CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Bikaner


__ADS_3

Rabu, hari ke empat.


Juwita terbangun karena suara alarm yang ia pasang di ponsel Brayen sebelum tidur, namun sesuatu yang mengganjal, Juwita tahu apa itu. Juwita mencari ponselnya, dan mencoba mematikan alarm di ponsel Brayen.


"Hm, sayang matikan ponselnya, aku sangat mengantuk," Brayen memeluk erat tubuh Juwita.


"Brayen... ayo bangun, ini sudah adzab subuh," Juwita menggoyang tangan Brayen. Brayen membuka matanya, kemudian menutupnya lagi.


"Brayen ayo bangun," Juwita mengeluarkan suara rengekannya, membuat Brayen kembali membuka matanya.


"Iya iya iya," ujar Brayen segera bangkit, dan ke kamar mandi terlebih dahulu.


Lima menit kemudian Brayen keluar dengan wajah yang basah, sementara Juwita yang telah menunggunya di kursi kini masuk ke dalam kamar mandi. Dan keluar dengan wajah dan lengan basah. Namun Juwita terkejut ternyata Brayen mendahuluinya, Juwita pun segera masuk ke ruang tidur untuk melakukan sholat subuh.


"Kamu kok sholat duluan, tidak menunggu ku kenapa?" Juwita protes setelah menyelesaikan sholatnya, melihat Brayen yang tengah duduk di atas tempat tidurnya dengan menonton TV.


"Aku belum bisa,bacaan ku saja masih menghapal," Brayen mengusap lembut kepala Juwita tanpa mengalihkan perhatiannya dari tv, pasalnya saat ini tengah menayangkan tentang berita bisnis terbaru.


"Oalah, semangat menghapal nya, biar jadi imam yang baik buat aku," ujar Juwita memberi semangat.


Brayen tersenyum mengalihkan pandangan nya ke arah Juwita mengecup kening gadis itu. "Terimakasih sayang."


"Sama sama," ujar Juwita tersenyum mulai memandang ke arah tv juga. "Ganteng ku," sambung Juwita dengan suara kecil.


"Ah bisa aja, tidur lagi yuk, masih gelap banget ini" Brayen segera berbaring di samping Juwita yang masih memandang ke arah tv, Brayen mencoba mengalihkan pembicaraan yang berhasil membuatnya salah tingkah.


"Hm..." Juwita segera berbaring dengan menjadikan lengan Brayen sebagai bantalannya.


"Yang nikah yuk, setelah pulang nanti," ujar Brayen tiba tiba.


"Nikah nikah, lamar dulu," Juwita terkekeh sendiri, ini bukan yang pertama kalinya.


"Kan sudah," protes Brayen sembari me*re*mas jari jemari Juwita.


"Di depan keluarga Paijo," Juwita menjadi gemas sendiri dengan Brayen, yang terkadang mendadak polos


"Hm, setelah pulang ok," Brayen mengecup pipi Juwita.


"Nanti ada masa pingitan loh, nah di pingitan itu tidak boleh bertemu," ujar Juwita mengetes kepolosan Brayen.


"Bisa video call," ujar Brayen, pasalnya dirinya ingat dulu Chandra dan Aliya sering melakukan video call kala tengah melakukan pingitan. "Nanti aku peluk guling saja sambil video call."


"Hm... Emangnya aku bantal guling?" Juwita paham betul maksud dari Brayen, pasalnya saat Aliya dan Chandra dulu melakukan video call, seringkali Chandra di layar ponsel Aliya memeluk guling, sembari mengecupnya sekali kali dengan gemas, karena menganggap bantal guling tersebut Aliya.


"Bantal guling ekslusif, bisa di peluk, dan bikin hangat. Seperti ini," Brayen segera memeluk erat dan menggelitik tubuh Juwita.

__ADS_1


"Ah... hahahaha... Brayen sudah ampun..." Juwita terus berusaha menggeliat di dalam pelukan Brayen, serta berusaha menjauhkan diri dari Brayen.


"Sini lagi lagi," Brayen semakin menggelitik perut rata Juwita.


"Dasar sana jauh jauh, aku mau baring," Juwita sudah mulai menyerah atas gelitikan maut dari Brayen.


"Sini, sini..." Brayen semakin bersemangat bahkan kini naik menggelitik leher Brayen.


"Tidak kau pindah lah," usir Juwita semakin menyerah dengan gelitikan Brayen, bahkan kini matanya mulai berair, wajahnya memerah.


"Hm, aku akan pindah tapi nanti, jika waktunya sarapan," Brayen merasa kasihan sendiri segera menghentikan gelitikannya.


