CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Tuan Damar.


__ADS_3

Aliya kini telah berada di rumah sakit, Juwita hendak melihatnya, namun memikirkan tentang kakek Rio yang masih tidak sadarkan diri. Belum lagi Brayen yang tengah tertidur, Indri baru saja datang membawa dua kasur angin, serta bantal dan guling. Brayen baru saja minum obat kembali, karena sakitnya Kambu, dan kini tengah terlelap. Juwita gelisah sendiri, namun sebuah telfon mengejutkannya, ia di minta untuk segera ke rumah sakit, ia di minta untuk memeriksa seorang pasien lamanya, karena dokter yang tengah menanganinya kini akan mengambil cuti kembali.


Mau tidak mau Juwita harus ke rumah sakit, Juwita mencoba membangunkan Brayen, agar kekasihnya itu segera bangun.


"Brayen... Brayen... Brayen..." Juwita mencoba membangunkan Brayen.


Brayen mengerjapkan matanya mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang masuk di retina matanya. "Hmm... kenapa sayang?"


"Aku harus ke rumah sakit saat ini, pasalnya aku harus mengurus salah satu pasien ku," ujar Juwita.


"Kamu bawa mob sendiri nanti, tidak akan apa apa?" Brayen memasang wajah khawatir. Sejujurnya Brayen tak ingin Juwita meninggalakan nya, pasalnya saat ini ia merasa masih membutuhkan Juwita.


"Jangan khawatir ok, nanti akan kembali ke sini, aku akan meminta Tante Mona untuk menemani kalian," Juwita menangkup wajah Brayen, membuat Brayen sedikit cemberut.


"Hm... jangan lama lama," ujar Brayen mengerucutkan bibirnya.


"Iya dasar, aku pergi dulu," ujar Juwita tersenyum.


"Cium..." Brayen memonyongkan bibirnya ke arah Juwita.


Juwita tersenyum kemudian mengecup bibi Brayen sebentar. "Aku tak akan lama, selesai melakukan pekerjaan ku, aku akan segera kembali."


Juwita melangkah keluar ruangan, kemudian turun ke lobi bawah. Tampak nyonya Mona tengah duduk di lobi rumah sakit.

__ADS_1


"Tante, bisa tolong titip kakek dan Brayen di atas? Soalnya Wita ada panggilan di rumah sakit," ujar Juwita merasa tidak enak.


"Baiklah kamu hati hati, jangan ngebut ya sayang," nyonya Mona mengusap lembut wajah Juwita. Nyonya Mona paham betul kesulitan Juwita dalam membagi waktu sebagai seorang dokter.


Saat berada di perjalanan Juwita tanpa sengaja melihat seorang wanita paruh baya, yang sangat mirip dengan nyonya Weni yang baru saja keluar dari hotel bersama dengan seorang laki laki, namun anehnya laki laki itu perawakannya tidak seperti tuan Damar, meskipun dari belakang, Juwita hapal betul dengan perawakan tuan Damar.


Juwita segera menelfon tuan Damar memastikan bahwa itu siapa. "Halo pah," ujar Juwita yang sudah mulai terbiasa memanggil tuan Damar dengan sebutan papa.


"Halo sayang, kenapa?" suara tuan terdengar di ujung sana.


"Papa sedang ada di mana?" Juwita penasaran bahkan menepikan mobilnya dan masih mampu melihat mobil yang akan di masuki oleh wanita yang sangat mirip dengan nyonya Weni.


"Di rumah kenapa?" tuan Damar terdengar penasaran. "Kau sudah kembali? Apa ada sesuatu yang terjadi? Kau di mana?"


"Oh... mama sedang di kafe dengan teman temannya," jawab tuan Damar. "Jawab pertanyaan dari papa."


"Oh, iya pah, Wita ga apa apa, Wita cuman mau ngantar oleh oleh, tapi kakek masuk rumah sakit, Aliya di culik, Brayen juga kemarin sunat, papa baik baik saja bukan?" Juwita berusaha mengalihkan pembicaraan takut jika tuan Damar curiga.


"Tentu, kamu sedang di mana? Terdengar begitu sangat ribut, kamu sedang di jalan?" tuan Damar kembali mengajukan pertanyaan.


"Iya sedang menuju rumah sakit," ujar Juwita, Juwita bersyukur bahwa tuan Damar tak curiga dengan pertanyaan awalnya. "Mau nemuin pasien Wita pah."


"Oh, ya sudah kamu hati hati di jalan, papa matikan ya," ujar tuan Damar terdengar lega dari ujung sana.

__ADS_1


"Iya pah," Jawab Juwita.


"Assalamualaikum."


"Walaikum Salam."


Telfon di matikan, Juwita kembali menghubungi Indri, asisten Brayen.


"Indri tolong kamu cari tahu tentang kegiatan mama saya, dari kemarin hingga minggu depan," ujar Juwita segera menghidupkan kembali mobilnya. Tak lupa Juwita memotret mobil yang akan membawa mamanya. Juwita kembali melajukan mobilnya ke arah rumah sakit tempat ia bekerja, untuk menemui pasiennya.


Sesampainya di rumah sakit, Juwita segera menuju ruangannya, dan mengambil jas putih kebesarannya. Juwita segera berjalan ke arah salah satu ruang rumah rawat inap rumah sakit, tampak Jojo baru saja di periksa oleh dokter lainnya.


"Bagaimana perkembangan nya dok?" Juwita segera melihat hasil laporan media Jojo.


"Semua baik baik saja, selama tidak ada pemicunya, maka ia akan baik baik saja, selanjutnya akan saya serahkan kepada kamu," ujar dokter tersebut, tersenyum ke arah Juwita.


"Baiklah terimakasih banyak dok," ujar Juwita membalas senyum dokter tersebut.


......................


Hai untuk pemenang giveaway ini ya silahkan hubungi othor ya, nanti othor follow dan di harapkan kamu follback ya, jadi bisa deh minta fotonya. Terimakasih.


__ADS_1


Dua ini adalah pemenang giveaway ya, terimakasih atas dukungan nya ya. Maaf atas keterlambatannya, soalnya kemarin kemarin kesehatan othor terganggu hingga sedikit kesulitan up, dan melanjutkan giveaway. Maaf dan terimakasih.


__ADS_2