
Drama permintaan maaf Karin masih berjalan, bahkan seluruh permintaan maaf Karin Juwita di jawab oleh Brayen dan Gilang. Keduanya tiba tiba kompak menganiaya Karin. Karin kini bak bawang putih yang tertindas oleh bawang merah, sementara yang lainnya hanya figuran, pemain figuran yang kebetulan lewat ketika drama pementasan bawang putih dan bawang merah.
Juwita bahkan beberapa kali menghela nafas kasarnya, tak tega juga rasanya melihat bawang merah rasa bawang putih, bersimpuh meminta maaf. Namun jika mengingat perlakuan Karin selama ini, dan bagaiman tadi Karin mencoba merayu Brayen. Laki laki yang kini mulai masuk ke dalam hatinya secara perlahan membuat Juwita menjadi kesal sendiri. Sehingga pilihan terbaik adalah diam, dan menjadi penonton saja. Pasalnya kedua pengawalnya siap menghukum Karin.
"Kak maaf Karin benar benar minta maaf, Karin tidak akan mengulanginya lagi," ujar Karin dengan bercucuran air mata.
Juwita menggeleng, Juwita seorang dokter yang mampu membaca gerak gerik seseorang, itu pengetahuan yang wajib baginya. Juwita tahu betul bahwa Karin tak benar benar meminta maaf kepadanya, meski air mata bercucuran di pipinya. Juwita dapat melihat sebuah keterpaksaan di sana.
"Bagaiman dek?" Juwita akhirnya diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya, yang sejak tadi tak pernah bisa berbicara. Pasala nya kedua orang itu selalu mendahului Juwita yang ingin membuka suara.
Namun Juwita harus berfikir keras, demi mengalahkan Karin. Wanita dengan tingkat ambisius yang tinggi, wanita yang selalu ingin menonjol, mendapatkan segalanya, dengan berbagi cara. Wanita yang dihadapinya ini memiliki watak yang sama dengan nyonya Weni, dan kegigihan yang tinggi seperti nyonya Weni. Wanita di hadapannya ini menjiplak nyonya Weni seratus persen.
Sebuah kombinasi yang sangat sempurna, untuk menciptakan manusia licik setengah iblis. Namun Juwita merupakan seorang dokter psikiater, dan psikologis. Dirinya bahkan memiliki izin untuk membuka praktek.
Tentu saja Juwita bukan lawan yang mudah untuk Karin. Juwita bak dinding besar nan kokoh, bagi Karin untuk mecapai ambisinya kali ini, yaitu mendapatkan hati Brayen.
Juwita tersenyum ketika mendapatkan sebuah ide di dalam otaknya, sepertinya dirinya mampu membungkam Karin untuk waktu yang lama.
"Hm, menurut aku nih, di maafkan saja," mendengar ucapan Juwita nyonya Weni, dan tuan Damar menjadi lega sendiri. "Tapi..."
Karin bertepuk tangan di dalam hatinya, dalam tangisnya ia memuji kemampuannya dalam memerankan seorang yang teraniaya. Seolah membutuhkan uluran tangan dan maaf dari lawan mainnya.
"Tapi apa kak?" Karin bertanya dengan tidak sabar, setidaknya ia akan terbebas dari amarah papanya.
"Pakai perjanjian materai enam ribu, di tanda tangani," ucap Juwita, tersenyum. Setidaknya Karin tidak akan mengganggu dirinya.
^^^Ba*sat anak buangan ini, berani sekali dia mengajukan syarat seperti ini? Baiklah aku ikuti permainan mu, tapi jangan salahkan aku jika kau akan ku buat menderita lebih dari yang kau bayangkan.^^^
Karin hampir saja mengumpat dan mengancam Juwita, jika saja dirinya tidak ingat posisinya.
Juwita dapat melihat kilat kemarahan di sana, Juwita tidak takut, dia berada di lingkungan yang tepat, orang orang yang menyayanginya, mempercayai nya. Dirinya bukan orang lemah, Juwita akan mengalahkan segala siasat dari Karin.
