Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 74: Gak doyan


__ADS_3


...-----...


...✍️...


Pagi ini, adalah pagi di hari weekend. Tidak ada hari weekend untuk Wafi, tiap hari adalah bekerja. Di toko yang semakin ramai dan pesanan kue yang semakin banyak. Wafi sedang meluruskan kakinya, punggungnya bersandar di bahu ranjang tempat tidur. Saat mendengar suara langkah kaki Shafiyah, pria itu langsung merebahkan tubuhnya dan pura-pura tertidur.


Shafiyah cemberut, saat dia mendapati suaminya terlelap. Cahaya terang matahari yang semakin meninggi masuk menerobos celah-celah pentilasi udara, dan juga menerobos kaca jendela, Wafi tidak tahan dengan silau nya, tapi harus dia tahan supaya tidak ketahuan.


”Masih pagi udah tidur lagi!” Shafiyah mulai mengomel dan Wafi sangat ingin tertawa mendengarnya. Shafiyah terdiam sejenak, sampai akhirnya dia terpaku melihat keindahan pahatan wajah suaminya. Dia pun akhirnya naik perlahan-lahan, lalu menatap bibir suaminya lekat. Shafiyah mendekatkan bibirnya ke bibir suaminya ragu, takut menganggu tidur pria itu. Rambut panjang nya yang tidak dia ikat hampir terurai ke wajah Wafi, dan Shafiyah lekas menahannya.


”Ck!!” Wafi terkekeh dalam hati. Saat hembusan nafas istrinya menerpa kulit wajahnya, perlahan dan begitu hangat. Kini semakin dekat, dan Wafi lekas membuka matanya. Shafiyah tersentak, Wafi menciumnya tepat di sudut bibir lalu menahan punggung gadis itu.” Jadi ini orangnya, yang sering cium cium kalau aku lagi tidur hmmm?”


Shafiyah berusaha mundur, kedua tangannya menopang tubuhnya di dada suaminya.


”Siapa? aku gak gitu!" tidak mau mengaku dan Wafi mengecup bibir istrinya itu lembut. Lalu membelai wajah cantik istrinya.


Shafiyah diam dan memperhatikan tangan dan sorot mata sayu suaminya. Dia salah, salah karena mendekati suaminya.


”Mau.” Rengek Wafi dan tebakan Shafiyah benar.


”Enggak mau! capek!" tolak Shafiyah dan Wafi melongo mendengarnya, kenapa Shafiyah sekarang begini? apa kehidupan rumah tangga yang kurang dalam segi finansial membuat gadis itu mulai sadar, dan hendak meninggalkan nya? mengkhianatinya? pikiran Wafi tidak karuan.


”Ayang udah gak doyan sama aku?” tanya Wafi ketus. Lalu mendorong Shafiyah menjauh darinya." Pengen yang muda kali ya.” Insecure dengan umur.(🤟).


”Bi, jangan cemberut!” merengek-rengek.


”Aku mau ke toko!" Ketus Wafi.


”Ya udah hayu!" ajak Shafiyah dan Wafi mendelik.


”Enggak ah, terpaksa kayak gitu mah!” tolaknya lemah, terdengar menyedihkan, sampai dia beringsut perlahan-lahan lalu turun dari tempat tidur.


”Siapa yang terpaksa, aku gak gitu a!" berusaha merayu.


”Enggak!" tandasnya menolak, terlanjur kehilangan selera.


”Aku belum Siap-siap, kalau siang-siang aku malu sama umi."


”Emang umi nontonin kita? alasan aja kamu mah,” ujar pria itu yang sudah meraih serta memakai pecinya, dia berdiri di depan cermin lemari, lalu Shafiyah bangkit dan mendekat, dia peluk tubuh suaminya itu dari belakang, mengusap-usap dadanya berharap bisa membujuk agar tidak marah lagi. Semakin besar kehamilan, Shafiyah kehilangan selera untuk berhubungan, banyak ibu hamil di luar sana yang mengalami hal seperti Shafiyah. Komunikasi yang tidak baik akan membuat pertengkaran atau prasangka seperti hubungan Wafi dan Shafiyah saat ini.


”Bi, maaf."


”Iya, awas dulu, aku mau kerja.”


”Bi!"


"Iya, apa?" terdengar begitu dingin.


”Ayo!”


”Jangan yang, kamu istirahat aja, aku gak bakal maksa kamu. Kasihanilah si Utun juga,” Imbuhnya seraya berbalik dan memegang kedua bahu Shafiyah." Aku gak marah, beneran!"


Shafiyah diam dan menatap suaminya nanar." Aku tahu abi marah."


