
Atas usulan Wafi, dan persetujuan Raihanah, Shafiyah dibawa pulang ke rumah mereka dan menunggu sampai keluarganya datang, karena tadi kakeknya Shafiyah langsung berangkat untuk melihat keadaan cucunya. Wafi memilih pergi, karena Khalisah juga ikut-ikutan mengungsi di rumahnya, padahal Raihanah bilang, Khalisah bisa melanjutkan kegiatannya dan Shafiyah akan dijaga dengan baik.
”Aduh hiks,” tangis Shafiyah pecah saat berusaha makan tapi kondisi bibirnya tidak mendukung, dia berada di kamar lantai satu rumah tersebut, Afsheen membantunya minum dan Bayyin memperhatikan, keadaannya tidak mendukung untuk bergerak sigap.
”Sabar ya, pelan-pelan,” Afsheen berusaha menghibur dan Shafiyah terus menangis.
"Istirahat,” ujar Bayyin dan menarik selimut, Shafiyah membaringkan tubuhnya yang sekarang terasa ngilu, pegal dan perih. Sementara tadi dia belum merasakan apa-apa, dan sekarang luka-lukanya kaku.
”Biar aku sama Khalisah yang jagain," ucap Afsheen dan Bayyin mengangguk, gadis itu pergi karena Wafi mengatakan ingin bicara. Raihanah sedang memasak, Bayyin melangkah keluar perlahan-lahan. Dia duduk dan tidak lama Wafi keluar dari masjid dan melangkah ke arah rumahnya.
Bayyin tersenyum dan Wafi duduk." Gimana keadaannya? kita bawa saja ke rumah sakit," ucap Wafi dan Bayyin menggeleng kepala.
”Kita tunggu keluarganya dulu, Shafiyah bilang orang tuanya sedang keluar kota, kakek sama kakaknya yang akan datang,” tutur Bayyin dan Wafi mengangguk." Dia gak bisa makan, lukanya makin bengkak. Bayyin tahu apa khawatir, tapi dia sebatas anak didik kita disini, untuk keputusan selebihnya biar keluarganya saja," sambungnya lembut dan Wafi tersenyum.
”Pengen gue nikahin kalau begini, lihat gak bisa, nyentuh apalagi, ya Allah. Kok malah makin takut ya Shafiyah keduluan dikhitbah laki-laki lain, tapi aku sama sekali gak punya bekal untuk menjamin kehidupannya sekarang. Dia bahkan anak orang kaya, bodohnya kamu Wafi sudah berpikiran jauh. Yang harus aku pikirkan, aku diterima atau enggak.” Gumam Wafi lalu melepas pecinya, menunduk kebingungan.
”Aa suka sama Shafiyah?" tanya Bayyin.
”Ya enggak lah, aku gak mikirin nikah dulu." Bantahnya cepat tapi raut wajahnya tidak terlihat membantah. Bibirnya bahkan tersenyum dengan pertanyaan Bayyinah.
”Fiyah masih muda, masih kuliah.” Mencoba memberi paham.
”Ya biarin, kalau dia mau mah, serobot aja neng,” ucap Wafi yang sudah sangat tergila-gila dengan Shafiyah, padahal mengatakan ia menyukai gadis itu saja belum.
”Aa ketuaan kalau buat Shafiyah." Cibir Bayyin sambil tersenyum, Wafi mendelik tidak suka dengan ucapan adiknya yang itu.
”Paling beda satu dua tahun mah ya gak apa-apa,” ucapnya santai.
”Beda 9 tahun aa, Shafiyah baru 19 tahun aa udah mau kepala tiga. Yakin mau berjuang?” tutur Bayyinah dan Wafi yang baru tahu jelas saja terkejut.
Kedua mata Wafi membulat mendengarnya.” 19 tahun, kamu bohong kan?" tuduhnya kesal.
”Dih masa bohong si.”
__ADS_1
Wafi menggaruk pelipisnya. Dia kira gadis itu berusia cukup matang untuk menikah, ternyata masih dibawah umur dan dua tahun lagi baru 21 tahun. Dari postur tubuh Shafiyah yang bongsor juga tidak ada yang mengira gadis itu masih belasan tahun.
”Aku kira 24 tahunan gitu.” Dalam pemikirannya begitu, bukan karena Shafiyah terlihat tua, tapi gadis itu memang tidak terlihat seperti gadis seusianya. Mungkin karena Wafi tidak tahu wajah Shafiyah seperti apa, itu sebabnya dia sembarang menyimpulkan.
”Kan aa dulu bilang gak mau yang umurnya terlalu jauh, Shafiyah terlalu muda.” Mengungkit ucapan Wafi saat remaja. Wafi tidak peduli, jika Shafiyah dia tidak akan menyerah.
”Ah gak masalah, kalau perempuannya Shafiyah, bisa dibicarakan baik-baik, bukan bisa lagi tapi memang gak masalah.” Tegasnya berucap dengan begitu mantap.
”Hemmm belum tentu Fiyah nya mau sama aa." Ejek Bayyin dan Wafi mencubit punggung tangan adiknya itu kesal, Bayyin meringis dan menguasai tangannya.
