Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 64: Pengunduran diri


__ADS_3

Wafi pulang, dia menaiki tangga dan menatap pintu kamarnya, Shafiyah sedang menunggu sambil terus menatap testpack. Saat suara langkah kaki mendekat, Shafiyah tersenyum.


”Assalamu'alaikum,” ucap Wafi. Di susul sosoknya yang masuk dan Shafiyah berlari kecil mendekati suaminya. Wafi tersentak saat Shafiyah memeluknya sejenak.” Salam aku belum dijawab.”


”Wa'alaikumus Salaam," ucap Shafiyah dan terus tersenyum. Wafi menjawel dagu istrinya itu dan Shafiyah terkekeh.


”Cantik banget sih hari ini, senyum terus lagi, kenapa hmmm? mau apa?” tutur Wafi sambil mencium bibir istrinya dalam tiga kali kecupan.” Mau apa?”


Shafiyah meletakkan telapak tangannya di dada suaminya itu." Aku hamil," ucap gadis itu dan senyuman Wafi memudar. Dia diam, bingung, kaget menjadi satu.


”Hah?” hanya itu yang terucap.


”Kamu akan menjadi seorang ayah, kamu mau punya anak. Enggak lama lagi, akan ada anak yang memanggil kamu abi, abi dan abi. Abi Wafi Muzammil Ali,” tutur Shafiyah sambil tersenyum lebar, kedua mata berbinar-binar bahagia dengan wajah berseri-seri menyampaikan kabar bahagia tersebut. Karena melihat suaminya nampak bingung, Shafiyah memperlihatkan testpack di tangannya. Wafi berkaca-kaca dan meraih testpack tersebut.


”Yang jangan iseng, ini bener?” ucap Wafi dan terus tersenyum. Kedua matanya berkaca-kaca, hari ini adalah hari membahagiakan bagi nya dan Shafiyah.


”Iya, aku udah telat datang bulan.”


Wafi langsung berlutut, memeluk pinggang Shafiyah, meletakkan pipinya di perut istrinya itu.” Alhamdulillah, apa beneran aku akan menjadi seorang ayah? aku gak denger apa-apa."


”Nanti, sekarang kehamilan aku masih muda.”


”Ya Allah Alhamdulillah, Alhamdulillah kita akan menjadi orang tua. Gak nyangka banget, kita periksa nanti malam ya,” seru Wafi seraya mendongak dan Shafiyah mengangguk. Pria itu lalu bangkit, mengangkat istrinya dan Shafiyah mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya itu. Dia takut jatuh. Wafi membawa istrinya ke atas kasur, dan dia memasukkan tangannya ke baju istrinya, menyentuh perut istrinya tanpa penghalang apapun.


”Anak abi,” ucap Wafi. Segala macam lelah, stres, penat dan beban nya hilang saat kabar bahagia tersebut sampai ke telinganya. Shafiyah tersenyum dan perutnya terus di cium. Shafiyah membelai rambut suaminya itu lembut dan Wafi meliriknya.


”Pengen peluk, perut aku terus yang di peluk, yang dicium, aku enggak.” Shafiyah cemberut.


”Loh, masa cemburu sih sayang, sini peluk, sini cium sini.” Wafi bergeser dan Shafiyah diam saat dipeluk dan dicium suaminya.


”Abi bau keringat."


”Emang beneran bau? malah minta peluk, wangi kali ah." Wafi sengaja menekan kepala Shafiyah ke ketiaknya dan Shafiyah tertawa-tawa.


Di lantai satu, Raihanah sedang berbicara dengan Jane di telepon. Raihanah begitu senang dengan kabar kehamilan Shafiyah. Dia akan memiliki cucu tidak lama lagi.


”Aku ikut bahagia mendengarnya, jaga diri baik-baik Rai. Kalau ada apa-apa bilang sama aku, jangan dipendam sendiri ya,” tutur Jane dan Raihanah tersenyum.


”Setelah kembalinya Wafi, aku tenang, aku lega, anak-anakku sudah berkumpul, baik-baik aja sekarang. Gak ada kebahagiaan lain selain dari aku bisa berkumpul dengan anak-anakku Jane.” Raihanah berucap dengan serak dan Jane tersenyum di tempatnya.

__ADS_1


”Syukurlah kalau begitu.”


”Tapi ada sedikit masalah Jane, apa kamu bisa membantu?” tutur Raihanah dan Jane terdiam sejenak. Dia khawatir mendengar intonasi suara Raihanah yang berubah.


”Apa itu Rai?”


