CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Sydney.


__ADS_3

Pagi menjelang, kini cahaya mentari mulai bersinar terang. si sebuah ruangan seorang wanita paruh baya yang kecantikannya jangan di ragukan lagi, tengah berbaring dalam pelukan seorang laki laki berbadan sedikit tambun. Wanita itu terus melakukan penjelajahan cinta, dirinya ingin melakukan berbagai hal untuk mencapai taraf kebahagiaan versi nya.


Wanita itu tampak kelelahan setelah pergulatan panasnya, namun matanya enggan terpejam, wanita itu semakin menarik diri ke dalam pelukan kaki kaki itu. Laki laki itu tersenyum menyambut wanita itu ke dalam pelukannya. Bibirnya tak kalah mengecup puncak kepala wanita itu.


"Wen aku mau lagi," ujar laki laki itu. "Kau sungguh hebat di ranjang."


Ya wanita yang tengah berbaring di dalam pelukan laki laki tambun itu adalah nyonya Weni, wanita yang memilih untuk pergi bersama kekasihnya, wanita yang memilih untuk menjada ketiga kalinya, wanita yang memilih untuk tak datang ke parnikaha anaknya. Semua itu hanya demi sebuah gaya hidup dan kanyamanan nya.


"Sayang kau ini..." nyonya Weni memukul pelan lengan kaki kaki itu.


Laki laki itu segera melonggarkan pelukannya, dan memandang lekat ke arah nyonya Weni. "Kau yang memimpin," ujar laki laki itu tersenyum menggoda.


"Baiklah, setelah ini istirahat ok..." ucap nyonya Weni, membuat laki laki itu mengangguk.


"Apa uang nya cukup?" laki laki itu membelai wajah nyonya Weni yang kini berada di atasnya.


"Sangat, aku melakukan perawatan agar kau puas," ujar nyonya Weni bangga, kemudian mulai meliuk liukkan tubuhnya, membuat laki laki itu semakin terbakar has*rat.


Setelah pergulayan panjang nan panas selesai mereka lakukan, kini nyonya Weni membaringkan tubuhnya di atas tubuh laki laki yang sedikit tambun tersebut. Sedikit kurang nyaman berbaring di atas laki laki itu, pasalnya ia terbiasa berbaring di dalam tubuh yang bidang, namun tak apa nyonya Weni menikmatinya. Nyonya Weni tersenyum seolah tak ada beban di dalam kehidupannya, sebuah deringan telfon masuk ke dalam ponsel laki laki itu membuatnya membuka mata, nyonya Weni ikut membuka matanya.


"Siapa?" nyonya Weni meletakkan dagunya di pundak laki laki itu. Laki laki itu tak menjawab hanya mengecup sedikit bibir nyonya Weni.


"Halo..." ujarnya dengan suara serak. Baru saja ingin menikmati tidur nyenyak setelah pergulatan panas, kini harus mengangkat telfon kembali.


"Pih di mana? Mami sedang sakit, kami sedang berada di luar kota. Kata mami papi sedang lembur, dan mami tak ingin menggangu papi," ujar suara seorang wanita di balik telfon.


"Hm... papi baru bangun, papi akan segera pulang. Tadi malam papi sangat sibuk, papi tak sempat untuk pulang," ujar laki laki itu setengah berbohong. Memang tadi malam ia sangat sibuk, sibuk dengan selingkuhannya, sementara sibuk yang di maksudkan kepada anaknya yaitu sibuk bekerja.


"Iya papi jangan terlalu kelelahan, pulang lah mami sangat membutuhkan mu," ujar wanita di ujung sana.


......................


Sementara di tempat lain, saat ini Brayen telah bersiap untuk membawa koper miliknya dan milik Juwita, mereka akan bersiap siap untuk menuju bandara internasional Soekarno-Hatta. Saat ini mereka sedang berada di depan rumah mewah milik kakek Rio. Seorang supir yang melihat Brayen turun dari atas lantai atas, segera membantu Brayen membawa salah satu koper yang ia pegang. Brayen tersenyum sebagai tanda terimakasih.


Setelah itu mereka segera menuju ruang makan, tampak jelas tuan Damar dan kakek Rio juga telah menunggunya. Kedua adik Juwita telah kembali ke negara tempat mereka menuntut ilmu. Tuan Damar dan kakek Rio akan mengantar mereka menuju bandara. Juwita turun dengan baju yang senada dengan Brayen. Jangan di tanya ide itu berasal dari siapa, jelas itu berasal dari Juwita, sang pencinta drama Korea.



