
”Dimana tempatnya kerja? biar aku susulin,” ucap Noah kepada Raihanah.
”Di bandung kota, lumayan jauh. Nanti juga dia pulang,” suara Raihanah serak.
”Dia menjauh dari semua keluarganya pasti ada apa-apa kan, gak mungkin begitu aja. Ada apa sebenernya Rai?” Noah sangat penasaran dan Raihanah tak kuasa menceritakan apa yang membuat putranya menghindar, Wafi sangat takut untuk menjalin kasih dan berkeluarga setelah caci maki Khalisah. Dia takut membuat sulit kehidupan anak orang, walaupun dia mencintainya. Ada luka batin yang sedang mendera pria itu saat ini.
Hembusan nafas lemah dan panjang adiknya, membuat Noah semakin penasaran.” Ada yang ngomong sesuatu sampai dia gak mau pulang kesini?” tanya nya lembut dan akhirnya Raihanah mengangguk. Tangan Noah terkepal kuat, dia masih emosian seperti dulu.
”Siapa itu? biar aku beri dia pelajaran. Bisa-bisanya keponakan aku jadi begini,” tegas Noah dan Raihanah tersenyum.
”Seorang gadis yang membuat Wafi begini, Ismail kemarin malam telepon dan cerita. Wafi sampai lepas kendali di puncak, janjinya mau pulang, sampai sekarang gak ada. Kata-kata gadis itu benar-benar mengguncang anakku bang. Semoga dia cepat pulang," tutur Raihanah dan Noah mendengar suara adiknya berat di susul isak tangis.
”Sabar,” ucap Noah seraya memeluk bahu Raihanah dan Raihanah mengangguk pasrah. Saat ini, Jane, Jelita dan kedua adiknya Wafi sedang berbelanja. Jane mengajak keduanya agar membeli apapun yang mereka mau. Tetap saja keduanya malu-malu dan harus di paksa oleh Jelita. Noah akhirnya memutuskan, untuk pergi menyusul Gus Mu pulang.
*******
Wafi sedang duduk di kursi, dia melihat bibi yang bekerja di rumah Shafiyah datang membawa rantang makanan.
”Punten a,” bibi menyapa. Wafi bangkit dan melangkah mendekat.
”Iya bi, kenapa?” tanya Wafi dan bibi memperhatikan nya dengan seksama.
”Ganteng pisan ieu mah, pantes si neng kesemsem,” gumam bibi sambil cengengesan melihat Wafi.
”Ini, bibi diminta neng Fiyah nganterin makanan. Soalnya neng Fiyah nya gak bisa keluar rumah, lagi sakit. Di larang bapak sama ibu,” ucap bibi sambil memberikan rantang makanan. Wafi ragu menerimanya dan hanya diam.
”Makasih, tapi saya gak bisa. Tolong bilangin sama Shafiyah.” Tolak Wafi dan bibi tidak mau pergi sebelum makanan itu diterima.
”Kata si neng jangan ditolak, nanti bibi dimarahin sama si neng a. Sok mangga diterima ya, di makan.” Bibi memaksa dan Wafi akhirnya menerimanya.
”Terima kasih,” ucap Wafi dan bibi pun pergi.
Di rumah Shafiyah, gadis itu sedang menggoreng telur, dia akan belajar memasak untuk kepentingan pribadi nya. Dia sudah dewasa, dia harus bisa bekerja di dapur.
”Neng kamu ngapain?" tanya Sara dan Shafiyah menoleh.
”Lagi bikin telur dadar,” jawab Shafiyah dan tangannya tidak sengaja menyentuh pinggiran wajan.” Aaaaauw," jeritnya kencang dan Sara kaget.
”Kamu mah,” ucap Sara lalu mematikkan kompor. Telur yang di goreng Shafiyah sampai gosong dan Shafiyah memperhatikannya.
”Ibu udah bilang gak usah ke dapur,” suara Sara lantang dan meniup jari putrinya yang terluka.
__ADS_1
”Bandel banget sih neng," cibir nya kesal.
”Kok dimarahin si," rengek Shafiyah dengan raut wajah yang begitu menggemaskan.
”Ya karena kamu salah," seru Sara lantang dan mengajak Shafiyah pergi meninggalkan dapur.
Kebetulan ketiga kedua kakak Shafiyah datang, Qais dan Adi. Keduanya datang untuk menjenguk adik mereka.
”Bandel,” seru Sara terus-menerus. Wajah Shafiyah sudah memerah akan menangis. Shafiyah memeluk Qais erat meminta perlindungan, Qais terkekeh dan Adi menyisir rambut panjang Shafiyah yang diikat itu lembut.
”Ibu marahin aku," adu Shafiyah sambil mendongak menatap Qais.
”Kamu nya nakal neng,” balas Qais dan Shafiyah cemberut.
”Lihat tangannya, kakinya. Punya anak perawan gak hati-hati banget kalau sesuatu, bikin khawatir," gerutu Sara dan Shafiyah diam.
”Manja," ucap Adi sambil mengacak-acak rambut Shafiyah. Shafiyah kesal dan memukuli kakaknya itu, Adi hanya tertawa dan Qais mengeluarkan semua yang dia beli di jalan. Makanan dan minuman.
