
Brayen dan Juwita baru saja selesai makan malam, mereka segera kembali ke dalam kabin mereka. Juwita segera membersihkan dirinya, sementara Brayen menunggunya keluar dari kamar mandi, braywn menunggu Juwita sembari memainkan siaran TV, dengan terus memindah kan siarannya dengan acak. Juwita keluar dari kamar mandi, dan segera mendekat ke tempat tidurnya, membiarkan Brayen masuk ke dalam kamar mandi.
Juwita membuka tirai jendela, dan menyaksikan pemandangan langit malam, yang di penuhi hamparan bintang. Juwita merebahkan badannya, menunggu katuk datang. Brayen tersenyum melihat kekasihnya terus memandang ke arah langit. Brayen kira ini lah saatnya dirinya bercerita kepada Juwita, tentang kisah tuan Damar. Brayen mendekat membaringkan tubuhnya di ranjang sebelah, mengahadapkan dirinya ke arah Juwita.
"Wit..." Brayen memanggil Juwita dengan lembut.
"Hm kenapa?" Juwita menoleh sebentar ke arah Brayen, kemudian kembali memandang hamparan bintang, yang menemani perjalanan mereka menuju Udaipur.
Suara kereta terus berbunyi, sedikit guncangan menemani mereka. Namun perjalanan mereka terasa nikmat. Mungkin inilah yang di sebut, sekuat apapun cobaan, jika di jalani dengan hati senang maka susah pun akan terasa senang. Brayen yang sedikit ragu, segera mendekati Juwita yang berada di ranjang sebelah.
Juwita terkejut segera memandang bingung ke arah Brayen. "Kamu! Kenapa ke sini? Kan di sebelah luas," ujar Juwita segera menepi.
"Aku ingin bercerita ok, tapi aku juga tak suka tak memeluk mu," ujar Brayen manja ke arah Juwita.
"Ya sudah cerita lah," Juwita mengusap lembut kepala Brayen, matanya kembali memandang ke arah pemandangan. Sungguh panorama yang indah, yang akan sangat jarang di lihat jika berada di kota besar.
__ADS_1
"Menurutmu om Damar itu seperti apa?" Brayen menautkan hari jemari mereka, mengecupnya dengan lembut. tangan bebasnya ia gunakan untuk memeluk pinggang Juwita.
^^^Ah, seandainya sudah menikah, akan ku lakukan lebih. Brayen.^^^
Mendengar nama papa tirinya di sebut, Juwita segera memandang ke arah Brayen. "Memangnya kenapa dengan om Damar? Kenapa tiba tiba kau menanyakannya?" Juwita menyipitkan matanya, memandang tajam ke arah Brayen.
"Ti... tidak, aku... aku hanya penasaran," Brayen sedikit kelabakan ketika Juwita menanyakan hal tersebut.
"Maksudnya?" Brayen kini sedikit membangunkan badannya, dan mencondongkan nya ke arah Juwita.
"Sebenarnya aku tak pernah membenci om Damar, tapi aku lebih kepada kecewa kepada mama," ujar Juwita memejamkan matanya, bayangan ketika di tinggal nyonya Weni kembali terngiang.
"Kamu tahu ga? Kalau om Damar cerita bahwa dia merasa bersalah, ketika dia tahu bahwa kamu adalah anak dari tante Weni," ujar Brayen membaringkan kembali tubuhnya, namun kali ini, ia menempatkan tubuhnya di sisi jendela, sehingga saat Brayen menjatuhkan kepalanya di dada Brayen, Juwita tetap bisa melihat pemandangan alam. Juwita menggeleng memejamkan matanya, air matanya tiba tiba jatuh tanpa seizinnya. "Mau di lanjutin?"
__ADS_1
Juwita mengangguk mempersilahkan Brayen untuk bercerita. "Karena merasa bersalah om Damar ingin membawa kamu, tapi tante Weni melarangnya," Juwita memejamkan matanya sudah tahu akan hal itu. Bagi mamanya Karin adalah yang paling penting.
"Jadi om Damar selalu mengawasi kamu dari jauh, om Damar diam diam membantu kamu masuk universitas, dan rumah sakit saat ini."
"Benarkah? Aku tak menyangka dia akan melakukan hal itu, tapi kenapa dia sibuk sekali ingin menjodohkan ku?" Juwita memperbaiki posisi nya, yang berbaring di atas Brayen.
"Bukan om Damar, tapi Tante Weni yang sibuk ingin menjodohkan mu," jelas Brayen. "Sebenarnya om Damar maunya si Karin, tapi Tante Weni tidak mau."
"Iya mama memang lebih menyayangi Karin, jangan kan aku, bahkan kedua saudara tiri ku merasakannya. Tapi aku rasa Karin itu tidak mirip sama sekali dengan om Damar dan mama," ujar Juwita mengeratkan pelukannya, sesungguhnya dirinya sudah mau turun dari matanya. Sekuat tenaga Juwita menahannya.
"Sayang nangis aja kalau mau, jangan di tahan tahan, kamu seorang psikolog kan? Tak baik menahan tangis. Tumpahkan saja, jangan di tahan, kau akan semakin sakit nantinya," ujar Brayen mengecup lembut kepala Juwita. "Kau sudah melihat betapa rapuhnya aku, jadi kau juga tunjukkan saja betapa rapuhnya dirimu, agar aku juga dapat menguatkan mu."
"Terimakasih, terimakasi banyak."
......................
__ADS_1
Hi guys ini cuman sedikit, soalnya aku lagi sakit, cuman bisa makan bubur, jadi tidak bisa banyak banyak. Mohon doanya agar othor cepat sehat.