CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Drama pacaran


__ADS_3

Chandra melangkah masuk dengan pelan, kini dirinya sedikit tegang, tangan Chandra mengepal melihat kebersamaan Brayen dan Aliya. Chandra melihat Brayen tengah memegang kotak beludru sembari memandang dinding, Brayen mengusap kepala Aliya dengan lembut. Jujur saja saat ini Chandra merasa sangat cemburu.


Kakek Rio yang baru saja masuk melihat Chanda segera membuka suara. "Mau apa kamu kesini?" kakek Rio mengejutkan Chandra.


"Kek kami datang untuk meminta maaf," Chandra segera mendekati kakek Rio.


Chandra mengerti kemarahan kakek Rio kini hanya tertunduk pasrah. Mendengarkan apa yang akan kakek Rio katakan.


"Itu saja?" Kakek Rio hanya menggeleng, sembari terkekeh.


"Chandra," gumam Aliya, sontak membuat Chandra memandang Aliya dengan sendu.


"Aliya masuk," perintah kakek Rio. Membuat Aliya segera masuk dengan menanduk. membuat Chandra semakin teriris.


Brayen terluka melihat perjuangan Chandra demi mendapatkan Aliya, Brayen hanya bisa tersenyum kecut.


Sebegitu besarnya kah kau sangat menyayangi Aliya Chandra? Aku hanya bisa berharap semoga kalian bahagia. Gumam Brayen.


Brayen terus memperhatikan gerak gerik Chandra, bohong jika ia mengatakan sudah tidak memiliki rasa lagi terhadap laki laki itu.


Brayen diam diam memperhatikan interaksi Chandra dan Aliya, Brayen mengernyitkan keningnya ketika melihat Chandra terus menarik narik tangan Aliya, seperti mengajaknya ke suatu tempat, mereka tampak begitu bahagia.

__ADS_1


Namun Brayen tidak merasa bahagia sama sekali, ia berkorban demi kebahagiaan laki laki yang di cintai nya. Saat melihat Chandra semakin menjauh Brayen segera beranjak, hendak mengikuti keduanya.


"Eh mau kemana?" Juwita segera mencegah Brayen yang hendak beranjak, dirinya sedikit curiga ketika melihat Chandra menarik tangan Aliya. Juwita curiga kalau kalau Brayen ingin mengikuti Chandra.


"Mau ke toilet sebentar," kilah Brayen tersenyum.


"Tanya sama maid nya," ucap Juwita, melepas tangan Brayen, dan memperhatikan laki laki itu dari belakang.


Brayen terus memperhatikan tingkah Chandra yang mengajak Aliya untuk naik ke lantai dua. Cemburu kembali menjalari hati Brayen, hatinya terbakar namun tak mampu berbuat apa apa.


Brayen yang melihat hal itu terkejut, diam diam Brayen mengikut Chandra yang terus saja menarik Aliya. Mereka ternyata ke lantai dua, sepertinya menuju kamar Aliya.


"Semoga kalian bahagia, sepertinya aku juga harus mulai membuka hati untuk wanita, dan mencoba untuk sembuh sebisa mungkin," gumam Chandra tersenyum lembut. Kemudian kembali ke tempat pesta dan menemui Juwita yang tengah berdiri memperhatikan Angel tengah berbincang dengan nyonya Mona.


"Ah iya, aku juga ada janji nanti malam, hampir saja aku melupakannya," ucap Juwita segera menyambar tasnya.


"Ayo biar aku mengantarmu lebih dahulu," ucap Brayen.


"Tapi mobil mu bagaimana?" Juwita bingung dengan maksud dari Brayen.


"Iya aku hanya mengantarmu saja, aku akan mengikuti mobil yang kau kendarai dari belakang, sedangkan aku akan mengendarai mobilku sendiri," ucap Brayen membuat Juwita mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Iya ayo, kita pamit dulu," ajak Juwita.


Juwita dan Brayen segera menemui kakek Rio yang tengah mengobrol dengan tuan Omer. Mereka tampak sangat asyik mengobrol, hingga obrolan mereka terputus ketika Juwita menyapa kakek Rio.


"Kek Juwita mau pulang dulu ya kek," ucap Juwita, segera menyalami kakek Rio kemudian tuan Omer. Dan di ikuti oleh Brayen.


"Kek, om Brayen pulang dulu," ucap Brayen. Sebenarnya dirinya cukup canggung bersalaman di hadapan tuan Omer, jelas tuan Omer tahu bahwa dirinya dan Chandra dulu sempat menjalin hubungan, dan tuan Omar berusaha memisahkan mereka, termasuk menjodohkan nya dengan Aliya.


"Iya hati hati, kalian datang bersamaan?" Tanya tuan Omer tersenyum ke arah Juwita dan Brayen. Tuan Omer terlihat bersikap normal saja, seolah Brayen adalah teman anaknya.


Tuan Omer memilih bersikap biasa saja, karena tampaknya Brayen pun sudah mulai merubah, dirinya bahkan membantu anaknya demi mendapatkan restu dari kakek Rio. Jika bukan karena Brayen dan juga Juwita, Chandra mungkin saat ini masih mengurung diri di kamar, atau berlutut di depan rumah mewah ini. Tuan Omer jelas tahu betul bagaiman anaknya.


"Iya om, kebetulan dari rumah Juwita, kami langsung berangkat ke sini," ucap Brayen sedikit kaku.


"Loh kok bisa?" Tuan Omer bingung sendiri.


"Ya bisa lah mereka kan pacaran," ucap kakek Rio santai.


Tuan Omer terkejut, tampaknya kedua orang yang di hadapannya ini tengah memainkan drama, pacar pacaran.


"Ah iya, jati hati, " ucap tuan Omer, memilih untuk bungkam. Jelas ia akan menanyai anaknya nanti.

__ADS_1


"Iya kek, assalamualaikum," ucap Juwita segera beranjak pergi.


"Walaikum salam, ingat nikah dulu baru kawin," teriak kakek Rio, berhasil membuat Brayen dan Juwita malu sendiri.


__ADS_2