"Hm... baiklah kau boleh di sini, tapi kau harus menghapal Al-fatihah di hadapan ku," ujar Juwita membalikkan tubuhnya ke arah Brayen.


"Hei aku malu..." Brayan menelusup kan wajahnya di leher Juwita.


"Kenapa? Katanya tidak sabar ingin menikahi ku," Juwita mencolek dagu Brayen.


"Tapi aku malu, aku masih belum lancar," Brayen menguraikan pelukannya, dan memandang wajah Brayen.


"Tidak apa apa, namanya juga belajar, tidak ada yang langsung lancar," Juwita mencoba membujuk Brayen.


"Iya... tapi..." Brayen masih tampak ragu ragu.


"Baca saja, nanti ada hadiah jika kau melakukannya," Juwita masih mencoba membujuk Brayen.


"Iya, cepat lakukan," desak Juwita penasaran.


"Tapi...."


"Tapi apa?" Juwita memicingkan matanya. "Kau mau hadiah atau membacanya?"


"Tentu saja keduanya," ucap Brayen dengan bersemangat.


"Kalau begitu bacalah," Juwita tersenyum manis.


"Lalu hadiahnya?" Brayen masih penasaran dengan hadiah apa yang ingin di berikan Juwita.


"Apapun yang kau minta, selama aku bisa memenuhinya maka akan ku lakukan," ucap Juwita.


"Baiklah akan ku baca," ujar Brayen dengan bersemangat.


Brayen mulai membaca dengan angkat hati hati, meski banyak kesalahan namun Brayen tetap mencoba membacanya. Juwita tersenyum bangga, memang sangat sulit bagi Brayen untuk menghafalkan nya, pasalnya Brayen bahkan huruf saja masih sering tertukar, namun Brayen tetap berusaha untuk menghafalkan nya. Juwita dengan senantiasa membenarkan nya.


"Kalau begitu apa di terima ya sama Tuhan?" Brayen tampak sedikit malu malu.

__ADS_1


"Tentu saja kau tahu Tuhan sangat pengertian. Kau akan di beri pengecualian," Juwita mengusap lembut kepala Brayen.


"Benarkah? Wah hebat sekali," Brayen tampak bersemangat.


"Tapi kau tetap harus belajar," ujar Juwita mencoba memberi semangat.


"Aku akan melakukannya, kau tahu," Brayen tersenyum menawan. "Hm... ngomong ngomong hadiahku apa?"


"Kau minta apa?" Juwita tersenyum manis.


"Nanti saja belum aku pikirkan," Brayen memeluk erat tubuh Juwita.


"Hm..."


"Oh ya, bagaimana hubungan mu dengan om Damar?" Brayen tiba tiba ingan masalah tuan Damar.


"Baik baik saja, aku tak pernah marah marah," ujar Juwita santai.


"Tidak, maksud ku, bagaimana? Apakah kau ingin menghubungi nya?" Brayen memperjelas maksud nya.


"Kau terlalu banyak basa basi," Juwita terkekeh sendiri.


"Kan aku harus membaca keadaan nya, biar tidak salah bicara," ujar Brayen.


"Iya iya... jadi mau mu nya apa?" Juwita semakin gemas sendiri.


"Ya di telfon sayang," Brayen mencubit gemas pipi Juwita.


"Nanti saja ya."


"Sayang tapi kamu benar benar tidak masalah bukan?" Brayen memeluk erat pinggang Juwita.


"Tidak..."


......................


Setelah perbincangan topik hangat tersebut, Brayen dan Juwita tidak kembali tertidur, mereka hanya saling memberi kehangatan di dinginnya suana menjelang matahari terbit.


Perlahan namun pasti, matahari mulai menampakkan cahaya nya, kini mereka telah sampai di Binaker, tempat destinasi yang akan mereka tuju, tempat pemberhentian kereta api Maharajas' Express. Aktifitas masyarakat pagi hari, sungguh sangat membius mata, di tambah banyak sekali bangunan indah nan kokoh di kota tersebut.



Juwita tanpa sengaja mempererat pelukannya, kala melihat pemandangan sekitar yang membius mata. Brayen terkekeh sendiri melihat tingkah Juwita, Brayen juga sangat menikmati pemandangan pagi ini, terlebih dengan pelukan mereka, Brayen sangat menikmatinya.


Sorry guys telat pasalnya saat ini othor masuk ke rumah sakit, dan masih tengah menebus obat. Mohon bantu semangat dengan tombol jempolnya, komentar, bunga setaman, kalau perlu vote wkwkwk.

__ADS_1



__ADS_2