
Di sebuah tempat wisata, ada pusat permainan dan kolam renang untuk anak-anak dan dewasa, tapi Wafi dan Shafiyah tertarik pada sebuah kebun bunga, bisa mengambil foto sepuasnya, dengan tiket masuk semua pengunjung baru bisa masuk, tapi tidak diizinkan sembarangan menyentuh semua jenis bunga di tempat tersebut. Wafi membelikan topi yang dijual di luar kebun, untuk istrinya karena cuaca begitu panas siang ini.
”Panas yang udah, capek." Keluh Wafi dan Shafiyah menoleh.
”Belum kesana, sekalian istirahat di kursi itu tuh." Tunjuk Shafiyah dan akhirnya Wafi pasrah. Keduanya berjalan bersama, tidak sadar yang merekam keduanya yang nampak begitu serasi, romantis dan couple yang belum pernah dilihat di perekam sebelumnya. Wafi dan Shafiyah duduk, lalu melihat-lihat semua foto dan video yang mereka ambil.
”Aku mau upload ini, boleh?” tanya Shafiyah, meminta izin.
”Foto aja, video jangan. Di Ig aja udah, jangan di yang lain.” Memberikan syarat dan Shafiyah mengerucutkan bibirnya, terserah! dia sudah berniat akan mengedit, dan mempostingnya ke akun media sosial yang lain nanti. Gadis itu mulai bandel sekarang.
”Aku lapar bi,” ucap Shafiyah. Dan Wafi tersenyum.
”Bi, bi, bibi bibi?"
”Ya abi lah, abi Mumu."
”Ih enggak, jangan panggil aku begitu, gak boleh, ini pengecualian buat kamu. Gak boleh panggil aku begitu."
"Dih, kenapa? lucu tahu."
”Enggak, setiap kamu manggil begitu, aku merasa kayak anak kecil. Kelakuan umi, katanya dulu aku waktu bayi kayak cewek, cantik dipanggilnya jadi begitu. Malah semua keluarga ikut-ikutan," tutur Wafi sambil membuka kaca mata hitamnya, dia jadikan bando agar rambutnya tertarik ke belakang.
”Ya emang lucu bi, gemes. Foto lagi,”
”Ih udah neng, gak ada bosen nya dari tadi.”
”Ih rambut kamu sekarang lucu, diem." Shafiyah memaksa, Wafi memasang wajah cemberut dan Shafiyah menarik kedua ujung bibir suaminya agar tersenyum tipis. Tapi malah jadi aneh dan keduanya tertawa bersama.” Muka aa aneh."
”Kenapa mau? hmmm kenapa mau?” Wafi menekan kedua pipi istrinya itu dengan tangan kanannya dan Shafiyah terus terkekeh. Wafi berhenti dan berdiri." Ayo keluar, cari makan yang.”
”Iya ayo.” Shafiyah bangkit dan Wafi meraih tangannya, mengenggamnya dan berjalan memimpin. Setelah keluar dari kebun, jelas keduanya tidak bisa masuk lagi. Ada sebuah restoran di depan pusat wisata tersebut, Wafi dan Shafiyah menyeberang. Jika dulu berjauhan, sekarang Wafi merangkul bahu istrinya itu erat dan Shafiyah terus tersenyum. Keduanya pun masuk ke dalam restoran, mencari tempat duduk dan beberapa pegawai restoran memperhatikan. Shafiyah dan Wafi duduk di pojokan, lalu meraih buku daftar menu di atas meja.
”Umi mau yang mana?" tanya Wafi begitu lembut dan Shafiyah memperhatikan semua nama makanan, fotonya dan paling penting harganya.
”Mau seafood aku mah, abi mau apa?”
”Pengen yang berkuah, tapi gak ada." Wafi terus membuka lembaran demi lembaran daftar menu dan akhirnya dia mendapatkannya. Sup buntut, seafood campur, dan nasi tidak lupa, air mineral yang menjadi minumnya. Wafi tidak terlalu suka minuman manis, dia juga meminta Shafiyah untuk lebih memilih air putih lebih banyak.
Setelah cukup lama menunggu, pesanan keduanya datang.
”Makasih kak," ucap Shafiyah tapi pegawai restoran tersebut hanya menatapi suaminya yang sedang sibuk dengan hapenya." Makasih!” ucap Shafiyah kembali, Wafi menoleh dan bingung kenapa Shafiyah begitu.
”Ah iya, sama-sama." Jawab pegawai restoran tersebut gugup dan Shafiyah mendesah kasar.
