Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 21: Wafi Shafiyah.


__ADS_3

”Saya juga sudah memilih seorang gadis yang memang sepantasnya untuk didapatkan pria yang jauh lebih baik dari saya, tapi saya sudah jatuh ke dalam bayangan gadis itu, mabuk karena namanya, gila karena suaranya. Jangankan sosoknya, namanya saja yang saya dengar, saya sudah tersenyum. Dan itu bukan kamu Khalisah, kamu terlalu percaya diri, merendahkan saya sesuka hati. Harga diri adalah yang utama, harga diri seorang perempuan adalah kesuciannya. Saya lebih baik dipenjara seumur hidup, ketimbang melihat seorang gadis terenggut kegadisannya.” Wafi membuang nafas panjang dan berusaha menguasai emosinya.


”Kamu tahu saya mantan narapidana, kenapa kamu masih berani dan mau merayu-rayu saya, menjijikan. Semua orang tahu say dipenjara, tapi enggak semua orang paham saya melakukan itu karena apa, karena harga diri seorang perempuan,” tutur Wafi lemah tapi tegas. Shafiyah menunduk dan dia lirik gadis itu yang mulai sadar atas semua sikap dan perhatian Gus Mu.


Shafiyah keliru, dia mengira Gus Mu playboy, berniat menikahi Khalisah lalu menggodanya. Dia salah paham dan merasa bersalah. Pria itu memang menyukainya dan dia juga sama. Lalu bagaimana setelah ini? sebesar apapun cinta Wafi kepada Shafiyah, dia akan kalah dengan pria yang lebih berani mengajak gadis itu menikah.


Khalisah menunduk malu mendengar pernyataan Wafi. Di sana banyak orang, gosip tentang sikapnya jelas akan mencuat juga keluar pesantren kalau begini, dia tidak akan bisa membungkam semua orang yang ada. Dalam ketakutannya, dia tetap mengangkat kepala begitu angkuh.


”Kalau begitu, siapa yang Gus sukai?" tegas nya bertanya. Shafiyah panik, dia mundur menjauh dan Wafi memperhatikan gadis itu bersembunyi di belakang santriwati yang lain, Shafiyah mengintip sedikit dan Wafi masih memperhatikannya. Shafiyah menggelengkan kepala, berharap pria itu tidak menunjuk atau menyebut dirinya.


”Bukan sekarang waktunya Habibah, nanti, aku juga gak tahu kita bisa bersama atau enggak." Gumam Wafi lalu mengangguk, mengiyakan gelengan kepala Shafiyah dan kedua matanya yang tertutup sekelebat. Shafiyah tersenyum, merasa lega karena pria itu paham.


”Dia terlalu istimewa, namanya terlalu indah. Untuk saya sebut dengan bibir mantan narapidana ini, yang belum berhak mengakuinya. Akan saya bawa dia keliling Pesantren, jika kami sudah menikah, dia halal untuk saya dan juga sebaliknya,” seru Wafi dan semua santriwati meleyot mendengarnya, siapakah gerangan gadis beruntung itu. Shafiyah menunduk dan kerudungnya berayun-ayun tertiup angin, sampai Wafi melihatnya. Bibir pria itu tersenyum karena Shafiyah terus bersembunyi.


Ima yang menyadari arah tatapan lemah Gus Mu mengarah kepada Shafiyah di belakang sana, merasa bahagia karena dia sadar itu. Sepertinya dia yang baru sadar jika gadis itu Shafiyah.


Khalisah tertawa mengejek dan Shafiyah berhenti tersenyum mendengarnya.” Siapa yang mau sama kamu? mantan napi, gak punya masa depan, gak punya teman, dijauhi, karena penjahat tetap penjahat. Andai gadis itu mau, harusnya anda sadar diri, anda gak pantas untuknya dan tidak mungkin diterima oleh keluarganya. Anak perempuan itu emas bagi ibu dan ayahnya bagi kakak-kakaknya. Keluarga mana yang mau merelakan anak perempuannya dengan mantan napi. Jangan mimpi ketinggian, nanti kalau jatuh. Sakit.” Bibirnya terus tersenyum kecut lalu menyeringai licik. Wafi diam mendengarkan ocehan gadis itu, Shafiyah keluar dari persembunyiannya dan Wafi meliriknya. Shafiyah menggelengkan kepalanya, berharap Wafi masih bisa menahan amarah karena Khalisah diladeni malah semakin menjadi.


