Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 14: Habibah


__ADS_3

Peluh membasahi sekujur tubuhnya, kepalan tangannya yang dibalut kain terus meninju samsak di hadapannya. Ali dari kejauhan diam memperhatikan, pria itu seperti sedang meluapkan emosinya, tak lelah sedari tadi sibuk sendiri, sementara dia sudah dua kali istirahat.


”Ali, coba kamu dekati pelatih," seru Jordy dan Ali diam.


”Dia kenapa sih?" Ali bertanya-tanya, lalu bangkit dan berlari kecil mendekati Wafi. Namun, Wafi berhenti sendiri. Pria itu duduk.


”Kenapa si?" tanya Ali dan Wafi mendongak menatapnya.


”Apaan sih?” ketus Wafi dan Ali melongo. Ali duduk di sebelah Wafi yang sedang mengatur nafasnya, keringat pria itu benar-benar turun turun, bajunya basah. Dari dagunya keringat terus menetes.


”Ada masalah?" tanya Ali dan Wafi membuang nafas ke udara, lalu menekan tengkuknya dengan kedua tangannya.


”Banyak, saya hanya menguji tenaga saya saja.” Wafi beralasan dan Ali diam. Wafi meminum air nya dan tatapan matanya begitu sayu. Wafi tiba-tiba menoleh kepada Ali yang sedang sibuk memainkan hapenya.


”Ali saya mau tanya.”


”Tanya aja.” Ali menoleh sekilas.


”Kalau cewek kita follow, gak ada respon itu gimana ya?” tanya Wafi dan Ali melotot.


”Akang galau gara-gara perempuan?” tanya Ali dengan diselingi tawa. Wafi memukul bahu Ali dan dia kesal.


”Saya cuma tanya, kan kamu lebih pengalaman. Kenapa bisa begitu? gak diterima terima juga permintaan pertemanan saya." Keluh nya lirih dan sedikit malu harus berbicara dengan Ali. Tentang sesuatu hal yang tidak terlalu penting, tapi itu penting si untuknya.


”Ya males kali kang." Jawab Ali asal dan Wafi mendengus kesal.


*****

__ADS_1


Di sebuah restoran, keluarga Syifa sedang makan bersama, pembahasan tiba-tiba menjurus membicarakan Wafi. Syifa terlihat tidak suka, tapi pembahasan alis ghibah sudah melenceng kemana-mana. Apalagi yang tentang Wafi mengajar dan tidak ada yang mau datang.


”Katanya Wafi suka sama Khalisah ya?” tutur Rukma, istrinya Ikhsan. Chairil yang mendengar mendadak terdiam. Chairil diajak karena dia memang dekat dengan keluarga Syifa.


”Ah masa sih neng?" ikhsan tidak percaya dan istrinya mengangguk.


”Emang Khalisah nya mau? dia kan agak-agak." Terselip makian dalam ucapan Rukma.


” Asstaghfirullah, kita mau makan atau ghibah ini teh?” suara Syifa begitu lirih menegur anak menantunya. Semuanya diam menunduk.


”Kamu kata siapa neng?" tanya Ikhsan berbisik.


”Wafi ngomong sama ustadz Jaidi katanya, suka sama Khalisah.” Balas Rukma berbisik Ikhsan melirik Chairil yang terlihat langsung bermuram durja. Kabar Wafi menyukai Khalisah pun di dengar oleh keluarga Raihanah, memang iya? ada rasa tidak percaya di benak Raihanah. Entah gosip atau apapun itu, yang jelas malah bikin geger pesantren.


Malam hari tiba, Wafi sedang istirahat sambil menatap layar ponselnya. Hapenya baru, tidak mahal, kisaran dibawah dua juta, Raihanah yang memilihkannya, dia tidak mau anaknya diejek oleh orang lagi, Wafi berhak mendapatkan hasil jiri payahnya. Wafi sedang memperhatikan sebuah akun Instagram seorang gadis yang di private, sudah semingguan dia memfollow akun tersebut, satu-satunya yang dia follow tapi tidak ada respon.


Tring! suara notifikasi terdengar, Wafi terperanjat dan menyambar hapenya. Kedua matanya menyipit, bibirnya tersenyum lebar memampang kan gigi-giginya yang kecil dan bersih, serta bergingsul.


Wafi mengubah posisi nya dengan duduk bersila di atas ranjang hanya muat untuk satu orang itu. Dia mulai mencari tahu akun gadis itu. Bibirnya terus tersenyum.