”Asstaghfirullah hal adzim enggak umi!” berusaha meyakinkan tapi Shafiyah membuang muka.” Pakai kerudung sama cadar kamu, takutnya ada tamu atau siapa, aku mau pergi cari nafkah, do'ain ya,” tuturnya, lalu mengecup kening dan bibir Shafiyah sekilas. Shafiyah menghela nafas panjang lalu menghembuskan nya kasar." Jangan cemberut."


”Iya, abi hati-hati di jalan.” Akhirnya ia melepas suaminya untuk pergi.


”Nanti pulang mau dibawain apa?"


”Enggak tahu.”


”Ya udah terserah aku ya, yang pasti aku bawa. Kamu harus banyak makan sama istirahat."


”Aku besok mau puasa, punya utang puasa dua hari lagi."


”Besok hari Senin, ya udah aku temenin kamu puasa besok, aku beli vitamin juga nanti." Wafi tersenyum dan Shafiyah mengangguk. Shafiyah menutup matanya, menerima ciuman dari suaminya lagi. Setelah merasa cukup, Wafi melepaskannya. Lalu mengusap bibir basah Shafiyah dengan ibu jarinya.


”Aku pergi dulu," imbuh pria itu, lalu berlutut dan berpamitan juga kepada dua bayinya di dalam rahim sang istri." Abi pergi ya, cari rezeki buat kita semua, nendang-nendang nya jangan kencang-kencang ya nak. Assalamu'alaikum,” Tuturnya lemah lembut lalu mengecup perut istrinya tiga kali, Shafiyah terus menunduk, memperhatikan suaminya dan senyumannya terpatri di wajahnya. Wafi bangkit dan saling menatap lekat dengan istrinya.


”Hati-hati," imbuh Shafiyah, dia raih tangan suaminya lalu menciumnya perlahan.


”Iya, assalamu'alaikum."


”Wa'alaikumus Salaam.”

__ADS_1


Wafi pun pergi, Shafiyah tidak mengantar karena dia ingin membereskan isi lemari.


...------...


...✍️✍️...


Di tempat lain, Sara dan Herman berseberangan, keduanya sedang berada di sebuah restoran. Herman meminum jus nya, sambil memperhatikan istrinya yang begitu kurus kering saat ini. Siksaan batin yang dia ciptakan sendiri, menggerogoti kesehatan dan pikirannya. Herman khawatir, bagaimana pun istrinya, itu juga karena dirinya yang tak bisa membimbing. Herman berhenti, setelah menghabiskan setengah gelas jus nya.


”Apa kamu diet?” tanya Herman.


”Enggak, buat apa!” sinis nya menjawab.


”Makan yang benar, tepat waktu, kamu masih istriku Sara.”


”Aku udah bilang, aku mau cerai!” tegasnya!.


”Pikirkan lagi, apa kamu yakin? anak-anak kita gimana?" suara Herman semakin melemah.


”Anak-anak sudah dewasa, apa yang perlu aku khawatir kan?” ujarnya ketus dan menatap suaminya tajam.


”Sara, sosok orang tua untuk anak, gak pandang usia, mau masih kecil atau dewasa sama aja. Kita gak cerai aja, anak-anak sering bertengkar, Adi sama Fajar apalagi. Fajar sama Seno, kita harus turun tangan setiap itu kejadian, kalau kita pisah mau jadi apa Sara?”


”Nanti juga mereka paham, gak harus selalu orang tua ikut campur!"


”Terus apa kamu tega? apa kamu mau mencari yang muda? kalau ada yang mau, aku yakin itu karena harta.” Tudingnya sinis dan Sara diam.


Hening!!


Keduanya diam, saling menatap ke arah lain. Setelah cukup lama, Keduanya saling melirik. Entah apalagi yang harus dikatakan Herman, agar bisa merubah keputusan istrinya.


”Aku sayang sama kamu Sara, bukan hanya karena kamu yang menemani aku dari nol, sampai kita punya segalanya. Kehidupan kita dulu dengan sekarang, memang sangat jauh, untuk makan aja susah. Ini sebabnya kamu gak mau Shafiyah sama Wafi, aku paham, tapi kita gak bisa egois, selama pria itu bisa di pegang tanggung jawab dan kesungguhannya menjaga anak kita.”


”Kalau kamu cerai sama aku karena aku dukung Shafiyah sama Wafi, aku pastikan, di kemudian hari kamu nyesel. Sesuatu yang sudah dibuang, gak mungkin bisa kembali Sara ”


Herman bertutur kata sesuai yang diarahkan Shafiyah, lembut dan jelas. Seburuk apapun sikap seorang perempuan, cara menegurnya hanya bisa dengan kelembutan.


Sara hanya diam, sampai akhirnya dia meraih jemari istrinya yang yang sudah genggam bertahun-tahun, yang di jaga dan dia obati jika terluka. Dia tak sanggup kehilangan Sara, dan Sara juga tidak bisa terus bertahan dengan keegoisannya.


