
”Aku sehat Gus, terima kasih sudah menjadi penyemangat, padahal Gus sendiri yang jauh lebih butuh itu. Sabar ya, sampai Allah satukan kita. Semangat kerjanya, jangan melamun, aku gak mau Gus kenapa-kenapa. Situasi masih sama, aku terus di buntuti, diperhatikan berlebihan. Keluarga aku keras, aku sudah bilang ini. Dunia adalah segalanya, yang mengatur kebahagiaan adalah uang. Itu yang keluarga aku percaya selama ini, semoga Gus kuat ya. Kita sudah jauh melangkah, berjuang untuk mendapatkan restu. Jangan sampai masalah kecil menjadi penghancur semuanya. Sehat-sehat ya Gus, wassalamu'alaikum.” Shafiyah tersenyum, dia melipat kertas tersebut untuk membalas surat dari Wafi. Rasanya kembali ke zaman dulu, dimana alat komunikasi percintaan adalah surat menyurat.
”Semoga surat ini sampai ke tangan kamu ya Gus,” ucap Shafiyah berbisik, lalu mengusap-usap surat tersebut.
****
Di tempat lain, Wafi sedang menadahkan tangannya. Berdoa dan meminta jalan terbaik untuk kisah cintanya, dia takut menambah dosa dan memilih jalan yang salah. Semakin banyak ujian dalam kisah percintaannya, hatinya malah semakin teguh untuk memperjuangkan. Apa ini? sebuah rasa yang semakin kuat, apa ini sebuah petunjuk agar dia terus memperjuangkan Shafiyah? dia mau Shafiyah, kerena pernikahan bukan satu dua hari. Pernikahan adalah ikatan suci dan sakral, dan dia mau kisah cintanya terikat kuat dalam ijab qobul yang dia ucapkan.
Setelah selesai, Wafi mengusap air matanya. Pernikahan Afsheen sebentar lagi, gadis itu malah semakin mendiamkannya. Hubungan dengan saudarinya tidak baik, ditambah hubungannya dengan Shafiyah. Jika terus dipikirkan, dia bisa gila karenanya.
”Kapan hamba meninggalkan Engkau ya Allah, karena hamba tahu Engkau tidak pernah meninggalkan hamba mu ini, hamba yang berlumuran dosa. Di masa tuanya, umi masih sibuk memikirkan anak-anaknya, yang tidak akur, yang akan menikah, dan urusan yang lain. Hamba butuh sosok seorang istri yang penyabar atas keadaan hamba, yang bisa menerima keluarga hamba. Jika itu Shafiyah, tolong ya Allah. Permudah jalan kami untuk bersama, untuk beribadah bersama hanya pada-Mu. Lembutkan, tundukan, dan ikhlaskan keluarga Shafiyah, agar bisa menerima hamba," gumam Wafi. Jemarinya terus mengulur tasbih, berdzikir, meminta ketenangan jiwanya yang lelah.
Beberapa orang memperhatikan, ada juga yang mengejek, karena Gus mu yang tak gentar untuk mendapatkan Shafiyah.
”Aidan saja gak dilirik sama sekali, apalagi dia. Mimpi ketinggian,” ujar seorang santri yang mulutnya bocor.
”Hush, nanti Gus Mu denger berabe," tegur yang lain.
Keesokan harinya, di kampus. Ima menerima surat dari Shafiyah, yang harus dia berikan kepada Wafi. Shafiyah dan Ima kini sedang makan siang berdua di kantin. Shafiyah sangat merindukan suasana pesantren, tapi tidak mungkin dia bisa kesana. Bisa bahaya, dan Wafi yang akan kena getahnya.
”Ada kabar apa di pesantren?” tutur Shafiyah dan Ima tersenyum.
”Enggak ada apa-apa, seperti biasanya aja.”
”Apa banyak santriwati yang mau hadir saat Gus mu mengajar?” tanya Shafiyah lagi, dia khawatir karena tidak semua orang bisa menerima Gus Mu.
”Makin bertambah, jangan khawatir ya,” ucap Ima menghibur dan Shafiyah mengangguk.
”Dia pasti jadi kecengan semua santriwati,” ucap Shafiyah terdengar kesal dan cemburu.
