
"Ini anak kecil satu ini, ikut campur saja, di kasih berapa dengan dia? Bahkan lebih membela dia daripada kakak sendiri," Karin mencibir Vania yang ikut campur.
"Kakak hasil tes DNA memang mengatakan yang begitu kok," Vania tak terima di bilang anak kecil oleh kakaknya, yang sebenarnya kakak tirinya.
"Heh ini lagi satu jangan aneh aneh deh," Karin mendelik ke arah Vania penuh kesal.
"Sudahlah Karin, besok papa akan mengirim kamu ke asrama. Papa akan menyekolahkan kamu di sana, kamu akan belajar bisnis di sana," ujar tuan Damar, Karin tahu betul jika begitu maka tuan Damar sudah tidak dapat di bantah. Karin hanya mampu menitikan air matanya, entah bagaimana nasibnya selanjutnya, tapi ia juga tak mampu berbuat apa apa.
Karin hanya mampu pasrah saat ini, membantah atau mengatakan tidak percuma saja, pasalanya tak akan ada yang mampu membelanya, dan tidak akan mau membelanya. Sebuah fakta menyadarkan Karin bahwa dirinya bukan siapa siapa, dirinya hanya anak dari hasil perselingkuhan. Karin memejamkan matanya membayangkan wajah tuan Reymond, jujur saja sesungguhnya kebaikan tuan Reymond memang terkadang berlebihan untuknya. Namun Karin tak ingin terlalu banyak berpikir, Karin hanya berpikir hal itu terjadi karena tuan Reymond tidak memiliki anak perempuan, sementara istrinya tak bisa hamil lagi.
Bayangan tentang teman teman karin yang selalu salah mengira bahwa tuan Reymond adalah papanya, kini semakin terngiang. Teman temannya yang selalu mengatakan bahwa ia lebih cocok menjadi anak dari tuan Reymond, pasalnya mereka lebih mirip. Bahkan teman temannya sering bercanda pasal anak tertukar, atau anak salah ayah. Namun semua candaan temannya kini adalah hal yang benar, dirinya kini menjadi anak tuan Reymond bukan anak dari papa nya lagi, tuan Damar.
"Di mana pa?" Karin memandang pasrah ke arah tuan Damar. Ia akan pasrah dengan apa yang akan di lakukan tuan Damar, ia pasrah kemana ia akan pergi, pikirnya asal itu bukan sebuah asrama, mungkin dirinya mampu bertahan.
"Korea, papa tahu kamu menyukai negara tersebut, jadi papa akan mengirim kamu di sana, ingat uang jajan mu mulai sekarang di kurangi, kamu tidak boleh lagi foya foya, di asrama kamu harus disiplin," ujar tuan Damar memegang pundak Karin, mencoba memberi sebuah keyakinan kepada Karin.
"Pah kok gitu? Tempatnya ga papa, tapi kalau di asrama, kan Karin tahu sendiri bagaimana, lagian Karin ga mau pa," Karin protes, kini hanya mampu merengek menangis, namun tuan Damar kembali menghapus air mata Karin.
"Karin dengan omongan papa tolong, kamu jangan membantah, ini demi kamu semua," tuan Damar melembut, biar bagaiman pun Karin adalah anak yang ia besarkan sejak kecil, meski kecewa dengan tingkah kedua orang tua Karin yang tega berselingkuh di belakangnya, namun Karin tak tahu apa apa. Benar kata Juwita bahwa Karin tak tahu apa apa, dirinya tidak boleh marah pada Karin. Bukan Karin yang meminta untuk dilahirkan dengan cara yang seperti itu. Karin juga kalau bisa meminta dirinya ingin seperti anak lain, normal dengan keadaan orang tuanya.
"Demi apa pah? Setelah papa tahu kalau Karin bukan anak papa, apa papa akan menyingkirkan Karin?" Karin mulai putus asa, mamanya juga pasti tak akan mampu membelanya saat ini, terlebih nyonya Weni saat ini masih berlibur dengan yang katanya temannya.