Merka kini tengah berada di bandara Soekarno Hatta, siap untuk di terbangkan ke Sydney, Australia. Kakek Rio dan tuan Damar melambaikan tangan ke arah Juwita dan juga Brayen. Keduanya tampak telah memasuki area penerbangan, dan siap untuk masuk ke dalam pesawat.



Brayen menggandeng tangan Juwita menuju bangku mereka, tampak beberapa penumpang telah duduk di tempat masing masing. Brayen dan Juwita telah duduk di kursi yang memang untuk mereka. Brayen segera memperbaiki duduknya, beberapa kali mengecup tangan Juwita.


"Memangnya kereta apa yang akan kita naiki?" Juwita memandang bingung ke arah Brayen.

__ADS_1


"Kereta api yang bagus pokoknya, tunggu di sana saja," Brayen tersenyum mengusap lembut kepala Juwita. "Kita akan berbulan madu di sana."


"Cih, memangnya kau memperbolehkan ku untuk keluar?" ejek Juwita yang mulai paham dengan apa hobi baru suaminya.


"Namanya juga bulan madu, cari suasana baru, di samping jendela banyak pemandangan indah," ujar Brayen terkekeh-kekeh.


Sebuah pemberitahuan dari pihak maskapai, membuat Brayen dan Juwita memperbaiki duduknya, begitupun dengan para penumpang lainnya. Pramugari mulai mempraktekkan berbagai petunjuk untuk penggunaan, di sertakan dengan panduan dari pembesar suara. Setelah selesai, pesawat mulai mengeluarkan bunyi mesin, dan sedikit demi sedikit pesawat mulai terasa berjalan, hingga lama kelamaan pesawat mulai mengudara.



Mereka mulai terbang ke Australia, dengan penggunaan pesawat Garuda Indonesia. Sebagai upaya untuk turut serta mengembangkan pariwisata kedua negara, Garuda Indonesia dan Tourism Australia menandatangani MoU kerjasama promosi pemasaran dan pariwisata bersama. Penandatanganan MoU tersebut dilaksanakan oleh Direktur Niaga Garuda Indonesia, Handayani dan Regional General Manager South/South East Asia & Gulf Countries Tourism Australia, Michael Newcombe di kantor Garuda Indonesia, Jakarta.


Melalui kerjasama ini, Garuda Indonesia dan Tourism Australia sepakat untuk mempromosikan layanan penerbangan Garuda Indonesia dari dan menuju berbagai destinasi di Australia seperti Sydney, Melbourne dan Perth. Kerjasama tersebut merupakan perpanjangan dari kerjasama sebelumnya, dimana pada tahun 2014 Garuda Indonesia dan Tourism Australia berupaya untuk mempererat hubungan kedua negara dengan mempromosikan penerbangan Garuda Indonesia dari dan menuju Australia melalui media konvesional dan media sosial.


Saat ini Garuda Indonesia melayani penerbangan langsung dari dan menuju Australia sebanyak 33 penerbangan per minggu yang dilayani dari Denp asar dan Jakarta ke sejumlah kota di Australia seperti Melbourne, Sydney dan Perth. Penerbangan dari Denpasar menuju Melbourne, Sydney dan Perth dilayani satu kali setiap harinya. Sementara penerbangan dari Jakarta menuju Melbourne, Sydney dan Perth dilayani empat kali dalam seminggu.


Seluruh penerbangan Garuda Indonesia tersebut dilayani dengan konsep layanan “Garuda Indonesia Experience” yang merupakan konsep layanan yang menyajikan seluruh aspek-aspek terbaik dari Indonesia kepada para pengguna jasa dalam seluruh penerbangan baik pre, in maupun post flight.


*Sumber Garuda Indonesia.


Juwita merebahkan badannya mulai menutup matanya dengan Brayen yang terus menggenggam tangan nya, Brayen sesekali mengecup tangan Juwita, sembari bersandar memainkan rambut Juwita yang di biarkan memanjang.


......................



Juwita menarik nafasnya menghirup udara sore hari dari udara Sydney. Brayen tersenyum menggandeng tangan Juwita masuk ke dalam bandara. Mereka melalui plang atau spanduk bertuliskan welcome to Sydney atau dalam bahasa Indonesia selamat datang di Sydney.