”Jangan begitu dong, bikin orang putus asa tahu kalau begitu.” Protes Wafi dan Bayyin terkekeh.
Wafi merogok sakunya saat hapenya bergetar, panggilan masuk dari anak buah bos nya. Wafi pun lekas mengangkat dan mengucapkan salam, Bayyin diam dan raut wajah Wafi nampak sedih saat dia diminta segera kembali ke sanggar, Wafi melirik ke dalam rumah, menatap pintu kamar yang menjadi tempat istirahat Shafiyah. Begitu berat tapi dia harus bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Apalagi bos nya sangat baik.
Setelah selesai, Wafi menjauhkan hape yang dia dekatkan ke telinganya.
”Aa mau pergi lagi?" suara Bayyin serak, dia selalu senang jika Wafi ada. Merasa aman dan terjaga.
”Iya, aku pinjam uang buat beli obat umi kemarin. Bulan ini aku harus menggantinya, hanya bulan ini bayyin, aku mau berhenti. Tinggal disini sama kalian, umi suka bandel, aku gak bisa lihat umi terus kerja.” Tutur Wafi sambil mengelus pucuk kepala adiknya, Bayyinah tersenyum bahagia mendengarnya.
"Shut jangan berisik. Mungkin Shafiyah lagi tidur.”
”Maaf maaf, aku seneng. Akhirnya." Bayyin terus tersenyum dan Wafi mengajaknya masuk, Wafi harus segera pergi, mumpung masih sore. Dia tidak akan memakai motor.
Bayyin duduk di sofa dan memperhatikan Wafi pergi ke dapur untuk berpamitan.
”Makan dulu." Titah Raihanah.
"Udah enam kali umi nyuruh aku makan, aku gendut nanti.” Wafi meraih satu bakwan lalu duduk. Dan menikmatinya.
”Biar sehat.”
”Umi aku berangkat sekarang ya.”
__ADS_1
Raihanah langsung berbalik.” Katanya besok?” Raihanah sedih.
”Gak bisa, mang Rahmat udah telepon tadi. Aku gak bisa cuti nambah hari sembarangan.” Bujuk Wafi dan diam saat bahunya di usap lembut.
”Ya udah deh, bawa makanan ya.” Raihanah tersenyum dan Wafi mengangguk.
”Aku siap-siap dulu,” ucap Wafi dan bangkit dari duduknya, dia mencuci tangannya lalu pergi ke lantai dua.
Setelah siap, kotak makanan pun sudah masuk ke dalam tas, Wafi pergi. Dia terus menoleh ke rumahnya dan dia berbelok untuk menemui Chairil. Chairil diam saat pria itu mendekat ke arahnya.
”Mau kemana?" tanya Chairil basa-basi.
”Kerja lagi," jawab Wafi sambil tersenyum dan Chairil mengangguk-anggukkan kepalanya.” Aku mau minta tolong.”
”Apa?" ketus Chairil.” Aku sibuk," imbuhnya ketus lalu pergi dan Wafi menatapnya tajam. Wafi bingung harus meminta tolong kepada siapa, Ikhsan sedang tidak ada. Dia menoleh dan melihat Rama, anaknya Ilham dan Zaenab.
”Rama!” panggil nya sambil mengangkat tangan, Rama tersenyum dan melangkah mendekati Wafi yang juga melangkah ke arahnya.
”Apa Gus?"
”Ayah kamu ada?”
”Lagi gak ada,” jawab Rama dan Wafi semakin bingung.
”Begini, saya harus pergi, sementara akan ada tamu laki-laki yang akan datang, saya takut menimbulkan fitnah, harus ada laki-laki yang menunggu keluarga saya." Wafi akhirnya berterus terang. Dan Rama mendengarkan dengan baik.
”Nanti saya, ustadz Amran sama Ridho yang jagain Bu nyai dan semuanya Gus. Tenang aja.” Rama tersenyum lebar dan Wafi merasa senang, tapi dia terusik saat mendengar nama Amran. Amran yang sering berkelahi dengannya dulu.
”Amran masih di sini?" tanya Wafi dan Rama mengangguk.
”Beliau baru pulang dari luar kota.”
Wafi menoleh ke rumahnya. Dia langsung terbayang Bayyinah, Bayyinah pernah akan dinikahi oleh Amran, tapi Amran yang sudah memiliki istri tidak mendapatkan restu dari istri pertama dan Raihanah sendiri mewanti-wanti Bayyin untuk tidak sembarang menerima pinangan, kondisi Bayyin memang cacat, tapi bukan berarti Raihanah bisa melepas putrinya ke sembarang pria. Sekalipun Amran dia kenal dengan baik, tapi jika untuk menjadi yang kedua Raihanah tidak mau, apalagi kondisi fisik Bayyinah, dia takut akan menjadi bahan olok-olokan istri pertamanya Amran. Padahal sedari dulu, Amran menaruh hati kepada Bayyinah.
__ADS_1
”Kalau begitu saya titip ya, terima kasih sebelumnya. Assalamu'alaikum.”
”Wa'alaikumus Salaam. Hati-hati Gus.” Jawab Rama dan Wafi melambaikan tangannya sambil terus melangkah.