
Shafiyah berjalan perlahan, dan dia berusaha menahan tangisannya. Wafi yang merasa gemas, akhirnya menggendong istrinya itu dan dia turun menuruni tangga perlahan. Shafiyah berpegangan pada bahu kuat suaminya, dan terus menatap suaminya lekat. Setelah sampai di lantai satu, Shafiyah di dudukan perlahan di sofa.
”Diem neng, aku bangunin umi dulu.” Wafi melangkah, tapi Shafiyah meraih tangannya.
”Kalau makin sakit, nanti Fiyah bangunin umi a, biarin umi tidur sebentar lagi,” imbuhnya melarang. Wafi langsung duduk dan menangkup kedua pipi istrinya gemas.
”Kamu ini...” Dia benar-benar ingin menggigit istrinya itu. ”Aku khawatir, jangan larang aku terus, biarin umi nemenin kamu, kalau umi gak dikasih tahu, nanti aku yang kena omel karena gak bilang sama umi. Paham?”
”Enggak,” ucap Shafiyah polos dan Wafi menekan dagunya. ”Lepas!" Dia tepis kasar tangan suaminya itu dan Wafi mendelik, dia bangkit dan melangkah ke kamar uminya, membuka pintu perlahan-lahan dan ternyata uminya sedang sholat tahajjud.
Wafi diam di bibir pintu, sesekali dia melongok ke luar, melihat istrinya. Setelah Raihanah selesai, dia menoleh, lalu bangkit dan memperhatikan Wafi yang terus menatap keluar dari kamar.
”Aa,” panggil Raihanah. Wafi menoleh dan Raihanah melipat sajadahnya. ”Kenapa? Tegang banget mukanya.”
”Itu... Si neng katanya sakit mi, aku gak ngerti. Mau lahiran atau apa,” tuturnya menjawab. Dengan segera, Raihanah melangkah dan menabrak tubuh anaknya itu yang menghalangi pintu kamarnya. Saat melihat Shafiyah, Raihanah langsung duduk dan merangkul bahu menantunya.
”Umi...” Pekik si bumil.
”Sabar nak." Tangan Raihanah masuk ke baju Shafiyah, menyentuh pinggang dan punggung, masih dingin, kemungkinan pembukaan masih awal-awal. Tapi Shafiyah sudah tidak kuat, dia dara, bayi kembar, wajar jika manja, karena rasanya pembukaan sampai melahirkan, tidak bisa dideskripsikan seperti apa jelasnya.
”Sabar sayang, kamu kuat, menantu umi yang cantik." Raihanah mengusap lembut air mata Shafiyah yang bercucuran. ”Bikin teh manis hangat a,” titahnya kepada Wafi. Wafi bergegas pergi ke dapur dengan terburu-buru, hampir terjatuh, tersandung kain sarungnya sendiri.
Di dapur, Wafi mencoba mengirimkan pesan kepada Fajar, Shafiyah pasti butuh Sara. Dia menanyakan Sara, tapi Fajar membalas, jika ibu dan ayahnya sudah kembali ke Bandung, kota. Wafi pun akhirnya, berinsiatif sendiri, untuk menelepon mertuanya, nanti.
”Sabar, ini sudah menjadi kodrat sebagai seorang wanita, kamu gak sendiri neng, semuanya sama, kalau lahiran sakit. Jangan jerit jerit ya, nangis boleh, tapi jangan jerit jerit, diem, jangan heboh,” tutur Raihanah lembut dan Shafiyah mengangguk.
Wafi datang membawa teh manis hangat, Shafiyah meminumnya perlahan-lahan dan suara gema sholawat dari masjid sudah terdengar. Wafi yang biasanya sholawatan jam segini.
”Pergi, habis sholat subuh, pulang. Gak usah ngajar dulu,” pinta Raihanah, yang yakin jika menantunya memang akan melahirkan, dari tanda-tanda nya yang baginya tidak asing.
”Iya mi, assalamualaikum.” Wafi melangkah dan terus menoleh, menatap Shafiyah.
”Wa'alaikumus Salaam,” jawab Shafiyah dan Raihanah.
****
Pagi menjelang, Khalisah diam saat dia peluk suaminya erat, ia, suaminya dan anak mereka. Akan kembali ke rumah. Chairil tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang dia dapat, kesalahannya yang membuatnya rugi, dia sangat bahagia, bisa kembali memanjakan diri kepada sang istri, memeluk dengan bebas anaknya yang sedang lucu-lucunya itu.
”Kita pulang, agak siangan. Si Dede mau beli baju kan? Kita ke toko pakaian bayi dulu nanti,” ujar Chairil, berusaha untuk menyenangkan hati istrinya.
