminya tajam saat ini.
”Sama-sama. Assalamu'alaikum." Wafi tidak bisa tetap di sana. Dia pergi dan senang karena Herman meminta dengan penuh kesopanan, tidak seperti Sara.
”Wa'alaikumus Salaam.” Jawab Herman dan Shafiyah.
”Sebaiknya kamu menjaga sikap, anak saya ini sangat berharga. Memalukan," ucap Herman sambil menatap kesal pada Farel.
”Ayah," ucap Sara menegur dan Herman tidak perduli. Herman lekas membawa Shafiyah, tanpa berbasa-basi kepada keluarga Farel. Farel mendengus sebal dan Jessie mengusap-usap punggung nya menenangkan. Sara sangat malu, dan dia merasa suaminya sudah mulai luluh oleh Wafi. Ini darurat dan dia harus melakukan sesuatu, salah satunya mempercepat pernikahan Shafiyah dan Farel.
*****
Di tempat lain. Afsheen dibawa oleh suaminya ke rumah yang akan mereka tinggali. Belum banyak barang-barang di dalam rumah tersebut, dan entah kapan keduanya akan pindah.
”Kita harus selamatan dulu kan a pas pindahan kesini?" tutur Afsheen dan Salam mengangguk.
”Iya, pesan catering aja kali ya.”
”Boros atuh, masak aja.”
"Emang teteh mau masaknya?”
”Cuma nasi kuning aja kan, atau mau nasi uduk. Aku bisa," tutur Afsheen menyanggupi dan Salam tersenyum. Dia rangkul bahu istrinya itu dan Afsheen gugup. Di rangkul brondong.
”Kenapa? kan kita udah nikah, masih malu-malu aja si teteh mah," ucapnya sambil tersenyum dan Afsheen juga tersenyum.
Rumah tersebut bahkan belum di cat. Afsheen mau nuansa putih supaya terlihat mewah dan luas. Rumah dengan tiga kamar tersebut terletak di pinggir jalan, butuh waktu 3 bulanan membangunnya. Keduanya sangat bahagia, menikmati suasana pengantin baru yang masih kental. Keduanya tidak mau menunda kehamilan, dan berharap segera mendapatkan rezeki dan titipan terbaik dari Allah itu secepatnya.
****
Hari ini, Wafi diminta mengantarkan keluarga Noah ke bandara. Dia membawa mobil Nafis, Wafi menyetir dan tidak banyak bicara.
”Gimana Wafi, kamu mau gak kerja di cabang?" tanya Noah.
”Jauh om, males,” jawab Wafi.
”Bisa pulang pergi, lama di jalan sedikit ya gak apa-apa lah. Kerja di kebun gak ada kejelasan, yang ada kulit kamu gosong nanti, kena matahari terus."
"Aku kan cowok, harus LAKIK." Tegasnya dengan nada tinggi dan Noah tertawa.” Gosong gak apa-apa, kerjaannya halal. Itu yang penting."
"Kamu kira kerja sama om Haram?"
Wafi tersentak lalu tertawa.” Ya enggak gitu om, aku gak ngerti kerjaan di bagian seperti itu. Aku kontraktor, mana bisa kerja di perusahaan om. Gak paham aku."
"Ya belajar Wafi, nanti ada yang mengarahkan kamu. Pikirkan masa depan kamu, jangan banyak bermain-main, inget umur." Noah menepuk-nepuk bahu keponakannya itu dan Wafi diam.
Setibanya di bandara, Wafi berpelukan dengan Noah. Lalu dengan Sandy, dia merapatkan tangannya saat berhadapan dengan Jane dan anak perempuan Noah. Wafi diam menatap kepergian semuanya, Noah sempat menoleh dan melambaikan tangan lalu Wafi membalasnya.
Malam hari, Herman datang ke rumah Fajar diam-diam. Tanpa sepengetahuan istrinya Sara. Saat dia masuk ke kamar Shafiyah, gadis itu sedang melaksanakan sholat isya. Herman tersenyum, ia duduk di tepi ranjang dan memperhatikan seraya menunggu Shafiyah selesai.
Setelah gadis itu selesai, dia menoleh dan saling melempar senyuman dengan Ayahnya.
__ADS_1
”Ayah kesini,” ucap gadis itu seraya bangkit, melangkah mendekat dan menyalami tangan ayahnya.
”Iya, ayah kangen sama kamu. Sehat nak?" tanya Herman dan Shafiyah mengangguk.
Suara pintu dibuka dari luar membuat keduanya menoleh, dan melihat Fajar datang lalu masuk. Shafiyah tiba-tiba cemas, kenapa ayah dan kakaknya tiba-tiba datang dan mendekatinya begini.
”Ayah mau tanya," ucap Herman dan Shafiyah mengangguk.
"Ayah mau tanya apa?”
”Gimana hubungan kamu sama Gus Mu?” tutur Herman dan Shafiyah mencengkram mukenanya, dia gugup dan takut pria itu terluka lagi. Fajar diam, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memperhatikan wajah panik Shafiyah.
”Enggak tahu," jawab Shafiyah serak.
”Kenapa gak tahu?” timpal Herman cepat.