”Mumu kayaknya mau berhenti kerja, aku menelepon Elang kemarin. Menanyakan gimana keadaan di kantor dari awal anakku masuk sampai sekarang, gak ada perkembangan, aku malah takut mental anakku yang memang gak baik-baik saja itu semakin terpuruk, aku takut bang Noah marah kalau Mumu ngomong langsung sama dia. Jika itu terjadi, tolong bantu tenangkan abang aku ya Jane,” ucap Raihanah berat dan satu yang dia khawatirkan sekarang. Masa depan anak lelakinya, yang kini beristrikan anak orang kaya. Yang selalu meremehkan dan merendahkan.


”Ya ampun, apa Wafi tersiksa bekerja di perusahaan Rai?”


”Bisa dibilang begitu, masa lalunya yang seorang napi menjadi sorotan Jane. Aku takut, jika boleh lebih baik anakku mundur dan posisinya lebih baik Elang yang menggantikan.” Raihanah memberikan usul dan Jane terdiam.


”Jujur, aku kurang paham, aku takut salah memberi solusi. Tapi jika memang ini membuat Wafi tersiksa, maka mundur adalah jalan terbaik, rezeki bisa dicari ditempat lain. Jika Wafi mengundurkan diri dan Noah menjadikan ini masalah, aku yang akan membela kalian dan menghadapi dia, kamu tahu sendiri Noah keras kepala.” Jane menyanggupi dan Raihanah tersenyum senang.


”Terima kasih banyak Jane, semoga gak ada masalah antara keluarga kita, dan abang paham jika Mumu nanti mengundurkan diri.”


”Iya, jangan khawatir, jangan banyak pikiran.” Jane khawatir dengan kondisi kesehatan Raihanah dan Raihanah tersenyum mendengarnya.


*******


Kehamilan Shafiyah sudah 3 bulan, Wafi semakin bimbang, apakah dia harus terus bekerja atau malah berhenti disaat sekarang membutuhkan banyak uang. Jika dia berpikiran seperti itu, sama saja dengan ia yang tidak percaya dengan rezeki dari Allah. Wafi akhirnya mengambil keputusan yang membuat hatinya lega, dia mengurus semuanya untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Banyak karyawan yang kecewa, tapi juga banyak yang merasa senang dengan kemundurannya. Satu hal yang tidak dilakukan Wafi, meminta izin dan meminta saran dari sang istri terlebih dahulu.


”Saya harap bapak bisa memikirkan lagi.” Elang terus melangkah dibelakang Wafi dan Wafi diam.” Saya mohon pak, jangan menyerah karena beberapa orang. Banyak orang yang suka dengan kinerja yang bapak berikan selama ini." Elang terus membujuk.


”Tolong kirim surat pengunduran diri saya ke kantor pusat di Kanada. Pak Noah yang harus menerima, jangan yang lain ataupun lewat yang lain,” ujar Wafi meminta dan Elang hanya bisa mengangguk serta bungkam.


Wafi diam, menatap Elang sejenak. Dia tepuk bahu pria itu dia kali." Terima kasih, sudah membantu saya selama ini.”


”Jika bapak butuh sesuatu, datang aja, rumah saya akan selalu terbuka buat bapak," ucap Elang serak dan Wafi tersenyum tipis.


”Assalamu'alaikum.”


”Wa'alaikumus Salaam.”


Wafi melangkah pergi dan Elang menatap kepergian bos nya itu. Elang mengepalkan tangannya, dan dia sangat muak dengan pada pegawai yang seenaknya.


Di perjalanan menuju pulang. Wafi langsung ditelepon oleh Noah, Noah marah dan terus mengomel, tidak memberikan kesempatan kepada Wafi untuk menjelaskan bahwa alasannya sangat banyak, untuk membuatnya yakin keluar dari perusahaan, dan alasan yang paling penting adalah amanah dari abinya, yaitu pesantren Al Bidayah, selama dia bekerja, sangat sibuk, anak-anaknya tidak bisa dia pantau dengan baik, banyak acara yang diselenggarakan tanpa kehadirannya. Banyak santri senior yang melaporkan keluhan para santri junior karena Wafi selalu telat dan sering tidak datang untuk mendidik mereka. Ketimbang dunia yang dia khawatirkan, Wafi malah lebih mengkhawatirkan anak-anaknya, semua murid-muridnya. Anak-anak yang harus dia didik dan diamanahkan kepadanya, kepada semua pengajar dan pengurus pesantren. Wafi merindukan baju Koko, kain sarung dan peci yang sering membalut tubuhnya, dia rindu mengajar dan belajar untuk memperluas ilmunya yang masih rendah.


”Kamu gak akan maju kalau pilih-pilih kerja Wafi, di sini gak mau, di sini gak bener. Kamu mau kerja yang bagaimana sebenarnya hah!" Noah berteriak-teriak dan Wafi diam.

__ADS_1


”Om...”


”Diam kamu!" teriak Noah menyela ucapan keponakannya itu yang baru saja hendak menjelaskan.


