CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Akad


__ADS_3

Berita pertunangan Juwita dan Brayen tersebar luas, nyonya Weni menyaksikan dari berita yang terpampang jelas. Nyonya Weni meneteskan matanya kala melihat Juwita yang duduk di antara tuan Damar dan kakek Rio, Juwita tampak beberapa kali berbisik kepada tuan Damar, tampak jelas mereka sangat akrab.


Air mata nyonya semakin mengalir, kala mengingat bagaiman dirinya memberi saran kepada Dika untuk memberi Juwita obat pe*rang*sang, menyebabkan Juwita masuk rumah sakit. Nyonya Weni semakin sakit kala mengingat bagaimana kejamnya dirinya, bahkan mantan suaminya itu tampak sangat menyayangi Juwita.


Nyonya Weni dengan iseng kembali memutar video singkat yang hanya terkirim untuk dua puluh empat jam, di status Angel yang menampakkan Juwita tengah memilih pakaiannya bersama dengan Brayen dan tampak juga tuan Damar di sana.


"Pa, baju kak Wita cantik banget kan?" Angel tampak menyoroti wajah tuan Damar.


"Orangnya juga, putri papa juga cantik kok, tapi tambah cantik kalau pakai gaun itu," ujar tuan Damar terkekeh.


"Dimana mana anak ya cantik kalau di mata orang tuan pa," Angel memerotes kata kata dari tuan Damar, yang masih terkekeh di melihat tingkah sahabat Juwita.


Video pun berakhir membuat nyonya Weni merasa di asingkan oleh anaknya sendiri, dimana dirinya tak tahu kapan anaknya akan menikah, bahkan tidak di beritahu bahwa anaknya telah bertunangan. Hanya tuan Damar yang tampak, seolah dirinya benar benar ayah dari anaknya. Nyonya Weni menggeram kesal. Entah kenapa kekesalannya memuncak sendiri, bahkan setelah dirinya merasa bersalah tadi.


"Cih... Anak durhaka bahkan ibunya sendiri tidak di beri tahu, sementara papa nya, yang bukan papa kandung nya di pilih untuk mendampinginya. Sementara aku ibu kandungnya tidak tahu apa apa seolah orang lain.


Nyonya Weni terus bergumam, mencerca anaknya sendiri. Tuan Reymond yang mendengarkannya hanya diam saja, dirinya bahkan kini tak merasakan apapun. Tuan Reymond diam dan masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan dirinya. Hatinya gundah, jiwanya terasa terlepas dari tubuhnya. Bayangan mantan istrinya yang baru saja resmi bercerai dengannya beberapa jam yang lalu terus menghantuinya. Seolah menamparnya dengan kenyataan yang saat ini yang harus ia hadapi.


Setelah selesai membersihkan dirinya tuan Reymond segera keluar dari kamar mandi menggambil pakaiannya yang ada di dalam lemari. Tangannya terhenti ketika mengingat bagaiman dulu istrinya menyiapkan baju untuknya, meski duduk di kursi roda, bahkan istrinya masih memberi pelayanan seperti itu dengan suaminya.


Bayangannya kembali terlintas, namun kali ini bayangan bagaimana tuan Reymond membujuk nyonya Iwa untuk berhenti melakukan perawatan, dengan dalih membutuhkan banyak uang untuk perusahaan, yang sebenarnya ia transfer untuk kekasih gelapnya, saat itu nyonya Iwa mempercayainya dan bahkan memberi semangat untuk dirinya. Kini ia baru menyadarinya dan menyesalinya, seandainya semua uang itu untuk pengobatan, pastinya mantan istrinya akan sehat dan mampu berjalan layaknya orang normal. Namun dengan seluruh rasa egois dan nafsunya ia mengorbankan istrinya, yang kini telah menjadi mantan istri. Ia benar benar di perbudak oleh nafsu, ia baru menyadarinya.