”Iya, terserah,” singkat Khalisah dan melirik bayinya yang masih terlelap.
”Kamu gak kangen sama aku, neng?" bisik nya dengan bibir menempel di telinga Khalisah.
”Diem a,” tandas istrinya menjawab. Berusaha bangkit tapi Chairil menariknya, agar kembali duduk. Chairil memeluk Khalisah erat, menciumi rambut basah istrinya itu.
Khalisah akhirnya diam, membiarkan suaminya menyentuhnya, tidak ada yang bisa dia ucapkan, atau lakukan, untuk menolaknya.
”Aku sayang kamu, Khalis,” tuturnya lembut dan Khalisah diam, ada rasa senang bercampur bahagia, mendengar kata-kata suaminya itu. Tapi bukan Khalisah, jika tidak menjunjung tinggi rasa gengsinya.
__ADS_1
****
Di pesantren Al Bidayah, semuanya heboh, saat mendengar Shafiyah akan melahirkan, para santriwati sibuk menebak-nebak jenis kelamin anak Gus dan Ning mereka. Mirip siapa juga kira-kira, karena tidak semua tahu, bagaimana rupanya Shafiyah. Hanya beberapa yang tahu, seperti Rosa, Nur yang satu kamar dengannya.
”Teh Shafiyah, cantik gak si?" ujar santriwati junior.
”Cantik lah, mana mungkin Gus Mu mau, kalau jelek,” timpal Santriwati yang lain.
”Rupa tidak menjamin apapun,” sahut Diva dan semuanya diam. ”Tidak punya kerjaan lain? Selain bergosip?” sambungnya ketus.
”Maaf teh,” ucap salah satu diantara mereka. Dan Diva mendelik, Diva melangkah pergi. Dia diam saat melihat sosok Rama, anaknya Zaenab dan Ilham.
Cinta memang bisa merubah semua orang, termasuk Diva yang pecicilan. Sedang mendambakan sosok Rama yang begituan tampan dan idaman.
Di rumah sakit, waktu terasa begitu lama, Shafiyah masih menikmati setiap kontraksi. Dzuhur, ashar, sudah dia lewati, rasanya semakin tidak tertahan, Isak tangisnya sesekali terdengar kencang, dia tak sanggup lagi, terus mengeluh dan semua orang bergantian menenangkan, hanya satu yang Shafiyah mau, dia tidak ingin suaminya pergi jauh darinya, dan dengan setia, Wafi di sampingnya. Raut wajah pria itu sudah tidak terlihat baik-baik saja, cemas dan khawatir, dengan bayi dan istrinya.
Sara dan Herman juga ada, langsung meluncur saat mendengar kabar anak mereka mengalami kontraksi.
”Abi... Hiks! Aku gak kuat abi, tolong.. Ya Allah, Asstaghfirullah hal adzim, sakit hiks...!” Jerit Shafiyah, dan mencengkram kuat bahu suaminya yang sedang dia peluk dan memeluknya itu.
Kedua mata Wafi begitu merah menangis tanpa suara, suami mana yang tega melihat istrinya terluka, kesakitan, dan bertaruh nyawa.
”Sabar sayang, hei lihat aku, lihat aku..” Wafi panik saat Shafiyah menutup matanya rapat-rapat, istrinya sempat tidak sadarkan diri tadi pagi. ”Sayang... Sabar ya, istighfar.”
”Sakit!” jeritnya kencang, dan Wafi terus memeluknya. Shafiyah terus menangis, dia sudah dipasang infusan, Wafi mengelus punggung istrinya begitu lembut, terus berdzikir dan merapihkan kerudung istrinya. Shafiyah mulai tenang, Sara masuk dan tidak tega melihat anaknya. Sara baru selesai mengobrol dengan dokter, pembukaan sama sekali tidak ada peningkatan, Shafiyah sudah lemah, jika berkenan dan untuk kebaikan ibu dan bayi kembarnya, dokter menyarankan untuk melakukan tindak operasi SC. Tapi entah, Sara tidak yakin Shafiyah akan mau. Anaknya bersikukuh untuk melahirkan normal.
”Aku mau tiduran,” pinta Shafiyah.
”Iya, ayo,” Wafi memasukkan tangannya ke belakang lutut Shafiyah, menggendongnya dan membaringkannya ke atar tempat tidur kembali. Shafiyah menarik lengan suaminya kuat dan Wafi membungkuk, membiarkan Shafiyah memeluknya.
