Cahaya Untuk Gus Mu

Cahaya Untuk Gus Mu
Bab 63: Sedih


__ADS_3

Wafi mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, Shafiyah memeluk dengan satu tangannya begitu erat, dia duduk miring karena memakai gamis. Wafi sesekali melirik Shafiyah di kaca spion.


”Mau jalan-jalan?” tanya Wafi.


”Enggak bi, mau pulang aja, lagi capek.”


”Oh ya udah.” Wafi tersenyum dan mengelus punggung tangan Shafiyah yang di perutnya itu sekilas. Shafiyah tersenyum dan menatap tengkuk suaminya sejenak. Saat lampu merah menyala, motor berhenti. Wafi merapihkan pecinya dan keduanya tidak sadar ada mobil Sara tidak jauh dari mereka. Sara diam, memperhatikan anaknya yang panas-panasan naik motor. Wanita itu terus menggerutu dan saat lampu hijau menyala, Wafi kembali melajukan motornya. Sara berusaha melihat lagi, tapi keduanya lenyap tak terlihat setelah menyalip sebuah mobil truk.


Sesampainya di rumah, Shafiyah turun dan langsung masuk ke dalam rumah. Kebetulan Raihanah sedang memasak dan Shafiyah akan membantunya.


”Assalamu'alaikum umi.”


”Wa'alaikumus Salaam, udah pulang neng. Katanya ketemu sama kakak kamu, kenapa gak diajak kesini?” tutur Raihanah dan berharap Wafi bisa akur dengan kakak pertama Shafiyah, Shafiyah langsung menunduk, akan apa jadinya jika Seno datang ke rumah dan berbicara buruk, suami dan ibu mertuanya pasti akan terluka.


”Dia sibuk umi,” ucap Shafiyah gugup. Kegugupan yang membuat tanda tanya dibenak ibu mertuanya. Shafiyah meraih segelas air lalu duduk dan meminumnya perlahan-lahan. Raihanah pun tak mau bertanya lagi.” Umi mau masak apa? Fiyah bantuin ya.”


”Mau masak tumis kangkung, ada yang ngasih tadi, tolong bantu umi gorengin tempe sama yang lainnya aja, aa mau sambal katanya, kita bikin sambal juga.”


”A wafi emang suka pedes ya umi.”


”Iya, dia suka banget.”


”Padahal Fiyah gak bisa bikin sambal, Fiyah gak bisa masak."


”Belajar neng, bisa masak itu penting, walaupun cuma satu dua menu yang bisa kamu masak, gak apa-apa. Umi juga dulu belajar dulu, waktu di pondok, kamu gak pernah masak kalau bagian piket masak?”


"Hehe Fiyah malah bikin kacau, paling bantuin motong bahan-bahannya umi.” Fiyah menjelaskan sambil malu-malu dan Raihanah tersenyum.


”Tingkatkan, itu udah bagus.” Puji Raihanah dan Shafiyah tersenyum lebar merasa senang. Lalu dia bangkit dan mulai membantu ibu mertuanya itu. Sementara Wafi pergi ke masjid. Setelah makanan siap disantap, Shafiyah mengirimkan pesan kepada suaminya untuk segera pulang dan makan bersama.


*******


Seno akhirnya kembali pulang ke luar kota, istrinya sudah terus menelepon. Sara yang mendengar cerita dari Seno tidak habis pikir, kenapa Shafiyah begitu sekarang. Tidak ada yang salah dengan Shafiyah, dia berhak marah saat ada yang menghina suaminya, padahal suaminya selalu diam, mau semua orang menghinanya seburuk apapun, dia hanya diam karena malas ribut dan takut kebablasan. Adi sebagai kakak yang paling dekat dengan Shafiyah, merindukan adiknya itu. Akhirnya dia datang ke kampus hari ini. Untuk melihat adiknya walaupun dari kejauhan.


