Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 56: Berbahagia


__ADS_3

Para santri dan santriwati pesantren Al Bidayah mengisi acara pernikahan Bayyin dan Musa. Sholawat dan lagu-lagu Arab dengan arti yang baik dilantunkan bergantian. Shafiyah bahkan diminta secara mendadak untuk membacakan salah satu surah, Shafiyah terkenal dengan kepiawaiannya dalam Qoriah. Wafi diam terperangah, suami mana yang tidak bangga dan tidak bahagia. Mendapatkan istri yang cantik jelita, pandai mengaji, mengajar para santriwati dan jago Qoriah.


Bayyin kelelahan dan dia ingin istirahat, Musa akhirnya mengajaknya pergi ke dalam rumah, ke kamar. Keluarga Musa semuanya sudah pulang, kakak laki-laki dan orang tuanya yang terakhir pulang. Di kamar, Bayyin gugup. Dia yang tidak pernah berdekatan dengan lelaki, selalu takut jika mendapatkan tatapan dari lelaki karena trauma masa lalu. Ia kini harus bisa menerima, di dalam kamarnya bersama seorang pria, yaitu Musa suaminya. Jantungnya berdegup kencang, napas nya naik turun tidak beraturan. Musa melirik Bayyin sekilas, melihat peluh di kening istrinya itu.


”Kamu gugup ya neng?” tutur Musa bertanya, begitu lemah lembut suaranya.


”Emmmm....” Bayyin tak berani menjawab, takut salah ucap, hanya itu yang keluar dari bibir yang terhalang cadar itu.


”Saya mau minta sesuatu boleh?" tanya Musa.


”Aa mau minum ya? Bayyin ambilkan.” Bayyin berdiri tapi Musa menarik lengannya, gadis itu tersentak dan bergeser menjauh.


”Maaf,” tutur Musa. Dia merasa bersalah karena sudah membuat Bayyin ketakutan.” Emmm begini, kita kan udah nikah neng. Dari tadi, saya itu pengen banget lihat wajah kamu. Belum kesampaian juga, pernah lihat sih tapi kan cuma sebentar waktu itu, kurang jelas,” ujarnya kembali grogi.


Bayyin tersenyum dan dia lupa memberikan kesempatan kepada Musa untuk melihat wajahnya, di hari pernikahan yang bahagia ini.


”Kita sama-sama sibuk ya a, Bayyin sampai lupa. Maaf, aa kalau mau lihat boleh, silakan. Bayyin sudah menjadi istri a Musa, sepenuhnya Bayyin ini tanggung jawab a Musa, dan hak nya a Musa.” Bayyin mempersilahkan. Musa tersenyum manis dan menatap kedua mata Bayyin yang bermata Hazel itu. Begitu indah, dan akhirnya sekarang Bayyin melepas ikatan tali cadarnya. Cadarnya terbuka perlahan dan Musa terdiam melihat wajah cantik istrinya.


”Masya Allah.” Musa berseru penuh syukur dan begitu riang.” Cantik,” lanjutnya memuji.


”A Musa juga ganteng."


"Bohong, saya jelek."


”A Musa ganteng, manis.” Puji Bayyin agar suaminya tidak merasa rendah diri. Musa tidak serendah itu untuk rupa nya. Hanya saja dia merasa kurang tampan untuk Bayyin yang begitu luar biasa.


Musa tersenyum bahagia, dia bergeser lebih dekat, menyentuh kepala istrinya itu lembut, menekannya sedikit lalu mengecup kening istrinya cukup lama. Bayyin tersenyum dan saat kecupan suaminya terlepas. Musa menggerakan tangannya, berusaha memberikan pelukan sebagai seorang suami kepada istrinya, Bayyin diam. Belum sanggup dan berani membalas pelukan suaminya itu. Tak apa, Musa paham. Karena sejujurnya, dia juga tidak berani tapi begitu sangat ingin melakukannya, hanya kepada istrinya.


*****


Acara pernikahan terus berlangsung, hari sudah sore dan Wafi nampak kelelahan karena terlalu sibuk. Pria itu terlelap dengan kepala di atas pangkuan Shafiyah. Shafiyah diam, sesekali tersenyum dan tangannya terus membelai rambut tebal suaminya, rambut antara ikal dan lurus itu.


