
Minggu, hari pertama.
Semua turis dari berbagai belahan dunia, pada jam 10.30 banyak yang berkumpul di hotel, untuk menunggu jemputan agar di transfer ke stasiun. Mobil mobil berdatangan menjemput para turis, membawanya ke stasiun Maharajas' Express.
Brayen terus menggeret dua koper ukuran 32 inci, miliknya dan milik Juwita. Sementara Juwita ikut menggeret koper miliknya, dengan mengedarkan pandnagan ke segala arah. Beberapa turis melirik ke arah Juwita, penasaran dengan wajah gadis yang mengenakan topi, dan masker. Sementara Brayen tersenyum puas ketika melihat tidak ada bagian dari tubuh Juwita yang terekspos.
"Haruskah begini? Aku sangat merasa kepanasan," keluh Juwita berbisik ke arah Brayen. Bahkan gadis itu mengibaskan tangan, di antara ramainya para turis, yang berjalan menuju bus mereka.
Brayen terkekeh kemudian menggeleng. "Kau lihat bahkan kau memakai masker dan topi saja, beberapa orang memandang ke arah mu, apalagi jika tidak," ucap Brayen.
"Huh Brayen, mereka melihatku bukan karena tertarik, namun karena bingung melihat penampilanku yang lebih seperti seorang selebritis yang tak ingin di ketahui. Atau terkadang aku mengira bahwa aku seperti seorang ******* jika dilihat dari cermin.
"Sudah lah, jangan banyak tanya lagi, ayo segera bergegas," Brayan segera memberikan koper mereka, kepada para pekerja yang tengah bersiap memasukkan setiap tas ke dalam bagasi bus. "Ayo pegang tangan ku nanti kau hilang, akan sangat sulit mencari anak kucing di tengah lautan manusia," ujar Brayen mengulurkan tangan ke arah Juwita.
"Ck, kau kira aku kucing apa? Lagian mana ada kucing secantik aku," ujar Juwita membanggakan dirinya, namun Juwita menyambut tangan Brayen yang terulur ke arahnya dengan cepat. Brayen terkekeh segera menautkan tangan mereka, dan mensejajarkan langkahnya dengan Juwita. Mereka mulai meninggalakan para pekerja yang mulai memasukkan koper mereka ke dalam kabin bus.
Mereka melangkah menaiki bus bus sesuai dengan yang telah di tentukan. Brayen terus menggandeng tangan Juwita hingga mereka duduk di kursi mereka. Brayen menyadarkan kepalanya di bahu Juwita sembari memainkan ujung rambut gadis tersebut, Brayen terus melilitkan rambut Juwita di hari telunjuknya, kemudian melepaskannya. Hingga terbentuk gelombang di rambut Juwita. Juwita menggeleng melihat tingkah Brayen yang seperti anak kecil menurut dirinya, namun Juwita sesekali tersenyum hangat kala Brayen mengecup tangannya beberapa kali.
"Jika ini menyenangkan, bagaimana jika kita kembali melakukan perjalanan seperti ini, tapi setelah kita menikah," usul Brayen membuat Juwita terkekeh.
"Memangnya kapan kita akan menikah?" Juwita memandang ke arah Brayen dengan seksama. "Memangnya kakek setuju?"
Entah kenapa tiba tiba atmosfer sekitar menjadi berubah, hawa panas menjalari tubuh Juwita. Antara bahagia dan juga sedikit khawatir. Juwita takut kakek Rio tak setuju, padahal dirinya telah mencintai laki laki yang ada di hadapannya.
"Bagaiman mungkin kakek tak setuju, jika selama ini kakek tak pernah melarang kita?" Brayen mengusap lembut pipi yang tertutup masker tersebut. "Kakek pasti setuju, aku pastikan hal itu. Dan jika kakek tak setuju, maka akan ku buat kakek setuju. Aku berjanji."
"Kau tahu kenapa?" Juwita menggeleng saja ketika di tanya begitu oleh Brayen. "Karena laki laki yang di hadapan mu ini, amat mencintai mu, dan menyayangi mu."
