CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Pingsan


__ADS_3

Sore ini Juwita datang menghampiri kediaman keluarga Kostak bersamaan dengan Brayen, mereka akan menanyakan persiapan ulangtahun Aliya setelah dari sana, sementara keadaan kakek Rio sudah menjadi lebih baik. Aliya pagi ini telah keluar dari rumah sakit, namun Juwita tak sempat untuk menjemputnya, hal ini karena Haris mengantar Karin ke bandara, yang akan berangkat ke Korea.


Mereka baru saja memasuki gerbang mewah tersebut, cukup lama Brayen tak datang ke tempat ini, pasalnya kemarin menyusul Juwita, dan ketika kembali ia segera melakukan sunat, belum lagi kakek Rio dan Aliya yang masuk rumah sakit saat dirinya sedang dalam masa pemulihan, bahkan saat itu Brayen selalu menemani kakek Rio, sembari mencegah terlalu banyak pergerakan. Hanya keluar dari ruangan ketika hendak menjenguk Aliya, melepas perban, untuk hal hal penting yang memang tak bisa di wakil kan. Bahkan untuk urusan pelepasan perban saja Brayen telah memindahkan rawat jalannya di rumah sakit tersebut.


"Assalamualaikum," sapa Juwita ketika masuk ke ruang keluarga, tampak para keluarga duduk berselonjor, sembari memakan cemilannya, dan menonton TV.


"Walaikumsalam, wah calon manten datang, kapan nih?" nyonya Mona tersenyum menghampiri mereka sembari membawa nampan berisi cemilan dan minuman hangat. "Ayo duduk."


Juwita dan Brayen segera duduk ikut dengan yang lain, menonton bersama sembari memakan cemilan yang ada, seorang maid datang membawakan Juwita dan Brayen minuman.


"Bagaimana persiapan ulangtahun Aliya?" Juwita memandang ke arah nyonya Mona. Sesungguhnya Juwita cukup kecewa tak bisa ikut sepenuhnya di dalam persiapan kejutan ulangtahun Aliya, hal ini bukan karena ia memang sengaja, atau orang orang tak ingin melibatkannya. Namun keadaan membuatnya tak mampu berbuat banyak, dan lebih memilih masalah mama dan papa tirinya yang memang cukup pelik dan berliku liku.


"Sudah hampir siap, lalu bagaiman dengan mu? Aku dengar mama dan papa mu sedang renggang," seorang kakek akan mampu merasakan perasaan apa yang di alami oleh cucunya, meski tak diberi tahu. Sama halnya seperti kakek Rio, meski Juwita terus tersenyum ketika merawatnya, namun sebagai seorang kakek yang membesarkan cucunya jelas kakek Rio akan menyadari hal tersebut.


"Sudah hampir selesai kek, paling tinggal nunggu mama saja lagi," ujar Juwita tersenyum. Juwita jelas tahu bahwa kakek Rio akan mengerti keadaannya meski tanpa diberitahu, Juwita menganggapnya seperti sebuah rasa kasih sayang yang tulus untuk cucunya. Meski bukan kandung.


"Lalu bagaiman kalian berdua, berapa lama lagi akan berhenti di tempat?" tuan Omer memandang kearah keduanya.


Tuan Omer memandang sepasang kekasih yang saling mencintai, namun hingga saat ini belum mampu melangkah menuju jenjang selanjutnya.


"Besok Brayen akan mengadakan lamaran," ujar Brayen mengusap lembut punggung Juwita, Brayen memandang lembut mata bulat yang terus terus menghipnotis nya hingga membuatnya jatuh cinta.


"Berarti tinggal di sini atau di kembali ke apartemen Brayen?" nyonya Mona memandang pasaran kearah Brayen.


Brayen tersenyum mengalihkan penglihatan ke arah nyonya Mona. "Lihat saja nanti ma," Brayen tersenyum hangat.


"Gimana urusan kalian sudah?" Chandra tiba datang dari lantai dua. Ia segera duduk di samping kakek Rio ketika sudah memastikan Aliya beristirahat.


"Sudah semua sudah selesai," ujar Brayen mewakili Juwita, gadis di sampingnya hanya tersenyum simpul. Brayen mampu merasakan kesedihan kekasihnya, Brayen tahu itu sangat berat. Namun berusaha untuk tidak ikut melihat kesedihan tersebut, karena itu Brayen sejak tadi berusaha membuat Juwita tersenyum dengan tingkah manjanya. Berusaha terus bergelayut, dan tidak membiarkan gadis itu sendirian.