Sara diam, dan memperhatikan genggaman tangan Herman, serta ibu jari pria tua itu mengelus punggung tangannya.


...----...


...✍️✍️...


”Punten!" seru Romlah di susul Fasya. Saat berada tepat di depan rumah Chairil.


”Mangga!" sahut Chairil mempersilahkan keduanya lewat.


Romlah dan Fasya pun semakin jauh, tapi mata Chairil tak lepas dari memperhatikan Romlah. Dia baru tahu jika Aidan memiliki adik, seorang santriwati lama dan sekarang menjadi pengajar di pesantren Al Bidayah.


”'Asstaghfirullah hal adzim!" imbuh pria itu lalu mengusap wajahnya, saat dia sadar terlalu dalam memperhatikan gadis yang bukan mahram nya.


Chairil diam dan Yaman keluar dari rumah.” Chairil kenapa kamu diam terus dari tadi nak?” imbuh Yaman, lalu duduk di atas kursi panjang yang terbuat dari bambu itu. Chairil tersenyum hambar menanggapi ucapan ayahnya, dia sedang galau, malu dan sedih, atas tindakan dan tutur kata Khalisah yang begitu buruk dan tidak beradab. Membuat para kerabat membicarakan hal tersebut, apalagi para tetangga. Entah bagaimana caranya menyadarkan Khalisah. Beginilah rumah tangga, tidak selamanya bahagia, tidak selamanya uwu dan monoton. Lika liku, sedih dan masalah pasti akan dihadapi setiap pasangan yang berumah tangga.


”Nak!" tegur Yaman, karena melihat tatapan kosong Chairil, dia tepuk bahu putranya itu dan Chairil menoleh.” Ada masalah?”


”Enggak abi.”


”Cerita sama abi kalau ada sesuatu.”


"Pasti.” Chairil tersenyum tipis.


Yaman pun akhirnya diam, dan keduanya melamun bersama. Di dalam rumah, suara bayi terdengar, Khalisah langsung menyusui bayi perempuannya itu walaupun harus menahan nyeri di dadanya. Asi nya sedikit, susah keluar, sudah di kompres dan segala macam dilakukan, tetap saja hasilnya nihil. Bayi nya seperti tidak kenyang setiap saat.


”Apa mau pakai susu formula juga Khalis?” imbuh Fatimah, sang ibu.


”Enggak umma." Jawab Khalisah.” Mungkin karena belum terbiasa, Ainun susah menyusu."


"Tapi umma khawatir nak,” kata Fatimah serak. Dan Khalisah mendesah kasar.


Di pesantren, sore ini Shafiyah memilih untuk jalan-jalan, dia bersama Rosa dan Nur.


”Fiyah, kamu beneran hamil anak kembar?” tanya Rosa dan Shafiyah tersenyum.


”Iya,” ia menjawab.


”Udah gak sabar pengen lihat bayi kamu sama Gus Mu.” Nur bersemangat.

__ADS_1


”Mirip siapa ya kira-kira.” Rosa sibuk membayangkan.


”Mirip aku lah, aku yang hamil.” Sembur Shafiyah.


”Haha!" Rosa tertawa kecil.


”Tapi ada loh anak-anak yang mirip sama ayahnya, karena ibunya pas hamil benci ngelihat ayahnya, kamu jangan jijik jijik kalau lihat Gus Mu, nanti anak-anak kamu mirip Gus Mu semua,” kata Nur dan Shafiyah cemberut.


”Ya gak apa-apa kalau mirip Gus mu, Gus Mu kan ganteng." Celetuk Rosa dan mata Shafiyah memicing.


”Enggak begitulah, aku pernah mendengar penjelasan tentang ini, waktu itu yang ceramah ustad Yaman, katanya dalam Islam kalau anak mirip ayahnya berarti hormon ayahnya lebih bagus, kalau mirip ibunya berarti hormon ibunya yang lebih bagus,” tutur Shafiyah dan Rosa mengangguk-anggukkan kepalanya.


”Oh iya aku juga pernah dengar, tapi gak tahu hadist nya jelas apa enggak.” Sahut Nur." Tapi ada benarnya juga sih, hormon istri dan suami, malah dikait-kaitkan sama tahayul, orang-orangnya kan gitu," sambungnya.


”Iya bener,” kata Shafiyah sambil terkekeh.


Ketiganya terdiam dan berhenti melangkah, saat melihat Aidan dan seorang perempuan berpenampilan seperti Shafiyah. Siapa itu? Shafiyah penasaran. Aidan terlihat memberikan uang dan plastik berwarna hitam, entah isinya apa.


”Apa ustadz Aidan udah nikah ya? kok aku gak tahu, gak di undang,” tutur Shafiyah sedikit kesal.