Ponsel miliknya berbunyi, membuat tuan Reymond memandang ke arah ponselnya, Andi mengirimi pesan bahwa dirinya telah mengirimkan uang ke pada dirinya, Andi juga memberitahu bahwa ia juga mengirimi kain sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhannya selama di asrama. Sementara ia memulai pengobatan untuk mamanya.


Hanya itu informasi yang di kirim oleh anaknya. Ingin sekali tuan Reymond menanyakan dimana mantan istrinya itu memulai perawatan, namun juga segan karena merasa tidak enak dan bersalah.


📨Pimpinan perusahaan dengan baik, papa meyerahkannya. Papa minta maaf.


Pesan terkirim tanda contreng biru tertera bertanda Andi telah membacanya. Tuan Reymond baru menyadari ternyata dirinya sangat jarang bertukar pesan kepada anaknya. Tampaknya dirinya akan semakin sering bertukar pesan.


📩Iya pa, papa jaga diri.


Hanya itu yang di kirim oleh Andi, membuat tuan Reymond menghela nafas, anaknya pasti sangat kecewa terhadapnya. Bahkan anaknya telah mengetahui siapa Karin, dan menerima dirinya saja itu sudah sangat baik untuknya.


"Kau mau kemana? Kau tak kekantor?" Nyonya Weni menghampiri tuan Reymond yang baru saja mengenakan pakaiannya, dan keluar dari ruang ganti dengan baju kaus.


"Andi yang mengurus perusahaan, aku sudah pensiun," ujar tuan Reymond, kemudian berlalu dari hadapan nyonya Weni. "Kau siapkanlah makanan."


"Hei... aku bahkan tidak bisa memasak, bukankah di rumah ini banyak pembantu?" nyonya Weni tak terima di minta untuk memasak.


"Kau tak melihatnya? Semua maid sekarang tak ada di rumah ini, mungkin kita tak akan mampu membayar pembantu," ujar tuan Reymond memicingkan matanya.


"Apa?! Kau gila? Aku tak mau memasak, beli saja, bahkan saat bersama dengan Damar aku selalu di manja, tidak pernah menginjakkan kakiku di dapur," nyonya Weni memandang wajah tuan Reymond dengan kesal.


"Apa lagi? Kau harus terbiasa," tuan Reymond benar benar tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh nyonya Weni.


"Hei perusahaan mu tidak bangkrut bukan? Suruh saja anak mu mengirimkan maid untuk kita," ujar nyonya Weni santai, sembari melihat kukunya yang baru saja ia rawat kemarin.


"Apa kau tidak punya malu? Aku sangat malu untuk memintanya, mengirimi ku uang sepuluh juta saja itu sangat baik Weni, aku bahkan telah banyak menghabiskan uang begitu saja untu mu," tuan Reymond menekan suaranya, tak ingin ribut berkepanjangan kepada wanita yang baru saja menjadi istrinya.


Ini adalah kali pertama mereka bertengkar, dan itu melibatkan soal uang, bahkan nyonya Weni berani membanding bandingkan dirinya dengan tuan Damar, yang notabenenya mantan suami nyonya Weni beberapa jam yang lalu.


"Tidak ya, enak saja, kita beli," nyonya Weni kekeh tak ingin memasak, jelas saja baru kemarin ia melakukan perawatan, dan kini harus memasak. Ia tak ingin tangannya kasar dan keriput.


"Baiklah hari ini saja," ujar tuan Reymond mengalah, nyonya Weni tersenyum kemenangan.


"Bagus aku minta uang, aku ingin arisan, sekalian membeli barang barang," ujar nyonya Weni menengadahkan tangannya.


"Berapa? Aku akan transfer," ujar tuan Reymond membuka mobile banking nya.


"Tiga juta... eh jangan lima juta, itu baru cukup," nyonya Weni tersenyum manik turunkan alisnya ke arah tuan Reymond.


"Wen... kau tahu bukan bukan aku lagi yang memegang perusahaan, kau meminta segitu? Jangan gila, itu setengah dari pemberian dari anak ku," tuan Reymond menggeleng tak percaya.


