Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 18: Kang Bucin


__ADS_3

Sekitar 10 menit sebelum Maghrib, keluarga Shafiyah tiba. Semuanya langsung pergi ke masjid untuk menunaikan shalat terlebih dahulu. Shafiyah dijaga bergantian, takutnya gadis itu butuh sesuatu. Afsheen yang sedang datang bulan memperhatikan Khalisah, sepanjang hari, gadis itu terus bermain ponsel, malah bermalas-malasan dan bukan menjaga Shafiyah.


”Bukannya dia saudara sepupu kamu Fiyah?” tanya Afsheen dan Shafiyah mengangguk.


Khalisah mengangkat kepalanya, dan memperhatikan keduanya yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak suka.


”Iya aku kerabatnya Shafiyah,” ucap Khalisah sambil tersenyum lebar.


”Shafiyah lagi sakit dan kamu sibuk sendiri,” ketus Afsheen dan Khalisah tegang.


Shafiyah menunduk dan terus menatap wajahnya di cermin. Entah kapan bengkak itu akan hilang. Raihanah masuk bersama istri dari kakak Shafiyah.


”Mbak Ena," ucap Shafiyah dan Ena terlihat sedih melihat keadaan adik iparnya itu.


”Asstaghfirullah Fiyah,” ucap Ena dan Shafiyah turun perlahan, dia bisa dan ingin segera sembuh.” Kenapa bisa begini?” tanyanya sambil menarik dagu Shafiyah perlahan, Shafiyah adalah kesayangan semua orang, orang tuanya, kakeknya, keempat kakaknya dan saudara iparnya sangat dekat dengan Shafiyah, Shafiyah anak terakhir dan perempuan satu-satunya.


”Aku gak apa-apa mbak, kak Adi dimana?" tanya Shafiyah. Dia meraih cadarnya dan Ena membantunya. Shafiyah dibawa keluar, kakek Burhan terus memperhatikan sebuah foto lelaki, fotonya Wafi.


”Kok kayak Wafi si pelatih bela diri itu ya?" gumam si kakek kebingungan. Tapi takut salah orang. Burhan terkejut melihat keadaan cucunya, lalu dia melihat Khalisah juga ada di sana.


” Asstaghfirullah neng, kenapa bisa begini?” seru Adi dan Shafiyah menunduk.” Ibu sama ayah untung lagi gak ada, kalau lihat kamu begini, udah heboh mereka pastinya.”


”Punten ustadzah, kenapa cucu saya bisa begini?” seru Burhan dan Raihanah mengangguk.


”Jujur, saya kurang tahu pak. Shafiyah juga belum cerita apa-apa.” Jawab Raihanah lalu menatap Shafiyah.” Neng, sok ceritain kenapa bisa begini,” titah Raihanah dan Shafiyah melirik Khalisah.


”Awas kalau kamu bocor Fiyah, aku bisa di musuhin kakek lagi.” Gumam Khalisah panik.


”Aku jatuh, kesandung. Terus nabrak angkot yang lagi jalan, kejadiannya cepet banget, aku gak bisa menghindar,” tutur Shafiyah berbohong untuk kebaikan bersama, Bayyin langsung menoleh ke arah Khalisah karena sebelum pergi Wafi mengatakan padanya, Shafiyah celaka karena keteledoran gadis itu.


”Ya ampun Fiyah, kenapa kamu bohong si?” gumam Bayyin dan menatap Shafiyah lekat.


”Lain kali hati-hati ya,” ucap Raihanah dan Shafiyah mengangguk.

__ADS_1


”Kami berterima kasih banyak karena Bu nyai sudah bersedia menjaga Shafiyah, terima kasih atas segalanya. Mungkin sekarang kami mau mengambil barang Shafiyah yang penting, kamu mau bawa Shafiyah pulang, apa diizinkan Bu nyai?" tutur Adi, dia paham betul peraturan di pesantren, bukan waktu sebentar adiknya Shafiyah mondok, dia sendiri sering menjenguk adik tersayangnya itu. Shafiyah memiliki tanggung jawab besar, dia mengajar para santriwati yang masih kecil dan butuh bimbingan dari nol, apalagi yang baru masuk dan sering sekali ada kejadian Santriwati kabur. Adi berharap bisa membawa Shafiyah pulang untuk beristirahat, satu dua hari saja dia tidak masalah. Namun, raut wajah Shafiyah menunjukkan bahwa gadis itu menolak untuk pulang.


”Kak, Fiyah gak mau pulang. Fiyah gak apa-apa,” ucap Shafiyah dan Adi menatapnya dengan sedikit melotot.


”Kamu sakit neng,” bisik Adi kesal, Shafiyah memang anak baik, tapi jangan salah, gadis itu juga sangat keras kepala.


”Gak mau kak, Fiyah sibuk gak bisa pulang, gak mau pulang," Shafiyah merengek dan Adi sangat ingin menjitak kepala adiknya itu.


