
Di rumah Sara, wanita itu memperhatikan kue yang dibawa suaminya kemarin. Masih di atas meja, dan sudah di makan suaminya lumayan banyak. Sara diam terpaku, bayangan anak dan menantunya berputar menghantuinya. Shafiyah akan melahirkan, dalam hitungan Minggu. Tapi anaknya itu tak menunjukan tanda-tanda ia akan kembali pulang, dan menurutinya seperti dulu. Sara belum juga paham, masih sibuk memelihara egois dan keras kepala.
Sara melangkah perlahan, duduk lalu diam lagi. Dia teringat dengan kue yang pernah dia makan bersama Shafiyah waktu itu, anaknya bilang kue dari temannya, apa anaknya saat itu berbohong? dan kue tersebut memang dari Wafi? ada rasa kecewa yang tak bisa dia utarakan, walaupun membuat ekspresi wajah sebagai perwakilan. Perlahan tapi pasti, tangannya terulur meraih toples, membuka tutupnya lalu memasukkan tangannya. Meraih lima biji kue kering, lalu siap menyantapnya.
”Sha!!!!” jeritnya begitu frustrasi, merindukan putrinya satu-satunya yang tidak dia akui, ia sangat rindu, ingin memeluk dan mencium anaknya, yang entah merindukannya atau tidak. Seburuk apapun hubungan anak dan orang tua, daging dan darah yang sama, jiwa yang dibagi dua, akan terus bertaut dan merasakan kerinduan.
”Kamu lagi apa sayang?”
”Enggak kangen sama ibu?”
”Pulang nak, walau sebentar.”
”Ibu mau peluk kamu Sha,” imbuhnya terakhir, suaranya berat dan air matanya tak mampu dia bendung lagi. Makan sambil menangis memang tidak enak, itulah yang Sara lakukan saat ini. Bibi di rumah tersebut hanya bisa diam memperhatikan, sambil terus mengelap debu di setiap pajangan, di dalam lemari.
...------...
Shafiyah sedang menyiapkan beberapa helai baju Koko, kain sarung, peci, kain sorban dan yang lainnya di atas kasur. Nanti sore, suaminya akan pergi untuk ke acara pasaran. Musa dan Salam juga sudah ada, dan sedang menunggu kedatangan suaminya. Shafiyah diam memperhatikan, mengecek lagi takutnya kurang, padahal suaminya juga pulang setiap hari, tapi dia tidak mau suaminya kesulitan di sana. Untuk masalah pakaian.
”Habibah!" panggil Wafi dari luar kamar dan Shafiyah tersenyum. Suaminya sudah pulang, tapi kenapa tidak langsung masuk ke kamar, biasanya juga begitu. Shafiyah pun keluar dan memperhatikan suaminya membawakan sesuatu untuknya.
”Aa bawa apa? pulang gak ngucapin salam."
”Udah tadi dibawah.”
"Kan ke aku belum.”
”Iya, assalamu'alaikum cantik."
"Wa'alaikumus Salaam ganteng."
Shafiyah menjawab begitu bahagia, lalu dengan lembut dia menerima uluran tangan suaminya, mencium punggung tangan suaminya lembut.
”Kamu mau mie ayam? aku bawain mie ayam." Wafi menarik lengan Shafiyah agar duduk, istrinya memang meminta kemarin, tapi dia baru sempat membelikannya.
”Ini bujuk rayu kan? supaya aku gak sedih kamu mau pergi?" tutur Shafiyah dan tebakannya benar, membuat Wafi langsung tertawa renyah.
”Kamu tahu ternyata, ya gimana. Aku bingung, kamu memang ngasih izin, tapi aku yakin, kamu pasti sedih. Aku telepon kalau sempet, jangan begadang ya sayang.” Wafi berucap sambil mengelus bibir manyun istrinya." Senyum dong. Jangan bikin aku kepikiran di sana, aku gak fokus nanti.”
”Iya," ujar Shafiyah lalu senyuman manisnya terpatri di wajahnya. Wafi tersenyum lebar lalu mengecup bibir istrinya sekilas, kedua mata Shafiyah membulat dan memukul dada suaminya reflek.” Abi mah!!!!” protesnya manja dan Wafi terkekeh.
”Ayo makan, nanti keburu dingin, mie ayam bakso spesial dari Habibi untuk Habibah nya.”
”Mau pakai sambal." Pinta Shafiyah merengek.
"Tapi jangan banyak-banyak ya." Timpal Wafi dan Shafiyah mengangguk menurut, dia menjatuhkan dagunya di bahu Wafi dan memperhatikan Wafi yang menyiapkan mie ayam untuknya. Wafi hanya membeli tiga bungkus, tidak tahu kedua adiknya juga ada.
Keduanya menikmati bakso bersama, Shafiyah merekam video padahal sedang tidak memakai cadar.
"Jangan di-posting!" hardik suaminya itu.
”Ya biarin, nanti aku tutup pake emot.” Shafiyah bersikukuh dan Wafi mendengus sebal.
”Jangan ayang! jangan bandel.”
”Kamu lagi ganteng, sayang kalau gak di-posting."