"Lega Wit?" Chandra memandang Juwita yang menganggukkan kepalanya dengan perlahan, bibirnya melengkung kecil memberi senyuman tipis,bermaksud agar orang orang tak mengetahui kesedihannya.


Namun Juwita salah, semakin ia berbuat begitu, orang orang akan semakin sadar bahwa dirinya memiliki masalah. Dan mungkin saja masalah itu sangat berat.


"Urusan apa? Brayen kamu ga bobol duluan kan?" nyonya Mona tampaknya salah paham, membuat semua orang memandang ke arah Brayen. Brayen menggeleng cepat, membuat orang orang hampir terkikik geli, pasalnya nyonya Weni salah mengartikan maksud dari arah pembicaraan Chandra.


"Ya ga lah ma, ini urusan keluarga si cantik ini," kakek Rio sedikit mengecup pipi Juwita membuat gadis itu terkejut, matanya membulat sempurna, dengan pipi yang memerah dan tangan yang siap melayang di pundak Brayen. Pasalnya jika di depan keluarga ia akan merasa sangat malu.


"Cih si cantik ini, dasar bucin kamu," Chandra bedecik melihat sepasang kekasih tersebut, yang mengumbar kemesraan di hadapan dirinya dan keluarga lainnya.


"Sama calon istri tidak apa apa ma," ujar Brayen santai, seolah itu adalah hal yang biasa.


"Hei awas saja ya, nikahi dulu baru nyium nyium cucu ku," protes kakek Rio membuat semua orang terkekeh. Sementara wajah Juwita sudah memerah hingga ke telinganya, Brayen melihat itu menjadi ikut terkekeh.


^^^Untung saja ada kakek Rio kalau tidak sudah kucium seluruh wajah mu. Brayen.^^^


......................


Pesta ulang tahun yang di gelar oleh Chandra untuk Aliya sangat megah, mengundang beberapa kolega, termasuk tuan Damar dan keluarga, namun hingga saat ini tuan Damar memilih untuk tidak memunculkan diri, tuan Damar juga telah menyampaikan alasannya dan permintaan maaf dari dirinya melalui Juwita kepada Chandra. Chandra mengangguk paham, dirinya juga tak bisa memaksa agar orang datang ke pesta ulangtahun istrinya itu.


Juwita dan Brayen jelas menjadi sorotan di sana, pasalanya menurut beberapa akun gosip, dan berita simpang siur mereka sebentar lagi mereka akan mengadakan pesta pernikahan.


Aliya terlihat menggandeng suaminya untuk menyapa para tamu, Brayen mengajak Arnita namun gadis itu lebih memilih mendekat ke arah Arnita, sementara Brayen dan Haris mendekat ke arah tuan rumah, yaitu Chandra dan Aliya. Angel juga terlihat di sana, di mana Angel saat ini bersama dengan Aska. Mereka mengadakan pesta ulang tahun di salah satu hotel bintang lima.


"Gimana liburan mu?Aku dengan kau berlibur bersama Brayen di India," Arnita tersenyum melihat wajah Juwita yang salah tingkah. Juwita menggosok tengkuknya.


"Iya gitu lah kak, seru sih," ujar Juwita mengibas ngibaskan tangannya di area wajah karena tiba tiba memanas.


"Apa kalian sudah...." Arnita menaik turunkan alisnya semakin menggoda Juwita.


"Ush...tidak kak, tidak segitunya," Juwita cemberut mendengar kata kata Arnita yang membuatnya malu sendiri. Terlebih jika mengingat mimpi liar Brayen, dengan suara men*de*sah*nya.


^^^Kalau si Brayen mimpi aneh aneh baru ada. Juwita.^^^


Mereka tampak berbincang bincang, hingga pada akhirnya seseorang membawakan Juwita air.


"Ini dari siapa mas? Saya tidak memesan minuman atau meminta seseorang membawakan minuman?" ujar Juwita kebingungan.


"Ini bagian dari pelayanan kami mbak," ujar laki laki itu, pasalanya ia juga bingung kenapa laki laki meminta dirinya mengantarkan minuman untuk Juwita, jika dia bisa sendiri.


Juwita mengerutkan keningnya, merasa tak percaya dengan hal tersebut. "Lalu kenapa dia tidak dapat?" Juwita menunjuk ke arah Arnita.


"Sudah lah Wit ambil saja, agar dia cepat pergi," ujar Arnita.


"Iya kak," ujar Juwita. Jelas saja gadis itu bingung sendiri, namun tak mau mengambil pusing.


