
"Hust, kenapa hm? Coba cerita."
Brayen segera mendudukkan Juwita di kursi, Brayen tak menyangka gadis yang selama ini menyemangati nya, dan membantunya bisa menangis seperti ini.
"Maaf, aku tidak bermaksud," ucap Juwita merasa tidak enak. "Maaf Bray."
"Iya, tapi kau kenapa? Kenapa menangis?" Brayen segera menyeka sisa air mata Juwita.
"Ka kau sedang apa di sini?" Juwita sedikit sesegukan, ketika bertanya.
"Aku baru saja selesai melakukan pertemuan dengan klien ku," ucap Brayen mengusap lembut kepala Juwita.
"Untung kau ada di sini, aku mohon tolong bantu aku sekali lagi," Juwita memohon, menampakkan mata imutnya.
"Bantu apa?" Brayen kembali lagi tersihir dengan mata bulat milik Juwita.
"Aku mau kau kembali berpura pura menjadi pacar ku, sekali ini saja," ucap Juwita memohon, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Hah? Tidak tidak, kau ketagihan berpura pura pacaran dengan ku?" Brayen heboh sendiri, hilang sudah rasa ibanya, tergantikan dengan rasa penolakan yang penuh.
"Aku mohon, aku akan di jodohkan dengan mama dan om Damar, papa tiri ku," ucap Juwita mengiba, berusaha membuat wajah semenyedihkan mungkin.
Brayen terdiam ketika mendengarkan kata di jodohkan. Ada rasa tak tega di sana. Terlebih mata imutnya sedang mengiba kepada dirinya.
"Ais... Ya sudah, tetapi ini tidak percuma, aku akan memberimu syarat, dan harus kau penuhi," ucap Brayen, membuat Juwita tersenyum senang.
"Baiklah apapun persyaratannya, asal kau mau menjadi pacar pura pura ku, sampai tiga bulan eh, enam bulan lah, biar mereka percaya," ucap Juwita tersenyum senang.
Persetan dengan syarat yang harus ia lakukan nanti, asal tidak menjadi tumbal kekayaan dari keluarga mama nya, maka ia akan sangat bersedia melakukannya.
"Baiklah, besok akan akan aku berikan syarat syarat nya," ucap berantem tersenyum penuh arti. Juwita tak perduli itu, yang terpenting saat ini dirinya selamat.
"Oh ayo ikut dengan ku," ucap Juwita segera berdiri, menghapus sisa air matanya, dan menarik tangan Brayen untuk mengikutinya.
Juwita segera mengintip dari kejauhan, keluarga cemara yang tengah mengobrol tersebut. Brayen mengernyit melihat papa tiri Juwita, tuan Damar.
"Ck, papa tiri mu tuan Damar?" Brayen memandang ke arah Juwita.
__ADS_1
"Iya, ayo bantu aku," ucap Juwita segera menarik tangan Brayen.
Mereka segera mendekat dengan tangan Brayen yang sudah melingkar di pinggang Juwita.
"Selamat malam om, tante," ucap Brayen ramah, kepada kedua orang yang ada di hadapannya. Brayen segera mengulurkan tangannya ke arah taun Damar.
Semua orang terkejut melihat kedatang Brayen, yang berdiri di samping Juwita. Karin segera memperbaiki posisi duduknya, agar terlihat lebih anggun. Juwita terkikik geli melihat tingkah Karin.
Lihat saja, patah hati kau sebentar lagi. Juwita mengumpat Karin di dalam hati.
"Selamat malam, pak Brayen, anda sedang apa? Anda mengenal Juwita?" Tuan Damar sebisa mungkin berlaku sopan di hadapan Brayen, terlebih laki laki yang tengah berdiri di hadapannya itu adalah investor terbesar di perusahaannya.
"Tadi Juwita menelfon saya untuk datang ke sini, kebetulan saya meeting di sini, ya kan sayang," Brayen berbicara dua arah, kepada tuan Damar dan juga Juwita. Brayen mengusap lembut bahu Juwita, membuat Juwita tersenyum kaku.
"I, iya om. Oh ya, Juwita mau memperkenalkan ini pacar Juwita, Brayen. Hanya saja Juwita tidak menyangka, kalau kalian saling kenal," Juwita sedikit bergelayut manja, menambah keirian dari adik tirinya, Karin.
Panas panas panas, mantap tidak? Juwita bersorak kemenangan melihat tatapan iri Karin.