^^^Kau merencanakan sesuatu adik kecil? Aku akan mengalahkan semua rencana mu, aku berada di atas mu, kalau kau lupa.^^^
Juwita menampakkan senyum liciknya ke arah Karin. Tentu saja Karin semakin terbakar dengan senyum itu, Karin benar benar kesal di buatnya. Karin tahu Juwita pasti akan menyusahkan nya.
"Apa? Kenapa harus begitu? Kau tidak percaya dengan adik mu sendiri?" Nyonya Weni emosi sendiri di buatnya. Bagaiman mungkin Juwita memberikan syarat dengan materai segala. Ia tidak ingin anak kesayangannya dalam masalah besar, Karin adalah kartu jackpot nya, jika terjadi sesuatu pada Karin maka jackpot nya akan menghilang.
"Bagaimana mungkin aku percaya padanya? Bahkan saat dirinya tahu bahwa Brayen adalah pacarku saja dia berani menggodanya. Bagaimana mungkin ada seseorang yang mampu di percaya jika begitu? Bukan sekali atau dua kali dia hendak merendahkan ku, di hadapan kekasih ku, namun sudah berkali kali, dan berkali kali pula aku memaafkannya. Namu kali ini dia sudah terlalu melangkah jauh, membuat kami bertengkar," ujar Juwita membuat Brayen dan Gilang mengangguk setuju.
"Mah Karin ga mau, Karin ga suka terikat sesuatu," ujar Karin merengek kepada nyonya Weni.
"Juwita jangan seperti ini kepada adik mu," ujar nyonya Weni dengan suara meninggi.
"Aku setuju dengannya, dan kau nyonya jika saja bukan karena pacar ku telah memaafkan kelakuan anak mu, dan jika saja Juwita bukan anak mu, maka aku tidak akan sudi melakukan kerja sama dengan perusahaan suami mu," ucap Brayen, membuat Juwita tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi aku tak suka Juwita melakukan hal sesuka hatinya kepada adiknya sendiri," ujar nyonya Weni dengan suara yang menggelegar.
"Sudahlah, biarkan Juwita melakukan hal itu. Apa kau tidak tahu malu? Karin harus menyetujui nya," kini tuan Damar yang angkat bicara, dirinya sudah muak dengan sikap istri dan anaknya yang sangat keras kepala.
__ADS_1
"Pah tapi Karin..."
"Diam! Kau anak tak berguna, sampai kapan kau akan keras kepala seperti ini? Ingat ini semua karena kau! Seandainya kau tidak berusaha merusak hubungan kakak mu, maka kau tidak akan begini," tuan Damar semakin geram, kini menampakkan amarahnya.
"Lihat? Kau tahu kenapa aku menyayangi Arham dan Vania? Karena mereka tidak menuruni sikap mama, keras kepala, egois dan maunya menang sendiri," pungkas Juwita, setidaknya iya mengenai dua burung sekaligus ketika menembak.
Nyonya Weni seketika terdiam mendengarkan penuturan Juwita. Tuan Damar sama halnya dengan nyonya sebut terdiam. Namu tuan Damar diam diam berfikir, ia kira Juwita membencinya karena nyonya Weni menikah dengannya. Namun tidak, dari kata katanya itu tergambar jelas bahwa Juwita tidak menyukai sikap istrinya.
^^^Benar jika di pikir pikir, Juwita akrab dengan kedua anak ku, sementara dengan Karin? Ia tak pernah akrab, bahkan cenderung selisih paham.^^^
Tuan Damar hanya bisa mengangguk setuju, lagian itu tak akan mengganggu dirinya, pikir tuan Damar. Sementara nyonya Weni menggigit bibirnya, menahan kesal akibat kesalahan dari anak kesayangannya. Tapi ia berfikir setidaknya dirinya tidak akan hidup susah.
"Tapi kan... kalian... kalian sudah ber... baikan," ujar Karin sedikit gugup. Dirinya ingin menghindar dari perjanjian materai, jika perjanjian itu benar benar terjadi, maka dirinya akan dalam masalah besar.
"Apa kurang hm? Juwita sudah berbaik hati dengan mu," Gilang segera menjawab Karin, membuat wanita itu benar benar kehabisan kat kata.
Karin? Wanita itu hanya bisa menunduk pasrah, artinya mau tidak mau suka atau tidak suka ia harus menyetujui permintaan dari Juwita. Jika tidak maka ia akan terkena amukan dari papa nya.