Shafiyah menggelengkan kepalanya, tidak mau menjawab apapun. Dia takut salah bicara dan Wafi menjadi sasaran. Fajar dan Herman saling menatap lekat, keduanya sudah mengobrol dengan baik, dan setuju untuk mendukung hubungan Shafiyah dan Gus Mu. Hanya tinggal Sara yang harus di bujuk, apalagi kegilaan wanita untuk untuk menikahkan Shafiyah dengan Farel semakin menjadi-jadi.
Sementara Sara, wanita itu tidak tinggal diam. Dia akan melakukan semuanya sendiri jika tidak ada yang mendukungnya, Herman pasti menurut padanya. Dan sekarang hanya Wafi yang harus dia urus. Sara yang sudah memiliki nomor telepon Wafi, akhirnya menelepon pria itu. Sara mondar-mandir dan menunggu sampai panggilannya di angkat. Wafi di tempatnya diam, menatap panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal, bukan nomor itu yang dia harapkan.
”Kenapa kamu menjauhi aku si, aku salah apa habibah,” lirih Wafi berucap. Lalu dia mengangkat panggilan tersebut, mungkin saja tentang hal penting menyangkut pekerjaan.
”Assalamu'alaikum,” ucap Wafi.
”Ini saya!” singkat Sara. Tapi wafi mengerutkan kedua alisnya, dia tidak mengenal suara itu.” Saya ibunya Shafiyah," sambungnya tandas.
Deg! Wafi serasa jantungan dan langsung bangkit dari duduknya. Ada apakah gerangan sampai wanita itu menelepon? tidak mungkin jika dia mendapatkan restu semudah itu dari Sara. Dari sikap Sara selama ini, dia bisa menyimpulkan jika wanita itu keras kepala. Tidak suka di tentang dan di keputusannya harus selalu di terima.
”Iya, ada apa Bu?" tanya Wafi begitu sopan.
”Sampai kapan kamu mau menganggu anak saya.”
”Saya sama sekali tidak pernah berniat seperti itu Bu, saya sayang sama Shafiyah," ucap Wafi tanpa ragu.
Sara mengepal tangannya kuat, merasa muak mendengar pengakuan Wafi." Kamu belum paham juga, keluarga kami dan keluarga kamu berbeda jauh. Bagai langit dan bumi.”
”Tapi bukannya langit dan bumi ciptaan Allah Bu? tempatnya yang berbeda, kedudukannya tetap sama, hanya ciptaan Allah." Wafi tersenyum setelah mengatakan semuanya, dia mendengar Sara mendengus.
”Jangan ceramah kamu, kamu itu gak punya apa-apa.”
”Saya punya diri saya sendiri, kedua tangan untuk bekerja dan kedua kaki untuk melangkah semau saya. Saya sayang sama anak ibu, biarkan saya berjuang dan selama saya gak menganggu ibu. Tolong biarkan saya tenang.”
”Lancang kamu ya!” bentak Sara begitu frustasi.
”Mumpung ibu menelepon saya, beri saya izin untuk memperjuangkan anak ibu.” Seru Wafi dengan suara lemah lembut. Sara melotot dan urat-urat di lehernya timbul karena emosi mendengar penuturan Wafi. Dia akui, pria itu memang sangat berani. Tapi salah tempat, dan dia tidak akan pernah menyerahkan Shafiyah.
”Kamu gak akan sanggup membayar mahar untuk menikahi anak saya.”
”Kalau boleh tahu, ibu mau apa?” tanya Wafi. Padahal hak meminta adalah hak Shafiyah, jika keduanya akan menikah, bukan hak orang tua atau pihak lain yang meminta.
”Saya mau mahar 500 juta, belum hantaran pernikahan, gedung, catering dan semuanya.” Jelas Sara merincikan apa saja yang harus diberikan Wafi. Wafi menyentuh lehernya yang terasa kering dan gatal mendengar permintaan wanita itu. Sungguh menyesal dia bertanya.” Panik kan kamu," sambung Sara sambil menyeringai licik.
”In sha Allah, akan saya dapatkan semuanya jika Allah berkehendak." Wafi berusaha tetap tenang dan pasrah, Sara meradang mendengarnya.
”Kamu cuma kuli serabutan.”
”Saya akan mencari pekerjaan lain, asal tahan Shafiyah hanya untuk saya bu.”
”Saya gak janji, saya butuh kepastian. Kecuali kamu mau kerja di luar negeri, di sana gajinya besar, dalam waktu beberapa tahun, kamu akan bisa mendapatkan bekal untuk melamar anak saya dan menikahinya. Itu juga kalau kamu mau.” Sara terus tersenyum dan berharap pria itu mau pergi jauh meninggalkan tanah air. Wafi diam membisu, apa dia harus pergi mencari pekerjaan di luar negeri? dua tahun, tiga tahun, mengumpulkan uang walaupun dia sadar. Uang sebanyak itu tidak akan mudah dia dapatkan. Karena Wafi diam saja, Sara merasa senang sudah berhasil memperdaya pria itu.
”Siap kamu pergi dan mencari pekerjaan yang lebih baik?" tegas Sara bertanya. Wafi menutup matanya sejenak, mengambil nafas panjang dan dia yakin dengan keputusannya.
__ADS_1
”Saya siap, asal ucapan ibu bisa saya percaya.” Balas Wafi dan Sara tersenyum kecut.