”Kenapa diam? lihat...!” Teriak Khalisah kepada semua orang.” Seperti ini yang kalian sebut sebagai Gus?” teriaknya lantang dan Shafiyah tidak tahan lagi.


”Gus sebaiknya pergi, tolong!" usir Shafiyah untuk kebaikan bersama, dia memilih jangan pintas yaitu pura-pura mengusir Gus mu dari tempat itu. Shafiyah terdiam melihat kedua mata bagai mata elang itu kini begitu sayu, layu dan tidak bergairah. Wafi masih bisa menahan saat dia hina, tapi saat Khalisah mengungkit gadis yang tak lain adalah sepupunya sendiri. Wafi hancur lebur, keteguhannya untuk mendapatkan Shafiyah tiba-tiba sirna begitu saja, mendengar ucapan Khalisah yang sesuai kenyataannya. Dia belum tentu bisa mendapatkan gadis yang dia suka, karena latar belakangnya.” Gus, silahkan ikut saya.” Ajak Shafiyah karena melihat Wafi tidak baik-baik saja saat ini.


Gadis itu melangkah pergi, dan Wafi menyusul, pria itu melangkah di sebelah Shafiyah. Keduanya semakin jauh dari kerumunan, langkah Wafi menuju ke rumahnya tanpa berkata apapun kepada Shafiyah. Shafiyah diam memperhatikan pria yang sudah habis-habisan dihina sepupunya dan dia belum sempat minta maaf.


”Khalisah,” lirih Chairil serak. Dia mendengar semua makian yang keluar dari bibir tipis itu.

__ADS_1


”Ini salah paham, Gus mu gak salah. Ini salah saya, saya salah. Jangan begini kalian semua. Itu Gus kita, demi Allah. Tidak akan berkah semua yang kita pelajari jika kepada keluarga kyai kita sendiri tidak ada adab dan sopan santun. Naudzubillah, semoga kita tidak seperti itu. Bubar, kecuali Khalisah!" titah ustadz Jaidi membubarkan semua orang dengan berseru dan mendorong mereka santri laki-laki agar segera pergi.


Khalisah menunduk takut melihat semu wajah kemurkaan Chairil.


”Kamu akan disidang malam ini, seburuk apapun orang lain, apa pantas kamu berbicara liar seperti itu. Asstaghfirullah hal adzim," lirih Chairil lalu berbalik dan melangkah pergi. Khalisah menangis dan ustadz Jaidi mendelik tajam ke arahnya. Gadis itu ditinggalkan begitu saja dan sidang akan dilakukan nanti malam. Masalahnya pelik, bukan menyangkut antara santriwati antar santriwati. Tapi santriwati yang sudah menghina habis-habisan seorang Gus.


Gus, anak lelaki seorang wanita renta yang kini menangis sesenggukan mendengar Bayyin menceritakan jika kakaknya sedang dihina dan menjadi tontonan semua orang.


”Anak umi, cari anak umi!" jerit Raihanah. Bayyin bangkit dan keduanya tidak sadar jika Gus Mu sudah pergi. Meninggalkan rumah tanpa pamit dengan kondisi pikiran tidak baik-baik saja.


"Gus!" teriak Shafiyah. Dia berlari mengejar Wafi yang pergi meninggalkan Pesantren, siapa yang tidak sakit hati jika dihina seperti itu. Tapi sayang, Gus Mu menutupi kepalanya dengan Hoodie jaketnya dan tidak mau melihat Shafiyah yang tak mungkin bisa dia miliki. Dia ingin sendirian, bus pun melaju dan Shafiyah menatap kepergian pria yang dia cintai dengan air mata. Air matanya terus berlinang membasahi cadar dan pipinya.