"Ibu mau yang mana?" tanya Qais. Menunjuk minuman dan Sara mengangkat bahu, dia tidak tahu. Yang mana saja terserah, dia akan menikmatinya.
”Aa sakit!” peluk Shafiyah dan Adi mengangkat tubuhnya, menjatuhkannya kasar ke atas sofa. Shafiyah menarik rambut kakaknya itu dan menjambak nya, Adi mengerang kesakitan.
”Sakit neng,"
”Ih mau yang alpukat,” pinta Shafiyah dan Adi memberikannya.
”Cha mau ini gak?" Qais memotong gorengan jadi dua dan Shafiyah membuka mulutnya. Qais menyuapi adiknya itu perlahan. Shafiyah menoleh melihat bibi, bibi mengacungkan jempolnya dan Shafiyah tersenyum manis.” Apa nih? apa yang kamu minta sama bibi?” Qais curiga.
"Enggak,” Shafiyah membantah.” Auw sakit Bu." Meringis karena rambutnya tertarik terlalu kuat, Sara membelainya dan mencium rambut Shafiyah yang berwarna coklat kepirangan, rambutnya dari kecil memang rambutnya seperti itu.
*****
Sore hari, Shafiyah harus berangkat kembali ke pondok. Dia menunggu Wafi di tepi jalan dan Wafi yang baru pulang dari masjid setelah sholat ashar tersentak, kabur pun tidak bisa, gadis itu sudah melihatnya.
”Gus mau menghindar kan? mana bisa," ucap Shafiyah berbisik dan Wafi mengangkat kepalanya.
”Kamu ngomong apa tadi?" Wafi mendengar sedikit kicauan gadis itu.
"Enggak!" bantah gadis itu.” Saya mau balik ke pondok, ustadz Aidan sudah wa saya tadi, minta saya kembali."
Wafi melotot mendengarnya.” Kamu berkirim pesan sama ustadz Aidan?” bertanya dengan nada memperlihatkan ketidaksukaan.
__ADS_1
”Iya, saya punya nomornya. Kami berdua kan satu kampus, saya kadang nanya sama dia kalau ada sesuatu yang enggak saya tahu.” Shafiyah menjelaskan, dia tidak mau Wafi berpikir buruk tentangnya. Tapi pria itu sudah dikuasai oleh rasa cemburunya.
”Oh gitu kamu main nya Habibah, dari saya langsung deket sama pria lain, kamu gak tahu itu menyakitkan Shafiyah. Saya mau Shafiyah ya Allah, saya mau dia.” Gumam Wafi begitu kesal, cemburu dan bingung.
”Jaga diri baik-baik ya gus, saya harap Gus cepat pulang.”
”Enggak saya pulang nanti,” tolak Wafi sambil mendengus.
”Oh ya udah.”
”Kamu ke pondok sama siapa?"
”Dianter sama kakak saya.”
”Oh, ya udah hati-hati."
”Iya assalamu'alaikum Gus."
”Wa'alaikumus Salaam," jawab Wafi dan Shafiyah berlalu pergi. Keduanya nampak muram karena berpisah, bersama pun tidak mungkin. Wafi melangkah menuju Sanggar, sesampainya di sana. Dia melamun sendiri dan ketakutan, takut Shafiyah jatuh ke dalam pelukan pria lain. Apalagi Aidan ganteng, masih muda dan tidak mungkin Aidan tidak menyukai Shafiyah. Wafi mencengkram kuat rambutnya, dia harus apa sekarang? kalau benar itu terjadi, apa dia bisa? tanpa berpikir panjang, dia bangkit dan akan bersiap untuk segera pulang ke pondok.
***
Raihanah dan Jane sedang memasak, Noah sedang bersiap untuk menyusul Wafi, menjemput keponakannya pulang. Bayyin mengatakan bahwa Noah ada pun Wafi tetap tidak mau. Ada rasa malas di benak pria itu, dia malas bertemu dengan semua orang di pesantren yang pastinya masih terus membahas tentang perkataan Khalisah, yang begitu menyakitinya.
”Assalamu'alaikum," suara Wafi terdengar.
"Wa'alaikumus Salaam," jawan semua orang.
Wafi masuk dan langsung berhadapan dengan Noah, Noah langsung menghambur memeluk keponakannya itu. Raihanah keluar dari dapur dan tersenyum melihat putranya pulang.
”Om baru mau memesan taksi, mau nyusul kamu.” Noah berucap dan menepuk-nepuk bahu Wafi kuat. Wafi diam dan tersenyum tipis.
Adzan isya berkumandang, Wafi dan Noah melepas pelukan dan bersiap untuk ke Masjid.
”Minum dulu,” kata Raihanah sambil memberikan segelas air dan Wafi menerimanya.
Noah dan Wafi pergi, melangkah bersama menuju Masjid. Shafiyah tersenyum melihat pria itu pulang.
”Katanya gak mau pulang, bohong dasar,” ucap gadis itu dalam hati.
Wafi menoleh karena sadar diperhatikan, Shafiyah mundur, bersembunyi di antara santriwati yang lain, lalu Wafi menunduk.
__ADS_1
”Saya bingung Habibah, saya meminta dan berusaha menjauhi kamu, tapi malah saya yang tersiksa sendiri. Jangan dekat-dekat dengan pria manapun Shafiyah." Gumam Wafi dan langkahnya kini sudah memasuki teras Masjid.