”Apa kamu bahagia neng? kakak khawatir, kita jauh sekarang, gak deket kayak dulu,” lirih Adi sambil terus memandangi kampus tersebut dan akhirnya Shafiyah terlihat. Bibirnya tersenyum tipis, melihat adiknya baik-baik saja.


Shafiyah sedang bersama Nur, habis membeli minuman dan akan pulang bersama. Saat melihat kakaknya sekilas, Shafiyah tersenyum, dia berlari mengejar tapi Adi nampak membuang muka.


”Kakak!” teriak Shafiyah. Dia sangat sedih melihat Adi menghindar. Dia terus berjalan cepat. Adi kini masuk ke dalam mobil dan Shafiyah terus berlari mengejarnya.


”Shafiyah!" teriak Nur saat mobil dari gang kecil keluar dengan kecepatan sedang.


Bruk! Shafiyah tertabrak dan langsung tersungkur ke atas aspal. Adi melirik kaca spion, dan dia melihat adiknya sekilas terjatuh, setelah tertabrak. Adi tersentak dan berhenti mendadak.


”Fiyah," ucapnya serak. Putar balik susah dan akhirnya dia keluar lalu berlari untuk melihat adiknya.


"Shafiyah kami berdarah, kita ke rumah sakit." Ajak Nur panik.


”Saya gak sengaja, maaf.” Seru pria pengendara mobil yang langsung keluar saat dia menabrak orang.


”Bapak harus tanggung jawab." Nur menuntut.


”Baik, saya akan bertanggung jawab, saya akan membawanya ke rumah sakit, kamu boleh ikut." Pria itu menyanggupi dan Shafiyah menggeleng kepala.


”Saya gak apa-apa,” ujar gadis itu dan menatap telapak tangannya yang tergerus aspal. Darah terus menetes. Dan Adi kini langsung membantu adiknya berdiri." Kak," lirih gadis itu.


”Mana yang sakit, ya ampun. Darah, ikut kakak." Ajak Adi dan Nur serta pria itu diam memperhatikan.


”Tunggu!" seru pria itu.


Adi menoleh dan menatapnya tajam, Nur diam karena dia tahu Adi akan mengobati Shafiyah dengan baik.

__ADS_1


Sesampainya di mobilnya, Adi mengobati adiknya itu. Shafiyah terus meringis dan menangis.


”Sakit, kak."


”Diem biar gak infeksi, kalau jalan tuh lihat kanan-kiri, udah tahu depan gang malah nyelonong aja.”


”Ya Fiyah gak lihat, gak sadar. Kakak kenapa pergi? Fiyah kangen tahu,” tutur Shafiyah sambil memandangi wajah kakaknya. Adi mendelik sebal, pura-pura tidak perduli dan Shafiyah tersenyum simpul.” Auw sakit!” jeritnya kencang.


”Diam dulu,” ketus Adi dan Shafiyah akhirnya diam. Hanya tangan dan lututnya yang terluka, dia sangat bersyukur. Di depan kampus, Wafi kelimpungan mencari istrinya. Bukannya tadi Shafiyah bilang sudah keluar. Tapi dimana gadis itu? ditempat biasanya berdiri juga tidak ada.


”Kemana sih kamu, bikin panik aja." Wafi langsung membuat panggilan kepada istrinya itu, sambil terus berjalan mencari Shafiyah, mungkin istrinya sedang jajan. Shafiyah akhirnya mengangkat teleponnya." Sayang, kamu dimana?” tegas Wafi kesal.


”Aku sama kak Adi, di mobil. Gak jauh dari kampus. Aku jatuh ketabrak mobil tadi, berdarah. Sakit a.” Shafiyah mengeluh, suaranya terdengar serak karena dia sedang menangis." Sakit."


”Kamu dimana? di sebelah mana neng?” Wafi panik dan berlari kecil ke arah mobilnya yang terparkir.