”Ya Allah ampuni semua dosa-dosa kami, yang sudah menyakiti nya. Cicit, cucu, dan anak dari pendiri dan pengurus pesantren sampai pesantren terus berjalan sekarang.” Shafiyah terus menangis. Dia sakit melihat seorang pria dihina seperti itu, terlebih pria yang dia sukai.


”Fiyah!" teriak Bayyin yang hendak menghampiri Shafiyah tapi dia terjatuh. Shafiyah berbalik dan berlari memburu Bayyin. Membantu gadis itu bangun dengan menariknya perlahan, lalu santriwati yang lain membantu.” Dimana Gus Mu? dimana kakak saya, saya gak mau Khalisah masih ada disini. Saya punya wewenang untuk ketidaksukaan saya, saya mau sidang dilakukan secepatnya dan orang tua Khalisah dipanggil kesini!” tegas Bayyin dan semuanya memperhatikan.


”Pergi kemana?” tanya Bayyin dan Shafiyah menggelengkan kepalanya. Tangis Bayyin pecah, dia menangis sejadi-jadinya dan Shafiyah langsung memeluknya. Adik mana yang terima kakaknya diperlakukan seperti itu, Bayyin jadi terbayang-bayang kepada abinya yang sangat membanggakan Wafi, dan dibanggakan kakeknya, untuk menjadi pengurus pesantren selanjutnya. Fahira, Faiza dan Faradila menolak untuk memberikan anak mereka menjadi pengurus pesantren selanjutnya, sebagai bakti mereka kepada sang kakak Gus Fashan. Mereka hanya mau anak lelaki kakak mereka satu-satunya yang sikap tanggung jawabnya sudah terlihat sejak dini. Disiplin dalam waktu, dan sangat tegas.


Malam hari tiba, hujan turun tidak disangka-sangka, seolah-olah langit menangis malam ini, karena manusia yang semakin liar berulah, maksiat dimana-mana. Bumi semakin tua bukan karena umur, tapi karena terlalu banyak menanggung beban beratnya dosa para manusia. Saling bersaing dengan berbagai macam cara, untuk menjadi yang paling terdepan. Merasa paling unggul sehingga lupa, semua yang di dunia tidak akan dibawa mati, hanya amal ibadah yang akan diterima. Baik buruknya sudah di catat dan tidak bisa tawar-menawar untuk mendapat siksa atas perbuatan semasa di dunia. Kaya dan miskin semuanya sama-sama akan mati, dan sering kali lupa di dunia kita semua hanya sebatas bertamu.


Wafi masih belum bisa dihubungi, tapi magrib tadi dia mengirim pesan kepada Bayyin jika dia di sanggar. Dan tidak usah khawatir.


Keluarga Khalisah langsung datang, putri seorang kyai terkenal, menghina seorang Gus yang tak lain adalah putra sahabatnya. Ayah Khalisah, sahabatnya Gus Fashan. Itu sebabnya dia mempercayakan putrinya di pesantren Al Bidayah. Sosok Gus Farhan saja dia tahu. Dia malu mendengar aduan atas putrinya. Jika Khalisah tidak keluarkan, ia sendiri yang akan menyeret putrinya pulang.


”Gimana kabar kamu?” tanya Ibunya Khalisah yaitu Fatimah. Wanita itu terus menangis, tak sanggup menahan beban karena tindakan Khalisah.

__ADS_1


”Baik umi,” jawab Shafiyah dan Fatimah mencium kening keponakannya itu. Shafiyah diam membiarkannya.


Semua pengurus pesantren duduk, Raihanah duduk dengan tatapan kosong, Fatimah tidak berani mendekati Bu nyai itu. Sosoknya sangat terkenal, karena ketauladanannya yang begitu wangi menyebar ke setiap daerah. Sebagai istri dan menantu keluarga Majdi. Seorang janda yang setia mengurus Pesantren setelah suaminya pergi. Jujur, Fatimah sendiri sangat kagum dengan Raihanah. Khalisah menunduk lesu, saat banyak santri yang memintanya dikeluarkan, para pengurus pesantren yang tidak terima Gus yang dititipkan kepada mereka dihina, menatap Khalisah saja tidak mau.


