
Brayen baru saja selesai menandatangani beberapa berkas, Pasalnya hari ini ada tamu dari perusahaan papa tiri Juwita. Brayen pikir itu adalah tuan Damar, jadi ketika anak buahnya perwakilan dari perusahaan Damar group, maka Brayen segera memerintahkan untuk segera masuk ke dalam ruangannya.
Namun ternyata itu Karin. Brayen mengernyitkan keningnya tak suka akan keberadaan Karin, namun memilih untuk tersenyum demi menjaga yang namanya profesionalitas.
Karin segera duduk di hadapan Brayen sembari tersenyum, bibirnya di taburi lipstik merah merekah, sementara baju yang ia kenakan sangat seksi, hingga menjulang ke paha atasnya. Brayen menggeleng, sungguh kepribadian yang berbeda dari Juwita.
"Ya langsung saja," ucap Brayen sembari membuka berkas yang di bawa oleh Karin.
Karin segera membacakan isi berkas untuk kerja sama bersama Brayen, sementara Brayen fokus pada berkas yang Karin bawa. Setelah bernegosiasi cukup lama, akhirnya mereka mencapai kesepakatan. Karin tersenyum puas, tampaknya mereka akan semakin sering bertemu, artinya ia akan memiliki kesempatan yang lebih tinggi.
Ponsel Brayen berbunyi membuatnya segera berdiri hendak menerima telfon. Karin melirik jam di tangannya, tampaknya sudah hampir jam makan siang. Karin akan mengajak Brayen makan siang, sembari pendekatan. Karin akan menggunakan alasan kerja sama, untuk membuat Brayen makan bersama.
Karin melihat Brayen telah selesai menelfon, Karin berdiri dan sengaja menabrakkan badannya ke arah Brayen, sehingga Brayen dengan sigap menangkap pinggang Karin. Karin mengalungkan tangannya ke leher Brayen, dengan tersenyum.
Pintu tiba tiba di ketuk, membuat Brayen dan karin segera memandang ke arah pintu. Alangkah terkejutnya Brayen ketika melihat Karin. Ada rasa bersalah di dalam sana, Brayen buru buru melepaskan Karin.
"Wit, ini..."
"Makan dulu, ini udah aku bawain," Juwita memotong ucapan Brayen, membuat laki laki itu menghela nafasnya berat.
^^^Wit, ini ga sama yang kamu lihat, jangan salah paham.^^^
Ingin sekali Brayen mengatakan hal tersebut, Brayen hanya memperlihatkan gerak gerik Juwita ketika menata makanan tersebut. Lidahnya keluh, seakan kekasih yang tiba tiba terpergok selingkuh.
^^^Bagaimana cara mengatakannya ya?^^^
"Makasih kak," jawab Karin dengan sangat lembut, bak adonan yang belum di panggang.
Brayen terus memandang ke arah Juwita yang baru saja selesai mengisi dua tempat makan. Juwita segera menyerahkan kepada Brayen dan Karin.
"Wit kau tidak makan?" Brayen bertanya dengan sedikit hati hati. Brayen takut Juwita salah paham.
"Tidak kalian saja dulu, tadi di rumah aku sudah makan, kebetulan tadi ada pasien yang bawa makanan, jadi sudah kenyang," ujar Juwita cuek, seperti biasanya. Brayen memejamkan matanya.
__ADS_1
^^^Aku yakin dia pasti salah paham pada ku, apa dia akan membatalkan kontrak? Egh... Kenapa hati ku rasanya tak rela?^^^
"Kau sudah makan? Lalu kenapa kau datang kesini? Aku kan bisa makan di kantin," ujar Brayen.
Juwita menghela nafas kasarnya, Brayen mencoba menerka isi kepala gadis itu. "Hm, aku hanya takut kau menunggu ku," ujar Juwita memandang ke arah makanan yang ia bawa. "Hm makan lah, kalau sudah selesai aku akan membawanya pulang."
Brayen memandang ke arah Juwita karena tiba tiba ponsel Juwita berbunyi. Juwita segera mengangkat telfon tersebut, sembari menjauh darinya. Brayen penasaran dengan siapa Juwita sedang berbicara, sehingga harus menjauh darinya.
Baru saja Brayen hendak berdiri, namun Karin menyodorkan makanan di mulutnya, Brayen ingin menepisnya, namun Karin terus menggenggam ujung jas nya, mau tidak mau Brayen segera menerima suapan tersebut, karena hendak segera menyusul Juwita.
"Ehem," Juwita segera berdehem, membuat kedua orang tersebut menghentikan acara suap menyapanya. "Hm kalian lanjut saja ya, aku ada urusan mendadak.
Juwita segera menyambar tasnya, dan berjalan keluar. Brayen segera berdiri, hendak menyusul Juwita, namun Juwita mengentikan nya.
"Hm tidak apa apa, lanjutkan saja makan siang kalian, aku juga tengah buru buru. Tempatnya bawa saja nanti malam ke rumah, soalnya aku cuman punya satu," Juwita segera meninggalkan Brayen dengan sedikit buru buru.