”Emang biasanya aku jelek?" Wafi ketus dan cemberut.” Jahat banget mulutnya," sambungnya ketus dan Shafiyah terkekeh-kekeh.
”Ya enggak ayang, iya deh enggak aku posting,” tutur Shafiyah mengalah dan barulah Wafi berhenti memasang ekspresi masam.
Waktu tak terasa berlalu, senja sudah tenggelam dengan gelapnya malam. Yang awalnya berniat pergi sore hari, ketiga pria itu akhirnya memutuskan pergi setelah habis magrib. Istri-istri mereka seolah tak rela, walaupun kegiatan pria itu bukanlah pekerjaan yang main-main. Tapi tetap saja, istri-istri mereka sedih.
__ADS_1
Sesampainya di sebuah pesantren sederhana, ketiga pria itu baru saja keluar dari kendaraan masing-masing. Wafi mengedarkan pandangannya, banyak sekali yang datang, kendaraan roda dua berjajar di persawahan yang baru selesai di panen, menjadi lahan parkir dadakan untuk satu Minggu ini.
”Assalamu'alaikum,” ucap seorang pria tua.
”Wa'alaikumus Salaam.” Jawab ketiganya.
”Lewat mana ya pak? kami dari pesantren Al Bidayah,” imbuh Wafi dan wajah pria itu langsung sumringah.
”Mari saya antar,” ujarnya sembari melangkah lebih dulu. Wafi mengikuti di susul kedua saudara iparnya.
Ketiganya menjadi pusat perhatian, Wafi menunduk dan menatap layar hapenya sesekali, dia baru mengirimkan pesan kepada istrinya, memberi kabar jika dia sudah sampai dengan selamat.
”Itu Gus Mu, mantan napi itu,” bisik-bisik beberapa santri dari pesantren lain dan Musa yang mendengar langsung melemparkan tatapan tajam kepada mereka. Mereka bertiga menunduk takut dan Wafi lekas merangkul bahu Musa.
”Jangan sampai terjadi masalah, kita mau pasaran, bukan membuat kekacauan, status saya memang begini, kita gak bisa meminta mereka bungkam. Cuek aja, kalau udah capek, nanti mereka berhenti sendiri,” tutur Wafi berbisik-bisik dan Musa tetap tidak bisa meredam amarahnya.
”Mereka kelewatan Gus!" tandasnya dan Wafi merangkul leher Musa agar diam.
”Diam! atau pulang?” Tegasnya kembali dan akhirnya Musa diam.” Istighfar!” ujarnya kembali, Musa memang pendiam, pemalu, jarang bicara, tapi sekalinya terpancing emosi, dia bisa lebih dari Wafi.
"Astaghfirullah....” Musa akhirnya terus beristighfar, dia usap dadanya berulangkali dan lebih memilih menunduk.
Ketiganya di arahkan kepada panitia, untuk dibawa ke tempat istirahat dan tunjukan tempat yang lainnya.
Di rumah, Shafiyah sudah berbaring, di antara Bayyin dan Afsheen. Kedua adik iparnya masih bermain hape begitu juga dengan nya. Shafiyah tersenyum saat pesan masuk dari suaminya muncul, dia langsung menekan dan memeriksanya.
”Baru sampai Alhamdulillah, 😉.” Isi pesan dari Abi sayang.
”Alhamdulillah, istirahat ya abi.” Balas Shafiyah.
”Iya Umi juga ya, kangen gak?" Balas Wafi lagi dan Shafiyah tersenyum.
”Baru juga pergi 😏.” Balas Shafiyah sambil mengerucutkan bibirnya.
”Geulay." Maki Shafiyah tanpa ragu.
”Gemoy, kamu!" Balas Wafi malah memuji.
”Aku enggak!” Balas Shafiyah membantah.
”Iya!!” Wafi bersikukuh.
”Jangan main hape terus, udah ya."
”Sun dulu 💋.” Balas Wafi meminta, pria itu memang tidak ada puasnya.
”Dih!!” balas Shafiyah.
”Cepetan🔈🔉🔊!”
”Mmmmuah🤣🤣🤣. Gitu bukan?” Shafiyah sambil terkekeh mengetikan balasan chat kepada suaminya.
”Iya kali🤣. Mmmuah juga deh, buat umi sama anak-anak kita, doa dulu sebelum bobo, elus perut kamu, kalau lagi baca doa mau bobo.” Balas Wafi, dan dia tempatnya dia juga terkekeh-kekeh sendiri.
”Iya ayang.”
” Assalamu'alaikum, met bobo💞
☀️*my sun.”
” Wa'alaikumus Salaam abinya Utun.”
__ADS_1
”Love you!"
”Too."
”Habibah."
”Habibi.”
”Udah ah🤣 dah, met bobo." Wafi mengakhiri dan dia juga langsung offline. Shafiyah tersenyum dan keluar dari apk Chat tersebut*.