”Itu adiknya, Romlah namanya, yang pernah ngajuin CV ta'aruf ke Gus Mu," kata Nur keceplosan dan dia langsung menunduk dan Shafiyah menatapnya lekat.


”Apa Nur? apa yang kamu bilang tadi?” tanya Shafiyah dan Rosa yang tidak paham hanya diam.


”Hehe enggak! salah ngomong aku!” Nur gugup.


"Nur, aku marah ya!” ancam Shafiyah dan Nur lekas meraih tangannya.


”Ih jangan gitu dong." Nur merengek-rengek. Dan Shafiyah mendelik.” Aku denger dari beberapa orang, itu juga setelah Romlah datang, aku sering lihat Romlah lihatin suami kamu, aku penasaran sampai akhirnya ada yang ngomong, kalau CV ta'aruf Romlah sama Gus Mu di tolak sama Gus Mu sendiri, terus habis itu, gak lama kamu sama Gus Mu menikah. Udah aku ceritain semuanya, itu yang aku tahu Shafiyah, jangan marah ya!” Nur menjelaskan dengan rinci.


Shafiyah terdiam, dan memperhatikan Romlah yang pergi meninggalkan Aidan. Aidan menoleh ke arah Shafiyah dan Shafiyah melangkah pergi, lalu di susul dua temannya. Di setiap langkahnya, Shafiyah nampak memikirkan sesuatu. Dia baru sadar dan kecurigaannya benar, Romlah sering curi-curi pandang ke suaminya, bahkan sering ke toko bersama santriwati yang lain untuk membeli minuman. Serta kue. Romlah selalu terlihat malu-maluin saat ada suaminya, apa gadis itu mengabaikannya? ia yang sudah menjadi istri pria yang dia sukai. Tidak mungkin Romlah mengirimkan CV ta'aruf, jika tak ada ketertarikan pada sosok suaminya.


...----...


...✍️...


Di toko, Wafi sedang sibuk membuat minuman, hanya tersisa rasa coklat dan alpukat, kedua pegawainya dia minta untuk berbelanja dan dia seorang diri saat ini. Wafi menoleh saat melihat kedatangan sebuah mobil, dia tersenyum saat melihat seorang pria dari dalam melambaikan tangannya, dia kenal, yaitu Burhan. Burhan datang diantar supir. Cukup lama dia menginap di rumah anaknya di Jakarta. Dia baru pulang kembali ke Bandung.


Wafi keluar dari toko dan menghampiri Burhan." Assalamualaikum Wafi.”


"Wa'alaikumus Salaam." Wafi tersenyum dan pelukan pun terlepas.


”Tolong, urunkan semuanya!" titah Burhan kepada supir dan supir mengangguk.


”Aku udah lama gak lihat kakek, gimana sehat?”


"Alhamdulillah, dimana Shafiyah?"


"Dia gak ikut kek, aku minta dia di rumah aja.”


”Iya deh bagus begitu, dia bandel, sesekali harus kamu jitak kepalanya biar nurut!"


Wafi tersenyum mendengarnya. Lalu dia menarik kursi dan Burhan duduk. Burhan memperhatikan toko tersebut, bibirnya tersenyum dan Wafi membuatkan minuman boba spesial untuk Burhan dan pak supir, serta air mineral. Kue kering habis, hanya sisa kue untuk ulang tahun di lemari es, itu juga pesanan orang.


Setelah selesai, Wafi meletakkan di meja dan memberikan mikik pak supir buru-buru, karena pak supir akan kembali pulang.


”Makasi mas." Kata pak supir.


”Sama-sama,” balas Wafi.


Supir pun kembali ke rumah, Wafi duduk berseberangan dengan Burhan. Burhan menikmati minumannya dan dia menatap Wafi terus-menerus.


”Gimana hubungan kamu dengan keluarga kakek?” tutur Burhan dan Wafi tersenyum tipis.


”Alhamdulillah, masih sama.”


”Gak bener!" maki Burhan dan Wafi terkekeh.” Alhamdulillah, tapi masih kayak biasanya, aneh kamu. Terus Shafiyah gimana?”


”Shafiyah baik kek, Alhamdulillah. Dia pasti senang lihat kakek datang. Ke rumah ya."


”Iya, kakek kangen banget sama Shafiyah, mau lihat Khalisah juga. Kakek nginep boleh? cuma semalam, besok biar Adi yang jemput.”


”Tentu kek, kakek nginep beberapa hari juga boleh.”


”Ah enggak, cuma semalam aja, gak enak sama keluarga kamu.”


Wafi mengangguk-anggukkan kepalanya dan keduanya diam kembali. Burhan nampak sedih sudah cukup lama menikah, Wafi dan Shafiyah tak kunjung mendapatkan restu dari Sara. Burhan tidak bisa membantu apa-apa, karena Sara tidak mudah dinasehati.

__ADS_1


__ADS_2