CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Menemukan mu


__ADS_3

Aska baru saja kembali sore ini, membuat maminya marah, Aska segera menjelaskan keberadaannya. Angel yang tak sengaja mendengar nama Juwita di sebut, segera mendekati Aska.


"Aska, kemarin sama kak Juwita?" Angel tiba tiba mengejutakn kedua anak dan ibu tersebut.


"Iya temen gue yang jadi pasien kak Juwita mau bunuh diri, kewalahan kami menanganinya, sampai sampai ponsel kak Juwita hilang, tadi pagi kan kalian di hubungi pakai ponsel gue," jelas Aska.


"Ah iya," Angel baru menyadari bahwa dirinya di hubungi Juwita melalui Aska.


"Eh bentar deh ini siapa? Kok dari tadi nelfon gue mulu," Brayen melihat nomor baru yang terus menelfon dirinya.


"Angkat aja. Besakan suaranya," ujar Angel, mendekat ke arah Aska.


"Halo?" terdengar suara laki laki, yang membuat Angel berbinar.


"Eh, kak Brayen?" Angel memastikan bahwa itu adalah suara Brayen.


"Eh Juwita di sana?" Brayen tak menjawab, justru menanyakan perihal Juwita.


"Engga kak, ini nomor Aska," ujar Angel.


"Aska kemarin dengan Juwita?" Brayen kembali bertanya.


"Iya kak, kemarin pasien kak Juwita, si Jojo kambuh, mau bunuh diri, kak Juwita buru buru, sampai sampai hp nya jatuh, terus hilang. Kami jagain Jojo sampai pagi, baru mamanya datang, terus kak Juwita ngurus surat Jojo, biar di rawat saja dulu. Sampai kak Juwita pulang dari Delhi," jelas Aska.


"Tunggu? Apa Delhi? India berarti?" tanya Brayen.


"Iya memangnya kakak tak tahu?" "Eh halo, halo, halo..." sambungan telfon terputus.


Brayen.


Brayen bergegas tanpa persiapan segera menelfon Indri. "Halo Indri, cepat siapkan pesawat untuk ke Delhi India, sekarang. Satu lagi, minta orang orang untuk mencari di hotel mana Juwita menginap."


"Ah, baik tuan," ujar Indri, segera mengerjakan tugas yang di perintahkan Brayen. "Tuan, masih di sana?"


"Ah iya Indri, bagaiman?" tanya Brayen tidak sabaran.

__ADS_1


"Semua telah siap tuan," ujar Indri. Brayen segera mematikan sambungan teleponnya, dan masuk ke dalam bandara.


New Delhi.


Brayen saat ini sudah mendarat di bandar udara Internasional Indira Gandhi, New Delhi, Delhi, India. Setelah menempuh perjalanan hingga delapan jam lamanya, saat ini jam menunjukkan pukul sepuluh lewat lima puluh menit, waktu malam India.



Brayen membuka ponselnya sembari melihat pesan dari Indri, tentang di mana Juwita menginap. Brayen segera memanggil taksi bandara untuk mengantarkan nya.


"Please take me to Lalit hotel," ujar Brayen kepada seorang supir taksi tersebut. (Tolong bawa saya ke Lalit hotel.)


"Yes," ucap supir taksi tersebut.


Mereka tampak melewati jalan menuju toko bunga dengan jarak tempuh kurang lebih sembilan menit. Di sepanjang jalan Brayen terus memikirkan cara agar Juwita mau memaafkannya. Tanpa Brayen sudah melewati dua pertigaan, satu perempatan dan dua bundaran. Akhirnya mereka sampai di the Lalit, atau Lalit hotel.


"Sir, we have arrived at Lalit hotel," ujar supir taksi tersebut. (Tuan kita sudah sampai di Lalit hotel.)



Tok, tok, tok.


Brayen mengetuk pintu kamar Juwita, Brayen sadar saat ini sudah seharusnya untuk istirahat, karena sudah tepat pukul sebelas malam, namun Brayen tak ingin menyia-nyiakan kesempatan.


Tok, tok, tok.