Juwita mengembangkan senyumnya, dulu Juwita pernah menginjakkan kaki untuk berlibur, namun hanya beberapa hari dan pastinya tidak sebahagia ini. Dulu dirinya hanya sendirian, berlibur menenangkan diri, dan melupakan semua masalahnya. Namun kini ia bersama seorang pendamping hidup, Brayen suaminya yang kini menggenggam tangannya erat. Juwita rasanya tak ingin kebahagiaan ini terhenti, ingin rasanya mereka berhenti di saat ini.


Brayen segera mengambil koper mereka, dan melewati pemeriksaan bandara, Juwita menyusulnya dari arah belakang. Juwita tersenyum melihat Brayen yang terus menggandeng tangannya, laki laki khas Eropa tersebut, membuat Juwita terus berbunga.



Juwita tersenyum ketika menyaksikan keindahan Badara di sekitarnya. Bandara tersebut menampilkan kemewahan dan ke elegan. Setelah mereka keluar dari bandara mereka segera berjalan menuju hotel yang telah di pesan oleh Brayen.


Four Seasons Hotels and Resorts, Inc. merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang penyedia layanan perhotelan yang berpusat di Toronto, Ontario, Kanada. Perusahaan ini telah membawahi beberapa jaringan perhotelan dengan label Four Seasons Hotels yang terkenal dengan reputasinya sebagai salah satu hotel bintang lima mewah di dunia. Bahkan majalah Travel + Leisure dan Zagat Survey telah menempatkan Four Seasons Hotels pada peringkat ke-89 dalam jajaran hotel termewah di dunia. Selain predikat tersebut, Four Seasons Hotels, Inc. juga telah berhasil dinobatkan sebagai salah satu perusahaan terbaik dengan diraihnya "100 Best Companies to Work For" dari Fortune sejak tahun 1998. 



Perkembangan Four Seasons Hotels saat ini tak lepas dari kisah Isadore Sharp atau yang biasa dipanggil Issy dalam memasuki industri perhotelan untuk pertama kalinya. Dibantu oleh arsitek muda yang telah merancang hotel pertamanya tersebut, akhirnya hotel Four Seasons dibuka untuk pertama kalinya pada musim semi  tahun 1961 di Toronto, Kanada. Pada awalnya hotel ini menyediakan layanan 125 kamar dengan ciri khas Four Seasons dengan layanan eksklusif. Pada era tahun 1970-an, Four Seasons telah berhasil melebarkan sayap usahanya dengan membuka cabang internasional pertama di London, Inggris. Sejak inilah dimulai ekspansi Four Seasons Hotels yang kini telah tumbuh di seluruh dunia. Beberapa tahun setelah itu, Four Seasons kembali membuka cabang hotel yang terletak di San Francisco, Washington, DC dan Chicago, Amerika Serikat.


Periode tahun 1980-an, Four Seasons kembali gencar melakukan peluncuran hotel cabang yang sekarang dilakukan di belasan kota di Amerika Serikat termasuk Philadelphia, Boston, Dallas serta Los Angeles. Dengan inilah Four Seasons berencana untuk merubah wajahnya dari sebuah hotel yang dikelola operator menjadi sebuah perusahaan yang dikelola oleh manajemen. Dengan konsep baru ini memungkinkan Four Seasons untuk semakin memperluas dalam layanan perhotelan yang berkualitas tinggi. Perusahaan nyatanya tak henti-henti untuk melakukan inovasi terbaru untuk memanjakan konsumen hotel. Terbukti pada tahun 1990-an Four Seasons mulai merambah bisnis resort yang menawarkan layanan dan fasilitas yang luar biasa bagi pengunjung. Hal ini direalisasikan dengan mulai diperkenalkannya Four Seasons untuk sejumlah tujuan besar di Eropa dan Asia.