"Kau sangat berbeda dan sangat buruk dari mas Damar bahkan aku meminta sepuluh juta saja mas Damar akan mengirimkannya," teriak nyonya Weni.


"Lalu kemana uang yang selama ini kamu kasih? Tak akan habis dalam sekejap," tuan Reymond mulai naik darah melihat wanita yang dulu ia eluh eluhkan, kini baru beberapa jam menjadi istrinya sifat aslinya telah nampak.


"Hei... kau mengungkitnya? Kau kira perawatan tubuh dan kulitku ini berapa? Kau fikir semua barang mewah yang ku kenakan itu semua dari mana? Aku arisan dengan apa? Tentu saja itu semua," ujar nyonya Weni penuh penekanan.


"Jika begitu aku akan mengirim tiga juta perbulan, khusu untuk mu, dan sisa kehidupan sehari hari beserta yang lainnya aku yang mengatur," tuan Reymond meninggalkan nyonya Weni sendirian.


"Kau pikir apa ha?! Itu bahkan hanya untuk sehari hari ku saja tak cukup, dulu aku di beri mas Damar empat puluh juta perbulan, lalu apa sekarang?!" nyonya Weni berteriak ke arah tuan Reymond, dengan menekan kata empat puluh juta, agar tuan Reymond memberikan hal yang sama untuknya.


"Lalu kembali kepada Damar, pantas saja dia tak keberatan untuk meninggalakan mu, ternyata kau sangat hedon," tuan Reymond segera turun dari tangga dan meninggalakan nyonya Weni sendirian di dalam rumah. Menuju ke mobilnya, dan meninggalakan rumahnya.


Sementara nyonya Weni yang di dalam rumah hanya terdiam melihat transferan yang di kirim oleh suaminya benar benar hanya tiga juta kepada dirinya. Nyonya Weni menggeram kesal, ia segera memesan taksi dan meninggalakan rumah tersebut, segera menuju ke pusat perbelanjaan.


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel nyonya Weni, membuatnya tersenyum. Nyonya Weni segera menelfon temannya. "Halo aku tidak jadi ikut hari ini, aku hanya akan mengirimkan saja uang nya, kalian nikmati hari kalian. Aku sedang ingin bertemu taman lama," nyonya Weni menutup telfonnya. "Pak kita ke kafe XXX ya, Saya tidak jadi ke mall."


"Baik bu," sopir taksi tersebut mengangguk setuju.


Sementara tuan Reymond menjalankan mobilnya entah kemana, dirinya hanya menjalankan mobilnya saja. Namun matanya terhenti ketika melihat seorang wanita tengah di bantu oleh seseorang untuk berjalan. Siapa lagi jika itu bukan mantan istrinya, wanita itu tampak belajar berjalan, dengan di bantu oleh seorang dokter, tampak Andi baru saja membeli tiga buah botol mineral di tangannya. Wanita itu terlihat sangat kesulitan, kakinya sangat kaku, namun wajahnya sangat bersemangat. Tuan Reymond tersenyum melihatnya, wanita itu tampak masih sangat kesulitan bahkan hanya berjalan sedikit sedikit kemudian duduk kembali di bangku taman.


"Kau sangat cantik jika bersemangat," gumam tuan Reymond memandangi mantan istrinya dari kejauhan.


Andi segera mendorong kursi roda ke dalam mobil, dokter tersebut tampak tersenyum dan melambaikan tangannya. Dokter tersebut segera masuk ke dalam rumah sakit, karena saat ini mereka tengah berada di taman tepat di depan rumah sakit.

__ADS_1


Tak menyia-nyiakan kesempatan tuan Reymond mengikuti mobil Andi dari kejauhan, ia terus mengikutinya hingga akhirnya mereka terhenti di sebuah rumah sederhana tanpa pagar yang mewah seperti rumah besar mereka dahulu. Tuan Reymond memandang nanar rumah tersebut, sederhana, tanpa pagar dengan taman yang cantik, serta terdapat beberapa ayunan dan kursi taman dengan atap di atasnya.