"Karin papa lakuin ini semua untuk kamu," Juwita mendekat. Biar bagaimanapun Karin tetap adiknya, Karin saat ini butuh di tenangkan diberi penjelasan yang logis untuk Karin, diberi penguatan, pasalnya pasti pisikisnya saat ini terguncang dengan berita mencengangkan tersebut.
"Untuk aku? Untuk aku dari mananya? Kamu enak banyak yang sayang, tapi aku?" Karin semakin histeris kini menutup wajahnya yang di banjiri dengan air mata dengan kedua telapak tangannya. Ia tak tahu harus berbuat apa, semua telah hancur, kini ia merasa sendirian.
Juwita memeluk Karin, mengusap lembut punggung gadis itu. Hingga kini tangisan Karin mulai mereda. Setidaknya Karin butuh tempat sandaran saat ini, hanya sebagai tempat melampiaskan tangisan. "Karin banyak yang sayang dengan kamu, ini semua demi kamu, agar kamu tidak terseret lebih jauh dari permasalahan kamu, kamu di sana sekolah baik baik, dan berdamai lah dengan kehidupan," Juwita mencoba membujuk Karin, dengan nada suara yang sangat lembut.
"Tapi aku ga mau, aku ga mau di kekang," ujar Karin memberitahu alasan sesungguhnya.
Benar kata pepatah, sebuah karang yang keras dan kokoh akan terkikis oleh ombak yang terus menyapunya, sebuah batu yang keras akan berlubang jika terus di tetesi air. Begitupula dengan hati manusia, pelan pelan akan berangsur melunak dengan sendirinya jika disirami oleh kelembutan.
"Karin kakak sudah mencari tentang asrama tersebut, kamu hanya harus disiplin, masalah keluar dari tempat tersebut kamu bisa kapan saja, asal jangan terlalu malam, kamu juga suka nonton konser K-Pop kan? Kamu di sana bisa lebih sering," Juwita kembali membujuk Karin dengan lembut, menyebutkan hal yang di gemari Karin.
Brayen tersenyum melihat hal tersebut, ia tak salah memilih wanita. Sungguh kekasihnya merupakan wanita yang tangguh, kuat, dan di saat yang bersamaan juga lembut. Sungguh Juwita merupakan wanita yang paling sempurna untuk mendampingi dirinya.
"Tapi..." Karin masih mencoba menolaknya, sungguh godaan tentang konser K-Pop memang sangat menggiurkan, namun Karin juga tak ingin semua hanya kebohongan belaka.
"Kamu di sana hanya satu tahun, setelah itu kakak akan ke sana mencarikan kamu apartemen, kamu hanya harus belajar hidup mandiri," Juwita memotong protes Karin, dengan kembali menyebut rencana mereka untuk Karin.
"Tapi aku takut," ungkap Karin menyenderkan kepalanya di bahu Juwita. Hangat sungguh hangat, bahkan lebih hangat dari bersandar di bahu nyonya Weni, ibunya. Meski mereka sama sama memberi kenyamanan yang berbeda. Karin baru mampu merasakan, ini adalah kenyamanan ketika berada di pelukan seorang kakak.
"Karin dengar papa, papa memang bukan papa kandung mu, tapi papa akan melakukan segala yang terbaik untuk mu," tuan Damar mendekat dan mengusap punggung Karin, rasa kecewanya kini terganti dengan rasa kasihan terhadap Karin.
Karin melepaskan pelukannya dari Juwita, Juwita tersenyum tulus ke arahnya. Karin mengalihkan pandangannya ke arah tuan Damar, tiba tiba kerinduannya terhadap pelukan tuan Damar timbul, ia ingin di peluk tuan Damar, yang beberapa jam lalu masih berstatus sebagai papa nya. Itu yang ia tahu. "Pa baik pa, tapi peluk Karin boleh?" Karin menatap tuan Damar dengan tatapan memohon.
"Iya sayang, sini. Kamu nurut ya apa kata kami. Kamu mulai sekarang siap siap, besok kamu akan kami antar ke bandara," tuan Damar mengusap punggung Karin, hingga saat ini baginya Karin tetap lah anaknya, anggap saja anak yang ia besarkan dengan sukarela, anggaplah kedudukannya seperti Juwita sebagai anak tiri.
