
Wafi diam, memperhatikan Bayyin dan Afsheen. Bayyin sudah mengutarakan jawabannya, dia mau ditemui semua keluarga Musa. Satu Minggu lagi karena ibunya Musa sedang di Jakarta, di rumah anaknya yang lain. Kedua gadis itu akan segera melepas masa lajang mereka, Wafi sedih sekaligus bahagia. Dia raih hapenya untuk melihat apk Instagram yang sekarang menjadi akun pelipur hati ketika dia sedih dan gundah gulana, siapa lagi kalau bukan Shafiyah yang membuat aplikasi tersebut begitu spesial untuk nya.
Wafi mengernyit heran melihat sebuah video, sebuah lagu Arab yang di-posting Shafiyah di instastory nya. Dia diam mendengarkan lagu tersebut yang ternyata Shafiyah sendiri yang menyanyikannya. Gadis itu memang bersuara emas.
”Ini suaranya kan?” gumam Wafi dan mendengarkan dengan baik.” Ada udang di balik batu nih, kenapa lagunya cinta-cintaan begini, dia kira aku gak ngerti apa ya. Orang aku dari orok diajakin ngobrol pakai bahasa Arab melulu, buat siapa lagunya Bibah? kit ati aing." Gumam Wafi lagi begitu sedih dengan instastory gadis itu.
”🎶Aku sepenuhnya milikmu🎶 semua yang ada dalam diriku memanggil mu🎶,
aku tidak hanya mencintaimu,🎶
'cinta' hanya sepenggal kata yang ku persembahkan untuk mu.🎶”
Wafi terdiam mendengar lagu yang di nyanyikan Shafiyah, apa ini tanda-tanda penolakan untuknya? dia sakit mendengarnya.
”Itu suara Shafiyah kan," celetuk Bayyin dan membuat Wafi menoleh ke arahnya. Wafi mengangguk lemah.” Fiyah emang punya tik***.”
”Coba bikinin aa akun tik** neng." Pinta Wafi sambil menyodorkan hapenya kepada Afsheen.
”Apaan sih," ketus Afsheen dan mendorong lengan kakaknya itu.
”Aa mau ngapain? nanti alay disana, bikin malu,” tegur Bayyinah.
”Ih enggak begitu, serius. Tolong bikinin neng," titah Wafi lagi kepada Bayyinah memaksa. Bayyin menerima hape kakaknya itu dan Wafi meraih hape adiknya, ternyata Bayyin juga punya.” Namanya siapa?”
”Cari aja di kolom yang Bayyin ikuti, ada nama Fiyah disana," ujar Bayyin mengarahkan, dan Wafi mencarinya dengan teliti. Bibirnya tidak lama membuat simpulan, simpulan lebar dan mulai melihat-lihat apa yang di-posting Shafiyah, jika mengenai gadis itu. Jiwa kepo Wafi mendadak terbangkit kan.
Bayyin mengotak-atik hape Wafi dan Wafi menjawab sesekali saat adiknya itu bertanya, setelah akun selesai dibuat, Bayyin mengingkatkan agar si kakak tidak macam-macam atau memposting sesuatu. Mending jangan posting apapun juga, karena Bayyin tahu Wafi sedikit tertinggal dan tidak terlalu tahu seperti apa kejamnya media sosial, salah sedikit viral, hampir tidak ada privasi, mengambil foto dan video orang pun tanpa permisi adalah hal biasa sekarang.
Wafi memfollow akun ttk nya Shafiyah yang tidak di private itu, lalu dia kembali melihat semua video yang Shafiyah posting. Lagi-lagi dia melihat video abinya, tapi di ttk lebih banyak dari pada di akun Ig gadis itu. Shafiyah mempromosikan bagaimana kehidupan pesantren Al Bidayah kepada semua orang, atas seizin pengurus pesantren yang lain, dan Raihanah. Untuk menarik calon santri dan santriwati baru, dia juga sering menjawab beberapa pertanyaan tentang pesantren, tapi tidak dengan para lelaki yang berkomentar menggoda nya.