”Oh begini isi akun nya,” seru Wafi sambil mengangguk-anggukan kepalanya, simpulan di bibirnya menandakan betapa bahagianya dia bisa melihat akun gadis tersebut. Rasa penasarannya pun malah semakin menjadi. Kebanyakan postingan gadis tersebut adalah postingan tentang beberapa kata bijak motivasi, kata-kata galau tentang cinta dan ceramah para pendakwah terkenal. Wafi terdiam melihat video paling atas adalah video abinya sendiri, tangannya tiba-tiba membeku, tak kuasa lagi menggeser layar hapenya. Dia tekan video tersebut dan melihat bagaimana suara dan logat bicara abinya perpaduan bahasa Sunda dan Indonesia, isi ceramah membahas mengenai persoalan jodoh. Wafi tidak tahu jika foto dan Video ayahnya masih sangat banyak di media sosial, terus di posting ulang dengan di edit terlebih dahulu. Wafi menunduk dan berusaha menguasai emosionalnya.


Satu-persatu foto nya dia klik, tidak ada yang istimewa, foto gadis itu lebih banyak bersama dengan teman-temannya, tapi ada satu foto yang membuat Wafi terdiam, apa itu potret wajahnya yang selama ini terhalang kain cadar? jika iya, betapa cemburunya ia. Walaupun foto tersebut adalah foto sebuah KTP, sengaja di buram kan, tapi tetap saja para lelaki masih bisa melihatnya, apalagi followers akun gadis itu ribuan. Banyak sekali, sampai Wafi pun terheran-heran.


Instagram Shafiyah_13


*****

__ADS_1


Keesokan paginya, Khalisah terlihat kesal, banyak santriwati yang menggodanya karena kabar Gus Mu menyukainya. Shafiyah, gadis itu sedang berdiam diri di tempat pacuan kuda, duduk berkalang rumput dan dia melamun. Dia sentuh dadanya yang terasa sesak, saat mendengar gus Mu menyukai Khalisah. Dan semua orang tahu itu.


”Kenapa sakit banget ya, apa-apaan sih kamu Fiyah," ucap Shafiyah dalam hati.” Harusnya aku seneng, semoga gus Mu nikahin Khalisah, Khalisah juga kan udah ngomong terus dia mau nikah secepatnya, gak mau nikah di umur lebih dari 24 tahun. Harusnya aku seneng, asstaghfirullah hal adzim.” Shafiyah terus mengusap-usap dadanya. Kedua matanya berkaca-kaca.


Dia menunduk lesu, apakah ini yang dinamakan cemburu? saat laki-laki yang kita sukai menyukai gadis lain, atau rasa ini adalah rasa yang salah baginya? Shafiyah dalam lingkaran kegalauan dan ketakutan, dia takut karena cemburu bukan pada tempatnya, siapa Gus mu? dia sama sekali tidak terikat dengan pria itu, Shafiyah lagi-lagi beristighfar, dan berusaha menghilangkan perasaannya untuk Wafi yang entah kapan dan dimana dia memulainya.


”Cie Khalisah,” seru semua santriwati saat Khalisah datang.


"Apaan sih?" ketus Khalisah.


”Kamu seneng kan ditaksir Gus mu?” ucap Ima sambil menyenggol lengan Khalisah, Khalisah meradang dan menatapnya tajam.” Kamu cocok sama Gus Mu."


”Iya Khalisah, jangan lupa undangannya ya,” goda Dilah dan Khalisah menunduk begitu dalam.


”Loh, Khalisah mau kemana?" teriak Ima dan Khalisah berlari pergi. Shafiyah diam memperhatikan kepergian gadis itu. Setibanya di lingkungan pesantren, Khalisah menunduk karena berpapasan dengan Chairil. Keduanya sama-sama menunduk lalu berhenti melangkah saling membelakangi.


”Apa benar yang saya dengar ini khalisah?” bisik Chairil.


”Apa ustadz?" suara Khalisah serak.


”Kamu dengan Gus Mu?"


”Demi Allah saya gak tahu apa-apa, saya juga malu. Gus Mu sepertinya berbicara sembarangan, sengaja untuk mempermalukan saya.” Tutur Khalisah dan Chairil diam sejenak mendengar suara serak disusul suara isak tangis gadis itu.” Saya gak suka sama Gus Mu." Khalisah terus terang. Dia suka sebenernya, gadis mana yang tidak suka dengan ketampanan Gus Mu, tapi status pria itu terlalu hina. Khalisah tidak sanggup jika untuk meladeni perasaan Wafi. Dia malu dan merasa terhina.


Chairil juga ganteng, walaupun tidak seganteng Wafi. Tapi nama Chairil bersih, dan itu lebih baik bagi Khalisah.


”Saya hubungi kamu nanti, assalamu'alaikum." Tegas Chairil dan Khalisah mengusap air matanya.

__ADS_1


”Wa'alaikumus Salaam.” Jawab gadis itu dan melangkahkan kakinya menuju asrama.


__ADS_2