”Sabar sayang, aku yakin kamu kuat, istri abi, luar biasa. Istighfar terus ya,” tutur Wafi serak dan Shafiyah mengangguk pelan.
Adzan Maghrib berkumandang, Shafiyah melepaskan tengkuk suaminya dan Wafi menciumnya sekilas, wajah Shafiyah begitu pucat, Wafi langsung menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes. Dia belai pipi istrinya lembut dan Shafiyah tersenyum tipis.
Sara mendekat, menggantikan Wafi. Wafi pergi dan Shafiyah terus memperhatikannya, sampai pintu tertutup. Di luar, semua orang diam, tidak ada tanda-tanda memikirkan yang lain, kecuali memikirkan Shafiyah, dari subuh sampai sekarang sore akan berakhir, Shafiyah masih harus merasakan ngilu nya kontraksi.
”Sholat sama aa, gantian,” titah Raihanah kepada Afsheen dan Afsheen mengangguk. Wafi dan Afsheen pergi menuju ke mushola.
Wafi sholat dengan mata yang terus berakhir, dia menadahkan tangan untuk berdoa, keselamatan Shafiyah dan anak-anaknya. Dari luar Afsheen memperhatikan, dia memilih pergi lebih dulu dan harus bergantian dengan yang lain untuk sholat.
”Ya Allah, bukan hamba tidak sabar, untuk melihat kelahiran anak-anak hamba, tapi hamba tidak tega melihat istri hamba kesakitan. Tolong ya Allah, ya Rahman, Ya Rahim. Berikan keselamatan untuk tiga nyawa, istri dan anak-anak hamba, hanya pada-Mu hamba memohon dan meminta. Ya Allah...” Air matanya kembali bercucuran, Wafi berhenti dan memijat tulang hidungnya berulangkali, setelah itu dia bangkit dan meraih tas kecil di hadapannya. Hapenya terus bergetar dan Wafi lekas keluar dari mushola. Dia urungkan niatnya untuk mengangkat telepon, saat melihat Fajar datang dan mendekatinya.
”Ikut." Fajar merangkul bahu Wafi dan Wafi pasrah.
Fajar berhenti dan keduanya kini berhadapan.
”Shafiyah,” lirih Wafi.
”Shafiyah harus di operasi, kamu khawatir tentang apa? Biaya? Ada kami, yang penting sekarang bujuk Shafiyah supaya kamu, kalau dia gak mau, dia tegang, malah bahaya, ajak bicara dia, yakinkan dia,” tuturnya dan Wafi terdiam. Di operasi? Membayangkannya dia terasa hancur lebur, bagaimana rasa sakitnya? Apa lebih sakit dari rasa sakit yang seharian ini dialami Shafiyah? Wafi diam membisu, tidak menjawab ucapan Fajar. Dia berbalik dan setengah berlari untuk melihat istrinya. Fajar diam dan dia maklum, dia sendiri begitu cemas melihat Shafiyah seharian ini, sempat kerja juga tidak tenang.
__ADS_1
Sesampainya di kamar rawat, Shafiyah sedang duduk di tepi ranjang, terus melirik pintu.
”A Wafi...?” tuturnya berat, dan tersekat.
Pintu terbuka, dan membuat Shafiyah menoleh, dia tersenyum melihat suaminya datang. Wafi menunduk dan melangkah menghampiri Shafiyah.
”Tinggalkan kami berdua,” pinta Wafi, kepada Sara dan Meri. Meri mengangguk dan mengajak ibu mertuanya keluar.
”Abi... Kenapa lama?” ucap Shafiyah.
Wafi mengusap peluh di wajah pucat Shafiyah, lalu mencium kening Shafiyah lembut, dia rengkuh tubuh istrinya itu perlahan-lahan.
”Sayang, dengerin aku, oke. Kamu anak baik kan? Mau mendengarkan apa yang suami kamu bilang, iya kan?” tuturnya dan Shafiyah mengangguk. ”Kamu harus di operasi... Mau ya? Kita serahkan semuanya sama Allah. Untuk kebaikan kamu dan anak-anak kita.”
”Bi... Hiks! Enggak mau,” tolaknya dan berusaha berontak, tapi Wafi menahan. Keduanya menangis bersama. ”Kita gak punya uang bi, aku gak mau..."
”Aku punya, aku ada tabungan,” ucap Wafi berbohong. Dia hanya mempunyai uang DP untuk sekarang. ”Jangan khawatir, yang penting kamu ditangani dulu, aku mau bayar setengahnya, tanda tangan semuanya, untuk operasi. Nurut sayang, kamu gak bisa lahiran normal, jangan bandel, aku juga gak mau, aku gak tega. Manusia cuma bisa berencana, tapi takdir Allah berkata lain, kita bisa apa?"