Di asrama, Shafiyah mengernyit melihat akun ttk Wafi memfollow nya lagi.
”Asstaghfirullah Gus, ini sengaja ngikutin jejak media sosial aku sampai ke sini apa gimana? Kang lebay dasar,” tutur Shafiyah dan melihat akun ttk Wafi tidak bernyawa itu karena masih baru dan Wafi juga tidak tertarik untuk memposting apapun, dia hanya ingin melihat Shafiyah.
Beberapa menit kemudian, Shafiyah panik melihat notifikasi ttk 99++. Pria itu tidak sadar membuat Shafiyah risih, dengan spam like yang membabi buta seperti itu.
”Ya ampun Gus kelakuan.” Shafiyah kesal dan meletakkan hapenya kasar ke atas meja. Gus Mu tidak tahu dan tidak sadar melakukannya, dia kira dengan menekan love segila itu, bisa membuat Shafiyah suka tapi ternyata malah sebaliknya. Shafiyah bingung dan berpikiran untuk memblokir, tapi mana bisa dia melakukan itu.
__ADS_1
******
Keesokan harinya, Gus Mu akan kembali ke Bandung kota siang ini. Pria itu sedang duduk bersama beberapa pengajar di teras masjid.
”Gus, saya dengar Chairil sama Khalisah mau menikah. Saya tahu perasaan Gus Mu pasti sedih, sabar ya,” tutur ustadz Jaidi lalu menepuk-nepuk bahu Wafi, berusaha menghibur. Yang ditepuk bahunya malah melotot terheran-heran mendengar ucapan ustadz Jaidi, jadi ini yang dimaksud Shafiyah tempo hari.
”Maaf ustadz,” ucap Wafi sambil menepis tangan ustadz Jaidi dari bahunya, ustadz yang lain dan beberapa santri diam memperhatikan." Saya gak suka sama Khalisah, jadi ini yang bikin gempar pesantren. Sampai saya tiap lewat di sindir? pantas aja, tapi saya gak suka sama Khalisah Ustadz." Wafi menjelaskan. Dan dia yakin hal ini juga yang membuat Chairil selalu sinis padanya.
”Lah, bukannya Gus waktu itu bilang suka sama Khalisah?” ustadz Jaidi mulai tegang, dia sadar diri karena dia yang memulai semuanya. Dengan harapan, Gus Mu bisa bahagia ditengah-tengah ujian dan cacian masyakarat dengan menikahi Khalisah, tapi malah Chairil yang sedang hangat dibicarakan dengan Khalisah saat ini.
”Oh waktu itu saya bilang suka karena ustadz Jaidi nanya pas kita lagi dengerin suaranya Khalisah, pantas aja Khalisah sering banget kirim pesan ke saya. Saya gak pernah bales, karena saya emang gak suka,” ucap Wafi dan semuanya tersentak. Chairil yang menguping sedari tadi langsung bergegas mendekat, tidak suka Khalisah dipermalukan oleh Wafi.
”Mana buktinya kalau apa yang kamu bilang itu benar, jangan fitnah Khalisah!" tegas Chairil dan Ustadz Jaidi melerai, takut diantara saudara sepupu itu ada perkelahian.
”Apaan sih?" ketus Wafi sedikit mengabaikan dan Chairil meradang.
”Kamu gak punya kan buktinya, mangkanya jangan sembarangan.” Chairil sampai menunjuk Wafi tepat di depan wajah Wafi, Wafi tidak terima. Dia yang awalnya tidak mau memperlihatkan bagaimana Khalisah mengirim pesan padanya pun mulai terpancing.” Kalau udah jahat ya jahat, hukuman 8 tahun saja gak cukup membuat kamu bersikap baik Wafi!”
”Chairil.. !!!!!!!” Teriak Raihanah, suaranya begitu memekakkan telinga. Kemarahan seorang ibu yang tak sengaja mendengar anaknya diteriaki, dan dengan mata kepalanya sendiri dia melihat bagaimana pria itu memaki putranya. Menunjuk-nunjuk wajah putranya dengan kehinaan. Kedua mata yang masih menyisakan keindahan walaupun usianya sudah renta itu merah dan berair, tangan Raihanah terkepal kuat, dia tatap Chairil dengan tatapan kemurkaan.
