CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Binaker (Istana)


__ADS_3

Rabu,hari ke empat.


Benteng Junagarh Binaker.


Mereka baru saja menyelesaikan makan siang mereka, dan bersiap untuk turun dari kereta, mereka akan bersiap menuju tempat wisata selanjutnya.


Juwita dengan kaus biru langit dengan lengan pendeka. Celana kain ringan, agar memudahkannya untuk melangkah, lengkap dengan rambut di ikat kuda, dengan topi yang senada dengan bajunya. Brayen tak mau kalah, dengan kemeja biru langit, di lengkapi dengan rompi berbahan tipis agar dirinya tidak kepanasan. Mereka saling berpegangan tangan, berjalan mengikuti pemandu, membawa mereka ke tempat wisata.


Pemandu membawa mereka ke benteng Junagarh, yang terletak di Binaker, India.



Benteng awalnya disebut Chintamani Mahal dan diubah namanya Junagarh atau "Old Fort" pada awal abad dua puluh. Benteng Junagarh juga dikenal sebagai benteng Bikaner adalah Benteng yang tak terkalahkan yang telah bertahan dari kehancuran waktu dan tetap tidak terkalahkan. Ini adalah salah satu benteng terkenal di Rajasthan.


"Matamu harus kau kendalikan, lihat lah tampak hendak keluar," Brayen menggoda Juwita, yang tampak membelalakkan matanya, memandang kagum benteng Junagarh tersebut.


"Ia lah... mereka benar benar sangat keren, sangat mengagumkan. Lihatlah bangunan ini benar benar tampak kokoh," Juwita menyentuh dinding bangunan yang benar benar sangat kokoh.


"Tentu saja mereka masih menggunakan bahan bahan alami, dan terbaik. Sangat pantas jika bertahan hingga ratusan tahun, sama seperti candi Borobudur," ujar Brayen merangkul pinggang Juwita, matanya juga memandang setiap sudut yang ia lewati.


"Arsitektur nya benar benar keren, jika saja dia masih hidup hingga saat ini. Mungkin saja bayaran mereka benar benar selangit," ujar Juwita terkekeh.


"Hm... Mereka benar benar keren," ujar Brayen.


"Yah mungkin saja aku akan jatuh cinta kepada mereka," goda Juwita, membuat Brayen menggeram kesal.


"Dan aku pastikan akan mengurung mu," ujar Brayen mendengus mendengar pernyataan dari Juwita.


"Hahaha... mereka bangsawan Brayen, kau tak akan mampu," Juwita semakin gencar menggoda Brayen.

__ADS_1


"Ya aku tak perduli, aku akan membuat ruang bawah tanah dan mengurung mu," ujar Brayen menatap tajam mata Juwita.


"Kau akan mengikat ku seperti yang ada di film film?" Juwita menarik turunkan alisnya.


"Tidak aku akan merantai mu," ujar Brayen kesal.


"Wah ternyata pacar ku psiko," Juwita menggoda Brayen kembali. "Kalau begitu lebih baik aku menurut."


Brayen tersenyum ketika Juwita menyandarkan kepalanya di bahu Brayen seolah berserah diri. "Yah jika kau menurut maka aku akan membawa mu, kemana pun yang aku mau."


Sepasang kekasih ini mengikuti langkah para turis tak di bawa ke dalam museum, yang terletak di dalam benteng Junagarh, yang menampilkan berbagai artefak ANF koleksi dari Bikaner kuno. Mereka terus berjalan menyusuri setiap bangunan tersebut, mereka dapat melihat indahnya bangunan yang dibangun di dalam benteng Junagarh. Bangunan tersebut terdiri dari istana dan kuil, yang terbuat dari batu pasir merah dan marmer.


Mereka berjalan menuju istana yang digambarkan dengan interior yang indah dengan bermacam macam ruangan seperi pengadilan, balkon, berbagai ruangan, Pintu pintu, dan jendela menampilkan gaya hidup asli Maharana dari Rajasthan Benteng besar. Istana itu di sebut dengan Badal Mahal, karena letaknya berada di tempat yang paling tinggi dari tempat tersebut.