”Punya suami ganteng khawatir, punya suami jelek gak mau. Serba salah jadi perempuan.” Gerutu Shafiyah dan dia menoleh, ibu mertuanya datang dan melangkah menghampirinya. Shafiyah terlihat begitu malu-malu, karena Wafi tak kunjung bangun walaupun dia menggoyangkan bahunya. Raihanah terdiam sejenak, melihat anak lelakinya berbaring sama seperti suaminya saat berbaring, bahkan di sofa yang sama, saat suaminya menghembuskan nafas terakhir sekaligus di atas pangkuannya.


”Umi.” Shafiyah menyapa.

__ADS_1


”Biarin aja Mumu tidur, jangan dibangunin. Kasihan dia.” Raihanah berbisik dan Shafiyah mengangguk. Raihanah duduk, ikut istirahat sejenak dari kesibukannya, sambil memperhatikan anak dan menantunya.” Kamu di KB neng?” tanya Raihanah tiba-tiba.


Shafiyah menggeleng kepala.” Belum sempat umi.”


”Mau menunda dulu?” tanya Raihanah, sorot matanya menampakan kekecewaan, tapi dia tidak bisa memaksa.


”Enggak umi, Fiyah sama a Wafi emang maunya segera dapat momongan. Mohon do'anya umi.”


Raihanah tersenyum dibalik cadarnya, betapa bahagianya dia mendengar ucapan menantu perempuan satu-satunya itu.” Pasti, umi selalu do'ain anak-anak dan menantu umi. Jangan stres, makan makanan yang sehat, seimbang. Semoga kalian cepat dapat momongan.”


”Aamiin Allahumma Aamiin." Shafiyah tersenyum dan menunduk, tidak berani menatap ibu mertuanya terlalu lama. Dia begitu menghormati Bu nyai, keluarga Bu nyai, dan sekarang dia menjadi bagian dari keluarga Majdi.


Setelah beristirahat sebentar, Raihanah meninggalkan Wafi dan Shafiyah. Shafiyah berhenti mengelus rambut suaminya dan dia sekarang memainkan hapenya. Wafi menggeliat dan membuka matanya, dan langsung disuguhi pemandangan indah di pelupuk matanya. Wafi tersenyum, memiringkan tubuhnya dan kini wajah Wafi tenggelam di perut Shafiyah.


”Geli, bangun cepet. Udah satu jam kamu tidur. Fiyah pegel nih.” Shafiyah berusaha mendorong bahu suaminya. Wafi bangkit dan duduk, lalu menyenderkan kepalanya yang terasa pusing.


”Pijitin neng." Wafi meminta. Shafiyah memijat dahinya tapi tenaganya begitu lemah dan Wafi tidak merasakan apa-apa, dia malah kegelian dan meraih tangan istrinya itu. Shafiyah tersenyum lebar dan keduanya sama-sama diam sejenak. Wafi tiba-tiba menggerakan tangannya, menarik niqob istrinya ke belakang sampai wajah cantik itu bisa dia lihat. Dan Shafiyah membiarkannya.


”Cari cemilan yuk a, lapar." Ajak Shafiyah sambil menarik lengan Wafi.


”Pengen yang pedes pedes, ayo anter.” Ajak Shafiyah sedikit memaksa, dia goyangkan lutut suaminya itu.


”Bakso?”


”Bosen, ya apa aja gitu. Lihat dulu di luar, mumpung banyak yang jualan." Shafiyah begitu semangat, membahagiakan perempuan sangat sederhana. Belikan saja jajanan yang dia suka, tapi tidak berlaku untuk para gadis matre.


”Dari tadi jajan terus,” ucap Wafi dan menggerakan jarinya naik turun, di bibir Shafiyah. Shafiyah menepisnya dan Wafi melakukannya lagi. Sampai Shafiyah kesal dan cemberut.” Jangan manyun begitu ih, lucu banget si.” Wafi menangkup kedua pipi cabi istrinya itu dan dia sangat ingin menggigit nya.


”Sakit!” jerit Shafiyah dan memukul lengan suaminya. Wafi melepaskannya lalu mencium pipi istrinya yang kesakitan.” Ganas banget si.”


”Gemes bukan ganas sayang, gemes banget kamu tuh.” Wafi mengeratkan giginya, suara gemeletuk gigi pun terdengar. Shafiyah habis hari ini, di cium, di peluk, di manjakan dengan sentuhan lembut dan sedikit kasar saat suaminya sedang gemas padanya. Tapi dia tetap suka. Wafi mengelus pipi istrinya lembut, dan menutup kembali wajah istrinya itu.” Mau jajan, ayo.”