”Aku takut hiks...”
”Sayang.” Wafi menangkup kedua pipi istrinya, mengarahkan wajah Shafiyah ke wajahnya. Kening keduanya menempel, nafas lemah saling beradu.
”Aku takut bi, gak mau!”
”Shafiyah!” tegas Wafi yang kesal dan khawatir, Shafiyah tersentak mendengar suara keras suaminya. Dia diam dan memperhatikan kedua mata merah dan bengkak itu terus menunduk. ”Nurut, ini untuk kebaikan kita bersama. Aku temenin, aku minta sama dokter nanti, buat hadir di ruang operasi, tenangkan diri kamu sayang, jangan tegang, istighfar, minta sama Allah. Kamu percaya kan, Allah maha baik, aku gak bisa melindungi kamu untuk urusan nyawa sayang, dewasa sedikit, kamu akan menjadi seorang ibu. Jangan bikin aku khawatir, kamu udah pucat, lemas begini. Kamu gak kasihan sama aku, Bibah? hmmm?"
”Aku...” Shafiyah menunduk. Wafi melepaskan pipi istrinya, lalu dia meraih kedua tangan Shafiyah, dia tempelkan, bibirnya di kedua tangan istrinya. Shafiyah diam memperhatikan, dia harus mengambil keputusan, dan merasakan ngilu yang terus menderanya, pinggangnya terasa akan patah, panas, ngilu, dan sakit menjadi satu.
Setelah cukup lama berpikir, sambil menangis, Shafiyah akhirnya setuju. Yang lain menjaga Shafiyah dan Wafi pergi untuk mengurus segalanya, dia juga menelepon Musa untuk menjemput uminya dan Afsheen pulang. Uminya tidak istirahat, dia takut jika uminya jatuh sakit, dengan susah payah dia membujuk, akhirnya uminya mau pergi.
Setelah persiapan semuanya, pukul 19:35. Operasi akan dilaksanakan, Wafi diizinkan masuk, dengan catatan tidak mendekat selama dokter dan perawat sedang bekerja, untuk menghindari kejadian tidak diinginkan. Shafiyah dibius, kondisinya sangat lemah, Wafi berdiri di pojokan, memperhatikan pembedahan, dan setiap sayatan di perut istrinya.
”Asstaghfirullah hal adzim,” ucapnya serak. Dia khawatir dan takut, di luar ruangan operasi, semuanya menunggu. Sara terus menangis dan ketakutan.
Wafi terus berdzikir, mengulur tasbihnya perlahan. Shafiyah yang tidak dibius total, terlihat terus berdzikir menggunakan jemari tangan kanannya, Wafi dan dokter yang melihat tersenyum tipis.
”Neng,” lirih Wafi serak.
Selang beberapa menit, suara bayi terdengar, bayi pertama, berjenis kelamin laki-laki. Wafi tersenyum dan tetap diam, sampai dokter mengizinkannya mendekat, bayi kedua juga berhasil di keluarkan. Dokter saling melirik dengan perawat karena bayi kedua tidak bereaksi apa-apa, Wafi melangkah maju saat tubuh mungil bayi keduanya yang juga berjenis kelamin laki-laki terkulai lemah.
”Ya Allah.” Wafi menyeka air matanya dan terus memperhatikan. Tidak lama, setelah dokter melakukan beberapa tindakan, bayi kedua Wafi akhirnya menangis kencang. Dokter yang sudah berkeringat dingin merasa lega.
Di luar, tangisan haru, penuh suka cita terjadi. Fara dan Nafis yang baru datang juga begitu antusias. Fara langsung menelepon Raihanah, untuk mengabarkan bahwa Shafiyah sudah melahirkan.
Semuanya tidak sabar untuk melihat keadaan bayi kembar dan Shafiyah. Pintu ruangan operasi terbuka, bayi digendong oleh dua perawat dan Wafi membuka pintu kedua sebelum ke ruangan operasi. Semua keluarga mendekat dan hanya melihat sekilas bayi kembar tersebut.
”Mumu, cewek apa cowok?" tanya Fara.
”Dua-duanya laki-laki,” Wafi menjawab dan meraih tas berisi pakaian bayi. Hanya dia yang diperkenankan untuk ikut ke ruangan bayi, sepanjang perjalanan, bayi kembar itu terus menggigil dan yang pertama terus menangis. Shafiyah masih ditangani oleh dokter, setelah selesai, dia pasti dibawa dan dipindahkan ke ruangan lain.
__ADS_1