”Kenapa?” tanya Wafi dan Shafiyah menggeleng kepala, mood gadis itu sedikit terganggu sekarang. Dua pegawai restoran pergi setelah meletakkan pesanan." Sayang kenapa si?" tanya Wafi karena Shafiyah hanya diam.
”Cuma bete aja." Jawab gadis itu dan Wafi terkejut.
”Hah? aku punya salah ya?" tuturnya panik karena dia memang mengabaikan Shafiyah tadi, karena ada email penting yang masuk." Maaf ya."
”Aa gak salah, kenapa minta maaf si. Bukan itu, bukan karena kamu,” tutur Shafiyah dan Wafi merasa lega.
”Terus kenapa?”
”Enggak.” Shafiyah tidak mau jujur dan Wafi tidak berani memaksa, mungkin istrinya mau datang bulan, mangkanya sensi.
Wafi sesekali menyuapi Shafiyah, mencoba makanan istrinya, begitu juga sebaliknya. Elang terus menelepon, sudah kelimpungan mencari dimana bos semua orang dan istrinya, acara pembukaan dorprize sebentar lagi, Wafi harus ada untuk menyaksikan acara tersebut. Tapi Wafi nampak santai, melihat panggilan dari Elang, di susul pesan beruntun. Pria itu hobi sekali membuat sekertaris nya stres.
Setelah selesai makan dan membayar, Wafi dan Shafiyah meninggalkan restoran, pergi ke tempat wisata tadi untuk menemui semua orang. Setibanya di sana, Shafiyah duduk dan memperhatikan suaminya. Cindy dan pegawai perempuan yang lain, yang penasaran dengan gadis itupun akhirnya mendekat.
”Bu Shafiyah,” ucap Cindy ramah.
”Hehe, panggil nama aja jangan ibu, saya belum ibu-ibu,” kata Shafiyah dan dia risih dipanggil begitu. Cindy langsung duduk dan merangkul lengan Shafiyah so' akrab.” Emmm...” Shafiyah bingung dan menatap lengannya itu.
”Kan harus sopan kalau sama istri bos." Cindy tersenyum dan Shafiyah juga tersenyum.” Kamu masih muda banget kelihatannya, udah kerja?"
”Masih kuliah." Shafiyah menjawab.
__ADS_1
”Dimana kamu ketemu sama pak Wafi?” Cindy mulai ketus.
”Di pesantren, saya salah satu santriwati di pesantren milik suami saya itu,” ucap Shafiyah sambil mempertegas pengucapan kata 'Suami' jika itu hanya miliknya, Wafi miliknya, padahal semua orang tahu. Tapi dari gelagat Cindy, Shafiyah yakin wanita itu menyukai suaminya. Memang tidak heran sih.
”Oh jadi bener, pak Wafi Gus ya?" tanya karyawan yang lain ikut nimbrung dan Shafiyah mengangguk.
”Kamu pacaran sebelumnya sama pak Wafi? dia orangnya gimana?” tanya Cindy begitu penasaran dan Shafiyah menoleh padanya.
”Kami gak pacaran, gak boleh pacaran dosa. Kami ta'aruf," ucap Shafiyah dan Cindy menelan ludahnya kasar lalu melepas lengan gadis itu.
”Gimana rasanya menikah dengan orang yang kita gak kenal? kamu tahu kan pak Wafi mantan napi?” tutur karyawan laki-laki masih muda, dan Shafiyah tidak suka mendengarnya, karyawan wanita bahkan langsung melotot kepada pria itu.
”Awalnya suami saya bilang sama saya mau ngajak saya ta'aruf, terus beliau datang ke rumah, berhadapan dengan orang tua saya sambil membawa CV ta'aruf, saling mengenal dalam kurun waktu tiga Minggu cukup bagi kami, setelah dapat persetujuan kami langsung mengurus pernikahan, terlepas pak Wafi seperti apa dulu, bagaimana pun masa lalunya, saya terima itu, karena yang bersama sekarang sosok beliau yang saat ini bukan yang di masa lalu. Beliau di penjara karena membela harga diri seorang perempuan, saya sangat kagum mendengar hal tersebut, media membuat pernyataan yang menyudutkannya, tanpa mau menyorot para korban yang sekaligus tersangka. Tolong jangan disinggung lagi, tentang masa lalu suami saya, kalian bisa mengajukan pertanyaan, tapi tolong sopan santun dan adab harus digunakan, saya bisa saja tersinggung dan memberitahu suami saya,” tutur Shafiyah begitu tegas, sambil sesekali melirik ke arah suaminya yang memperhatikannya. Wafi bingung melihat istrinya nampak berdebat dengan para karyawannya.
