CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Jhodpur


__ADS_3

Selasa, hari ketiga.


Juwita dan Brayen baru saja selesai sarapannya. Brayen segera mengantar Juwita ke arah kabin salon dan spa, sementara dirinya akan ke tempat gym. Brayen melihat seorang petugas salon dan spa, akhirnya mendekatinya.



"Berikan yang terbaik untuknya, lakukan dengan baik, dan pastikan itu selama satu jam, karena aku akan pergi ke gym selama itu, pastikan jangan sampai ia keluar di waktu itu," perintah Brayen menatap tajam ke arah petugas tersebut. "Satu lagi jangan sampai ada laki laki yang menggodanya.


Wanita itu hanya mengangguk, memperhatikan Juwita yang menggeleng melihat tingkah over protective dari Brayen. Juwita senang, ia merasa di perhatikan, dan merasa sangat di sayang. Brayen segera mendekati Juwita.


"Tetap di sini sampai aku menjemput mu, jangan mendekati laki laki hidung belang di sini," Brayen mengecup puncak kepala Juwita.


"Sana cepat pergi, mana ada laki laki di sini," ujar Juwita terkekeh.


"Kita tidak pernah tahu apa yang di pikirkan oleh orang orang," ujar Brayen mengusap lembut kepala Juwita.


Brayen melangkah meninggalakan Juwita di kabin spa dan salon, kemudian beranjak ke arah kabin gym. Brayen segera memulai olahraga, bukannya beristirahat, Kala berolahraga Brayen selalu berfikir cara agar Juwita tak lagi marah, dan memperbolehkannya untuk tidur di sampingnya lagi. Brayen hanya berolahraga sekitar tiga puluh menit, Brayen segera ke kabin kamar mereka, dan membersihkan diri.


Brayen sangat buntu kali ini, ia tak bisa menanyakan kepada siapapun. Pasalnya ponselnya tengah di sita oleh Juwita. Brayen keluar dari kabin, dan menemui salah satu awak kabin.


"Buatkan aku makan siang yang romantis di kabin ku, aku akan membayar lebih untuk itu," ujar Brayen kepada salah satu awak kabin, yang kebetulan lewat tepat di depan kabin miliknya.


"Baik tuan," ujar laki laki itu, segera pergi dan mempersiapkan segalanya. Brayen segera menyusul Juwita yang saat ini mungkin masih berada di salon dan spa yang terdapat di dalam kabin tersebut.

__ADS_1


Hanya butuh melewati lima kabin, demi ke tempat salon dan spa tersebut. benar saja ternyata Juwita masih melakukan perawatan, tubuhnya telah selesai, sedangkan untuk facial dan krimbat Juwita tampaknya baru akan memulai. Brayen mendekat ke arah Juwita, laki laki itu mensejajarkan tubuhnya yang menjulang dengan membungkuk.


"Sayang pinjam ponselnya ya, aku mau mengecek pekerjaan ku," ujar Brayen tersenyum.


"Hm, jangan macam macam," ujar Juwita segera meminta di ambilkan tasnya, yang berada di atas meja. Juwita merogoh ponselnya dan menemukan ponsel Brayen.


Brayen tersenyum menerimanya, segera mengecup pipi Juwita yang baru saja di bersihkan. "Terimakasih sayang," ujar Brayen meninggalakan Juwita.


"Ck... dasar. Kau tidak mau ikut?" Juwita melirik sejenak ke arah Brayen.


Brayen tampak berfikir sejenak. "Hm, boleh deh. Tapi aku akan memeriksa perusahaan ku dulu," ujar Brayen.


"Kan bisa sambil di bersihkan," ujar Juwita tersenyum.


"Kalau bisa," ujar Juwita terkekeh. Bagi Juwita itu tidak mungkin, pasalnya itu akan sangat merepotkan para pekerja salon, bagaiman mungkin mereka akan setuju.


Baru saja Juwita terpejam, menikmati pijatan di wajahnya. Tiba tiba terdengar bunyi sesuatu yang di pindahkan, Juwita segera membuka matanya, alangkah terkejutnya ketika melihat sebuah tempat tidur khusu facial di pindahkan ke sampingnya. Juwita memandang Brayen dengan rasa tak percaya.


"Kenapa sayang? Money can buy anything," Brayen tampak sombong ketika mengatakannya.


Juwita mengerjapkan matanya berkali kali, ia bahkan lupa jika pacarnya itu memiliki uang yang banyak untuk melakukan segalanya. Juwita mendengus kesal.


Brayen segera berbaring di samping Juwita, meletakkan sebelah kakinya di atas Juwita, sembari tersenyum tipis. Juwita terus mendengus kesal melihatnya.

__ADS_1


"Sana jauh jauh," Juwita menendang kaki Brayen dari atas kakinya, namun Brayen tetap meletakkan kakinya di atas Juwita. Juwita mendengus kesal, mau tidak mau ia harus membiarkannya, pasalnya para pegawai akan semakin lama melayani mereka.


Lama kelamaan Juwita menjadi rileks merasakan pijatan lembut di wajahnya, Juwita memejamkan matanya. Tampaknya gadis itu tertidur lagi, membuat Brayen yang berada di sampingnya tersenyum. Brayen segera membuka ponselnya dan meminta pegawai tersebut segera memotretnya.


"Maaf bisa kau potret kami?" Brayen menyerahkan ponselnya kepada pegawai spa kabin tersebut.


Tentu saja mereka akan dengan senang hati, pasalnya tadi Brayen sudah membayar lebih untuk berada di samping Juwita.


Ckrek.


Pegawai tersebut segera menyerahkan ponselnya, setelah berhasil mendapat beberapa foto mereka. "Terimakasih," ujar Brayen segera melihat foto hasil jepretan pegawai salon tersebut.


Mereka baru saja selesai melakukan perawatan wajah, Brayen menggandeng tangan Juwita untuk masuk ke dalam kabin mereka. Mata Juwita membuat sempurna ketika melihat dekorasi kamarnya, dengan makanan yang menggugah selera. Brayen cukup puas, meskipun di dalam kereta berjalan, mereka tetap memiliki inisiatif untuk membuat hal sebagus ini.



"Sayang maaf ya atas tindakan ku kari ini, aku berjanji Tidak akan mengulanginya lagi," Brayen mengusap lembut tangan Juwita, kemudian mengecupnya.


"Iya jangan mengulanginya," ujar Juwita tersenyum.


Brayen segera mengeluarkan ponselnya, dan menyerahkan kepada Juwita. "Hanya kita berdua, kau dan aku saja yang bisa membukanya. Jadi apapun yang ada di dalamnya itu kau juga tahu, kau juga mengerti."


"Wah manis sekali pacar ku," ujar Juwita tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2