Tuan Damar, nyonya Weni, dan Karin melongo mendengarkan pengakuan kedua orang yang ada di hadapannya. Bagaiman tidak Brayen yang mengaku kekasih dari Juwita itu, merupakan pengusaha muda, dan termasuk Crazy rich di Indonesia, meskipun dirinya belum menjadi warga negara yang tetap, namun dirinya yang menetap di Indonesia, membuat seluruh pengusaha di Indonesia mengenalnya.
Kalau tahu seperti ini, Juwita tidak usah susah susah aku jodohin, jika sudah begini dapat aji mumpung. Tuan Damar menyeringai penuh kemenangan, dirinya mendapat kartu jackpot.
Kok dapat yang seperti ini sih? Aku tak rela, aku harus mendapatkan nya. Jiwa keirian Karin meronta ronta.
Juwita yang melihat reaksi itu tersenyum senang, bisa di pastikan dirinya akan terhindar dari kasus perjodohan, dari ketiga orang yang ada di hadapannya.
"Ah silahkan duduk pak Brayen," ucap tuan Damar mempersilahkan Brayen untuk segera duduk.
"Tidak usah sungkan om, panggil Brayen saja," ucap Brayen segera menarik kursi yang ada di hadapannya. "Ayo sayang."
Juwita tersenyum penuh kemenangan. Dirinya tak salah memilih teman bersandiwara. Brayen bahkan memperlakukannya seolah mereka benar benar seorang kekasih.
Wih, cocok ini orang menjadi seorang aktor, akting nya totalitas sekali. Juwita memandang Brayen, dengan senyuman puas.
Tampaknya tuan Brayen sangat menyayangi Juwita, kesempatan ini tidak akan terlewatkan. Ini adalah kesempatan emas ku. Nyonya Weni tersenyum penuh arti.
"Ah iya nak Brayen, sudah berapa lama kalian berpacaran?" Tuan Damar segera membuka topik pembicaraan.
__ADS_1
"Dua bulan."
"Sudah tiga bulan om."
Brayen dan Juwita seketika saling memandang, Brayen mengernyitkan keningnya, Ketiga orang itu terdiam, tak tahu yang mana yang benar.
"Sayang kamu pasti melupakannya, Sekarang bulan berapa?" Brayen mengusap lembut pipi Juwita. Berusaha memberikan kode agar Juwita setuju dengan dirinya.
"Maret," Juwita akhirnya mengerti dengan tujuan dari Brayen.
"Kita bulan berapa jadiannya?" Brayen mengecup pipi Juwita sebentar. "Tiga bulan kita pacaran ok," bisik Brayen.
"1Januari, tepat tahun baru kemarin," ucap Juwita dengan polosnya.
"Tu kan berarti sudah tiga bulan," ucap Brayen mencubit gemas pipi juwita.
"Tapi kan belum tanggal satu beby," keluh Juwita dengan manja, seolah tak ingin kalah dari Brayen.
"Iy iya, dua hari lagi," ucap Brayen seolah mengalah dengan apa yang di sebut oleh Juwita.
"Ya sudah tiga bulan kurang dua hari saja kalau begitu," ucap nyonya Weni tersenyum penuh kemenangan.
"Wah baru dong," kini Karin ikut menimpali, dirinya harus terlihat menonjol, dan elegan di hadapan Brayen.
"Iya..." Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka. "Sayang kamu mau pesan apa?"
"Hm, daging steak saja yang medium ya, sama jus alpukat," jawab Juwita tersenyum.
"Ya sudah, steak medium dua dan jus alpukat dua," ucap Brayen segera menyerahkan buku menu tersebut. "Yang lain?"
"Kami juga sama," ucap yang lain serentak.
"Ya sudah itu saja," ucap Brayen tersenyum ke arah pelayan tersebut.
"Kau sangat berbakat dalam ber acting, mengapa kau tidak menjadi seorang aktor saja?" Juwita berbisik kepada Brayen.
"Tentu saja, lelaki jenius seperti ku bisa segalanya, jika hanya bersandiwara maka Akau bisa," Brayen kini berani menunjukkan kesombongannya.
__ADS_1
"Cih menyesal aku," Juwita mencebikkan bibirnya, membuat Brayen segera mencubit pipi Juwita degan gemas.
Volt guys biar semangat updetnya, jangan lupa like komentar dan favorit ya.