”Maaf,” suara Wafi serak.


Tut!! panggilan diputus Noah sepihak. Selang beberapa menit, pesan masuk sangat panjang dari Noah dan Wafi akan membacanya nanti, karena dia sedang menyetir sekarang. Wafi terdiam saat melihat beberapa karyawan perusahaannya berhadapan dengan ibu mertuanya, di sebuah restoran dan mereka duduk di samping kaca bening itu. Wafi menghentikan mobilnya, diam memperhatikan dan raut wajah ibu mertuanya nampak murka. Ia khawatir dan memutuskan untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya, karena di hadapan ibu mertuanya semuanya laki-laki.


”Yang penting dia sudah keluar,” ucap Sara sambil tersenyum. Wafi yang baru masuk, langsung duduk dan meraih daftar menu, menutupi wajahnya.


”Bayaran kami mana Bu? tidak gampang untuk membuat pak Wafi menyerah dari posisinya,” ujar salah satu dari mereka. Wafi diam dan rahangnya mengeras.


”Bayar mereka." Titah Sara kepada sekertaris nya, pria itupun mengeluarkan amplop coklat berisi uang. Setelah menerima imbalan, para pria itupun pergi. Sekertaris Sara masih kebingungan, kenapa Sara sangat ingin membuat Wafi menderita.


”Ini bukannya sudah cukup Bu, dia sudah mundur dari jabatannya."


”Belum, anak saya belum kembali. Mau dia CEO atau pemimpin negara ini, saya tidak suka dengan keturunan Embrace, apalagi cucunya mantan narapidana dan membuat anak saya terjerumus dan jatuh cinta padanya. Sebelum anak saya kembali ke dalam genggaman saya, saya tidak akan membuat hidup pria itu tenang. Saya mau anak saya kembali, anak perempuan saya satu-satunya," tutur Sara menjelaskan dan sekertaris nya mengangguk-anggukkan kepala.


”Kita ada meeting sebentar lagi Bu, sebaiknya kita jalan sekarang." Ajak pria itu dan Sara mengangguk. Keduanya bangkit dan Sara terperanjat melihat menantunya ada di sana, berdiri begitu tegasnya dan menatapnya tajam. Wafi diam, rasa kesal dan amarahnya tidak bisa dia sembunyikan, kedua tangannya yang terkepal kuat dia masukkan ke dalam saku celananya.


”Assalamu'alaikum Bu, ibu mau apa lagi sekarang? jika boleh jujur, saya keluar dari perusahaan bukan karena tidak nyaman, tapi saya memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar ketimbang perusahaan. Ibu membuang-buang uang, ibu rugi banyak,” tutur Wafi dan Sara menatapnya tajam.


”Diam kamu Wafi. Jangan panggil saya ibu."


”Ibu, ibu, ibu, ibu, ibu mertua." Wafi malah sengaja.


”Wafi Muzammil, hei!!!!!" teriak Sara frustasi, dia jijik mendengar panggilan itu keluar dari bibir Wafi." Kurang ajar kamu!" geram Sara sambil menunjuk menantunya itu, semua orang menoleh dan memperhatikan keributan yang terjadi.


”Bagaimana bisa seorang gadis baik-baik lahir dari seorang wanita yang licik? ini memang tidak ada hubungannya, sifat dengan keturunan, seperti ayah yang baik sementara ibu begini. Jika zaman dulu ada Fir'aun dan istrinya, di akhir zaman sekarang ada yang begini. Cukup Bu, jangan capek-capek. Saya tidak mau ibu mertua saya sakit.” Wafi berseru begitu lembut dan tenang.


”Kembalikan Shafiyah." Sara meminta.


“Dia milik saya Bu, kami menikah dengan baik-baik, atas restu dan di wali kan dengan ayah. Salah kami apa? jika Shafiyah tahu ibu begini, dia akan sangat kecewa," ucap Wafi lalu berbalik dan melangkah pergi. Sara panik dan mengejarnya. Dia menarik jas menantunya itu dan Wafi tersenyum tipis.


”Awas kamu kalau hilang aneh-aneh tentang saya sama anak saya, awas kamu!” tegas Sara penuh ancaman.


”Enggak usah khawatir, saya gak akan mendidik Shafiyah menjadi seorang anak yang membenci ibunya. Ibu bisa benci sama saya, tapi saya gak akan pernah benci sama ibu. Begitu juga dengan Shafiyah,” imbuhnya lembut dan Sara melepaskan bajunya.


”Pergi dari hadapan saya!” usir Sara berteriak. Wafi mengedarkan pandangannya, banyak orang yang terganggu dengan teriakan ibu mertuanya itu, dan akhirnya dia berlalu pergi sebelum suasana lebih kacau terjadi.

__ADS_1


__ADS_2