"Iya pa," Karin mengangguk di dalam pelukan tuan Damar. Rasanya tetap sama tidak ada yang berubah, sungguh tuan Damar menyayanginya, tidak ada yang berubah. Karin mengurai pelukannya, dan memandang tuan Damar.
"Ayo Karin biar kakak antar," Andi mengeluarkan suarahya, pasalnya ini sudah menjelang larut, pastinya akan sangat larut jika sampai di rumah besar tuan Damar.
"Iya kak," ujar Karin menurut. "Papa tidak pulang?"
"Tidak sayang, biarlah mama mu mengira papa belum pulang, ini lebih baik, semakin sedikit yang mengetahui masalah keluarga kita, maka semakin bagus. Bahkan jika perlu asisten rumah tangga kita jangan sampai tahu, biarlah mereka mengira bahwa ini adalah keinginan mu, dan biarlah masalah ini cukup sampai kita saja," jelas tuan Damar membuat Karin mengangguk paham.
......................
Karin dan Andi kini berada di dalam mobil, tak ada satu patahpun yang keluar dari bibir Karin. Andi menghela nafas, ia tahu sungguh hal itu sangat berat bagi Karin, namun ini sudah terlanjur. Menerima kenyataan adalah jalan satu satunya agar bisa bangkit.
"Sudahlah semua sudah terjadi," Andi membuka suaranya, melirik sekilas ke arah Karin.
"Tapi aku tak tahu kenapa ini semua terjadi dengan ku," Karin melemah mengatakan hal tersebut.
Andi tersenyum melirik Karin. "Semua pasti ada hikmahnya, Tuhan memilih mu, karena kau kuat melewati ini semua," ujar Andi memberi sebuah nasihat sekaligus penyemangat.
"Tapi kan..." Karin lagi lagi menghela nafasnya ketika kata katanya tak sampai.
__ADS_1
"Karin... kau kira aku kuat? Aku kuat menerima semu fakta ini, aku terkejut ketika mengetahui bahwa mereka berselingkuh, aku terkejut mengetahui bahwa kau adalah adik ku, di saat yang bersamaan aku harus mengatakan hal ini pelan pelan kepada mama. Aku tak bisa menyembunyikannya selamanya," ujar Andi memberitahu keadaan yang harus ia hadapi saat ini. Karin pun jika merasa sangat berat ia tak sendirian lagi.
"Tapi bukan kah ini sangat lucu? Kau adalah kakak ku... selama ini aku tahu kita tak terlalu saling menyukai," ujar Karin terkekeh, menertawakan suratan takdir kehidupannya. Mamanya yang selama ini ia percaya, mamanya yang selama ini ia anggap sebagai orang yang paling mengerti dirinya, dalam sekejap menjadi orang asing baginya. Juwita yang selama ini ia asingkan, ia anggap orang lain, entah kenapa saat dipeluk oleh Juwita tadi ada rasa bahagia di sana. Seolah mereka adalah orang yang sangat dekat.
"Iya aku paham, tapi mau bagaimana lagi? Sebenarnya aku hanya kurang menyukai sifat mu," ujar Andi terkekeh, sungguh sesungguhnya Andi hanya tak menyukai sifatnya yang sombong.
"Benarkah?' Karin memandang wajah Andi dengan mata yang berbinar, sungguh dirinya bahagia ketika mendengar bahwa hanya sifatnya saja yang tak di sukai.
"Kau tahu kalau di pikir pikir, mama sudah tidak bisa memiliki anak lagi, namun aku selalu ingin seperti yang lain memiliki adik, aku ingin merasakannya. Jadi ternyata saat ini aku punya adik, jadi aku akan tahu rasanya," bukannya menjawab pertanyaan dari Karin, Andi justru menceritakan keinginannya, yang memang selalu penasaran bagaimana rasanya memiliki adik, pasalnya selama ini ia selalu merasa anak tunggal. Dan terkadang Andi juga kesal Apada tuan Reymond yang selalu memanjakan Karin seperti anak kesayangan, bahkan melebihi dirinya. Namun saat ini Andi menjadi paham, karena Karin memang anak perempuan tuan Reymond.