”Saya minta maaf,” ucap Khalisah kepada Raihanah. Bayyin dan Afsheen menatapnya tajam. Seburuk-buruknya Afsheen bersikap kepada kakaknya, dia tetap tidak terima kakaknya dihina oleh orang lain.


”Ini tindakan yang sangat memalukan, saya sebagai ayah Khalisah meminta maaf, keluarga besar kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada Bu nyai. Kepada semua orang yang tersakiti perasaannya atas perilaku anak saya,” tutur Husein dengan suara serak dan merapatkan kedua tangannya, melihat ayahnya memohon seperti itu, Khalisah merasa hancur.


”Kami maafkan, in sha Allah. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan,” tutur Yaman lalu Chairil melirik Khalisah." Keputusan kami sudah bulat, ini masalahnya tentang harga diri seorang pria yang masa mudanya dihabiskan di dalam penjara, selama 8 tahun di penjara, Ananda kami Muhammad Wafi Muzammil Ali Majdi sama sekali tidak pernah berbuat masalah, ananda kami bersalah tapi tidak ada hak siapapun untuk merendahkan dan menghinanya,” ujar Yaman kembali dan Husein mengangguk. Raihanah mengusap air matanya yang sudah bengkak karena terus menangis. Dia bahkan tidak aku melihat Khalisah.


”Kami semua sudah berunding, in sha Allah keputusan ini akan menjadi keputusan yang terbaik untuk semuanya. Silahkan ustadz Amran yang akan menyampaikan." Seru Chairil dan Khalisah memperhatikannya lekat. Tapi Chairil tidak perduli.


”Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...” Seru Amran.


”Wa'alaikumus Salaam....” Jawab semuanya.


”Terima kasih, saya sudah diberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil musyarawah, hasil berunding bersama dengan semua pihak. Saya harap keputusan ini bisa diterima dengan baik dan yang terjadi menjadi pelajaran untuk kita semua. Lisan itu lebih tajam dari belati, luka sebilah belati tajam sedalam apapun, separah apapun bisa disembuhkan atas izin Allah SWT. Tapi luka di hati karena lisan itu sangat susah, semoga saja ananda kami tidak membawa kasus ini ke pihak berwajib, karena ananda kami Gus mu juga bisa saja menuntut atas perbuatan tidak menyenangkan, fitnah, pencemaran nama baik, dan ancaman,” tegas Amran dan Khalisah menciut ketakutan.


"Dari hasil musyarawah kami, dengan berat hati kami meminta dan berharap Siti Khalisah Farihah untuk pulang, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, dan terima kasih atas pengabdiannya, atas mau nya menimba ilmu di pesantren kami. Jujur, kami meminta santri atau santriwati pulang itu sangat sedih. Tapi karena ini tindakan yang sudah fatal, alangkah baiknya neng Khalisah mau menerima untuk pulang terlebih dahulu dan kembali jika kami sudah berunding lagi, dan tergantung situasi di sini. Terima kasih banyak, wassalamu'alaikum...” Amran menutup buku tebal berwarna hitam itu dan nama Khalisah sudah tercatat di sana. Khalisah menutup matanya dan air matanya terus menetes.


Semuanya menjawab salam Amran dan Husein menatap putrinya tajam. Musyawarah pun


berakhir, semuanya keluar dan Raihanah dibantu kedua putrinya. Sesampainya di luar, Raihanah memperhatikan langit yang begitu gelap gulita, hujan terus mengguyur, dan suara petir menyambar saling bersahutan.


Chairil membuka dua payung untuknya dan untuk memayungi Afsheen dan Raihanah. Fatimah yang ingin mendekat di tahan oleh suaminya, keduanya sudah meminta maaf tadi dan sebaiknya sekarang membiarkan Bu nyai pergi. Lain waktu, keluarga Khalisah sudah ada rencana untuk sengaja datang dan meminta maaf kepada Wafi yang sekarang malah kehadirannya tidak ada.

__ADS_1


*****


\**Apakah gus Mu mau melepas Shafiyah? Habibah nya*?\*


__ADS_2