Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 66: Asal celup


__ADS_3

”Udah jangan nangis,” ucap Raihanah seraya memeluk menantunya.” Kalian berantem kenapa? Wafi pergi karena sudah waktunya sholat ashar, biarin dia sendiri. Kamu marah karena anak umi pengangguran sekarang? yang harus kamu tahu, sedari SD dia sudah membantu umi mencari nafkah. Apalagi sekarang sudah memiliki istri dan istrinya sedang hamil, dia gak bakal diam, dan menelantarkan kamu. Hidup kamu memang seperti ini nak, sederhana, kamu yang biasanya mendapatkan uang transferan satu Minggu sekali, harus bisa mengatur gaji suami kamu yang sebulan sekali. Dan sekarang harus mengatur nafkah dari suami kamu yang beluma pasti. Allah maha kaya, jangan merasa miskin dan takut gak makan.” Raihanah berucap di dekat telinga menantunya dan Shafiyah hanya terus menangis.


*****


Malam hari pun tiba. Shafiyah meringkuk dan masih terjaga, suaminya belum juga kembali sampai sekarang. Pria yang dia tunggu sedang berdiri di balkon, menatap gelap gulita di sekelilingnya. Dan menunggu Shafiyah terlelap, lalu dia akan masuk. Wafi menoleh dan Shafiyah yang baru keluar dari kamar menatapnya, gadis itu sudah memakai jaket, membawa senter entah mau kemana. Shafiyah menunduk takut dan Wafi berbalik badan lalu memperhatikan istrinya itu.


”Mau kemana kamu?" tegas Wafi, yang takut gadis itu kabur dan meninggalkan.


”Mau pergi ke luar." Shafiyah menjawab dan kedua alis tebal suaminya mengkerut.


”Ngapain? ini jam berapa?” tegas Wafi dan Shafiyah menciut takut. Wafi melangkah menghampiri istrinya itu, lalu membuka pintu kamar, dan tangannya perlahan merebut senter dari Shafiyah.” Masuk.” Sambungnya memerintah.


”Aku tadi mau keluar nyusul Gus Mu, soalnya gak pulang-pulang,” ucapnya menjelaskan dan Wafi mengernyit heran.


”Kenapa manggilnya Gus sih? nyebelin banget.” Gumam Wafi dan Shafiyah menunduk.


”Masuk!" titah Wafi kembali.


”Sama Gus, maunya sama Gus." Shafiyah merengek-rengek dan menggoyangkan lengan suaminya. Wafi menatap lengannya dan Shafiyah tersenyum.


”Jangan senyum, masuk!” titah nya ketus dan Shafiyah melepaskan lengannya. Gadis itu nampak sedih lalu masuk, membuka cadar, jaket dan kerudungnya.


”Makan dulu Gus, belum makan kan?” tutur Shafiyah.


”Nanti!” singkat Wafi lalu melepas pecinya, membuka baju koko nya untuk dia ganti dengan kaos biasa. Shafiyah diam, memperhatikan punggung kekar itu, ia sangat ingin memeluknya. Tapi suaminya sedang marah, kalau dia memaksa yang ada suaminya tambah marah nanti.


”Ya udah,” ucap gadis itu pasrah. Dia naik dan merangkak lalu meringkuk tidak berdaya.” Sabar ya tun, kita tidur gak dipeluk abi kamu malam ini. Biar umi aja yang peluk, umi seorang." Sindir Shafiyah dan Wafi menoleh.


”Dih! apaan sih. Jangan bawa-bawa si Utun ke dalam masalah kita ya. Jangan macam-macam neng, nanti di slebew baru tahu rasa!” timpal Wafi cepat dan dia kesal. Shafiyah tersenyum tipis, dia memang yakin suaminya tidak akan bisa marah padanya terlalu lama, dia salah, dia akan minta maaf jika amarah suaminya itu sudah mulai mereda.


”Ngantuk ah," ucap Shafiyah dan Wafi mendelik sebal. Wafi duduk di kursi, di depan meja, bertelanjang dada, membuka laptopnya dan meminum air di dalam botol di atas meja, yang selalu dia siapkan sendiri dulu, dan sekarang selalu Shafiyah yang menyiapkannya. Shafiyah terlelap, gadis itu memang tidak susah untuk tidur, kecuali sedang banyak beban pikiran. Setelah Wafi selesai dengan pekerjaannya dia menoleh, lalu menutup laptopnya dan bangkit.