”Iya dia kan ganteng, ngajinya juga pinter,” puji Ima dan Shafiyah tersenyum lebar, kapan dia bisa membanggakan Wafi sebagai suaminya? memiliki suami yang seperti itu, adalah idaman para gadis yang jauh mementingkan nahkoda terbaik untuk memimpin ke surga, ketimbang menjadi pemimpin untuk urusan duniawi semata.
”Eh iya, Khalisah udah pindah loh. Dia tinggal gak jauh dari pesantren, kan ustadz Chairil punya rumah kosong gak jauh dari pesantren,” tutur Ima dan Shafiyah terdiam." Jangan sampai dia datang ke pesantren dan membuat ulah lagi.”
”Aku jadi khawatir sama Gus Mu kalau begini Ima.” Shafiyah panik, dan takut mulut Khalisah kembali menyakiti gus Mu.
”Enggak lah, gak mungkin ustadz Chairil diem aja kalau istrinya begitu.” Ima meyakinkan, meraih tangan Shafiyah dan mengenggamnya. Shafiyah diam dan melamun.
”Gus, aku harap Gus bisa kuat kalau Khalisah berulah lagi. Aku jauh, tolong jaga diri baik-baik,” gumam Shafiyah. Setelah obrolan selesai, keduanya pergi. Waktu berlalu tidak terasa, sore pun tiba. Wafi sudah tidak sabar ingin mendapatkan surat balasan dari Shafiyah. Saat Ima pulang, Ima melangkah menuju ke rumah Bu nyai, untuk memberikan surat tersebut kepada Bayyin untuk Wafi.
__ADS_1
”Ima!" panggil Raihanah. Ima terkejut dan diam mematung. Raihanah tersenyum dan mendekati gadis itu perlahan.
”Assalamu'alaikum Bu nyai,” ucap Raihanah.
”Wa'alaikumus Salaam,” jawab Raihanah.” Saya mau ngobrol sama kamu,” ucap Raihanah dan Ima mengangguk. Ima diam mendengarkan permintaan Raihanah, wanita itu menanyakan kepada Ima. Apakah Ima mau bersanding dengan puteranya Wafi? gadis itu tanpa ragu mengangguk setuju, Raihanah nampak senang. Dan meminta Ima untuk bertanya kepada keluarganya, apakah bisa menerima putranya yang mantan narapidana. Jika keluarga Ima setuju, pernikahan akan segera dilaksanakan.
Bayyin yang baru pulang mengaji kebingungan, melihat kedekatan uminya dan Ima.
”Lagi ngapain ya?” tutur Bayyin berbisik. Ima nampak pamit kepada Raihanah lalu melenggang pergi. Bayyin melangkah mendekati uminya dan Raihanah diam." Assalamu'alaikum umi.”
” Wa'alaikumus Salaam neng," jawab Raihanah sambil tersenyum.
”Tadi Ima ngapain dari sini?" tanya Bayyin, dia tegang dan takut surat balasan dari Shafiyah malah diterima uminya, jelas-jelas uminya melarang Wafi berhubungan lagi dengan Shafiyah.” Dia ngasih apa?” tanya Bayyin langsung dengan suara hampir tercekat.
”Enggak ngasih apa-apa, umi cuma tanya sama dia. Dia mau atau enggak sama aa kamu, Alhamdulillah dia mau. Semoga keluarganya gak nolak ya," tutur Raihanah dan kedua mata Bayyin membulat. Apa ini? separah itukah uminya tidak setuju dengan Shafiyah. Apa salah Shafiyah? kenapa gadis itu kena imbasnya, padahal Shafiyah juga menyukai kakaknya.
”Asstaghfirullah umi, aa gak mau sama gadis lain. Maunya sama Shafiyah, umi emangnya udah nanya sama aa? kasihan aa mi, dia gak pernah meminta apapun, dan malah sering memikirkan kita, kebahagiaan aku, Niyyah sama umi dulu yang dia pikirin, kali ini aa mau mengatur kebahagiaan untuk nya sendiri, itu baik kan? kita harusnya dukung, sampai ada keputusan, aa sama Shafiyah lanjut atau nyerah," tutur Bayyin serak. Jika Wafi tahu, pria itu pasti sangat sedih.
”Justru karena umi mikirin kebahagiaan kakak kamu, Ima baik. Kita semua tahu dia, dia cocok buat Wafi. Umi juga udah bilang, kalau udah nikah Ima harus dicadar. Dia mau kok, dia sama sekali gak nolak.”