”Maaf Bu,” ucap pria tersebut merasa malu dan takut dipecat. Tapi tidak sadar dengan kesalahannya, Shafiyah mendelik sebal dan melirik suaminya. Shafiyah panik, kemana suaminya pergi? meninggalkan nya sendirian, Shafiyah hampir menangis karena tidak melihat suaminya, sementara dia tidak kenal dengan orang-orang itu. Namun saat dia menoleh, Wafi ternyata melangkah ke arahnya, semua karyawan terperangah melihat Wafi mengulurkan tangan kepada Shafiyah.
”Ayo!" ajak Wafi karena dia melihat istrinya itu tidak nyaman duduk di sana. Shafiyah tersenyum dan Wafi melihat kedua mata istrinya berair, Shafiyah lekas meraih tangan Wafi, dan Wafi mengenggamnya. Tangan kirinya menarik tas selempang istrinya itu lalu kini Shafiyah sudah berdiri.
”Pak Wafi kayaknya marah tahu, kita gak sopan sampai nanya nanya hal pribadi,” tutur karyawan senior. Keduanya pun melangkah dan menjadi sorotan, tapi Shafiyah terdiam melihat sekitar tempat duduk suaminya tadi para lelaki. Harus bagaimana dia sekarang, ya sudah dia akan berusaha tenang, toh ada suaminya.
”Ini pak,” kata seorang pria, memberikan kursi satu lagi untuk Shafiyah, milik nya.
”Terima kasih,” ujar Wafi. Wafi menarik pinggang Shafiyah, meminta gadis itu duduk di kursi bekasnya saja tadi. Jangan dibekas duduk pria lain, Shafiyah sudah duduk dan memperhatikan suaminya.
”Mereka ngajakin ngobrolin apa? kamu diganggu?” bisik Wafi dan Shafiyah menggeleng kepala.
”Enggak, cuma nanyain gimana proses kita kenalan, ta'aruf terus sampai nikah. Jangan khawatir ya bi,” ucap gadis itu lemah lembut dan sambil tersenyum. Wafi tersenyum tipis dan menatap istrinya lekat.
Dorprize dibagikan dalam bentuk kupon, mereka karyawan yang menang atas nomor yang dipilih Wafi secara acak itu, untuk mengindari tuduhan kecurangan. Dan bisa diambil nanti. Setelah ashar, semuanya berkumpul lagi. Wafi dan Shafiyah masuk setelah sholat ashar. Shafiyah menikmati Snack yang dibeli suaminya di minimarket tadi, untuk mengisi perut selama perjalanan. Wafi masih berdiri, mengajak semua penumpang bus yang dia tumpangi untuk membaca doa bersama, sesuai kepercayaan masing-masing. Setelah selesai Wafi duduk dan Shafiyah menyenderkan kepalanya.
”Bi, nanti sholat magrib gimana?”
”Kita berhenti di rest area nanti.” Jawab Wafi dan Shafiyah mengangguk.
”Dingin bi,” lirih gadis itu. Wafi mengeluarkan kain sorbannya, mengalungkannya ke bahu Shafiyah dan bahunya, lalu dia dekap tubuh gadis itu hangat. Shafiyah terus bersandar, menggesekkan kepalanya, mencari kenyamanan dalam rengkuhan penuh kasih suaminya itu. Bus pun melaju bergantian, meninggalkan kawasan wisata dan cukup susah menyeberang sampai membuat kemacetan sebentar.
Pukul 10 malam bus sampai di luar gedung perusahaan, semuanya turun dengan sempoyongan, mengantuk dan lelah. Shafiyah bahkan rasanya tidak kuat berjalan, apa harus Wafi menggendongnya? sebelum itu terjadi dia buru-buru turun, menyenderkan punggungnya ke bus dan menunggu Wafi mengeluarkan mobil dari parkiran. Shafiyah tidak kuat berdiri, dan akhirnya dia duduk dan terus mendekap setengah tubuhnya yang berselimut kain sorban suaminya yang wangi itu.
”Elang, saya pulang duluan. Untuk semuanya kita bicarakan besok, saya juga besok mau libur kayaknya,” ucap Wafi dari dalam mobil dan Elang mengangguk.
”Siap bos, hati-hati.” Elang menimpali dan Wafi tersenyum tipis.