Wafi mengambil kaos berwarna putih di lemari, lalu dia naik ke atas kasur. Dia berbaring dan terus memperhatikan punggung istrinya. Wafi menyenggol kaki Shafiyah dengan kakinya tapi gadis itu tidak bereaksi. Wafi tersenyum merasa senang, dia bergeser masuk ke dalam selimut. Mengangkat kepala Shafiyah lalu memasukkan lengannya agar menjadi bantal istrinya. Tiba-tiba Shafiyah menggeliat, Wafi diam sampai menahan nafasnya. Gadis itu berbalik badan, wajahnya menempel di dada Wafi dan diam mulai merasa nyaman. Wafi perlahan memeluk istrinya itu, mencari kehangatan dari tubuh istrinya yang mulai berisi. Keduanya pun terlelap bersama, Shafiyah begitu terlihat lucu menempel dan meringkuk di sebelah dada bidang suaminya.


*******


Keesokan paginya, Raihanah memperhatikan Wafi dan Shafiyah nampak saling cuek. Apa keduanya masih marahan sekarang? Raihanah hanya bisa berdoa untuk kebaikan rumah tangga anaknya. Shafiyah lebih dulu menyelesaikan sarapan dan dia harus segera berangkat kuliah.


”Tambah lagi neng,” ucap Raihanah.


”Udah kenyang umi, Fiyah harus segera berangkat,” lirih Shafiyah dan melirik suaminya. Tidak ada tanda-tanda suaminya mau mengantarkannya kuliah.


”Oh ya udah,” ujar Raihanah dan Shafiyah menyalami tangan ibu mertuanya, lalu suaminya.


”Assalamu'alaikum,” ucap Shafiyah.


”Wa'alaikumus Salaam.” Raihanah dan Wafi menjawab. Setelah Shafiyah pergi, baru saja Raihanah membuka mulutnya, Wafi langsung bangkit dan menyalami tangannya. Mengucapkan salam dan melangkah cepat menyusul Shafiyah.


”Pura-pura cuek, giliran udah pergi heboh,” ucap Raihanah dan terus tertawa kecil.


Di luar, Wafi terdiam melihat Shafiyah sedang berbicara dengan Aidan. Dia mendelik dan mendengus, rasa cemburu pun muncul.


”Mau bareng? saya sama adik saya, Romlah." Ajak Aidan karena melihat Shafiyah terburu-buru.


”Bareng aja.” Ajak Romlah juga. Romlah datang untuk mengajar di pesantren Al Bidayah, hanya siang dan sore pulang. Tapi semalam dia menginap karena hujan. Aidan dan Romlah akan naik taksi dan taksi sebentar lagi tiba.


”Emmm gimana ya.” Shafiyah bingung karena suaminya selalu sinis jika menyangkut tentang Aidan.


Tidttt! suara klakson mobil membuat ketiganya kaget. Shafiyah tersenyum melihat suaminya menyusul. Romlah langsung mundur menjauh, jantungnya berdegup kencang sekarang, napasnya memburu dan dia sangat ingin memegang dadanya. Untuk pertama kalinya, dia melihat Gus Mu secara langsung. Karena dia baru mengajar 3 harian, belum pernah mendapatkan kesempatan melihat pria itu.


”Ada apa ini ya?" tanya Wafi dan merangkul pinggang istrinya. Aidan menunduk dan tak sanggup melihat gadis yang dia cintai bersama suaminya. Wafi sama sekali tidak tahu, jika gadis di belakang Aidan adalah Romlah. Sangat tertutup, sama seperti Shafiyah.


”Kita cuma ngobrol doang tadi, aku udah telat." Shafiyah berbisik dan Wafi melepaskan rangkulannya, beralih dengan meraih tangan istrinya lalu mengenggamnya erat.


”Kami duluan, assalamu'alaikum," ucap Wafi.


”Wa'alaikumus Salaam.” Seru Aidan dan Romlah. Wafi pun menarik lengan istrinya, membawa gadis itu pergi dari hadapan pria yang dia ketahui memiliki rasa pada istrinya.


Shafiyah tidak berhenti tersenyum, sampai dia masuk dan duduk dengan tenang. Mobil pun melaju dan Wafi diam membisu.


”Ada yang cemburu nih!” seru Shafiyah tiba-tiba dan Wafi menoleh sekilas.” Temen aku, bukan Gus Mu. Gus ngerasa?"

__ADS_1


”Diem neng,” pinta Wafi kesal.


”Enggak mau, sebelum kita bicara baik-baik, dan Gus Mu jangan menghindar.”


”Jangan panggil Gus gas Gus terus, kesel dengernya.” Protes Wafi dengan nada tinggi.


”Kan emang dipanggil nya begitu kan?”