Sepasang mata terus memperhatikan gerak gerik Juwita dari kejauhan, laki laki itu pemasaran dan berharap Juwita segera meminum airnya. Namun kenyataan bernada jauh dari harapan, Juwita hanya menggenggamnya.

__ADS_1


"Arnita tampak celingak celinguk mencari pelayan untuk meminta di bawakan minuman seperti Juwita, namun pelayan tersebut tak kunjung datang. Arnita yang kehausan melihat gelas yang sejak tadi hanya di genggam Juwita segera meminta air tersebut.


"Hm, Wit, boleh tidak aku meminta air tersebut?" Arnita melirik ke arah gelas Juwita.


"Ah iya kak, minum saja," ujar Arnita segera menyerahkan minuman yang di berikan untuknya.


Setelah meminum hingga tandas, tiba tiba Juwita melihat respon gerakan tubuh Arnita menjadi berubah, Arnita dengan wajah memerah membuat Juwita menjadi khawatir. "Kakak tidak apa apa?" Juwita segera memegang bahu Arnita.


Arnita hanya menggeleng. "Kakak ke kamar mandi dulu ya," ujar Arnita segera berjalan menuju kamar mandi, tanpa menunggu pertanyaan dari Juwita.


Juwita yang melihat kepergian Arnita sedikit resah. Namun Juwita berusaha berfikir yang baik. Hampir dua puluh menit Arnita tak kembali hal itu semakin membuat Juwita cemas, Juwita ingin menyusulnya, namun takut Brayen akan mencarinya, tapi kekhawatirannya terhadap Juwita juga tinggi. Juwita semakin cemas, segera mendekat ke arah Haris. Juwita tahu betul bahwa Haris memiliki perasaan lebih kepada Arnita. "Kak Haris, tadi kak Arnita ke toilet, kayaknya sakit. Ajak pulang saja sana," ujar Juwita segera memberi saran kepada Haris. Haris yang mendengar hal tersebut segera mencari Arnita ke arah toilet perempuan.


"Apa kak Nita baik baik saya ya, atau kita susul saja dia," Juwita resah sendiri pasalnya sejak tadi Haris tak pulang pulang.


"Tidak usah Haris pasti menanganinya," Aliya mencoba menghibur sahabatnya.


"Tapi aku khawatir, minuman itu sebenarnya untuk ku, tapi kak Nita yang meminumnya," ujar Juwita membuat Brayen, Chandra dan Aliya terkejut mendengarkannya.


"Maksud mu?" Brayen memandang tajam ke arah Juwita, takut takut jika ada yang mengincar kekasihnya. Matanya ia edarkan ke segala penjuru ruangan, menyapu dan memindai apakah ada orang yang berbahaya atau tidak. Namun nihil kemampuan Brayen mengintai dan mengenali orang jahat di tengah kerumunan tak sehebat para Intel FBI.


"Iya seorang pelayan tiba tiba memberiku minuman, dan aku tak meminumnya karena ragu," ujar Juwita dengan suara pelan, tak mau ada yang mendengarkannya. "Namun kak Nita memintanya, jadi aku memberikannya, eh tiba tiba kak Nita menjadi begitu."


"Lebih baik kita cek di cctv sekarang juga," Brayen segera menarik tangan Juwita, Brayen semakin percaya bahwa Juwita telah di incar, namun malah justru Arnita yang terkenal imbasnya.


Mereka berjalan menuju ruangan cctv, mencari tahu siapa yang memberi Juwita minuman. Kakek Rio yang tanpa sengaja melihat Brayen dan Juwita berjalan tergesa gesa, segera mendekat ke arah Aliya dan Chandra.


"Ada apa? Kenapa dengan mereka?" kakek Rio memandang ke arah pintu keluar yang baru saja di lalui oleh Juwita dan Brayen.


"Mereka sedang menuju ruang cctv, mereka mencari siapa yang memberi Wita minuman," ujar Aliya menjelaskan kepada kakek Rio, Aliya tahu bahwa kakek Rio saat ini tengah gencar menjaga Juwita, takut Brayen membobol sebelum waktunya. Terlebih melihat sikap Brayen yang terkadang manja kepada Juwita.


"Memangnya ada apa?" kakek Rio bingung sendiri di buatnya. Kakek Rio mengerutkan keningnya bingung pasalanya, hanya perkara minuman saja mereka harus melakukan hal tersebut.