Mobil kembali melaju mendekati Shafiyah, Shafiyah diam dan Wafi keluar. Memasukkan semua barang-barang ke dalam mobil, lalu mendekati istrinya.
”Sayang ayo. Udah malam."
”Kaki aku pegel,” ucap Shafiyah lalu Wafi membantunya berdiri.
”Iya ayo cepetan mangkanya, cepet pulang, cepet istirahat.” Wafi membuka pintu mobil dan Shafiyah masuk, Wafi mengubah posisi bangku mobil agar Shafiyah bisa sedikit berbaring, gadis itu langsung terlelap saking lelahnya. Wafi juga sangat mengantuk, beruntung ada kopi yang dia beli, walaupun sudah dingin di meminumnya, karena harus menjaga kesadaran untuk menyetir.
Sesampainya di rumah, hampir jam dua belas. Shafiyah sangat susah untuk bangun jika sudah tidur, apalagi dalam keadaan capek. Wafi akhirnya menggendong bayi besarnya itu, saat dia membawa masuk Shafiyah, Afsheen kaget.
”Hah! Shafiyah kenapa?” suara Afsheen lantang, Shafiyah membuka matanya dan dia langsung berontak dan Wafi menurunkannya." Fiyah?" Afsheen melongo.
”Dia susah banget dibangunin, aku capek sendiri, ya udah aku gendong aja.” Wafi menjelaskan dan Shafiyah sangat malu, wajahnya memerah dan terlihat Afsheen, Shafiyah melepas cadar nya tadi dan Afsheen tersenyum melihat wajah Shafiyah saat ini.
”Fiyah mau mandi,” kata gadis itu seraya melangkah ke tangga dan menaiki tangga dengan cepat.
”Udah malem neng,” ucap Afsheen.
”Udah pada tidur? ngetuk pintu, ngucapin salam gak ada yang jawab, bantuin ngeluarin barang-barang neng,” ucap Wafi lalu meminta tolong. Dia keluar dan Afsheen mengikutinya.
”Ya kan udah malem, umi juga udah tidur dari tadi. Rame a?”
”Rame banget, pusing, apalagi yang bawa anak anak, takutnya ilang hadeuh. Alhamdulillah nya gak ada kejadian aneh-aneh,” tuturnya sambil mengeluarkan semua barang-barang dari bagasi, Afsheen tersenyum dan membawa beberapa ke dalam rumah lalu dilanjutkan oleh Wafi.
Afsheen pergi ke kamar, membawa sebungkus kripik oleh-oleh, dan Wafi pergi ke lantai dua. Saat dia masuk, Shafiyah memakai baju begitu minim, gadis itu mandi sekenanya, dan dia sekarang merebahkan tubuhnya kasar. Wafi tersenyum dan terus melirik bahu terbuka istrinya itu, yang mulus apalagi paha nya.
__ADS_1
”Neng.” Wafi memanggil tapi Shafiyah tidak perduli, dia mengantuk dan matanya mulai tertutup rapat. Wafi cemberut dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringat, dan setelah itu, dia mendekati Shafiyah, bertelanjang dada dan memeluk istrinya itu erat lalu menarik selimut. Shafiyah sudah hanyut ke dalam mimpinya. Wafi juga menutup matanya perlahan-lahan sampai dia terlelap dengan merasakan hangatnya tubuh Shafiyah.
*******
Keesokan paginya, Shafiyah kuliah masuk siang, dia tidak mengajar pagi ini, yang biasanya mengajar setelah subuh begitu juga dengan suaminya. Keduanya tertidur kembali, tapi Wafi sekarang sudah bangun dan memperhatikan bahu telanjang Shafiyah. Dia menciumnya berulangkali tapi gadis itu tidak bereaksi.
”Bangun, kuliah." Bisik Wafi dan bibirnya menempel di telinga istrinya.
”Geli, aku mau tidur sebentar lagi."
”Bangun sayang.”
”Capek banget bi."
”Iya sama, aku gak kerja hari ini, nanti pulang kuliah aku jemput.” Bisik Wafi lagi dan Shafiyah mendorong pipi suaminya itu, dia merasa geli karena Wafi terus mencium lehernya.
”Aku mau ketemu sama kak Seno, kamu ikut aja ya bi.”
”Kakak kamu mau ngobrol berdua yang, nanti aku ganggu, dan malah bikin suasana jadi tegang. Nanti kalau udah selesai, aku jemput sekalian kenalan sama kakak kamu, kalau ikut ngobrol takutnya kakak kamu gak mau,” tutur Wafi serak dan Shafiyah langsung berbalik. Dia membelai pipi suaminya lembut.
