
Juwita memandang lekat ke arah Jojo, atau Jhonatan. Juwita merasa antara kasihan dan bersyukur.
Lagi lagi kasihan dengan nasib pasiennya, yang ternyata lebih buruk dari yang ia alami, beruntung pasiennya ini bertemu dengan Aska. Yang walaupun bisa di katakan bandel, dan casanova amatiran. Namun Aska merupakan orang yang setia kawan, dan tak memandang kawan berdasarkan harta benda.
Namun Juwita juga bersyukur, bahwa dirinya jauh lebih beruntung dari pasiennya ini. Dirinya memang di campakkan oleh ibu yang melahirkannya, sehingga meninggalkan luka yang mendalam. Namun lingkungannya, dan sekitarnya selalu melindunginya. Sehingga dirinya tak bernasib sama dengan pasiennya ini.
^^^Ya Allah terimakasih atas engkau mengirimkan nya kakek Rio, Aliya, ayah, papa dan mama yang begitu menyayangi hamba. Sekali lagi Juwita bersyukur atas kehadiran orang orang di sekitarnya.^^^
Juwita mengerutkan keningnya bingung melihat gelagat aneh dari pasien nya ini. Laki laki itu tampak mengerjapkan matanya, Juwita dan Aska terkejut ketika Jojo hampir limbung ke belakang. Tak ada angin tak ada hujan, tiba tiba Jojo limbung, Juwita segera memanggil suster yang berjaga untuk membawakannya air mineral. Sementara Aska segera membawa Jojo ke sofa.
Lama Jojo pingsan, Juwita terpaksa meneruskan kepada pasien lain yang telah menunggu. Juwita sekali kali melirik Aska yang sibuk menunggui sahabatnya yang terbaring lemah secara tiba tiba. Aska bahkan menghela nafasnya berkali kali, meski dirinya juga sibuk memainkan ponselnya. Membalas chant para wanita yang mengantri untuknya.
Saat Juwita melihat pergerakan sedikit di tangan Jojo, Juwita menghubungi suster yang berada di depan ruangannya untuk tidak memanggil pasien lain dulu, setelah pasiennya yang sedang di periksanya keluar.
Tepat pasien tersebut selesai pemeriksaan, dokter Juwita segera mendekat ke arah Jojo yang tampak mulai bangun. raut bingung menghiasi wajahnya. Tampaknya Jojo kembali berubah.
Kali ini Jojo tampak sedikit cengeng dan ketakutan, terlihat dari raut wajahnya. Jojo memandang wajah Aska dengan penuh tanda tanya.
Aska mengangguk, tampaknya ia tahu siapa yang saat ini tengah berhadapan dengannya. "Nando ya?" Jojo hanya mengangguk, kemudian memandang ke arah Juwita dengan pandangan takut, sedikit bingung.
"Dia Nando kak, orangnya itu penakut, sering bingung, sama pemalu. Pokoknya kebalikan Jhonatan deh," ucap Aska memandang Juwita yang juga memandang bingung ke arah Jojo.
__ADS_1
"Oh, Nando ya," Juwita tersenyum lembut ke arah Jojo, Juwita cukup paham cara mendekati orang orang dengan sikap yang seperti Jojo. "Kamu ingat kakak siapa?"
Jojo kembali menggeleng, bahkan kini menunduk seolah takut dengan Juwita, bahkan Jojo meringsut menjauhi Juwita.
"Emang gini dia kak, kalau ga kenal biasanya ngomongnya gaguk, atau cuman ngangguk atau geleng aja. Lama lama lo jadi orang India Nando," ucap Aska mencoba mencairkan suasana bersama Jojo yang pemalu. "Kurang percaya diri dia kak."
"Hm... Nando si sini kamu mau berobat biar sembuh ya," Jojo kembali mengangguk mendengar penuturan Juwita, Juwita mencoba meraih tangan Jojo. "Kamu nanti tes darah ya, habis itu Rontgen, atau St scen ya."
Jojo tampak berfikir, lama ia berfikir kemudian matanya memandang ke arah Aska. Bibirnya keluh ingin mengatakan sesuatu, sangat berbeda dengan Jhonatan yang dingin, tegas dan arogan.