"Ada yang ingin menjebak Wita tampaknya, tapi di minum oleh kak Nita," ujar Aliya setengah berbisik takut ada yang mendengarkannya.


"Apa?" kakek Rio terkejut bukan main, entah apa cucunya yang satu itu pernah bermasalah dengan orang lain, atau pernah menyinggung perasaan orang lain, tapi kakek Rio benar benar khawatir. Pikiran kakek Rio mulai menjelajah kemana mana, entah itu dari mantan kekasih Brayen, atau mantan kekasih Juwita, atau bahkan dari adik tiri Juwita.


Kakek Rio bergegas menyusul Brayen dan Juwita menuju ruangan cctv, kakek Rio melihat kedua kekasih itu baru saja masuk ke ruang cctv, segera bergegas menyusul untuk masuk.


"Tuan maaf ini hanya boleh di masuki oleh staf, dan para pekerja saja," ujar salah satu penjaga cct yang terkejut dengan kedatangan Brayen dan Juwita.


Brayen mencari cctv aula pesta, sembari mencari tepat kejadian, hanya butuh lima menit Brayen telah menemukan rekaman cctv yang menampakkan seorang pelayan membawa minuman, Juwita seketika berseru. "Nah ini pelayannya," Juwita menunjuk ke arah monitor di mana seorang pelayan membawa sebuah minuman ke arah Juwita.


"Wit..." suara kakek Rio terdengar membuat penjaga cctv tersebut menunduk, ia takut akan di pecat ketika membiarkan selain staf masuk ke dalam ruangan.


"Kakek kok tau kami di sini,"pelayan tersebut terkejut mendengar penuturan Juwita. Kakek? Berarti wanita yang hampir ia telah adalah cucu dari pemilik dari hotel ini, penjaga cctv semakin menunduk takut akan diadukan.


"Tadi kakek nanya Al. Bagaimana sudah ketemu?" kakek Rio segera menanyakan perihal cctv tempat kejadian, ia penasaran siapa yang hendak menjebak cucunya.


"Sudah kek, ini orangnya," Brayen berbicara sembari memutar kembali video seseorang yang memberi pelayan tersebut minuman, bahkan rekaman tersebut menampakkan laki laki itu menuangkan sebuah bubuk kedalam minuman, kemudian memanggil seorang pelayan dan memintanya untuk diberikan kepada Juwita.


"Coba perbesar, ini tidak terlalu kelihatan," kakek Rio tak sabaran ini ingin melihat wajah yang ingin menjebak cucunya dengan minuman.


"Ah... ini dia," ujar Brayen terus memperbesar gambarnya.


"Siapa dia? Aku rasa pernah melihatnya," kakek Rio mencoba mengingat wajah laki laki itu, pasalanya wajah itu tak asing di matanya.


"Itu Dika, kaki laki yang dulu hendak di jodohkan dengan ku," seru Juwita menunjuk wajah laki laki itu,Juwita masih ingat betul dengan laki laki itu, bahkan Juwita sudah mengetahui watak dan karakter dari laki laki itu, membuat Juwita terus berlari dari perjodohan dari nyonya Weni.


"Apa? Apa dia berharap dengan mu? Atau dia memiliki dendam dengan mu?" kakek Rio terkejut bukan main, sementara Brayen segera mengeluarkan ponselnya dan memotret layar monitor.


"Tidak tahu kek," ujar Juwita mengerutkan keningnya melihat Brayen berdiri menjauh dari mereka.


"Halo... cepat tangkap laki laki yang bernama Dika, aku telah mengirim fotonya," ujar Brayen menggeram, sungguh dirinya sangat kesal ketika mengetahui ada orang yang hendak menjebak kekasihnya. Apapun alasannya dia tak terima, akan ia beri pelajaran laki laki itu.


"Baik tuan," ujar Indri yang ada di ujung sana. Brayen kemudian mematikan ponselnya dan berjalan ke arah Aliya dan kakek Rio.


"Kita akan melihat apa motif nya," ujar Brayen meremas ponselnya, terdapat kemarahan yang besar di sana, sungguh kakek Rio dan Juwita dapat melihatnya.


"Dimana dia sekarang?" kakek Rio bertanya dengan pelan, pasalnya emosi Brayen telah terpancing.


"Anak buah Brayen tengah menangkapnya sekarang," ujar Brayen menggenggam tangan Juwita. Sesungguhnya Brayen juga penasaran apa yang ia letakkan di minuman tersebut.