”Di mobil kak Adi, di depan kedai bakso malang a. Gak jauh dari kampus, aa juga tahu.”


”Iya tahu, tunggu disitu.” Wafi memutus panggilan dan dia bergegas untuk pergi melihat istrinya.


Setibanya di depan kedai bakso, Wafi mengernyit heran melihat Shafiyah berdiri seorang diri tanpa Adi, seperti yang disebut Shafiyah. Shafiyah nampak sedih, menunduk sedih karena Adi memintanya turun lalu pergi begitu saja. Apa seburuk itu suaminya? sampai tidak ada kakaknya yang mau berdekatan dengannya saat suaminya ada. Shafiyah sangat sedih, hancur dan kecewa. Wafi turun dari mobil, melangkah mendekat pun Shafiyah tidak menyadarinya. Wafi meraih tangan Shafiyah dan Shafiyah kaget.


”Asstaghfirullah neng, kenapa bisa begini? kenapa sendirian, kakak kamu mana?” tutur Wafi dan Shafiyah menatapnya lekat.


Shafiyah berusaha tersenyum dan Wafi menyeka air matanya." Kenapa nangis? sakit banget ya? ke rumah sakit, kita periksa." Ajak pria itu dengan suara serak dan Shafiyah tersenyum.


”Aku gak apa-apa, jangan khawatir."


"Gimana bisa? kamu terluka!" Wafi kesal dan Shafiyah terkekeh.


”Kak Adi sibuk, jadi harus pergi. Aku beneran gak apa-apa, pasti kak Adi udah bawa aku ke rumah sakit kalau aku cedera serius. Cuma ketabrak sedikit, tadi. Aku jatuh karena kaget juga." Shafiyah menjelaskan dan Wafi mendesah kasar. Dia rangkul bahu istrinya itu dan mengajaknya pergi untuk segera pulang. Shafiyah berjalan pincang, karena kedua lututnya linu saat digerakkan paksa.


Wafi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Shafiyah diam, dan dia sedikit senang bisa melihat Adi dari dekat. Dan berharap hubungannya dengan semua kakaknya bisa baik-baik saja nanti.


”Enggak bi, aku mau pulang. Mau istirahat aja, kaki aku yang sakit, kayaknya keseleo. Tolong cariin tukang urut ya nanti.”


"Tuh kan, takutnya ada luka dalam, kesenggol mobil itu beda yang.”


”Enggak mau yang, jangan maksa.”


”Bandel!” maki Wafi kesal dan Shafiyah tersenyum.


Mobil terus melaju, sesampainya di rumah. Wafi memapah istrinya masuk, Raihanah panik dan melihat darah di baju menantunya.


”Neng kenapa?” tanya Raihanah.


”Fiyah cuma jatuh umi, gak apa-apa kok," ia menjawab dan Wafi mendelik sebal.


”Kenapa bisa?” tanya Raihanah lagi, belum puas dengan jawaban menantunya. Wafi akhirnya menjelaskan dan Raihanah sangat cemas.” Takutnya ada luka dalam neng.”


”Enggak umi, gak apa-apa,” ucap Shafiyah dan Wafi mencubit lengannya." Sakit a."


”Istri kamu lagi sakit, malah dicubit. Tega banget jadi suami." Raihanah mengomel.


”Ya gemas banget si, bandel susah di atur, cubitan aku juga pelan. Susah banget Bibah diatur, anak bandel..” Wafi terus mengomeli istrinya, Shafiyah diam dan Raihanah memperhatikan putranya itu. Yang begitu cerewet saat ini, dia tersenyum tipis dan Shafiyah nampak tidak terlalu memperdulikan ocehan suaminya. Wafi mendelik sebal karena Shafiyah terlihat pura-pura tidak mendengar.


”Awas aja kamu neng.” Gumam Wafi penuh ancaman teka teki.