”Enggak akan ada yang nolak laki-laki seganteng anak umi itu, Bayyin juga perempuan mana yang ganteng, yang biasa, yang idaman yang biasa aja. Aa itu ganteng, dan gadis sekarang cuma melihat itu, tapi Shafiyah menghargai a Wafi tulus. Bukan karena rupa, rupa bisa rusak, tapi perasaan yang tulus itu enggak umi.” Bayyin hampir menangis, suaranya bergetar, tubuhnya berkeringat dingin, dia kecewa dengan keputusan sepihak uminya. Raihanah diam membisu, terduduk lemas dan Bayyin mendekatinya. Tapi Raihanah tidak akan mengubah keputusannya, untuk masalah Wafi belum mencintai Ima, dengan seiringnya waktu, rasa cinta dan sayang akan tumbuh.
”Maaf Fiyah," ucap gadis itu. Lalu menggenggam surat sampai menjadi bola, dia melemparkannya ke dalam tempat sampah, lalu pergi masuk ke dalam asrama dengan berlenggak-lenggok.
Malam hari tiba, udara begitu panas malam ini. Wafi berdiri bertelanjang dada, menatap keluar jendela kamarnya yang terbuka lebar, angin malam masuk menerpa tubuh kekarnya. Wajahnya memperlihatkan kesedihan, belum ada surat balasan dari Shafiyah. Dia khawatir dan apa dia harus nekad pergi ke rumah Fajar? dia sama saja dengan memberikan nyawanya. Fajar bisa saja menjadikan kedatangannya untuk menjebloskannya kembali ke penjara, pria itu bisa melakukan apapun karena uang. Dan sangat mungkin, bisa membunuh siapapun yang mendekati adik perempuannya.
”Lagi ngapain kamu di sana? aku khawatir,” tutur Wafi. Suara pintu kamarnya yang dibuka membuat nya berbalik badan, Bayyin masuk dan Wafi memperhatikannya.
”Bayyin mau ngomong,” ucap Bayyinah.
”Kenapa?" tanya Wafi. Bayyin akhirnya menceritakan semuanya, Wafi menunduk lesu dan kecewa kepada uminya. Jika Shafiyah tahu, gadis itu pasti akan sangat kecewa.
*****
Keesokan harinya, Shafiyah tak kunjung mendapatkan surat balasan, Ima bahkan menghindarinya. Apa ada yang terjadi? sampai sahabatnya itu seperti itu padanya. Shafiyah kini sedang berdiri, menunggu Ima untuk menanyakan kabar pria yang dia cintai. Dia merasa tidak melakukan kekeliruan, dan tidak mungkin kakaknya Fajar tahu dia masih berhubungan dengan Wafi, kecuali ada yang memberitahunya. Yang tahu hanya antara Wafi, Shafiyah, Bayyin dan Ima.
”Aku bakal nungguin kamu Ima,” ujarnya pelan.
Perjuangannya pun tidak mengecewakan. Dia melihat Ima, tapi gadis itu langsung menghindar. Shafiyah melangkah cepat, menyusul sahabatnya itu. Dia raih dan menarik tangan Ima.
__ADS_1
”Lepas Fiyah!" teriak Ima.
”Aku mau ngomong, cuma sebentar. Kamu kenapa sih sebenernya?” suara Shafiyah pelan karena tidak mau menjadi pusat perhatian. Ima menepis tangan Shafiyah kasar dan Shafiyah terkejut.
”Jangan ganggu aku.” Ima begitu ketus, tatapannya begitu tajam menatap Shafiyah.
”Iya maaf, apa Gus Mu membalas surat aku kemarin?” ujar Shafiyah baik-baik, hanya Ima yang bisa dia andalkan.
”Enggak ada, dan gak bakal pernah ada lagi surat dari Gus Mu.”
”Maksud kamu apa Ima?”
”Aku sama Gus Mu di jodohkan,” tutur Ima lalu memalingkan wajahnya.
Deg! Shafiyah tersentak, seperti disambar petir di siang bolong, kabar apa ini? pria yang dia sayangi dengan sahabatnya? ulu hati nya terasa ngilu, dadanya sesak, berusaha menahan air matanya pun percuma. Air matanya berjatuhan begitu saja.
”Jangan bercanda Ima, jangan begini,” ujar Shafiyah serak. Ima suka bercanda, tapi kali ini leluconnya sama sekali tidak lucu.