”Neng pulang aja, satu dua hari ibu izinkan. Nanti biar ibu bilang ke pengurus yang lain,” Raihanah sudah memberikan izin dan Shafiyah menggeleng kepala lagi dan lagi.


”Neng jangan begitu, malu atuh ih." Adi menegur Shafiyah keras dan Burhan tidak terima.


”Jangan gitu!” Burhan kesal dan Adi terbelalak melihat raut wajah kakeknya.


”Fiyah gak mau pulang kak.”


”Lagi sakit juga, ish!” Adi mendengus kesal dan kakek Burhan yang merasa malu melihat tingkah laku keduanya. Shafiyah sangat manja kepada Adi yang merupakan kakak termudanya. Dan Adi yang kadang kala tidak bisa menahan rasa kesal melihat Shafiyah merengek seperti itu.


”Ya udah mas biarin aja, orang dianya gak mau.” Ena berseru dan Adi menoleh padanya.


”Cari siapa kamu neng?" tanya Adi dan Shafiyah menunduk seraya menggelengkan kepala." Jangan mentang-mentang udah lulus terus pacaran,” tegas Adi dan Shafiyah cemberut.


”Siapa juga yang pacaran,” balas Shafiyah sewot.


”Kalau sewot begini kayaknya beneran mas,” Ena mengompori dan Shafiyah mendengus.


”Ah mbak mah gitu,” Shafiyah menyenderkan kepalanya di lengan Ena dan Ena terkekeh.


”Awas aja kalau beneran,” ucapan Adi tak main-main dan Shafiyah diam.


Di belakang, kakek Burhan sedang berbicara dengan Khalisah.


”Gimana kuliah kamu?” tanya Burhan.

__ADS_1


”Ya gitu-gitu aja kek.”


”Katanya kamu mau menikah, bener?"


”Iya, sudah berencana.”


Shafiyah terdiam mendengar ucapan Khalisah, apa benar itu? Gus Mu dan Khalisah akan menikah? untuk kesekian kalinya, Shafiyah merasa sakit. Atas cemburu tak beralasan dan kesedihan atas pria yang bukan miliknya. Gus memang pantas untuk Ning saja. Shafiyah merasa rendah diri.


Setelah mengantarkan Shafiyah ke asrama, dan berusaha membujuk lagi agar gadis itu pulang tapi hasilnya tetap sama. Gadis itu tidak mau, dan akhirnya semua pulang dengan tangan hampa.


Malam hari nya, Shafiyah kembali merasakan ngilu yang luar biasa, dia membuat instastory, hanya sebuah emoticon menangis. Dan diseberang sana, Wafi langsung melihatnya.


Pria itu sedang mengetikan beberapa kata untuk menyemangati Shafiyah, tapi dia harus mengirimkannya atau tidak, dia tidak terlalu berani, mengirim pesan kepada seorang gadis.


”Kirim gak ya?" ia bertanya-tanya sendiri. Tidak sengaja jarinya menyentuh layar ponselnya dan pesan terkirim.” Aduh!" jeritnya panik. Shafiyah yang sedang online pun langsung membuka pesan tersebut dan Wafi tidak mungkin menghapusnya.


@Wafi_Majdi13.


”Assalamu'alaikum Bibah. Obatnya diminum ya, jangan lupa istirahat. Semoga sakitnya kamu menjadi penggugur dosa, sabar Habibah.” Isi pesan kang Bucin🤧.


”Dih, apaan si. So' perhatian banget sama aku a Wafi, ganjen banget,” ucap Shafiyah selesai membaca pesan dari kang Bucin.


Wafi diam dan Shafiyah sedang mengetik untuk balasan chat nya yang terkesan alay itu. Dia bukan pria yang romantis, dan pandai merangkai kata, tapi yang dia ucapkan untuk pujaan hatinya, walaupun terkesan lebay itu adalah sebuah ketulusan yang hanya orang tertentu bisa memahaminya.


Wafi langsung membuka pesan balasan dari Shafiyah penuh semangat.


”Aa ngapain chat aku kecentilan begitu, bukannya aa mau menikah sama Khalisah. Jangan chat saya. Saya baik-baik aja.” Isi pesan Shafiyah begitu jutek dengan emoticon mendelik😒. Wafi tergelak membaca pesan tersebut.


”Loh, kenapa jadi Khalisah neng?" tanya Wafi kebingungan.


”Aa gak usah alasan, Khalisah itu sepupu aku, aku gak suka kamu ganjen begini. Kasihan Khalisah," balas Shafiyah dengan emoticon kemurkaan 😡.


”Saya gak ngerti kamu ngomong apa, tapi jangan berkirim pesan pakai emot ke lelaki lain ya. Kamu gemesin banget tahu, Habibah.” Pesan balasan terkirim.

__ADS_1


Shafiyah terlihat kesal membaca pesan dari Wafi yang kecentilan. Lelaki memang begitu kali ya? gumam nya menerka. Shafiyah tidak membalas pesan lagi, lalu dia keluar dari aplikasi. Wafi juga keluar dan bibirnya terus tersenyum.


__ADS_2