Malam nya, Wafi membeli obat, kapas dan yang lainnya untuk mengobati luka Shafiyah. Lutut gadis itu lebam, dan dia merasakan rasa yang semakin sakit.


”Saki bi!” jeritnya kecil.

__ADS_1


”Tahan! siapa yang nabrak kamu?"


”Enggak kenal, dia gak sengaja, dia juga udah berusaha nahan ya susah, orang aku tiba-tiba muncul ke depan gang ngejar kak Adi.” Shafiyah menjelaskan dan Wafi hanya bisa menggelengkan kepalanya.


”Lain kali hati-hati,” tutur Wafi dan kini meraih tangan Shafiyah, dia membuka plester untuk membalut jemari lentik lecet itu.” Enggak usah ngerjain apa-apa dulu, biar aku aja.”


”Ih malu sama umi."


”Kan kamu lagi sakit sayang.” Wafi begitu lembut berucap, lalu dia memakaikan plester di jari istrinya, meniup dan menciumnya sesekali. Shafiyah diam, menatap wajah tampan itu lekat.


Cup! dia jahil dan mencium pipi suaminya cukup lama sampai kini Wafi tersipu-sipu malu.


”Terima kasih, selalu khawatir dan jagain aku, ngobatin aku juga,” tutur gadis itu dan Wafi mengangguk sambil tersenyum.


”Kamu milikku sayang, sudah seharusnya aku jaga dan aku rawat kalau sakit. Aku sayang, aku cintai setiap saat. Terima kasih sudah menerima pria yang jauh dari kata layak ini di sampingmu,” ucapnya lirih dan Shafiyah tersenyum, Shafiyah menutup mata saat pipinya dikecup mesra.


”Jangan bilang begitu, kamu yang paling tepat untuk menemani aku bi, itu sebabnya Allah persatukan kita,” ucap Shafiyah setelah kecupan terlepas, dia berucap lembut sambil mengelus pipi suaminya. Keduanya sama-sama tersenyum dan Shafiyah menjauhkan wajahnya saat Wafi ingin mencium bibirnya.” Aku lagi sakit jangan macam-macam.”


”Cium doang.”


”Enggak mau." Shafiyah terus menolak, Wafi menggendongnya, dan menjatuhkannya ke atas kasur, Shafiyah menjerit-jerit saat pinggangnya dikelitik.


*****


Hari ini ada meeting di kantor. Wafi menjelaskan panjang lebar namun diabaikan, Elang nampak murka melihat sikap klien yang tidak memperdulikan semua perincian yang dijelaskan Wafi. Wafi berhenti dan mencengkram spidol kuat-kuat di tangan kanannya. Banyak klien yang mundur, yang sudah tanda tangan kontrak membatalkan kerja sama, yang sudah bekerjasama bertahun-tahun tidak mau memperpanjang kontrak, jika begini, perusahaan bisa merugi, artikel tentang seorang CEO yang dulunya narapidana karena kasus pembunuhan tersebar luas, mereka semua tidak bisa percaya kepada Wafi.


”Pak,” ucap Elang saat Wafi meraih berkas-berkas meeting nya, rasanya percuma dia mengerjakan semua pekerjaan nya sampai bergadang.


”Kita akhiri meeting hari ini, terima kasih perhatiannya!” tegas Wafi dan melangkah pergi lalu semuanya cekikikan. Dan ada juga yang diam melihat kepergian bos mereka. Elang menyusul Wafi tapi Wafi tidak mau, dia ingin sendiri sekarang.


”Pak, biar saya jelaskan semuanya."


”Terserah El, saya mau sendiri, jangan ganggu saya!" bentak Wafi dan semua karyawan kaget. Elang berhenti mengejar, lalu Wafi pergi ke ruangannya. Di sana, dia menyapu meja kerjanya sampai semuanya jatuh berserak dan berantakan.