"Hm... setidaknya aku memiliki kakak laki laki," sambung Karin terkekeh pelan. Karin mulai berpikir setidaknya dirinya memiliki hubungan terbaru, tak mesti meratapi dan merutukinya terus menerus.
"Iya tapi kau besok harus ke Korea, aku akan berusaha mengunjungi mu," ujar Andi segera menghentikan laju kendaraannya. Andi menunggu gerbang di buka oleh sekuriti.
"Iya terimakasih," ujar Karin tersenyum, pikirnya tak semau hal yang terjadi hari ini menjadi menyebalkan. Banyak hal yang bisa ia petik matanya juga terbuka lebar untuk membuka topeng yang bersembunyi.
"Nah kita sudah sampai, sekarang ambil pakaian mu dik, kita akan ke rumahku saja, hitung hitung mendekatkan diri, dan menemani mama," Andi mengusap lembut kepala Karin. Jujur saja baru kali ini Andi menyentuh sang adik tiri, setelah mengetahui status mereka yang sesungguhnya. Andi pikir mereka harus terbiasa dengan sentuhan tersebut agar bisa lebih dekat.
"Apa Tante Iwa sudah mengetahuinya?" Karin sedikit takut takut mananyaka nya.
"Belum, aku akan memberitahukannya secara pelan pelan," ujar Andi tersenyum.
"Bagaimana jika dia membenci ku?" Karin memegang ujung kemejanha, sungguh dia tidak kuat dengan kebencian orang orang terhadap nya.
"Kau tenang saja, aku akan membuatnya menerima mu," Andi mengerti keresahan adik tirinya, namun dirinya akan berusaha menjadi kakak yang baik bagi adik nya.
"Kalian pasti memandang ku jijik bukan?" Karin memasukkan satu persatu pakaiannya tak mau berhenti, karena berhenti sedikit maka air matanya akan jatuh. Tidak dia bukan wanita yang selemah itu,"
"Tidak sayang, ini bukan salah mu, lagian kau tak bisa memilih di mana kau akan di lahirkan, kau di hadirkan di sini karena kau kuat. Ayo kita turun," ujar Andi segera menarik tangan Karin menuju lantai dasar.
"Hm..."
"Sudah semua?" Andi melihat wajah lesu dari Karin, sungguh sangat lesu tak seperti biasanya.
"Sudah tapi bolehkan aku menunggu papa di sini?" Karin berbisik takut di dengar para maid.
"Hm... Jika ini yang terbaik," Karin hanya mengangguk pasrah ketika mengatakan hal tersebut, mau bagaimana lagi ini merupakan perbuatan mamanya sendiri, nyonya Weni. "Ayo... aku akan ikut dengan mu,"
"Ayo, aku sudah mempersiapkan kamar untuk mu di sana," ujar Andi tersenyum hangat
.
.
.
.
Pagi ini semua berkumpul di bandara untuk mengantar kepergian Karin ke Korea. Cukup berat melakukan perpisahan di tengah kekacauan ini, namun apalah daya semua itu harus di lakukan, jika bukan demi kebaikan Karin, maka tidak akan terjadi hal seperti ini.
"Karin hati hati ya di sana," ujar Juwita memeluk Karin lembut.
"Iya kak, maafin Karin ya dan terimakasih sudah mau menghibur Karin," ujar Karin membuat Juwita mengangguk.
"Tidak apa apa, kakak juga kakak mu," Juwita terkekeh ketika mengatakannya.
"Semoga kakak dan Brayen sampai di pernikahan," ujar Karin tulus dari hati yang paling dalam. Dirinya sebenarnya menyadari bahwa tidak sama sekali memiliki perasaan kepada Brayen, namun dirinya hanya memupuk rasa iri dan dengki terhadap apa yang di miliki Juwita, sehingga dirinya juga terobsesi dengan milik Juwita.
"Iya sayang terimakasih ya," ujar Juwita tersenyum tulus kepada Karin.