Ponsel Brayen kembali berbunyi, membuat Brayen segera mengangkatnya. "Halo tuan, pelakunya telah di tangkap, dia sudah di bawa ke belakang gedung hotel," ujar seorang pria yang ada di ujung sana.


"Iya kami akan segera ke sana," jawab Brayen segera menutup ponselnya. "Ayo mereka sudah menangkap pelakunya, saat ini tengah berada di belakang gedung hotel."


Mereka segera berjalan menuju lift, dan menuju lantai dasar, sepanjang perjalanan menuju lift mereka hanya diam saja, tak ada kata kata yang keluar dari bibir mereka, semua terhanyut dalam pikiran masing masing. Hingga ruang bergerak tersebut mengantarkan mereka menuju lantai dasar.

__ADS_1


Sesampainya di lantai dasar mereka segera bergegas menuju rumah bangunan kecil yang lebih seperti sebuah gudang di belakang gedung hotel, atau lebih tepatnya jauh di belakangnya, mereka harus sedikit berjalan ke belakang berjalan di belakang ruang ganti kolam renang. Pria berbadan tegap membuka pintu untuk Brayen, Juwita dan kakek Rio, mempersilahkan mereka untuk segera masuk menemui pelakunya.


"Apa mau mu? Kenapa ingin menjebak kekasih ku?" ujar Brayen ketika mereka masuk ke dalam. Tempat tersebut gelap, penuh debu membuat Juwita menggeleng. Kakek Rio segera mengeluarkan sapu tangan untuk menutupi hidungnya. Kakek Rio tak suka berada di tempat seperti itu, pasalnya kakek Rio sedikit punya sindrom pencinta kebersihan, dan tak bisa berada di tempat yang jorok. Atau bisa di sebut OCD (obsessive compulsive disorder). Kakek Rio bahkan telah mengeluarkan semprotan anti kuman, membuat Juwita tak tega melihatnya.


"Kek kakek keluar saja ya, kalau kakek tidak kuat," ujar Juwita.


"Tidak kakek tidak apa apa," kakek Rio menyemprotkan kembali anti kuman ke area sepatunya, dan ke udara setempat, bahkan ke tangannya juga. "Mana tangan mu?"


Juwita memberikan tangannya, kakek berjalan ke arah Brayen, membuat Brayen terkejut. "Mana tangan mu? Semprot dulu, disini banyak kuman," ujar kakek Rio.


Brayen hanya menurut membuat laki laki yang tengah di tahan menjadi terkekeh. Pasalnya melihat Brayen yang menahan kesal.


"Brayen sabar tanya dia baik baik," ujar Juwita mendekati Brayen mencoba menekan emosi Brayen.


"Ga bisa sayang, dia mau niat buruk loh sama kamu, masa baik baik," Brayen memandang Juwita dengan sedikit kesal, pasalnya di minta untuk sabar.


"Iya aku ngerti tapi jangan keras keras," uajr Juwita, Juwita sesungguhnya memiliki cara tersendiri untuk membuatnya mengakui obat apa yang di berikan kepadanya.


"Kenapa? Kamu mau di jebak dia?" Brayen semakin emosi saja, membuat Dika semakin terkekeh, ternyata membuat mereka bertengkar dan renggang.


"Wit kenapa?" Brayen semakin jengah di buatnya.


"Bukan gitu kek, kalau kita nanya dia seperti itu dia itu akan jawabnya kemana mana," ujar Juwita berbisik ke arah Brayen, pasalnya Brayen tak ingin mendengarkannya.


"Jadi bagaimana?" Brayen bingung sendiri di buatnya. Entah dia tak tahu apa yang di pikirkan kekasihnya.


"Aku punya cara," ujar Juwita tersenyum penuh arti. "Brayen sayang jangan gitu, aku akan sangat pusing, kau tahu kata dokter berbahaya. Apalagi sampai jika aku setres anak kita akan terpengaruh juga," Juwita memegang perutnya seolah sedang menjaga sesuatu di dalam sana.


"Anak?" Dika dan kakek Rio terkejut, bahkan Brayen ikut terkejut pasalnya bahkan ia tak pernah menyentuh Juwita.


"Iya, jadi jangan begitu ya. Aku tak suka, entah kenapa aku tak suka mendengar kau marah marah, mungkin ini bawaan anak kita," uhar Juwita membawa tangan Brayen yang mematung memandang tangannya yang di letakkan di perut Juwita.


"Anak kita? Kau bercanda?" Dika terkejut bukan main berkacak pinggang, bahkan kini ia mulai menggunakan rambutnya.