”Aku gak bohong, dan kamu gak bisa menuduh aku sembarangan. Jangan kamu kira aku rela bersaing untuk mendapatkan gadis seperti Khalisah, aku lebih tahu mana yang lebih berharga dan istimewa,” tutur Wafi berbau penghinaan. Dia memberikan hapenya, menunjukkan bagaimana rendahnya kata-kata Khalisah merayu Wafi. Wafi hanya membuka pesan dua baris, baris ke bawah berjajar dia tidak pernah membuka apalagi membacanya.
”Pulang nak, pulang,” pinta Raihanah serak dan takut anaknya nekad. Wafi pamit kepada semuanya dan dia merangkul bahu uminya, menuntunnya pergi dari depan masjid.
Sesampainya di rumah, Raihanah bersiap untuk sholat Dhuha. Wafi pergi dan diam di sebuah jalan menuju kebun, pacuan kuda dan tempat memanah. Sepi dan dia aman untuk merokok di sana. Wafi diam, cukup lama, satu dua tiga dia mengisap tiga batang rokok dan yang ketiga masih setengahnya. Andai itu bukan Chairil, mungkin dia sudah memberikannya hadiah sebuah tanda biru di mata pria itu.
Tap tap tap! suara langkah kaki lemah, ujung gamis seorang gadis terdengar bergesekan dengan rumput yang dia injak. Dia Shafiyah yang sedang sendirian, Wafi tersentak dan langsung berdiri dari duduknya. Keduanya saling menatap bingung, Shafiyah memperhatikan rokok yang dijepit dua jari pria itu, dan pria itu langsung membuangnya.
”Dia merokok ternyata,” gumam Shafiyah dan Wafi terlihat malu karena Shafiyah melihatnya dalam keadaan seperti itu, kegiatan yang sering dibenci para gadis, khususnya para istri.
”Hiks!" tangisan Khalisah membuat Shafiyah menoleh. Khalisah datang dengan beberapa santriwati.
Wafi menghindar untuk pergi tapi Khalisah melihatnya.
”Mau kemana kamu hah! gara-gara kamu!" teriak Khalisah dan Wafi kebingungan.
”Khalis,” tegur Shafiyah dan memegang bahu gadis itu, tapi Khalisah menepis tangan Shafiyah kasar.
__ADS_1
”Hei!” teriak Wafi lantang, dia takut Shafiyah celaka lagi karena kekasaran Khalisah.
”Gara-gara kamu pernikahan aku ditunda, gara-gara kamu dasar mantan narapidana. Aku gak suka sama kamu, mau seganteng apapun kamu, sekaya apapun kamu, mantan napi akan susah di hapus. Kenapa kamu bikin aku begini, kamu ngadu sama ustadz Chairil. Terus saja berulah, cari perhatian,” tutur Khalisah memaki dan mencela. Wafi mengepalkan tangannya dan Shafiyah melihat itu, darah pria itu seakan mendidih, urat-urat di lehernya menegang dan timbul, langkahnya maju satu langkah karena amarah yang menyeruak saat mendengar kata-kata Khalisah. Tatapannya begitu tajam, rahangnya mengeras dan keningnya berkeringat.
Gemeletuk gigi Wafi sampai terdengar, saking kuatnya dia menahan agar tidak kelepasan menyakiti seorang perempuan yang sudah menyakiti dan mengguncang jiwanya.
"Khalisah, itu gak benar Khalisah. Ada kabar kalau ini salah paham. Ini salah, gus Mu gak salah.” Seru Salwa dan Shafiyah percaya penuh dengan ucapannya." Ini karena ustadz Jaidi salah mengartikan ucapan Gus Mu. Cukup Khalisah," ujar Salwa kembali dan Khalisah malah maju mendekat pada Wafi.