”Kamu ngerasa orang lain gitu? ya udah turun sana.”


”Ah aa mah serius terus, cuma bercanda doang juga. Ya udah berhenti, Fiyah turun.” Ancam gadis itu dan Wafi refleks menahan, dengan meraih tangannya.” Aa lagi nyetir."


”Ya udah diem, jangan pegang-pegang pintu, jangan minta keluar.” Tegas pria itu dan Shafiyah mengangguk menurut. Wafi pun melepaskan tangannya dan kembali menyetir dengan kecepatan sedang. Sesampainya di kampus, Shafiyah keluar setelah Wafi membuka pintu mobil.


”Aku kuliah dulu."


”Hmmm,” hanya itu bunyi yang keluar dari bibir Wafi. Lalu diam saat tangannya di kecup mesra.


”Assalamu'alaikum.”


”Wa'alaikumus Salaam.”


Shafiyah melangkah cepat dan Wafi memperhatikannya, sampai istrinya benar-benar masuk dan tenggelam diantara mahasiswi yang lain.


*****


Di kediaman Chairil dan Khalisah. Keduanya sedang menikmati teh hangat bersama dengan goreng pisang, di teras rumah. Khalisah nampak memikirkan sesuatu dan Chairil sibuk memainkan hapenya.


”Bi, katanya gus Mu udah berhenti dari perusahaan. Gimana kalau abi aja yang gantiin.” Memberi usul yang membuat kedua mata Chairil langsung membulat.


”Kaitannya dari sebelah mana? itu perusahaan peninggalan kakeknya Wafi, bukan kakek aku, ada-ada aja kamu. Aku juga gak ngerti dan gak minat, jangan aneh-aneh.” Tegas Chairil dan dia kesal dengan ucapan so' tahu Khalisah.


”Ya kali aja kamu beruntung,” tutur Khalisah dan Chairil mendesah kasar.


Sore harinya, Shafiyah mendapatkan telepon dari Meri. Ibunya sakit katanya dan ada di rumah Fajar. Shafiyah sangat khawatir dan janji akan datang saat ini juga ke rumah Fajar.


”Aku izin suami aku dulu ya kak,” lirih Shafiyah.


Meri menunduk, dan dia harus pergi ke rumah sakit.


”Bu, aku harus pergi,” ucap Meri.


”Ya sudah, ibu disini aja sama Rezki, nunggu Shafiyah.” Sara mengizinkan. Meri tidak habis pikir, bisa-bisanya ibu mertuanya akan memperkenalkan Shafiyah dengan seorang pria, padahal jelas-jelas, Shafiyah sudah bersuami. Dan Rezki nampaknya tidak tahu hal itu. Meri pun akhirnya pergi, dia mengirimkan pesan kepada Fajar agar segera pulang jika bisa karena ibunya berulah.


”Semoga Fiyah datang sama Wafi, kasihan dia kalau sendirian ngadepin ibu.” Gumam Meri seraya terus melangkah dan masuk ke mobilnya.


Cukup lama menunggu, Shafiyah akhirnya sampai. Rezki sudah kesemutan dan terus dicecar pertanyaan oleh Sara. Sara pun pamit untuk meminta air sirup kembali, dan Rezki menunggu. Rezki menoleh saat pintu dibuka dari luar.


”Assalamu'alaikum," ucap Shafiyah. Dia mudah masuk karena Satpam jelas mengenalnya.


”Wa'alaikumus Salaam." Jawab Rezki dan langsung berdiri. Shafiyah menunduk dan Rezki diam mematung, menatap seorang gadis tertutup itu. Shafiyah melirik kanan-kiri, mencari dimana ibu dan pemilik rumah tersebut. Saat dia hendak melewati Rezki, Rezki mengangkat tangannya.


”Maaf, apa kamu gadis itu yang waktu itu? yang tidak sengaja saya tabrak di gang?” ujar Rezki dan Shafiyah baru ingat sekarang.


”Apa saya membuat kerusakan di mobil bapak? sampai bapak kesini? ini rumah kakak saya, rusak di sebelah mananya ya?” ucap Shafiyah.


”Oh ternyata bener ini kamu, pantesan tas nya sama. Sama sekali tidak ada kerusakan, saya kesini sama....”


”Dia Rezki, anak temennya ibu,” ucap Sara yang baru keluar dari dapur. Shafiyah kebingungan, melihat ibunya baik-baik saja.” Simpan di atas meja, bikinkan satu lagi buat Shafiyah.” Pinta Sara kepada bibi yang bekerja di rumah tersebut.