"Wah aku benar benar seperti di negri dongeng, istana di atas awan, mereka benar benar hebat, pastinya aku akan benar benar jatuh cinta," Juwita kembali menggoda Brayen, memancing reaksi laki laki itu.


"Iya kau boleh jatuh cinta, hanya kepada ku," ujar Brayen mencubit gemas hidung Juwita.


"Kenapa begitu? Hanya kau saja? Aku bahkan belum menentukan apakah akan berakhir dengan mu," Juwita tersenyum menggoda Brayen.


"Wah kau benar benar harus di kurung, atau kau ingin aku menyeret mu ke dalam kereta sekarang? Aku akan membuat kau secara rela menikah dengan ku," ujar Brayen tersenyum licik ke arah Juwita.


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan?" Juwita tersenyum mengejek ke arah Brayen.


"Aku akan membuat mu mengandung anak ku," ujar Brayen mendapat tatapan dari Juwita.


"Ck dasar mesum," Juwita mencibir Brayen segera mengedarkan pandangannya ke segala arah. "Ayo ambil gambar ku, akan sangat bagus jika ku masukkan ke dalam Instagram ku."

__ADS_1


"Memangnya harus?" Brayen tersenyum melihat pose menawan Juwita.


"Tentu saja, aku memiliki banyak pengikut, dan akan semakin keren jika para pengikut ku melihat semua foto foto ku," ujar Juwita sombong, merubah posenya. Kini gadis itu memegang topinya, memandang ke arah gambar awan yang terhampar di dinding istana megah di tengah benteng tersebut.


Juwita bak model profesional yang sangat ahli dalam berpose, bahkan Brayen saja aberdecak kagum dengan segala pose elegan nan menawan Juwita.


"Untuk apa? Apa mereka semua ingin tahu tentang kehidupan mu?" Brayen mulai tersenyum mengawasi setiap pose Juwita.


"Ayo ganti tempat nya," ujar Juwita merubah tempat ia berdiri ke tempat yang tak kalah indah, di sudut istana tersebut. Juwita melangkah menuju jendela dan mulai meminta Brayen kembali memotretnya. "Aku banyak memiliki pengikut pria."


Brayen mengernyit tak suka, Brayen menghentikan aksinya, kemudian meminta pemandu wisata untuk memotret mereka. "Bisa tolong potret kami?"


Juwita tersenyum, tak sulit untuk meminta Brayen melakukan sesi foto bersama. "Kenapa kau ikut ikutan?" Juwita kembali menggoda Brayen.


"Ayo kita foto bersama, Mereka harus tahu kau memiliki kekasih," ujar Brayen segera menarik pinggang Juwita.


Juwita terkekeh mendengar perkataan Brayen. "Hahaha... kau benar benar cemburu? Aku hanya bercanda ayolah," Juwita terus terkekeh melihat ekspresi kesal Brayen.


"Sini kau, berhenti tertawa," Brayen mencoba membuat Juwita berhenti tertawa, namun justru itu terlihat sangat romantis, pemandu wisata tersebut segera mengambil momen kemesraan mereka.


Di dalam foto tersebut mereka terlihat sangat mesra, dan serasi. Tak ada yang mampu memungkiri hal tersebut. "Ayolah hentikan, kita harus mengambil pose sekarang."


"Ayo minta ampun dulu, kalau tidak kau akan ku cium," ancam Brayen.


"Ampun... ampun, apa kau tak malu?"


"Tentu saja tidak," ujar Brayen segera melepaskan Juwita, dan berjalan ke arah pemandu wisata tersebut.


"You guys look very affectionat here, you really are a very sweet couple," pemandu wisata tersebut menyerahkan ponsel Brayen, dan memperlihatkan foto mereka.

__ADS_1


__ADS_2