CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Binaker (Barbeque)


__ADS_3

Rabu,hari ke empat.


Barbeque di gurun pasir.


Mereka kemudian di bawa ke kuil, di mana sebuah bangunan dengan artefak pemujaan dewa di sana.


Di sepanjang perjalanan mereka seolah di bawa ke dalam lorong waktu, di mana pemandu akan menjelaskan setiap detail, arti makna benda tertentu di sana, dan sejarah benda tersebut, tak ada terlewatkan satu pun.


Mereka Seolah melakukan perjalanan panjang mereka, hanya dengan berjalan kaki. Cukup lelah memang terlebih benteng tersebut dibangun di dataran Bikaner memiliki tata letak persegi panjang. Persegi panjang itu seluas seribu tujuh puluh delapan meter. Benteng memiliki tujuh gerbang untuk beberapa istana, pavilon dan banyak kuil Hindu dan agama – yang paling awal tanggal ke abad ke enam belas. Keindahan benteng terletak di atas batu ukiran merah dan batu pasir berwarna emas. Interior istana dihiasi dan dilukis dengan gaya tradisional Rajasthani.


Belum lagi gedung bertingkat di dalam benteng tersebut, yang di sebut sebagai Anup Mahal, di mana langit langitnya terbuat dari kaca dan kayu, belum lagi ubin Italia, jendela kisi, dan balkon yang dulunya di gunakan sebagai tempat kontruksi. Pemandu mengatakan itu merupakan tempat para raja melakukan diskusi, menyusun rencana. Untuk mempertahankan wilayah mereka.


"Yang mereka bilang jika belum menaklukkan benteng ini maka tidak ada yang namanya kemenangan," Juwita berbisik ke arah Brayen sembari melirik setiap sudut ruangan tersebut.


"Tentu saja, jika aku belum menaklukkan benteng hati mu, maka aku belum menang," ujar Brayen mencoba menggombal Juwita.


Mendengar gombalan Brayen, Juwita bersemu, panasnya matahari semakin membuat jelas wajah bersemu gadis itu. Brayen gemas sendiri melihat hal tersebut, ingin rasanya Brayen mengecup pipi Juwita, namun tak akan mungkin, jadi Brayen memilih untuk mencubitnya saja.


"Yang foto," ujar Juwita segera menjauh dari Brayen, namun katak kaya Juwita membuat Brayen memandang dirinya dengan mata berbinar.


"Kamu bilang apa tadi sayang?" Brayen menarik pinggang Juwita.


Juwita mendorongnya, malu jika menjadi pusat perhatian. Namun Brayen semakin menekan pinggang Juwita, sehingga jarak di antara mereka nyaris menghilang.


"Malu..." cicit Juwita, memandang ke arah sekitar.


"Tadi bilang apa dulu," Brayen memaksa Juwita.


"Mau foto tadi loh," ujar Juwita memandang Brayen dengan cemberut.


"Sebelum foto," ujar Brayen tak sabaran.

__ADS_1


Juwita yang mengingat ngingat apa yang di katakan nya menjadi tersenyum sendiri, tampaknya gadis itu memiliki rencana di dalam kepalanya. "Tentang benteng ini?" ueita berpura pura berfikir keras.


"Is... aku meminta kata loh sayang," ujar Brayen gemas dengan Juwita.


"Lah terus apa dong?" Juwita menampakkan wajah bingung nya.


"Terserah lah," Brayen cemberut melepaskan Juwita.


"Sayang... yang... sayang... puas?!" Juwita terkekeh segera berlari menuju ke tempat dirinya hendak berpose tadi.


Tentu saja Brayen harus menjadi fotografer amatiran dadakan untuk kekasihnya. Saat semua orang mulai berlalu, Brayen tersenyum menahan tangan Juwita, Juwita mengerutkan keningnya bingung.


"Di sini saja dulu," ujar Brayen segera memeluk pinggang Juwita. Juwita terus melirik ke arah turis tadi yang meninggalakan nya, namun Brayen semakin tersenyum melihatnya. "Kenapa menghadap ke sana, ayo ke sini."


"Tap..." Juwita terdiam saat Brayen segera menarik tengkuknya dan me*lu*mat lembut bibirnya. Mata Juwita terbelalak tak percaya dengan apa yang di lakukan Brayen. Juwita dapat merasakan tangan Brayen yang naik turun di punggungnya. Akhir nya Juwita ikut permainan Brayen, Juwita memejamkan matanya menikmati bahkan membalas lu*ma*tan Brayen. Juwita mengalungkan tangannya di leher Brayen. Brayen semakin menuntut, dirinya bahkan lupa dengan rombongan.