^^^Dasar, awas saja akan ku balas perbuatan kalian, berkali kali lipat dari ini.^^^
Karin melirik nyonya Mona dan tuan Damar yang kini mengangguk setuju. Karin semakin mengumpat kesal, memandang Juwita dengan penuh kebencian.
^^^Ini semua karena anak buangan itu, seandainya anak buangan itu tidak datang tadi siang, maka semau akan berjalan dengan lancar. Awas saja kau, aku akan membalas mu berkali kali lipat lebih dari ini. Karin.^^^
Juwita tersenyum melihat pandnagan dengan kilat kebencian di sana, Juwita telah memukul harga Karin hingga babak belur, itu membuat Juwita tersenyum puas, akhirnya rasa jengkelnya selama ini terbalaskan.
^^^Ah, bukan kah ini yang namanya kesabaran berbuah manis?^^^
Benar kata orang bijak, jangan bermain main dengan kesabaran orang sabar, karena jika kehilangan kesabaran mungkin kau tidak akan di sakitinya secara terang terangan, tapi kau akan di sakiti olehnya dengan cara yang lebih menyakitkan.
"Besok siang datanglah ke kantor ku, akan ku buat surat perjanjian untuk mu, kau tidak boleh membatah atau pun mencoba merubah isi perjanjian tersebut," putus Brayen membuat yang lain mengangguk.
Karin hanya bisa mengepalkan tangannya, meremas ujung bajunya, hingga kuku jarinya tampak putih. Karin kali ini kalah telak, sungguh Karin tak menerimanya. Kalah telak dengan seorang gadis, yang selama ini ia anggap sebagai anak buangan.
^^^Kau... Kau akan menerima balasan dari ku, kau harus tahu Juwita, aku membenci mu, benar benar membencimu.^^^
Melihat kemarahan Karin, Juwita semakin tersenyum puas. Ada rasa lega di hatinya, bukan karena takut kepada Karin selama ini. Melainkan tak ingin terlalu mengambil pusing dengan tingkah Karin. Juwita ingin masa bodoh. Namun entah kenapa tingkah Karin yang seolah ingin merebut Brayen darinya, membuatnya sangat kesal. Juwita sangat tidak terima akan hal tersebut.
Padahal biasanya yang membuatnya tak suka adalah sesuatu yang menyangkut dengan kakek Rio, dan Aliya. Mereka yang seperti keluarga untuk Juwita, namun kali ini laki laki belok nya, pasien nya yang membuatnya resah.
^^^Ah, sebenarnya ada apa dengan ku? Kenapa aku segelisah ini? Agh, apa aku benar benar menyukainya?^^^
Juwita bimbang di dalam hatinya, entah kenapa semua menjadi seperti ini.
Setelah semua drama panjang nan berkelok kelok, tuan Damar, dan rombongan akhirnya kembali pulang, sementara Gilang segera meluncur ke dalam kamar, melancarkan aksi yang sempat tertunda tadi.
Gilang mengunci kamar tamu dari dalam, sambil memasang headphone, dan menyetel film terbaru, yang meluncur di salah satu tv berbayar Indonesia. Gilang tahu jelas bahwa di rumah tersebut hanya memiliki dua kamar saja. Jika besok pagi Gilang tak menemukan Brayen di sofa ruang tamu, maka Gilang akan memiliki hiburan baru. Gilang akan dengan senang hati mengolok olok Juwita, dan Brayen, tentu saja dengan mengabadikan momen tersebut.
Sementara di luar Brayen dan Juwita baru saja mengantar keluarga Cemara tersebut untuk pulang, Brayen dan Juwita masih di liputi kecanggungan, pasca ciu*man panas mereka tadi.
__ADS_1
Juwita masih ingat betul saat ber*ciu*man tadi tangan Brayen menjalar memenuhi dan mengusap punggungnya, seolah menggodanya untuk meminta lebih.
Sementara Brayen, laki laki juga mengingat bagaiman Juwita mengalungkan tangannya di leher nya. Bahkan meremas dengan lembut rambut Brayen seolah sangat menikmati setiap sentuhan dari diri nya.
