Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 8: Niat Fatur


__ADS_3

Hari ini adalah dimulainya Wafi kerja, dia sempat mencari sarapan lalu bersiap untuk bekerja. Di pesantren Al Bidayah, Fara sedang memeriksa seorang santriwati yang sakit, tubuhnya penuh dengan ruam dan santriwati tersebut meminta pulang.


”Keluarga kamu sudah di telepon?" Tanya Fara dan Shafiyah mengangguk.


"Sudah Ning, saya sakit apa ya?" Suara Shafiyah berat, dia menganggap ruam satu dua tiga kemarin hanya bekas nyamuk, tapi ternyata malah makin banyak.


”Kamu terkena cacar, sabar ya. Makan nya di jaga, semoga keluarga kamu cepet datang. Rumah kamu jauh?”


”Iya Ning, lumayan jauh dari sini." Balas Shafiyah, Fara mengangguk dan keduanya menoleh saat seorang santriwati masuk yaitu Khalisah, Khalisah dan Shafiyah masih terikat kekerabatan, ayah keduanya kakak adik, keduanya masih sepupu dan tidak pernah akur. Tapi saat mendengar Shafiyah sakit, Khalisah khawatir.


”Fiyah kamu sakit begini," ucap Khalisah serak. Dan Shafiyah menunduk.


”Jangan masuk sembarangan ya, ini kan ruangan untuk orang sakit," ucap Fara dan Khalisah mengangguk.


"Maaf Ning."


"Gak apa-apa, ayo kita keluar. Biarin Shafiyah istirahat." Ajak Fara dan Khalisah mengangguk, Shafiyah diam memperhatikan kepergian keduanya, kini dia kembalikan seorang diri dan merasa bosan. Ayah nya bilang, sore akan dijemput pulang.


Di rumah, Raihanah sedang mengelap kaca, dia menoleh melihat kedatangan sebuah mobil, mobil asing dan dia belum pernah melihatnya. Saat melihat Fatur keluar bersama anak dan menantunya, Raihanah menunduk dalam. Fatur juga terlihat canggung, dan melangkah perlahan.


”Assalamu'alaikum.” Seru Fatur.


”Wa'alaikumus Salaam.” Jawab Raihanah. Raihanah mempersilahkan semuanya untuk duduk, dan dia menerima saat Sani menyalami tangannya.


"Bagaimana kabar Bu nyai?" Sani begitu senang melihat Raihanah.


"Alhamdulillah baik, sebentar saya buatkan minuman dulu." Raihanah pamit. Lalu masuk ke dalam rumah, Bayyinah yang sedang tadarusan berhenti sejenak.


"Siapa umi?" Tanya Bayyin.


"Mas Fatur sama keluarganya." Jawab Raihanah dan melangkah pergi ke dapur. Setelah membuat minuman dan mencari makanan yang bisa dia suguhkan untuk tamunya, Raihanah keluar. Dia meletakkan semuanya lalu duduk, diam-diam Fatur memperhatikan, wanita luar biasa yang pernah dia sakiti, sebanyak apapun bantuan yang Fatur berikan, Raihanah menolak mentah-mentah, bukan karena Fatur yang memberikannya, tapi memang Raihanah selalu menolak bantuan orang-orang yang berlebihan, apalagi jika ada maunya. Fatur pernah mengutarakan niatnya, untuk meminang Raihanah, namun wanita itu menolak langsung tanpa menerima waktu yang ditawarkan Fatur untuk memikirkan baik-baik niatan nya.

__ADS_1


”Wafi datang ke rumah, lalu pergi tanpa memberitahukan kami, kami semua khawatir. Apa dia pulang kesini?" Tutur Fatur dan Raihanah mengangguk.


"Iya dia datang." Jawab Raihanah singkat.


”Dimana dia sekarang bibi?" Tanya Rayyan begitu semangat.


”Wafi kerja, dia gak ada disini," ucap Raihanah serak, kedua matanya berkaca-kaca, dia tidak bisa untuk tidak sedih saat ada yang menanyakan putranya.


”Dia pergi dari sini? Jika untuk pekerjaan, aku bisa membantunya." Fatur khawatir dan Raihanah diam.


”Wafi kerja dimana Bi?" Tanya Rayyan kembali.


"Dia jadi pelatih bela diri, di sebuah sanggar. Dia bilang gak jauh, tapi nyatanya itu di Bandung kota."


"Raihanah, jujur. Apa ada masalah?" Seru Fatur menaruh curiga, mana bisa Wafi yang baru saja kembali sudah pergi jauh, Raihanah mendesah kasar. Tak sanggup ia menjawab, dan menjelaskan, bagaimana sikap semua orang, menolak anaknya, menolak statusnya sebagai anak dari Gus Fashan, dan bahkan di lukai." Rai." Panggil Fatur lembut.