Sara merangkul bahu Shafiyah dan mengajak Shafiyah duduk.” Dia Rezki, ganteng kan? anakny juga sopan, dia anaknya Tante Hanum sama Om Tian,” ujar Sara dan Shafiyah terheran-heran. Kenapa perkenalan tersebut berbau perjodohan? apa ibunya lupa, dia sudah menikah.


”Gus...”


”Shafiyah baru 19 tahun." Sara menyela ucapan Shafiyah dan menekan punggung putrinya itu agar diam, tidak menyebutkan Wafi.” Kalian udah saling kenal?”


”Pernah ketemu gak sengaja tante,” ujar Rezki sambil tersenyum lebar.


”Oh begitu, silahkan ngobrol-ngobrol. Tante tinggal sebentar.” Sara bangkit dan Shafiyah panik." Temani dia.” Tegas Sara dan Shafiyah mengepal tangannya kuat. Wanita itu benar-benar pergi dan Rezki nampak senang bisa bertemu lagi dengan Shafiyah. Keduanya diam, semakin lama belum saling bicara, kedua mata Shafiyah berair. Membayangkan bagaimana perasaan suaminya, yang sama sekali tidak dianggap ada oleh ibunya.


”Emmm Shafiyah, apa kamu benar-benar siap untuk ke jenjang pernikahan?” tutur Rezki tanpa basa-basi.

__ADS_1


”Maaf, apa bapak berniat menikahi seorang gadis yang sudah bersuami? saya bahkan sedanh hamil,” ucap Shafiyah serak lalu menyentuh perutnya.


Wajah tegang Rezki tak bisa disembunyikan, menikah? hamil? apa-apaan ini, apakah bu Sara mempermainkannya. Memberikannya sebuah harapan semu atas gadis idamannya itu. Sungguh sakit, Rezki tak kuat menahan sebuah kenyataan yang disembunyikan Sara.


”Saya...”


”Jangan meladeni ibu saya, dia memang gak suka dengan pernikahan saya. Itu sebabnya berbagai cara dilakukan untuk membuat saya dan suami saya berpisah, ini aib, tidak sepatutnya dibicarakan kepada orang asing. Tapi saya tidak mau ada masalah, dan salah paham berlarut-larut.” Shafiyah menyela ucapan Rezki. Rezki tertunduk dalam dan merasa malu, wajahnya begitu merah saat ini.


”Saya benar-benar tidak tahu.”


”Sekarang sudah tahu kan? saya mohon pergi.”


Rezki membuang nafas kasar, Sara yang menipunya? atau gadis itu yang mempermainkannya saat ini.” Apa saya bisa meminta bukti?” pinta Rezki.


”Asstaghfirullah hal adzim,” seru Shafiyah lalu memijat keningnya.” Akhirnya dia mengeluarkan hapenya, memperlihatkan foto pernikahannya dengan gus Mu yang dia jadikan Wallpaper." Suami saya, seorang Gus di pesantren Al Bidayah, saya sedang mengandung bayinya yang berumur 4 bulan ini. Pernikahan kami memang tidak banyak yang tahu, sangat sederhana, saya minta maaf atas kekacauan yang dibuat ibu saya. Ini jelas merugikan bapak, waktu dan tenaga terbuang sia-sia. Saya minta maaf,” imbuhnya menjelaskan secara detail dan Rezki sangat kecewa. Tanpa berpikir panjang, Rezki langsung meninggalkan rumah tersebut tanpa berpamitan kepada Sara. Sara keluar dari dapur, membawa potongan buah segar dan air minum yang dibawa bibi. Dia kebingungan melihat Rezki lenyap bagai ditelan bumi.


”Rezki mana?” tanya Sara.


”Udah Fiyah usir. Fiyah ini punya suami, ngapain ibu jodohin segala?” ketus Shafiyah dan Sara meradang mendengarnya.


”Siapa yang ngasih kamu izin buat bilang ke Rezki? dapat izin dari siapa kamu?” teriak Sara dan bibi panik. Sara meletakkan nampan kasar dia atas meja dan bibi pergi ke dapur.


”Itu hak aku Bu!"


”Dia pengangguran, mantan napi, kamu cari apa dari pria seperti itu hah? ibu khawatir dengan masa depan kamu. Ibu sayang sama kamu nak." Bujukan Sara mulai beraksi.


”Fiyah sayang sama a Wafi, lagipula gak ada niatan Fiyah buat ninggalin suami Fiyah."


”Tinggalin dia nak,” ucap Sara masih rendah.