"Bahkan hanya hilang sebentar saja sudah di cari oleh nya, tak sempat makan. Untung aku tak punya penyakit mag," Juwita tersenyum bahagia, bahkan sampai meneteskan air matanya. Juwita tak menyangka akan ada seseorang yang menyayangi dirinya sebesar itu.
"Hei jangan menangis ok?! Aku tak pernah menyukainya," Brayen menghapus air mata yang menetes di masker Juwita.
"Kau menangis bahagia bo*doh," ujar Juwita segera menenggelamkan wajahnya di dada bidang Brayen. Bahkan kini wajahnya yang telah panas semakin panas, mendengar ucapan manis dari Brayen. Juwita tak tahu seberapa merahnya saat ini wajahnya, untung saja dirinya memakai masker.
__ADS_1
Beberapa turis mengira mereka adalah pasangan yang sedang honeymoon, tersenyum senyum, mereka ikut merasakan kehangatan ketika melihat kedua pasangan tersebut, yang terkesan sangat romantis.
Hanya butuh menempuh berapa menit, akhirnya mereka sampai di stasiun Maharajas' Express, di mana akan menjadi tempat awal mereka menjelajahi India. Juwita mengembangkan senyumnya ketika melihat sekeliling mereka. Beberapa pemandu wisata mulai memanggil setiap anggotanya untuk berkumpul.
Banyak turis dari berbagai negara yang melakukan perjalan wisata menggiling India, mulai memadati tempat, sehingga semua berbaur menjadi satu.
Para pemandu menggunakan bahasa Inggris ketika menjelaskan, dan mulai mengajak para turis untuk memasuki dan mengenali setiap gerbong kereta api, tapi sebelum menjelajahi, mereka memiliki tradisi yang di sebut dengan minuman selamat datang untuk menyambut para tamu, melakukan beberapa formalitas check-in, menemukan barang milik mereka, dan menyerahkannya kepada petugas.
"Apa ini sudah semua?" Brayen memperlihatkan tas yang di bawa Juwita. Juwita mengangguk antusias. Brayen menyerahkan koper dan tas milik Juwita kepada awak kabin, yang siap mengantarkan tas mereka ke dalam kamar mereka masing masing.
"Sudah, terimakasih banyak," ujar Juwita memeluk lengan Brayen, membuat Brayen mengecup topi Juwita dengan lembut.
"Setelah ini kita harus menjadwalkan keberangkatan kita ke perjalan kereta selanjutnya, aku pastikan akan sangat menyenangkan," ujar Brayen merangkul Juwita, masuk ke dalam rombongan.
"Itu akan menjadi kamar kita," Brayen menunjuk ke arah kamar presidential suite room, membuat Juwita memukul pelan lengan Brayen.
"Kau terlalu boros, hanya untuk jalan jalan," ujar Juwita membuat Brayan menggigit jari jarinya dengan gemas.
"Apa salahnya sayang, lagian aku mencari uang untuk siapa? Ya untuk kita bersenang senang, selama ini uang ku hanya ku simpan, karena aku tak punya siapa pun untuk di ajak bersenang senang. Kini aku punya diri mu, maka ini akan ku lakukan hal yang tak pernah aku lakukan," ujar Brayen memeluk pinggang Juwita.
Mereka mulai memasuki gerbong selanjutnya, di mana terdapat dua restoran, kemudian di gerbang selanjutnya terdapat dua bar, di gerbang lain terdapat salon dan spa. Bahkan di salah satu gerbong di sediakan tempat kebugaran, yang akan menjadi favorit dari Brayen nantinya. Total semua terdapat dua puluh tiga gerbong, yang siap memandu hingga sembilan puluh tamu. Dengan awak kabin yang bertugas di setiap gerbongnya. Tak tanggung tanggung, mereka bahkan mempersiapkan ruang perawatan, jikalau ada sesuatu yang tidak di inginkan, dengan di lengkapi tenaga medis, seperti beberapa dokter, dan perawat, dengan berbagai ahli. Kereta yang sungguh menonjolkan kenyamanan dan keamanan bagi setiap pengunjungnya. Terlebih mereka akan melewati hampir tujuh hari di dalam kereta, dengan melewati delapan ribu stasiun, dengan panjang rel hingga tujuh ratus ribu kilometer.