”Maaf,” lirih Shafiyah.
”Jangan minta maaf.”
Shafiyah mengangguk dan keduanya tersenyum, Shafiyah merapat dan Wafi memeluknya.
******
Sore harinya, Seno sudah menunggu di restoran. Shafiyah datang sendiri, dia naik angkutan umum dan Seno memperhatikan adiknya itu.
”Assalamu'alaikum kak,” ucap Shafiyah seraya menyodorkan tangannya.
”Wa'alaikumus Salaam.” Jawab Seno dan diam saat Shafiyah menyalami tangannya.” Duduk!" sambungnya memerintah dan Shafiyah menurut. Gadis itu duduk dan menatap semua makanan yang baru saja terhidang.
”Bagaimana kabar kakak?” tanya Shafiyah.
”Baik, ayo makan. Kamu kelihatan kurus, apa suami kamu gak ngasih kamu makan?” Seno begitu ketus dan Shafiyah menundukkan kepalanya.
”Aku masih kenyang." Shafiyah menolak, bagaimana bisa dia makan, dengan penghinaan seperti itu.
”Dimana suami kamu? dia gak ikut, gak sopan banget dia."
”Bukannya kakak mau aku sendiri kesini? nanti aku bawa suami aku, dia disalahin. Fiyah paham rencana kakak apa, mempermalukan suami aku kan?" tutur Shafiyah lemah tapi tegas dan penuh penekanan. Seno membanting sendoknya ke atas piring, sampai menimbulkan bunyi begitu nyaring.
”Sudah berani membangkang ya kamu sekaran,” ucap Seno dan Shafiyah tertunduk dalam.
”Pernikahan tanpa restu itu sulit neng, kamu melawan orang tua, hanya untuk pria itu?" tutur Seno dan Shafiyah terus diam." Rumah tangga itu sulit, makan apa kamu sama pria pengangguran, makan cinta?”
”Suami aku kerja kak, dia CEO di perusahaan milik almarhum kakeknya. Dia bukan pengangguran, sebelum ini dia juga terus bekerja. Tolong cukup kak, jangan hina suami Fiyah lagi,” ucap Shafiyah serak, gadis mana yang bisa tahan suaminya terus dihina, Shafiyah sangat sedih sekarang.
Seno mendelik sebal, karena Shafiyah terus menimpali ucapannya.” Temuin ibu, kamu bahkan lupa sama ibu.”
”Gimana bisa seorang anak lupa, Fiyah pernah datang sama Gus Mu tapi kami diusir. Fiyah sama Gus Mu harus gimana lagi? Fiyah jadinya serba salah kak.” Shafiyah menyeka air matanya yang berhasil lolos begitu saja.
”Itu karena kesalahan kamu menikah sama dia!” ucap Seno tandas dan Shafiyah membuang muka. Seno diam sejenak dan mendorong piring berisi pasta kesukaan adiknya.” Di makan." Titahnya.
Shafiyah malah meraih tas dan mengalungkannya di bahu. Dia bangkit dan Seno panik.” Fiyah ada urusan, gak bisa lama. Assalamu'alaikum.”
”Shafiyah!” teriak Seno kesal. Semua orang menoleh ke arah keduanya dan Shafiyah melangkah pergi.” Kurang ajar! Shafiyah berhenti, Fiyah!” teriak Seno kembali dan Shafiyah tidak mau mendengar.
Shafiyah terus melangkah sambil menangis tanpa suara, dia menyeka air matanya lagi dan lagi, air matanya terus menetes tak mau berhenti. Dari kejauhan Wafi mengejarnya dengan mengendarai motor, dia bingung kenapa Shafiyah yang baru masuk sudah keluar lagi. Shafiyah bahkan melupakannya yang sedang menunggu, Shafiyah masuk ke taman dan Wafi berhenti, dia turun dari motor lalu mengejar istrinya itu. Wafi meraih tangan istrinya dan Shafiyah panik.
”Lepas!” bentak Shafiyah seraya menoleh.
”Ini aku sayang,” ucap Wafi dan Shafiyah terdiam sejenak sampai akhirnya dia mendekat lalu memeluk suaminya erat." Kenapa? ada apa? kamu bertengkar sama kakak kamu?”
”Hiks." Shafiyah hanya terus menangis begitu pilu.
__ADS_1