”Aku hamil, anaknya Gus Mu. Ibu masih berani mau memisahkan kami?” tegas Shafiyah dan Sara langsung mencengkeram kuat kedua bahu anaknya itu.” Auw!!" Shafiyah terus menjerit dan meringis.


”Dia nyentuh kamu? kurang ajar!!" bentak Sara.


”Dia suami aku Bu, dia berhak atas istrinya yaitu aku.”


”Kamu mikir pake otak Shafiyah!" bentak Sara dan menoyor kepala anaknya itu.” Kamu masih kecil, gugurin, ibu gak mau punya cucu keturunan Berhan, ibu gak mau. Terus cerai sama dia, kamu gak bakal bahagia, gak pernah bahagia kan kamu sama dia?”


”Ibu istighfar!" tegas Shafiyah.” "Bu, pernikahan itu bukan ajang coba-coba. Main celup langsung ditinggalin, bukan begitu Bu. Astaghfirullah. Fiyah cuma mau sama a Wafi, Fiyah sayang banget sama dia,” tuturnya serak. Sara menatap Shafiyah tajam dan tatapan Shafiyah begitu lemah menatap balik padanya.


”Kamu beneran membangkang ya sekarang, pergi! gak usah pulang, jangan pernah pulang ke rumah kami, ataupun ke rumah kakak-kakak kamu. Kamu akan menyesal Shafiyah. Pergi kamu!" usir Sara berteriak-teriak, Shafiyah hanya bisa menangis saat ini.” Pergi, anggap saja kamu hanya punya suami kamu, kamu gak punya ayah dan ibu. Pergi!” terus mengusir, dan kini mendorong bahu Shafiyah terus-menerus.


Shafiyah berbalik dan akhirnya dia melangkah pergi. Sesampainya di luar, gadis itu berlari dan setelah jauh dia melangkah pelan. Shafiyah memegang perutnya sesekali, lalu lehernya, dia sangat merasa haus dan hanya bisa terus melangkah. Dari kejauhan, mobil Wafi terlihat. Wafi kebingungan melihat istrinya jalan kaki sambil melamun.


”Ngapain dia?" Wafi bertanya-tanya. Shafiyah lekas mengusap air matanya saat melihat mobil suaminya, dia tidak mau menjelaskan apa-apa, dia tidak mau suaminya semakin sakit hati dengan ucapan ibunya. Wafi menekan klakson mobil satu kali, dia berhenti lalu keluar dan mendekati Shafiyah. Melihat kedua mata istrinya sembab, dia yakin ada yang tidak beres.


”Sayang hei, kamu kenapa? kenapa nangis begini?" Wafi langsung bertanya dan Shafiyah menggeleng kepala.


”Perut aku sakit tadi.” Adu nya dan Wafi panik.” Ibu baik-baik aja, mending kita pulang sekarang.”


”Kenapa bisa sakit? kita periksa, kamu jangan makan sembarangan dong sayang,” ucap nya mengomel lalu merangkul bahu Shafiyah, mengajaknya masuk ke dalam mobil.


”Aku haus banget.”


”Ada air di mobil, tadi aku beli. Ayo masuk.” Wafi membuka pintu mobil dan Shafiyah masuk, gadis itu duduk perlahan-lahan dan tidak lama Wafi juga masuk. Mengambil sebotol air dan membuka tutup nya. Shafiyah menarik niqob nya ke belakang, meminum air nya perlahan dan setelah itu Wafi mengusap bibir basah itu.


”Ada masalah kan? aku tahu." Wafi terus menatap istrinya lekat.


”Enggak ada gus.” Mencoba membantah.


”Jangan Gus terus." Protes Wafi merasa gemas sendiri melihat istrinya itu.


”Iya maaf abi, maaf. Abi Mumu,” ucap Shafiyah cepat dan mengelus pipi suaminya lembut.


”Ish!” masih protes.


”Iya, iya abi Muzammil Ali." Seru Shafiyah lagi dan Wafi tersenyum tipis. Wafi meletakkan telapak tangan kanannya di perut istrinya itu lembut.


”Anak abi, geraknya jangan kencang kencang ya. Umi sakit katanya,” ucap Wafi dan Shafiyah merasa tenang dengan usapan lembut itu.


”Bayi kita baru 4 bulan, belum gerak gerak bi,” imbuhnya sambil tersenyum

__ADS_1


”Ya sama saja, bentar lagi juga gerak gerak, harus dibilangin dari sekarang.” Wafi tidak mau dibantah dan Shafiyah terkekeh-kekeh. Jemari lentiknya terus mengelus pipi suaminya.


__ADS_2