"Hm aku akan mencuci piring," ujar Juwita segera mendahului Brayen ke arah dapur.
Brayen mengentikan langkah Juwita tersenyum ke arah wanita itu. Senyumannya begitu canggung, membuat Juwita kembali memerah, karena mengingat kejadian gila mereka tadi.
"Biar aku membantu mu," ujar Brayen memandang mata Juwita dengan berdebar.
^^^Agh... Si*al, matanya sangat indah, agh bibirnya... Aduh ada apa dengan pikiran ku?^^^
Brayen mengenal nafasnya berkali kali. Canggung memenuhi dirinya, tapi ia tak mungkin membiarkan gadis itu mencuci piring sendirian, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ini sudah waktunya tidur.
"Ti... tidak u... usah," Juwita sedikit gugup ketika mengatakannya. Juwita menggerutuki kegugupannya.
Namun anehnya di mata Brayen itu sangat menggemaskan, bahkan Juwitaebih menggemaskan dari pada anak kucing. Ingin rasanya Brayen menggigit pipi Juwita, dan menciumnya.
^^^Tidak apa yang ku pikirkan.^^^
Brayen menyadarkan diri nya sendiri, mencoba untuk mengembalikan fokusnya. Brayen rasa terlalu dekat dengan wanita yang di sampingnya, membuat perasaan aneh kepada dirinya sendiri.
"Hm, baik lah aku akan istirahat, aku akan tidur hm... Brayen berfikir, dirinya tidak ingin tidur satu kamar dengan lelaki mengingat dirinya dalam proses penyembuhan. Namun tidur di kamar Juwita lebih tidak mungkin, karena pasti gadis itu menolaknya. Hm... di, di sini saja," putus Brayen.
"Kenapa tidak di kamar tamu?" Juwita memandang bingung ke arah Brayen.
"Em, itu... apa," Brayen bingung bagaiman cara menjelaskan nya.
"Oh dia laki laki? Gitu maksudnya?" Juwita kembali menebak dengan benar, membuat Brayen tersenyum. "Memangnya kau belum merasa ada perubahan?"
"Jantungku sering berdebar," saat berada di dekatmu, tentu saja kelanjutannya hanya sampai di tenggorokan.
"Sebaiknya kau ke dokter jantung," ucap Juwita sedikit khawatir.
"Mhm aku rasa tidak perlu, sedikit istirahat saja, mungkin akan lebih baik," ucap Brayen.
Juwita mengangguk, kemudian segera berjalan ke arah dapur, untuk melanjutkan kegiatannya yang tertunda tadi.
Brayen segera menutup matanya, namun tak sepenuhnya. Laki laki itu mengintip dokter jiwanya, mengintip setiap gerak gerik Juwita, seolah sedang mengawasi. Brayen memandang aktifitas Juwita hingga gadis itu selesai dengan cucian piring, namun satu hal yang membuat Brayen terkejut, Juwita yang berjalan ke arah nya, kemudian mengecup dengan perlahan kening Brayen.
Entah kenapa hatinya menghangat, menginginkan lebih, namun gengsi yang melebihi gunung emas, membuatnya enggan membuka matanya, seolah tak menyadari apa yang di lakukan Juwita.
Brayen membuka matanya setelah mendengar langkah kaki Juwita yang menjauh. Brayen terbangun dan mendapati duru pacu jantung nya seperti tengah memacu kuda, jantungnya seakan ingin keluar dari tubuhnya. Agh dia benar benar penyihir," kesal Brayen menggigit bibirnya.
Malam menjelang dini hari, udara semakin dingin, selimut tebal milik Juwita tetap saja tak mampu membuat Brayen merasa lebih hangat. Brayen segera ke arah kamar Juwita, mengetuknya hingga tiga kali, karena tak ada jawaban, akhirnya Brayen membuka pintu kamar yang tak terkunci, Brayen segera masuk ke dalam tempat tidur Juwita, dan membawa Juwita ke dalam pelukannya.
^^^Hangat^^^
Haiy guys ini edisi dua bab, tapi di gabung di dalam satu bab saja, biar puas bacanya.
__ADS_1
Jangan lupa vote kembang se ikat dan jempolnya di naikkan.