Cukup lama mereka saling me*ma*ngu, hingga akhirnya Brayen melepaskan ta*utan mereka. Brayen segera mengecup puncak kepala Juwita, dan menarik Juwita ke luar, tampaknya mereka tertinggal oleh rombongan. Brayen bertanya kepada salah seorang penjaga.


"Excuse me, do you see a group of tourists here?" (Permisi apakah kalian melihat rombongan turis di sini?) Salah seorang di antaranya segera menunjuk ke arah turis itu berlalu.


"Can you help us?" (Bisa tolong antar kami?) pinta Brayen.


"Yes sir. By the way, why did you guys miss out?" (Ya tuan. Ngomong ngomong kenapa kalian bisa ketinggalan?)


"Oh... My girlfriend has to go to the toilet first," (Pacarku ingin ke toilet dulu tadi,) ujar Brayen mendapat capitan dari Juwita, Brayen segera menggenggam jangan Juwita yang memberi capitan panas di pinggangnya.


Mereka segera berjalan menyusul para rombongan, mereka akhirnya sampai di tempat para rombongan. dan melewatkan satu tempat. "Tu kan kita terlambat," sungut Juwita.


"Tidak apa apa, yang penting tadi sangat manis," ujar Brayen terkekeh.


"Dasar!"

__ADS_1


Tiba di sore menjelang malam, mereka telah sampai di Padang pasir. Para pemandu ternyata sebagian telah sampai menyiapkan bahan api unggun. Juwita sungguh terkesima melihat pemandangan sekitar, para pemandu di bantu sebagian wisatawan mulai menghidupkan api unggun, tepat saat matahari akan tenggelam.



Mereka segera mengelilingi api unggun, dengan berpasang pasangan. Brayen merangkul pinggang Juwita sembari bernyanyi bersama, sementara para panitia mulai mempersiapkan alat untuk membuat barbeque, bersama di Padang pasir.


"Gimana sayang? Seru kan?" Brayen menarik kepala Juwita agar bersandar di pundaknya. Brayen tak ingin kalah dengan pasangan di hadapannya, mereka tampak saling bertautan tangan, sembari kepala si wanita bersender tepat di dadanya.


"Hm... Terimakasih yang, ini sangat indah, langitnya sungguh sangat cantik," ujar Juwita mendongakkan kepalanya di arah langit malam gurun pasir.



Brayen tersenyum mengecup puncak kepala Juwita. "Terimakasih juga telah hadir, dan menerimaku apa adanya," Brayen mengusap lembut kepala Juwita.


"Kau tahu, pasangan adalah pakaian mu, maka dari itu kalian harus saling menutupi kekurangan," ujar Juwita masih memandang langit. Kemesraan mereka semakin lengkap dengan adanya api unggun dan lagu yang di nyanyikan bersama. "Kau tahu? Jika kau mengganti pakan mu, maka hanya akan ada dua, entah itu lebih nyaman, atau hanya bentuknya saja yang bagus, namun saat di pakai membuatnya tidak nyaman."


"Kalau begitu, aku tidak akan menggantinya, karena kau adalah tempat ternyaman ku. Seperti rumah untuk ku, tempat ku untuk pulang," Brayen mengeratkan pelukannya.


"Kalau begitu jangan hadirkan orang lain di antara kita, karena akan ada yang meninggalakan rumah suatu saat nanti," Juwita tersenyum ke arah Brayen.


"Hm..." Ujar Brayen tersenyum.


"Time for barbeque..." salah satu pemandu meneriaki para turis yang kini lebih mirip peserta kemah Pramuka.


Mereka segera mendekat dan melihat para pemandu mulai membakar daging, sosis dan lainnya, yang telah di lumuri saus barbeque.



Setelah matang, mereka segera mengambil daging yang telah matang, dan memakannya beramai ramai. Ada di antara mereka yang lebih memilih membakar sendiri.


Setelah selesai dengan acara malam mereka, para pemandu segera mengajak para turis untuk ke kereta mereka. Karena perjalanan selanjutnya akan segera di lakukan, mobil mobil berdatangan dan menjemput para turis yang sudah kelelahan.

__ADS_1


Setelah mereka sampai mereka segera ke kabin mereka masing masing, bersiap untuk beristirahat. Dan kereta mulai beranjak, setelah memastikan semua turis naik, dan siap berangkat menuju jaipur.


Pleas vote guys biar othor semangat lagi menulis, dan semakin fit wkwkwk majak guys.


__ADS_2