"Karin kamu hati hati ya di sana, kalau sampai kabari kami, kamu harus rajin belajar," tuan Damar kini memeluk Karin dan memberi beberapa petuah, khas seorang ayah menasehati dan memberi pesan kepada anak gadisnya yang akan merantau.
"Iya pa terimakasih atas semuanya, terimakasih masih memikirkan Karin meski Karin bukan anak papa," ujar Karin menitikan air matanya, tak menyangka bahwa ternyata papanya itu kini bukan papanya lagi, atau lebih tepatnya bahwa dirinya adalah anak dari tuan Reymond
"Iya Karin biar bagaimana pun kau adalah anak papa yang papa rawat sejak kecil. Kau tetap putri kecil ayah Karin," tuan Damar mengusap lelehan air mata si pipi Karin dan mulai mengusap lembut kapal karin.
"Terimakasih semua, sampai jumpa," Karin melambaikan tangannya ketika mendengar panggilan untuk penumpang yang akan berangkat ke Korea, dirinya sudah harus pergi jua. Semua orang melambaikan tangan ke arahnya, melepas kepergian dirinya. Perasaan sedih menyelimuti dirinya, namun setelah merenung dan berfikir ia memang harus pergi. Bukan tak ingin lagi melihat nyonya Weni ataupun tuan Reymond, namun Karin harus menghindar dari semua pertanyaan yang pasti juga di tanyakan padanya. Terlebih ketika kasus perselingkuhan terkuak di media, maka Karin akan menjadi incaran pertama para pencari berita.
__ADS_1
Pesawat Karin mengudara mereka semua kembali ke kediaman Juwita, tak ada yang berencana untuk kembali ke kediaman tuan Damar, karena ingin memberikan kejutan kepada tuan Reymond dan nyonya Weni saat mereka pulang, semua persiapan telah matang. Mereka tinggal menunggu kedatangan pemeran utamanya kali ini.
......................
Sementara di Bali, tuan Reymond dan nyonya Weni tengah duduk di pinggir pantai. Nyonya Weni saat ini duduk di atas pangkuan tuan Reymond, sesekali tuan Reymond mengecup bibirnya.
Cklek...
Seseorang mengambil gambar mereka berdua. "Wah mesra sekali ya pasangan gelap kita ini. ayang satu punya suami dan yang satu lagi punya istri," ujar seorang pemuda tampan dengan manmpakkan kamera di tangannya.
"Dika hapus, apa mau mu," nyonya Weni kesal sendiri di buat laki laki itu, tampaknya mereka sangat mengenal satu sama lain.
"Waw waw waw Tante jangan marah marah, nanti akan cepat tua, takutnya om Reymond akan cepat berpaling," goda laki laki yang di panggil Dika tersebut.
"Dasar anak ingusan apa mau mu? Jangan banyak bicara," tuan Reymond ikut kesal melihat tingkah anak tersebut.
"Ah aku ingin kau menepati keinginan ku," uajr pemuda tersebut. Laki laki itu memandangi tubuh nyonya Weni kemudian tersenyum.
^^^Pantas saja om Reymond tergila gila padanya, ternyata badan wanita ini masih sangat seksi, dan bisa di bilang sangat aduhai menggoda, bahkan aku yakin pasti goyangannya benar benar aduhai, memabukkan ini.^^^
Dika meneliti tubuh nyonya Weni yang hanya mengenakan bik*ini, di usianya saat ini yang terbilang cukup tua, bahkan memiliki tubuh yang kencang, dan terawat.
^^^Payu*dara*nya cukup kencang, dan pasti masih lembut ketika di re*mas, apa dia operasi silikon ya, untuk mempertahankan bentuk dan kekencangan ya, pahanya benar benar kencang dan pas di tangan.^^^
"Hei perhatikan mata mu, jangan pernah mengamatinya begitu," tuan Reymond sangat geram dengan tatapan buas Dika kepada nyonya Weni, rasanya ia ingin menco*ngkel bola matanya.
Nyonya Weni diam diam tersenyum melihat Dika mengagumi nya, sungguh dia sangat puas dengan tubuh yang seperti ini, usahanya menjaga tubuh tidak sia sia, kekasihnya bahkan selalu berdecak kagum melihat tubuhnya jika mereka berada di atas tempat tidur.