”Khalisah minta maaf sekarang juga, kamu salah Khalisah. Kamu keterlaluan, jangan sampai aku bilang sama keluarga kamu." Ancam Shafiyah dan mendorong bahu Khalisah agar tidak mendekati pria yang sedang murka, dan sekuat tenaga menahannya agar tidak meledak-ledak.
”Jangan ancam aku!” tegas Khalisah sambil bercucuran air mata karena pernikahan nya dan Chairil sekarang sepertinya sebuah khayalan semata. Tatapan Khalisah beralih kepada gus Mu kembali.” Heh Napi, aku tahu kamu seorang Gus, dan aku juga seorang Ning. Apa bagusnya status tersebut jika kelakuan pemilik gelarnya seperti kamu, membunuh dua nyawa sekaligus, dan sekarang kembali hanya membuat kekacauan.”
”Kehadiran kamu disini sama sekali gak bikin perubahan yang baik, pesantren malah semakin dikenang sarang seorang kriminal karena kamu. Pergi dan jangan berharap cinta kamu itu berbalas, saya gak suka kamu. Dan gak akan pernah!” Khalisah berseru lantang. Semuanya tidak sadar salah seorang santriwati mendengar dan memanggil ustadz Jaidi dan Chairil.
Santri dan santriwati yang baru pulang dari kandang kuda dan tempat memanah pun, diam mendengarkan dan menonton kejadian tersebut.
”Terus? terus kan. Seburuk-buruknya seorang lelaki, sejahat apapun itu, hanya gadis yang baik yang akan dia pilih. Dan kamu, seorang Ning yang tidak memperlihatkan gelar dari sikap nya, lisan nya dan tingkah lakunya. Bukan gelar yang salah tapi orangnya, saya gak pernah suka sama kamu. Ini keliru dan saya hanya menyukai satu perempuan..." Tutur Wafi begitu tegas, tanpa berteriak karena ada perasaan gadis yang harus dia jaga saat ini. Dia tidak mau Shafiyah memandang buruk dirinya, terlepas dari masa lalunya yang seorang pembunuh.
Ucapannya kini menggantung dan tatapannya beralih kepada Shafiyah.
Dia sangat ingin mengutarakan perasaannya di depan semua orang kepada gadis itu, tapi dia tahan, karena merasa belum mampu mempertanggungjawabkan ucapannya untuk saat ini.
******
Flashback: Suatu hari, Gus mu berkumpul di teras masjid bersama yang lain, sambil mendengarkan santriwati yang sedang sholawatan, di pimpin oleh Khalisah yang memegang mic. Mereka terus memuji kecantikan gadis itu dan Wafi diam mendengarkan, pria mana yang tidak tertarik, dan Wafi pun tertarik dengan kecantikan Khalisah. Tapi perlahan dia mulai melihat sikap pecicilan dan cari perhatian gadis itu, dan jauh berbeda dengan Shafiyah yang kalem dan pemalu.
Ketertarikannya pada Khalisah mulai memudar, dan semakin tertarik kepada Shafiyah apalagi di kompori kakek Burhan yang terus menceritakan kelebihan dan kekurangan Shafiyah. Dia mulai merasakan jatuh cinta tanpa dia sadari, mulai gencar mencari tahu bagaimana gadis itu.
”Suaranya Khalisah bagus ya Gus,” puji Ustadz Jaidi yang merasa keduanya cocok untuk disandingkan.
”Iya bagus," jawab Wafi.
”Gus suka?" tanyanya.
”Iya," singkat Wafi dan dia menoleh lalu memperhatikan Shafiyah baru pulang kuliah.” Masya Allah," ucapnya berbisik.
Ustadz Jaidi tersenyum dan mengatakan kepada beberapa santri setelah itu, jika Gus Mu menyukai Khalisah dengan harapan keduanya bisa bersama, karena usia yang sama-sama matang untuk maju dalam ikatan pernikahan. Tapi Ustadz Jaidi keliru dan salah paham, dengan jawaban singkat dan tidak jelas Wafi. Singkat dan ditambah Wafi yang terpaku memperhatikan Shafiyah.
__ADS_1
flashback off