”Bener?” Shafiyah tersenyum dan Wafi mengangguk mengiyakan.


Keduanya meninggalkan lantai dua tersebut dan menuruni tangga bersama-sama. Sesampainya di luar, Wafi mengikuti kemanapun kedua kaki istrinya berjalan. Dia sesekali tersenyum melihatnya. Tamu sudah mulai berkurang, mungkin akan ramai saat malam nanti. Shafiyah ingin membeli cilok bumbu kacang, papeda, dan jus. Wafi hanya mengangguk memberikan izin, lalu membayarnya. Shafiyah nampak senang, setelah membeli semua yang dia mau.

__ADS_1


"Shafiyah sombong ya sekarang, mentang-mentang nikah sama gus.” Seru Ratna kepada Khalisah.


”Mereka baru nikah, nanti juga renggan, dikira pernikahan itu romantis terus apa. Gus Mu mantan napi, jangan dilupain. Dia kerja di perusahaan karena itu perusahaan kakeknya, dia kerja karena keturunan, bukan karena kemampuannya,” ujar Khalisah membalas seruan Ratna. Ratna diam karena ucapan Khalisah begitu berlebihan.


”Kamu masih suka sama Gus Mu?" tanya Ratna dan Khalisah panik. Khalisah membungkam mulut Ratna agar diam.


”Jangan kencang-kencang. Awas kamu!" tegas Khalisah berbau ancaman. Lalu dia melepaskan tangannya.


”Kamu berlebihan tahu. Gus gak sepenuhnya salah, aku kan bahas Shafiyah, bukan Gus kita.”


”Gus kamu kali, aku enggak!” ketus Khalisah sambil melipat kedua tangannya di dada. Ratna menggeleng kepala dan kembali memperhatikan Shafiyah dan Wafi. Diam-diam Khalisah juga melirik kepada pengantin baru itu.


Shafiyah dan Wafi entah mau kemana. Wafi mengulurkan tangannya dan Shafiyah meraihnya.” Kita ke kebun yuk, cari angin." Wafi berbisik.


”Iya.” Shafiyah menyanggupi dan Wafi tersenyum.” Jalan kesini, jauh aa kalau ke sana.”


”Kesini, biarin." Wafi memaksa.


"Itu asrama putra ih, malu."


”Kamu istri Gus Mu, bukan santriwati lagi.” Tegas Wafi dan Shafiyah mendelik tajam


Shafiyah mendelik dan tangannya ditarik suaminya. Di kejauhan, Khalisah nampak diam. Wafi seperti ingin memperlihatkan padanya, kepada semua orang, siapa istrinya. Khalisah hanya bisa menelan salivarnya kasar, kedua matanya berair, jika boleh berandai-andai. Andai dia yang benar-benar disukai Gus Mu.


Sesampainya di kebun, di sebuah saung, Wafi dan Shafiyah singgah. Shafiyah dan suaminya menikmati apa yang mereka beli tadi, Shafiyah memperhatikan minuman milik suaminya dan Wafi menoleh, tapi ia menunduk.


”Mau?” Wafi menawari, padahal minumannya dengan Shafiyah sama. Jus mangga.


”Sini.” Shafiyah merebutnya dan Wafi mengerutkan kedua alis tebalnya.


”Emang rasanya beda ya?” tanya Wafi dan Shafiyah menggeleng kepala." Terus kenapa? punya Bibah juga sama, kenapa harus punya aku?"


”Ya biarin, terserah aku. Punya aa kan punya aku,” ucap gadis itu dan Wafi menjatuhkan keningnya di bahu Shafiyah, dia terus terkekeh mendengar ucapan istrinya yang begitu polos. Bilang saja mau minum di bekas bibirnya, Shafiyah malu untuk mengakui itu.


Keduanya menikmati senja bersama. Wafi terus menyenderkan kepalanya di bahu kecil istrinya itu, Shafiyah menarik niqob nya ke belakang. Merasakan hembusan angin yang begitu sejuk menerpa kulit wajah nya. Bibirnya terus tersenyum, dan keduanya sesekali berbicara.

__ADS_1


__ADS_2