Setelah melakukan tour keliling gerbong, akhirnya mereka di antar ke ruangan masing masing, hal pertama yang mereka dapatkan saat masuk ke dalam kamar yang di pesan Brayen adalah mewah. Di dalam ruangan tersebut terdapat Wi-Fi, listrik, TV satelit, DVD, telepon, kamar mandi di dalam ruangan, dan berbagai ornamen yang di bentuk sangat mewah. Benar benar terbayarkan oleh harga yang mahal.
Brayen dan Juwita tersenyum puas melihat dekorasi ruangan mereka, bahkan ini hanya untuk tempat merias wajah dan sofa saja, sangat indah, tempat tidur mereka di beri skat agar petugas tak langsung melihat mereka, saat memasuki ruangan tersebut. Brayen dan Juwita segera memasuki ruang tempat tidur mereka, Juwita berlonjak bahagia, sementara Brayen menggigit bibirnya kesal.
__ADS_1
"Aa... aku di dekat jendela, cop. Ini tempat tidurku," ujar Juwita segera berhamburan ke arah tempat tidur yang ada di samping jendela.
"Aku membenci pilihan ku kali ini," Brayen berdecik kesal, pasalnya ternyata presidential suite room yang ia pesan terdiri dari dua tempat tidur, dan membuat Brayan tak dapat tidur memeluk kekasihnya.
Juwita meletakkan tasnya di atas tempat tidur di samping jendela. Kemudian meraih koper yang telah di bawa oleh awak kereta tersebut. Juwita segera melepas jaket, topi dan maskernya, kemudian menggantungnya dengan hanger yang telah di sediakan. "Aku membersihkan diri terlebih dahulu, dada."
Juwita berlalu menuju kamar mandi yang terletak di dalam kabin ruangan mereka. Juwita terkejut ketika melihat isi kamar mandi tersebut, yang bisa di bilang cukup luas untuk sebuah kamar mandi di dalam kereta.
"Wah tak sia sia aku memiliki pacar yang kaya raya, bahkan mampu mendapat tempat yang seperti ini, benar benar menyenangkan," gumam Juwita, segera menghidupkan kran dan mulai merendam dirinya sendiri.
"Sayang, ayo cepat, kita akan makan siang," ujar Brayen menyadarkan Juwita. Juwita segera menyelesaikan mandinya, mengenakan pakaian, dan bergegas keluar dari kamar mandi.
"Makan di mana? Di restoran atau di kamar?" Brayen memeluk Juwita dan menghirup aroma sabun di tubuh Juwita.
"Di sini saja," ujar Juwita berbinar melihat pemandangan jendela. Meskipun kereta belum bergerak, namun Juwita telah terkesima dengan pemandangan yang tersaji.
Brayen segera mengecup bi bir Juwita, kemudian mengambil telpon, membiarkan Juwita melangkah menuju sofa. "Pesan apa sayang?"
"Steak dan pasta saja," ujar Juwita tersenyum ke arah Brayen. Brayen segera memesan pesanan mereka melalui gagang telfon, setelah selesai Brayen segera duduk di samping Juwita, memeluk gadis itu dari belakang.
Makan siang mereka datang, seorang awak kabin membawa troli makanan. Brayen memperhatikan awak tersebut meletakkan makanan, kemudian pamit. "Ayo makan sayang," mereka berdua mulai menyantap makanan mereka, tepat pada sendok ke empat kereta mulai berjalan menuju Udaipur. Juwita memalingkan wajahnya ke arah jendela, dan senyum mengembang di bibirnya.
"Ini sebagai hadiah jadian kita, kau bahagia?" Brayen meletakkan sendok nya dan memeluk Juwita.
"Tentu saja, ini lebih indah dari yang ku bayangkan. Terimakasih."
_
Silahkan tekan tombol Lika dan komentar yang banyak ya, agar perjalanan Juwita dan Brayen menjadi lancar jaya, hingga ke Delhi.
__ADS_1