__ADS_1


Memasuki era tahun 2000-an, Four Seasons telah mendapat pengakuan secara global seiring dengan perluasan properti yang berhasil mencakup semua benua, kecuali Antartika. Selain itu Four Seasons juga berkembang melalui  Four Seasons Private Residences, Residence Clubs serta beberapa merek Four Seasons lainnya. Pada tahun 2006, Four Seasons dimasukkan dalam Robb Report dengan predikat merek eksklusif sepanjang masa yang di antaranya terdapat 20 ikon yang terkenal seperti Rolls-Royce, Ferrari, Cartier, Tiffany, Louis Vuitton, Armani, Glenlivet, Château Lafite Rothschild, dan salah satunya terdapat nama Four Seasons. Selain itu di tahun yang sama, Four Seasons juga membuka Pusat Pertunjukan Seni yang menampung para seniman opera dan balet Kanada yang terletak di kota kelahiran Four Seasons yakni Toronto.



Juwita terkagum kagum melihat lobby dari hotel tersebut, matanya berbinar melihat lobby hotel yang tampak mewah dengan lampu berwarna terang di padukan dengan dinding yang di dominasi kan putih gading dan kuning ke emasan. Brayen meminta Juwita untuk duduk di sofa lobby dengan dirinya yang mengantri untuk melakukan check-ni di sana.


Selesai check-in Brayen dan Juwita di pandu oleh pelayan hotel membawa mereka menyusuri lorong hotel menuju kamar merek. lorong itu tak kalah mewahnya, bahkan Juwita tampak beberapa kali membuat story di Instagram miliknya, membuat para pengikutnya menjadi penasaran di mana ia berada berada bersama sang suami.



Mereka akhirnya memasuki ruang presidential suite room, tempat mereka akan menginap malam ini hingga malam besok, karena lusa pagi mereka akan memulai perjalanan dengan kereta ekspress.



Juwita terkagum ketika memasuki ruangan tersebut, sementara pelayan tersebut telah pergi usai mengantar kedua tamunya. Brayen memeluk Juwita dari belakang sembari mengecup pipi Juwita.


"Bagaimana hadiah pernikahan kita?" Brayen berbisik sembari mengecup cuping telinga Juwita.


"Luar biasa, aku benar benar merasa seperti seorang sultan," kekeh Juwita membuat Brayen membalikkan tubuh Juwita.


"Kau bukan seorang sultan, namun kau adalah seorang ratu untuk ku," ujar Brayen mengecup kecil bibir Juwita. Juwita segera memeluk erat tubuh Brayen, membuat laki laki itu terkekeh. "Beristirahat lah, aku akan menyimpan koper kita, kau bersihkan diri dulu."


"Siap bos," ujar Juwita bersemangat, Juwita segera membersihkan dirinya dengan air hangat sementara Brayen menyimpan koper mereka, dan duduk memandang pemandangan Sydney di malam hari.


Usai membersihkan diri Juwita segera mengenakan pakaiannya, sementara Brayen membersihkan dirinya. Juwita juga mempersiapkan pakaian untuk suaminya. Juwita menelfon resepsionis untuk mengantarkan mereka makanan. Juwita memesan makanan laut untuk menambah stamina mereka beserta makanan pencuci mulut atau penutupnya yang biasa di sebut dessert.


Juwita memandang ke arah langit malam Sidney sembari menunggu Brayen selesai dengan membersihkan dirinya, saat Brayen keluar dari kamar mandi Juwita tersenyum dan menghampiri Brayen dengan pakaian yang di khususkan untuk Brayen. Juwita segera membantu Brayen mengenakan pakaian membuat Brayen tersenyum dan secara refleks mengecup puncak kepala Juwita.


Bunyi bell berbunyi membuat Juwita melangkah meninggalakan Brayen, Juwita segera membatu resepsionis tersebut membawa troli makanan, Brayen tersenyum melihat isi troli tersebut.


"Tampaknya setelah ini tenaga ku akan bertambah, kita memang butuh tenaga ekstra, istriku memang pintar," ujar Brayen menarik Juwita mendekat. Resepsionis tersebut tersenyum, kemudian keluar dari kamar mereka.


"Lepas aku harus menata makanan," ujar Juwita melepaskan diri dari Brayen, Brayen membiarkannya, dan memperhatikan istrinya menata makanan di atas meja.



Sebuah makanan pembuka Juwita tata di hadapan Brayen, di tambah makanan inti dari dengan berbahan dasar seafood.



Kemudian Juwita kembali menata dessert di atas meja, Brayen segera duduk di hadapan Juwita dengan senyuman yang menawan.



"Selamat makan sayang, makan yang banyak, setelah ini kita akan bekerja keras," ujar Brayen membuat Juwita tersenyum menggeleng.

__ADS_1


__ADS_2