Wafi berkumpul bersama santri yang lain. Acara pasaran begitu antusias didatangi para ustadz muda, dan senior juga. Dan santri serta Santriwati dari berbagai pesantren. Wafi terus mendapatkan pertanyaan yang sama, sudah menikah? umur berapa? pertanyaan tentang umur sensitif, dia tidak jawab, tapi untuk statusnya. Dia blak-blakkan mengatakan sudah menikah, dengan salah satu santriwati nya dan kini istrinya sedang mengandung.
Para ustadz senior yang memiliki anak perempuan hanya bisa mengangguk sedih, mendengar penuturan pria itu. Yang mereka baru ketahui, ternyata keturunan Majdi.
...----------...
Hari ini, cuaca cerah, matahari semakin tinggi begitu gagahnya, namun, mendung terpatri di wajah seorang wanita yang sedang duduk bersama orang tuanya, sementara di seberang meja. Seorang pria berumur 35 tahunan, duda anak satu sedang menunduk malu-malu karena melihat Sabilla.
”Nak Sabilla pendiam ya Bu,” imbuh ibu si pria kepada Fahira.
"Hehe iya, mohon di maklum ya Bu," balas Fahira dan wanita itu mengangguk.
”Nak Sabilla, bagaimana? apa anak ibu, Fatah ganteng?” ujar si ibu dan Sabilla tersentak. Harus menjawab apa dia? tidak mungkin dia menyatakan jelek dan lebih ganteng Wafi, tidak mungkin seperti itu.
”Emmm Bu, anak saya tidak akan berani memuji nak Fatah. Nak Fatah ganteng, penilaian saya dan anak saya in sha Allah sama,” jawab Fahira mewakili putrinya. Kedua mata Sabilla membulat, dia menoleh dan menatap ibunya lekat. Jawaban ibunya malah membuatnya keadaan semakin membuatnya tersudut.
”Alhamdulillah," imbuh ibunya Fatah sambil terus tersenyum dan Sabilla mencengkeram kuat ujung kerudungnya.
Setelah obrolan selesai, Fatah dan ibunya pergi. Sabilla langsung bangkit dari duduknya dan pergi ke lantai dua.
”Sabilla!" panggil Fahira tapi anaknya tak menyahut ataupun menoleh. Fahira tahu Sabilla tidak menyukai Fatah, sebanyak apapun dan setampan apapun pria yang dia pilihkan, sangat susah karena Sabilla menargetkan Wafi sejak lama. Yang dia suka dan dia cintai.
...------...
Hari ini, Shafiyah melakukan USG kembali. Untuk yang kedua kalinya, Wafi diam memperhatikan di layar kedua bayinya yang bergerak-gerak begitu aktif, lalu ia tersenyum manis.
”Alhamdulillah.” Wafi bergumam penuh syukur dan Shafiyah juga memperhatikan layar, melihat kedua bayi di dalam rahimnya.
”Apa ada masalah dokter?” tanya Shafiyah cemas, dokter tersenyum lebar dan dia menarik selimut agar Shafiyah kembali merapikan bajunya.
” Alhamdulillah sehat, jangan banyak pikiran, perbanyak minum. Apa ada keluhan?" ucap dokter dan Shafiyah merasa lega, apalagi suaminya.
”Cuma susah tidur dokter,” imbuh Shafiyah.
”Iya, di usia kehamilan saat ini memang mempengaruhi posisi istirahat, cari aja posisi ternyaman nya ya. Kalau malam tidurnya kurang, usahakan siang nya jangan terlalu capek kalau bisa istirahat,” kata dokter dan Shafiyah mengangguk mengerti.
Setelah selesai, pemeriksaan dsn membayar biayanya, keduanya berjalan pergi keluar dari rumah sakit. Wafi begitu senang sampai terus-terusan merangkul pinggang istrinya.
Shafiyah tersenyum simpul dan dari kejauhan Sara memperhatikan. Saat di tanggap Shafiyah nampak kesulitan melihat tangga dan takut jatuh.
Wafi menggendongnya dan Shafiyah memukul dadanya.
”Malu!” tegas perempuan itu.
”Witwiw!!!" Kang parkir bersiul. Melihat keduanya.
”Dari pada jatuh," ucap Wafi sambil tersenyum lalu menurunkan istrinya perlahan. Shafiyah menunduk malu dan keduanya melangkah kembali.
”Kehamilan kamu udah besar neng,” lirih Sara berucap.
Shafiyah sudah masuk ke dalam mobil perlahan, lalu Wafi menutup pintu. Wafi menoleh dan melihat mobil ibu mertuanya, dia mengalihkan pandangannya, ke arah lain agar Sara tidak menyadarinya.
__ADS_1
”Bu, aku tahu ibu sayang sama Shafiyah dan calon cucu cucu ibu, mau sampai kapan melihat dari kejauhan? kalau ibu mendekat, memeluk Shafiyah dan memelukku juga boleh Bu.” Gumam Wafi. Perlahan tapi pasti, ibu mertuanya mulai luluh, atas semua doa dan perlakuannya kepada Shafiyah. Wafi tidak mau dipisahkan dengan istrinya, dia akan mempertahankan walaupun rumit dan sulit. Dia akan terus berjuang membahagiakan, walaupun susah payah.