”Aku serius, aku sama Gus Mu mau menikah. Keluarga aku juga udah setuju, maaf Shafiyah. Aku harap kamu mau datang ke pernikahan kami,” tutur Ima. Dia raih tangan kanan Shafiyah perlahan, bibirnya terus tersenyum dan itu sangat menyakitkan untuk Shafiyah.” Sabar ya, aku yakin kamu bisa melepas Gus mu buat aku. Aku suka sama Gus Mu sejak lama, tapi dia malah suka sama kamu. Tapi aku yang dipilih Bu nyai langsung. Sebaiknya kamu mencari lelaki yang kaya, supaya gak ada keluarga yang lain yang dihina sama keluarga kamu,” tutur Ima sambil tersenyum kecut, Shafiyah menarik tangannya dan Ima terus tersenyum.
”Kamu tahu kan aku sama Gus Mu itu saling suka, kenapa kamu gak nolak Ima? kamu jahat tahu gak,” suara Shafiyah begitu berat dan Ima memperhatikannya.” Gus mu gak akan mau sama kamu.”
”Kata siapa? kamu tahu sendiri kan, Gus Mu sayang banget sama Bu nyai. Dan Bu nyai pilih aku, lupakan semuanya Shafiyah.” Pinta Ima dan Shafiyah menyeka air matanya, tapi ada lagi dan lagi. Dia berbalik, tak sanggup lebih lama berhadapan dengan Ima.
”Kamu menerima gadis lain Gus? terus aku, umi kamu sendiri yang memilih Ima. Itu wajar, seorang ibu gak akan pernah bisa menerima anaknya dihina. Keluarga aku sudah banyak salah sama kamu, aku minta maaf. Tapi kenapa harus sahabat aku sendiri hiks,,,, aku gak kuat.” Shafiyah terus melangkah pergi, teriknya matahari membuat kepalanya tiba-tiba berdenyut. Pandangannya tiba-tiba buram, nafasnya semakin memburu dan tersengal, Shafiyah memegang dadanya. Kedua matanya tertutup perlahan.
Brug! tubuhnya ambruk di atas trotoar, Ima menoleh dan terkejut melihat Shafiyah pingsan.
”Shafiyah pingsan!" jerit Rosa panik, dan berlari untuk membantu Shafiyah. Farel yang ada di sana langsung mendekat, ingin menyentuh Shafiyah tapi di halangi Aidan.
”Jangan sentuh dia!" tegas Aidan dan Rosa langsung mendekap tubuh Shafiyah, dia menoleh memperhatikan Ima yang hanya diam, apa gadis itu tidak ada niatan untuk menolong sahabatnya sendiri? keduanya bahkan hidup di satu kamar yang sama-sama selama ini." Nur angkat Nur!" titahnya, Nur mengangguk dan dua perempuan yang lain membantu. Aidan sama sekali tidak mengizinkan Farel mendekat, dia menghentikan taksi lalu Shafiyah dibawa masuk. Shafiyah mengalami penurunan kesehatan, saat dia stres dia sering pingsan, ini pernah terjadi beberapa kali saat dia kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan pesantren saat itu. Saat kecil, Shafiyah sakit-sakitan. Dan sekarang semua beban pikiran yang menyiksa membuatnya tumbang kembali.
Di pesantren, Wafi menepuk-nepuk dadanya. Ikhsan dan Rama memperhatikannya, keduanya khawatir dan mendekat.
”Ada yang sakit Mu?" tanya Ikhsan dan Wafi menggeleng kepala.
”Hufff....” Wafi membuang nafas kasar, mengatur nafasnya yang tiba-tiba tersengal. Kegelisahan menyelimuti, dia nampak gelisah dan terus menepuk-nepuk dadanya. Jantungnya berdegup kencang, itu tidak nyaman dan sangat menyiksa.
”Wafi." Ucap Ikshan lalu menggoyangkan bahu Wafi. Wafi menggeleng kepala dan terus menunduk." Istighfar,” ucap Ikhsan lagi.
__ADS_1
”Asstaghfirullah hal adzim,” tutur Wafi terus-menerus. Wafi melepas pecinya, mencengkeram kuat rambutnya. Dia khawatir dengan Shafiyah, entah bagaimana keadaan gadis itu sekarang, suratnya pun tidak dibalas oleh gadis itu.