”Aaaaa...!!" Teriak Wafi lalu menendang meja. Dia mencengkram kuat rambutnya sampai kusut, terduduk lemah di sofa dan membanting dasi yang sudah dia lepas kasar itu.” Aku gak bisa!!! capek!” keluhnya serak. Masa lalunya terus membayangi, kemanapun dia pergi dan melangkah, menjadi penghalang kesuksesan, dan bersosialisasi. Dia stres berat dengan pekerjaannya, dia lelah dan ingin berhenti saja, dan bekerja sesuai dengan kemampuan nya. Wafi merogoh sakunya sekarang, hapenya bergetar dan panggilan masuk dari Shafiyah. Wafi langsung merapihkan rambutnya, mengusap wajahnya kasar lalu berusaha menenangkan diri sejenak. Setelah tenang, dia mengangkat panggilan dari istri tercintanya.


”Assalamu'alaikum sayang, kenapa?” ucap Wafi dan kedua matanya berair. Dia sangat lelah, ingin mengadu kepada Shafiyah, tapi Shafiyah juga sangat sibuk.


”Wa'alaikumus Salaam, kapan pulang?" tanya Shafiyah dengan nafas yang membuat Wafi khawatir.


”Sayang kenapa?” tanya Wafi seraya bangkit dari duduknya.


”Pulang nanti, aku kasih tahu,” ujar Shafiyah sambil menatap testpack di tangannya. Dia positif hamil, walaupun di cek bukan pagi hari, urin nya jelas membuat garis dua. Shafiyah bahagia, dan suaminya juga pasti bahagia.


”Kamu bikin aku penasaran,” suara Wafi berat." Ngomong aja sekarang.”


”Pokoknya nanti.”


”Hmmm!” Wafi kesal. Dan Shafiyah terkekeh-kekeh.” In Sha Allah aku pulang cepat, tunggu di rumah, jangan lupa makan ya sayang.”


”Iya, kamu juga. Aku takut kamu sibuk, sudah dulu ya. Assalamualaikum.”


”Wa'alaikumus Salaam.” Wafi menjawab sambil tersenyum manis.


Di rumah, Shafiyah langsung mengusap perutnya, dia tatap lagi testpack tersebut.


”Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas titipan yang Engkau tanam di rahim hamba. Sehatkan lah janin ini ya Allah," tutur Shafiyah sambil menangis haru. Dia langsung keluar dari kamar untuk menanyakan kepada ibu mertuanya, Shafiyah menuruni tangga perlahan, dia tersentak saat melihat Khalisah muncul, masuk begitu saja tanpa permisi. Khalisah mengerutkan keningnya, saat melihat testpack di tangan Shafiyah lalu dia dengan cepat merebutnya.


Shafiyah melotot dan berusaha merebut kembali tapi Khalisah mendorongnya." Khalisah kamu gak sopan! masuk sembarangan, terus mengambil barang aku seenaknya. Kembalikan Khalisah!" Shafiyah marah.


”Kamu hamil? ini punya kamu Sha?” tanya Khalisah dan Shafiyah diam.” Ya ampun, gila ya kamu. Kamu masih kecil, suami kamu juga belum punya apa-apa, mau kalian kasih makan apa anak ini?” seru nya lalu membanting testpack ke lantai dan Shafiyah meraihnya perlahan.

__ADS_1


”Kamu keterlaluan Khalisah, suami aku kerja. Dia bertanggung jawab."


”Sombongnya kamu Sha, suami kamu kerja karena itu perusahaan keluarga, bukan murni karena kemampuan nya. Mana ada perusahaan yang mau menerima mantan napi, kalau mau pun paling cuma jadi office boy,” tutur Khalisah mengejek dan Shafiyah menunduk sedih." Aku bawa makanan, disuruh suami aku buat kalian. Nih ambil!" ia memberikan rantang makanan kasar dan Shafiyah menerimanya gelagapan. Khalisah melangkah pergi keluar dari rumah tersebut dan Shafiyah menatapnya tajam.


__ADS_2