Brayen memperhatikan wajah Juwita yang tersenyum ke arah nya, membuatnya mulai mengerti permainan Juwita. "Iya anak kami, kenapa?" Brayen mendekat dan memebawa Juwita ke dalam pelukannya, sungguh Brayen akan sangat bahagia jika benar benar terjadi.


"Sayang maaf ya," ujar Brayen mengecup puncak kepala Juwita. "Sayang maafkan Dady ya, muuah..." Brayen berlutut dan mengecup perut Juwita dengan lembut seolah di dalam sana benar benar ada makhluk yang bersemayam.


Kakek Rio mendelik melihatnya, wajah kakek sudah memerah, pikirnya ia benar benar kecolongan, pantas saja kemarin mereka sangat sibuk, ternyata bukan hanya mengurus urusan keluarga Juwita, ternyata mengurus kandungan Juwita. Itu yang di pikirkan oleh kakek Rio. "Sayang mendekat lah di samping kakek Rio."


Juwita mendekat ke arah kakek Rio yang memandangnya dengan pandnagan tak percaya< Juwita terkekeh melihatnya. "Ini hanya candaan agar dia mengakuinya kek," kakek Rio membulatkan matanya, hampir saja ia percaya bahwa Juwita tengah mengandung.


"Sial," gumam Dika menggeram kesal, ia merasa telah di tipu habis habisan oleh nyonya Weni. "Apa Tante Weni sudah tahu?"


"Sudah, mama sudah tahu, memangnya kenapa?" Juwita tersenyum pasalnya Dika kini hampir percaya.


"Sial wanita itu mempermainkan ku," geram Dika kesal, ia benar benar di bohongi itu yang di pikirkan nya.


"Maksud mu?" Brayen memandang bingung ke arah Dika, ia mulai penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh Dika selanjutnya.


"Kau tahu? Tante Weni lah yang memberiku saran itu, dia benar benar pembohong besar," desis Dika, ia telah tertangkap, ya sudah basah sekalian biarlah mereka tahu siapa yang memberinya ide.


"Maksud mu, kau meletakkan obat apa di dalam minuman itu?" Kakek menggeram kesal, ternyata bahkan nyonya Weni sendiri lah yang memberinya ide. Juwita hanya terdiam tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Sungguh air matanya jatuh seketika, entah apa yang di pikirkan mamanya hingga seperti itu.


"Hm... itu..." Dika sedikit ragu untuk mengatakannya.


"Itu apa?" Brayen menggeram kesal mencengkram kerah baju Dika, sungguh dirinya sangat kesal di buatnya.


"Obat pe*rang*sang..." Dika gugup melihat kemarahan di wajah Brayen, membuatnya segera mengatakannya, toh cepat atau lambat ia pasti akan mengatakannya.


Buuuk... Brayen memukul pipi Dika melampiaskan kekesalannya.


"Berani sekali kau..." teriak Brayen terus memukuli Dika, namun reaksi aneh di perlihatkan Dika, laki laki itu justru terkekeh membuat Brayen semakin geram. Kakek Rio segera meminta anak buah Brayen memisahkan mereka.


"Hei tanyakan kepada mama mertua mu! Dia yang memberiku saran, dasar dia itu ular, awas saja akan ku balas kalian berdua," desis Dika, bangun dari baringnya, pasalnya Brayen telah di tahan oleh dua orang anak buahnya.


"Maksud mu mama..." Juwita tak sanggup melanjutkan kata katanya, sungguh ia tak menyangka mamanya lah pemberi ide itu dengan sadar.


"Iya mama mu, kau tahu dia saat ini sedang ada di Bali, dia sedang berduaan dengan kekasihnya tuan Reymond..." ujar Dika tersenyum ke arah Juwita.


"Reymond?" kakek Rio terkejut mendengar kabarnya, bahkan kakek Rio melangkah meninggalkan Juwita yang terdiam di tempat.


"Iya, dasar sekali pembohong akan menjadi pembohong selamanya. Wanita siluman ular tersebut..." umat Dika menendang benda benda di sana dengan kesal.


Pandangan Juwita tiba tiba memudar, dan kesulitan melihat sekitar, perlahan lahan kesadaran Juwita tiba tiba menghilang.


Bruk... suara dari tubuh Juwita yang membentur lantai mengejutkan Brayen dan kakek Rio, mereka segera mendekat ke arah Juwita. Kesempatan itu di gunan untuk Dika agar bisa kabut, Brayen tak perduli, yang terpenting saat ini adalah kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2