Brayen tetap mencoba mengejar Juwita, namun terlambat pasalnya Juwita telah masuk ke dalam lift, Brayen hendak menyusul ke bawah, namun Brayen yakin itu sudah terlambat. Brayen kembali ke dalam ruangannya. Tanpa sengaja mendengar Karin bermonolog.
"Hm, langkah pertama berhasil, kini tinggal membuat mereka semakin renggang saja. Mana dapat makan siang gratis lagi, untung si anak buangan pintar memasak," Brayen mendidih mendengarkan perkataan Karin. Ternyata ini semua hanyalah akal akalan Karin.
"Sudah puas? Juwita salah paham terhadap ku, itu semua ulah mu, keluar dari kantor ini sebelum aku kasar kepada mu. Aku baik karena kau akan menjadi rekan kerja sama ku," ucap Brayen menggelegar, membuat sekertaris yang berada di luar sangat terkejut.
Ini adalah kali pertamanya Brayen menampakkan kemarahannya, karyawan yang berada di luar dapat dengan jelas mendengarkan ucapan Brayen.
Karin yang terkejut segera bergegas keluar, namun di hentikan oleh kata kata Brayen. "Aku peringatkan Juwita bukan anak buangan, jangan pernah katakan hal itu sekali lagi."
"Apa? Apa yang kau ketahui tentang Juwita? Dia memang anak buangan, seandainya bukan karena bisnis, papa dan mama tidak akan mau mengakui Juwita, dia hanya alat untuk bisnis," pekik Karin merasa harga dirinya di rendahkan hanya karena Juwita.
"Itu yang membuat ku membenci keluarga mu," ujar Brayen tak kalah melengking. "Keluar dan katakan kepada papa mu itu, aku membatalkan kerja sama, dan aku akan memberitahu kelakuan mu, agar kau tak dapat mengadu sembarangan."
"Apa kurang ku dari si anak buangan itu?"
"Kau sampah, kau murahan itu yang membedakan mu dengan Juwita. Ingat jangan pernah sebut Juwita anak buangan," tekan Brayen kepada Karin.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa?"
"Kenapa? Tentu saja karena dia pacar ku, aku tak akan pernah suka bila dia di rendahkan oleh sampah seperti mu! Sekarang keluar," Brayen segera melemparkan sebuah pot ke arah Karin.
Karin segera berlari keluar ketakutan, melihat amarah dari Brayen.
"Makanya jangan jadi pelakor, nah kena kan," ucap sekertaris Brayen membuat Karin menggeram kesal.
Di sepanjang pekerjaannya Brayen tak tenang, pikirannya selalu mengarah kepada Juwita, namun dirinya tak bisa kemana mana, jadwalnya siang hingga sore cukup padat.
Setelah semua terselesaikan, Brayen segera berlari tergesa gesa ke arah mobilnya, dan hendak ke rumah Juwita. Brayen ingin menjelaskan masalah sesungguhnya kepada Juwita.
Saat tengah memasuki rumah Juwita, Brayen ingat dirinya memiliki kunci cadangan dari rumah Juwita. Brayen segera masuk, dan mendengar Juwita tengah bercengkrama dengan seseorang, terdengar tawa Juwita sangat nyaring. Namun suara lawan bicaranya membuat Brayen gelisah. Brayen buru buru menuju ruang tengah Juwita, dan terkejut ketika melihat seorang laki laki tengah mencubit pipi, dan membuat sebuah lelucon untuk membuat Juwita tertawa.
"Ehem," Brayen segera berdehem mengejutkan kedua orang itu.
Juwita segera menyambar tas Brayen, dan meminta Brayen untuk masuk. "Ayo biar aku kenalin sama kak Gilang."
"Gilang," Gilang segera menghampiri Brayen yang berjalan ke arah nya.
"Brayen," ucap Brayen dengan dingin.
"Ayo makan, kami tadi tinggal nunggu kamu loh Brayen," ujar Juwita, segera berjalan menuju dapur. "Oh ya tempat makannya mana?"
"Tertinggal tadi," ujar Brayen datar.
"Hah, kan aku bilang cuman punya satu loh," kesal Juwita memandang ke arah Brayen.
"Hus marah marah, siapin makanan sana," Gilang segera memotong ocehan Juwita, yang pasti akan sangat lama berhentinya.
Brayen mendelik tak suka kehadiran Gilang, tangannya mengepal kesal melihat Gilang menampakkan bahwa seolah mereka sangat dekat. "Aku membersihkan diri dulu."
Brayen segera berlalu menuju kamar tamu, namu lagi-lagi dirinya di kejutkan dengan koper Gilang yang sudah berada tepat di atas tempat tidur. Brayen memejamkan matanya mencoba untuk tenang, kemudian membuka isi lemarinya, yang terdapat kaus oblong miliknya, dan sebuah bokser hitam. Brayen segera mandi dan mengenakannya.
__ADS_1
Guys jangan lupa tinggalkan jejak ya, volt dan kembang setaman kalau ikhlas wkwk sip.