Air mata Raihanah menetas, dia tarik ujung kerudungnya, sebagai sapu tangan air matanya." Wafi baik-baik aja, cuma memang dia harus dulu untuk sekarang, sampai semua orang mau menerimanya lagi." Raihanah tersenyum hambar di balik cadarnya.


”Aku sudah yakin pasti ada sesuatu, sabar. Pasti, semuanya akan baik-baik saja. Wafi kuat, dia seperti Abi dan Uminya. Jika ada sesuatu, jangan ragu datang untuk meminta apapun, kami keluarga kamu Raihanah," ucap Fatur lirih dan Raihanah menunduk lagi.


Fatur diam sejenak, menghela nafas panjang, apakah ini saatnya dia membahas kembali tentang niatannya.” Jika boleh aku bertanya, apa jawaban kamu sudah berubah Raihanah?" Tanya Fatur dan Raihanah tersenyum.


”Demi Allah, aku masih kuat sendiri, sudah bukan waktunya aku mencintai, aku hanya mau memanfaatkan sisa umur ku untuk beribadah dan memperbaiki diri. Dan tolong, jangan bertanya lagi. Jawaban aku akan tetap sama, sampai kapanpun. Abi nya anak-anak adalah anugerah terindah yang pernah aku dapatkan, dan aku hanya mau dengannya, semoga Allah memberikan kesempatan kami untuk bersama kembali.” Raihanah mendekap nampan di dadanya, dan Fatur menutup matanya, begitu sakit jawaban Raihanah, tapi dia harus bisa menerima.


”Silahkan." Raihanah mengarahkan tangannya kepada minuman dan kudapan yang belum disentuh tamunya itu, apa terlalu sederhana sampai mereka terlihat segan." Hanya ini yang kami punya," ucap Raihanah begitu jujur.


”Oh iya Bu nyai, ini saya bawa sesuatu." Sani sampai lupa dan memberikan rantang makanan dan semua kebutuhan sembako untuk gurunya itu.


"Dari siapa ini Sani?" Tanya Raihanah, jika itu dari Fatur, dia akan menolak.


"Dari saya sendiri sama mas Rayyan." Jawab Sani dan Raihanah baru menerima.

__ADS_1


”Ya ampun Raihanah, sebegitu tidak maunya kamu menerima apapun dari aku." Gumam Fatur begitu sedih.


*****


Malam harinya, Wafi berjalan-jalan sendirian, menatapi langit gelap bertaburan bintang. Dia berhenti saat melihat seorang gadis keluar bersama kakek-kakek waktu itu.


”Hei Wafi." Teriak kakek tersebut saat melihat Wafi, Shafiyah menoleh, melihat ke arah yang membuat kakeknya itu semangat. Shafiyah terkejut saat melihat Gus mu.


”Itu kan gus Mu?" Gumam Shafiyah. Wafi melangkah mendekat, karena si kakek Burhan melambaikan tangannya, memintanya mendekat. Shafiyah menunduk, jangan sampai pria itu mengenalinya, tidak akan, dia memakai cadar.


”Dia gadis itu kan? Anak kecil." Gumam Wafi, yang melihat sekilas bulu mata lentik dan tahi lalat di bawah mata bulat itu.


”Kamu mau kemana? Suara kamu bagus ternyata." Puji Burhan dan menepuk-nepuk bahu Wafi so akrab, Burhan merasa takjub mendengar suara Wafi yang mengumandangkan adzan Maghrib tadi, pemuda itu bahkan sangat rajin ke masjid. Wafi diam dan Shafiyah terus menunduk.


”Saya sedang cari angin. Dia sedang sakit ya kek?" Tanya Wafi karena melihat kening gadis itu terdapat ruam nya.


”Iya, lagi sakit dia. Tapi tetep aja mau makan nasi goreng. Ini Shafiyah, cucu saya, satu-satunya perempuan."


”Sumpah gak nanya." Gumam Wafi ketus.


”Dia cantik." Puji Burhan dan Wafi mengernyit heran. Shafiyah menunduk merasa malu. Bisa-bisanya kakeknya begitu.


”Oh ya sudah, saya permisi. Assalamu'alaikum."


”Tunggu dulu." Kakek menarik Hoodie jaketnya wafi dan Wafi terlihat kesal." Ayo makan nasi goreng di depan sama-sama."


”Kakek, Fiyah mau tidur aja. Aduh, dingin banget. Fiyah masuk dulu." Pamit gadis itu gugup dan kakek menahannya.


"Kamu, tadi maksa-maksa kakek." Burhan kesal dan Shafiyah bingung.


”Fiyah gak jadi."

__ADS_1


”Mau saya belikan nasi gorengnya?" Tanya Wafi menawarkan bantuan dan keduanya menoleh.


”Kamu baik banget." Puji Burhan lagi dan Wafi mengernyit.


__ADS_2