"Tapi kak biayanya," Jojo semakin menunduk. Laki laki itu tahu bahwa hal yang di sebutkan Juwita pasti sangat mahal, uangnya tak akan cukup. Lebih baik untuk biaya ibunya.
"Udah santai aja, gue ada. Lo punya teman kaya kok ga di manfaatin. Lagian asal lo tau dia ini kakak gue, santai aja kali," Aska segera berucap membuat Jojo semakin menunduk. "Yang terbaik aja kak."
"Ya sudah kalian ke ruang cek darah sekarang, habis itu daftar Rontgen ya, kakak buat pengantar dulu ya," ucap Juwita segera beranjak dari tempat duduknya.
Setelah menulis di kertas yang telah di sediakan rumah sakit, Juwita segera memberikan nya kepada Aska. "Untuk pemeriksaan kalian datang saja ke rumah kakak, biar kakak yang mencoba melakukannya secara pribadi."
"Tapi kak soal harga?" Jojo kembali menunduk, tak enak merepotkan terus pikirnya.
"Itu gampang, yang penting kamu sembuh dulu, bangun usaha, nah tiap bulan traktir kakak deh," ucap Juwita sembari terkekeh.
__ADS_1
Jojo akhirnya tersenyum mendengarkan penuturan dari Juwita, dirinya tak menyangka banyak orang orang yang sayang dan peduli terhadapnya. "Terimakasih kak."
"Sama sama. Sudah sana, kakak mau memeriksa pasien selanjutnya. Setelah itu, datang ke tempat kakak lagi ya," Jojo dan Aska mengangguk serentak, kemudian segera keluar dari ruangan Juwita.
"Hai kakak suster cantik, Aska pergi dulu ya jangan kangen," ujar Aska ketika suster tersebut berpapasan dengannya, saat suster tersebut hendak menemui Juwita.
"Aska! Suster kakak itu anak baik baik ya, awas saja kamu," teriak Juwita, membuat Aska segera menarik tangan Jojo, untuk segera keluar dari tempat tersebut.
Juwita menghela nafasnya kala mengingat kisah Jojo. Jojo adalah salah satu dari sekian banyak pasien yang mengalami gangguan jiwa yang cukup berat. Masih banyak Jojo, Jojo, lainnya di luar sana yang membutuhkan pertolongan dan kasih sayang. Mereka adalah korban, korban lingkungan yang melukainya hingga pisik dan pisikis. Juwita kembali menghela nafas, ketika mengingat sebagian besar dari penderitanya adalah bullying, kemudian kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, dan lain lain.
Namun Jojo ini lebih kompleks, Jojo adalah korban bullying, dan korban kekerasan dalam rumah tangga. Ia mengalami hal berat, mungkin sangat berat ketika ia masih kecil. Kurang edukasi tentang perilaku sosial, dan penyimpangan sosial membuat seseorang terus melakukan bullying, baik di sengaja maupun tidak di sengaja. Baik secara verbal maupun non verbal.
Bullying melukai banyak hal, kepada korbannya. Karena itu perilaku bully harus segera di hentikan. Baik di lingkungan keluarga, maupun di lingkungan umum. Bully juga terbukti menimbulkan banyak dampak negatif. Terlebih saat ini kata kata baper akan membuat orang lebih leluasa melakukan tindakan pembullyan.
Juwita kembali dari rumah sakit dengan sangat lelah, lelah hati, pikiran maupun fisik. Juwita segera menghempaskan tubuhnya di sofa, di pandanginya ruangan tersebut, kemudian menghela nafas. Tampaknya bibi yang bekerja di rumahnya telah kembali.
Juwita segera bangkit dan beranjak untuk pergi ke kamar mandi. Namun langkahnya terhenti ketika ponselnya yang berada di dalam tas berbunyi. Juwita dengan enggan membuka tasnya, dan melihat user name yang tertera. Raja iblis, Juwita berdecak sebal sebelum mengangkat nya.
"Ya halo," jawab Juwita dengan malas.
"Kau ada di mana?" Brayen terdengar juga sedikit lesu di ujung sana.
__ADS_1
"Di rumah lah, memangnya aku mau di rumah sakit terus?" Ujar Juwita sedikit sebal.
"Ok aku akan ke sana," jawab Brayen. "Oh, jangan lupa memasak."