"Apa keinginan mu?" nyonya Weni mengangkat alisnya menggoda, sembari terus menengadahkan tangannya ke arah laki laki muda tersebut, meminta ponsel laki laki tersebut. Tuan Reymond memeluk tubuh nyonya Weni dari belakang, alah satu tangannya ia gunakan untuk menutupi Adit yang saat ini hanya untuknya aja, bibirnya terus mengecup pundak nyonya Weni, tanda wanita itu adalah miliknya.
"Kau menjodohkan Juwita kepada ku, kau tahu sejak dulu aku menginginkannya," ujar pemuda tersebut membuat nyonya Weni menggelengkan kepalanya.
"Dia sudah punya pacar, kau tahu Brayen bukan?" Nyonya Weni terkekeh menggeleng di hadapannya.
"Aku tak perduli, jika tidak bisa dengan cara baik baik, maka lakukan dengan cara lain," uajr laki laki tersebut kekeh menginginkan Juwita, baginya Juwita merupakan misteri yang amat susah untuk di pecahkan, sehingga membuatnya semakin menginginkan Juwita. Ingin menjelajahi hati Juwita, ingin mengerti keinginan gadis tersebut.
"Baiklah, aku dengar nona tuan muda Chandra akan mengadakan pesta ulangtahun untuk istrinya, kau datang saja, mereka pasti datang. Pasalnya keduanya adalah sahabat baik dari Chandra dan Aliya," usul nyonya Weni.
"Lalu apa rencana mu?" laki laki itu
tersenyum mendengar kata kata nyonya Weni, tampaknya ia akan mendapat apa yang di inginkan.
"Kau minta saja pelayan memberi minuman yang telah kau campurkan obat kepada Juwita, ketika Juwita pusing maka kau dapat membawa Juwita dan menjadikan dia sebagai milik mu," ujar nyonya Weni santai kemudian mengusap jari jemari yang mengait di pinggangnya. Bahkan tuan Reymond sekali kali mengecup bahu nyonya Weni.
Dika terkekeh melihat hal tersebut, mereka memang layak di sebut pasangan tua yang sangat langgeng, dan wajib di tiru jika tak tahu mengenai apapun. Namun jika mengetahui siapa sebenarnya mereka, maka siapapun akan menjuluki mereka sebagai pasangan gila yang tak tahu umur.
"Wah pintar sekali, kau memang ibu kejam," puji Dika dengan sedikit menyindir nya, Dika segera menyerahkan hasil jepretannya, dan meminta nyonya Weni menghapusnya sendiri, kemudian berjalan meninggalkan nyonya Weni dan tuan Reymond yang masih asyik bermesraan.
"Cih..." tuan Reymond berdecik kesal melihat kepergian dari Dika. "Apa tidak apa apa sayang?" jujur saja tuan Reymond tidak menyukai laki laki itu, menurutnya sangat sombong ketika berbicara, tuan Reymond memperhatikan setiap gerak gerik nyonya Weni yang tengah menuangkan sunblock ke tangannya.
"Tidak ini demi kita," ujar nyonya Weni mengusap sunblock tersebut ke lengannya, dan dengan gerakan sensual mengusap kaki hingga pahanya yang masih kencang karena rajin perawatan.
"Ah... aku semakin manyayangi mu," ujar Reymond tersenyum mengusap punggung nyonya Weni.
"Benarkah?" nyonya Weni menuangkan sunblock di atas perut tuan Reymond dengan perlahan hingga ke perut bagian bawah, dan menguapnya dengan menggigit bibir bawahnya sembari memandang tuan Reymond.
"Agh... ayo kita ke kamar sekarang," tuan Reymond segera menarik tangan nyonya Weni, dan mengajaknya segera ke kamar mereka. Nyonya Weni terlebih dahulu mengenakan pakaiannya begitupun tuan Reymond.
.
.
.
.
Hai guys ini sudah tiga ribu, jangan lupa pajak pajak pajak, bunga sekebon atau kopi lah wkwkwk.
__ADS_1