Ini adalah ke sekian kalinya Brayen mengetuk pintu kamar Juwita, memang ini tidak sopan, namun dirinya tak perduli. Juwita bisa saja melaporkan kepada pihak hotel tentang keluhan tersebut.


Cklek, Juwita membuka pintunya, dengan wajah bantal, karena sudah memasuki alam mimpi dengan sempurna, namun harus di ganggu dengan ketukan di pintunya.


"Can I help you?" Juwita tampak masih sedikit menutup matanya.


Brayen yang melihat hal tersebut segera mendekat, dan menabrak tubuh Juwita. Brayen memeluk erat tubuh Juwita, hingga gadis itu sadar sepenuhnya secara tiba tiba.


Juwita berusaha mendorong tubuh Brayen dengan kasar, merasakan penolakan Brayen semakin mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Maaf," lirih Brayen, tepat di telinga kanan Juwita.


"Brayen? Kamu ngapain? Ayo masuk ke dalam dulu," ujar Juwita, segera melepaskan pelukan Brayen, menarik Brayen masuk ke dalam dan menutup pintu.


"Kamu ga marah?" tanya Brayen memandang Juwita dan mengencup bibir Juwita dengan lembut.


"Marah kenapa?" Juwita bingung sendiri mendengar pertanyaan dari Brayen.


"Kalau kamu mau marah, marah saja. Pukul saja, atau maki saja. Jangan kabur begini, kau tahu aku tak bisa tenang salama tiga hari," ujar Brayen, membawa Juwita ke dalam pelukannya.


Brayen memeluk erat tubuh Juwita, dengan tubuh bergetar, menahan tangis. Juwita mengusap punggung Brayen, menenangkan laki laki itu sejenak. Juwita merasa pasti ada ke salah pahaman di antara mereka.


"Hust tenangkan dulu pikiran mu, kemudian baru bercerita," Juwita terus mengusap punggung Brayen, membuat Brayen semakin tenang.


"Aku takut kau pergi dari ku," ujar Brayen dengan suara sedikit merajuk di dalamnya.


"Kenapa? Kenapa aku harus pergi? Apa kau berbuat salah?" Juwita melepaskan pelukannya, dan menangkup wajah Brayen, menghapus sudut mata Brayen yang mulai di aliri oleh air mata.


"Aku bersumpah demi apapun, aku tak pernah mengkhianati mu, dengan siapa pun," ujar Brayen mengusap wajah Juwita dengan lembut.


"Memangnya kapan aku pernah menuduhku mengkhianati hubungan kita?" Juwita tersenyum memegang tangan Brayen yang mengusap lembut pipi nya.


"Kau ke sini tak memberitahukan ku, kau menjatuhkan makanan mu setelah melihat Karin di ruangan ku. Itu tak seperti yang kau bayangkan, Karin biang keroknya, aku juga tak menyangka waktu itu. Aku mohon percaya pada ku," ujar Brayen. Pria itu mencoba menjelaskan kepada Juwita, agar gadisnya tak lagi salah paham terhadapnya.


Juwita menampakkan wajah bingungnya, Juwita mengerutkan keningnya melihat ke arah Brayen. Juwita sungguh tak mengerti semua yang di maksudkan oleh Brayen.


"Maksud mu? Aku sungguh tak mengerti," ujar Juwita mengalungkan tangannya di leher Brayen.


"Kau jangan pura pura sayang," ujar Brayen mengecup bi bir Juwita.


"Aku tak berpura pura, aku tak mengerti maksud mu," ujar Juwita, mengecup dagu Brayen,


Brayen menarik Juwita untuk naik ke dalam pangkuannya. Brayen menarik tengkuk Juwita, memiringkan kepalanya, dan mulai mendekat kan bi bir mereka. Brayen mendaratkan dengan pelan bi birnya. Lama bi bir mereka menempel, Brayen segera menggerakkan bi birnya, me*lu*mat dengan lembut. Juwita tak tinggal diam, wanita itu ikut ke dalam permainan Brayen. Lama mereka ber*ci*uman, akhirnya mereka melepaskan pa*ngu*tan*nya.


"Sekarang jelaskan dari saat kau datang ke kantor ku, dan menjatuhkan tempat makan mu," ujar Brayen menempelkan keningnya.

__ADS_1


__ADS_2