Andi membantu mamanya untuk turun kemudian membuka pintu rumah, nyonya Iwa tampak mengeluarkan beberapa kantung belanja dan memanggil anak anak yang tampak bermain di sekitar rumah mereka. Nyonya Iwa memberikan beberapa cupcake kepada anak anak itu. Tuan Reymond terus memperhatikannya dari kejauhan. Menghela nafasnya berkali kali, terlebih melihat tawa nyonya Iwa yang lepas ketika melihat tingkah lucu anak anak tersebut.


Jika di perbolehkan maka dirinya akan turun dan ikut menikmati senyum dan tawa lepas dari mantan istrinya itu, ia ingin lebih lama lagi berada di sana, melihatnya dari kejauhan saja membuatnya merasakan kehangatan yang luar biasa, namun apalah daya dirinya hanya mampu menikmatinya dari kejauhan.


Bunyi di ponselnya membuyarkan semua lamunannya, kini ia segera melirik ke arah ponselnya, dan melihat pesan dari nyonya Weni.


📩 Aku pulang sehabis magrib, aku akan merefresingkan kepalaku dengan teman teman ku.


Tuan Reymond hanya mengenal nafas, dirinya akhirnya melajukan mobilnya menuju rumah. Tuan Reymond melajukan mobilnya ke sebuah restoran cepat saji, dan memesan makanan di sana, tuan Reymond memakannya dengan perlahan. Bayangan bagaimana nyonya Iwa dulu melayaninya kini terngiang kembali. Hatinya semakin pilu, penyesalan semakin menggunung namun mau di kata apa lagi, nasi sudah menjadi bubur, itu semua yang harus ia telan suka atau tidak suka.


Sesampainya di rumah hanya dirinya di sana, tak ada orang yang menyambutnya dengan hangat. Istrinya yang sekarang hanya bisa bersenang senang tanpa tahu urusan rumah, tuan Reymond menghempaskan dirinya di atas sofa, bayangan nyonya Iwa kini kembali menghampirinya, bagaimana nyonya Iwa melayaninya dan memperhatikannya. Hal hal kecil yang dulu ia anggap remeh kini menjadi hal yang sangat ia rindukan. Tanpa sengaja air matanya luluh di pipi, tuan Reymond menggigit bibirnya, menahan isak tangisnya. Hingga semua bayangan berputar di adegan dimana dirinya harus menandatangani surat perpisahan dengan nyonya Iwa, pecahlah tangisannya. Ia tutup matanya dengan tangan kanan kepalanya ia tundukkan bertumpu pada tangan. Seakan penyesalan menumpuk di punggungnya hingga tak mampu membuatnya tegak. Baru beberapa jam ia bercerai, ia telah merasakan kehilangan yang amat dalam, rindunya kini menggunung, namun tak lagi mampu ia salurkan. Wanita kuat nan penyabar itu telah pergi, tak ada lagi tempat untuknya bercerita.


Kini hanya kesunyian yang menghampiri dirinya. Tuan Reymond naik ke lantai atas, tempat dimana dirinya dan mantan istrinya biasanya menghabiskan waktu. Tuan Reymond sengaja naik dengan lift, demi mengenang kembali keberadaan mantan istrinya. Tuan Reymond masuk ke dalam kamar dan menyaksikan keadaan semau tidak seperti dulu, dirinya baru menyadari bahwa kini foto besar yang menampakkan foto pernikahan dengan mantan istri telah raib, tuan Reymond kembali mencari album lama miliknya, tak ada sedikitpun foto dirinya bersama dengan mantan istri. Tuan Reymond mengusap kasar wajahnya.


"Maaf..." gumam tuan Reymond, mengusap foto mantan istrinya yang tertinggal, hanya ada satu di sana, tak ada yang lain. Tampaknya itu lupa untuk di singkirkan oleh mantan istrinya.


.


.


.


.


Satu minggu telah berlalu, kini hari pernikahan dari Juwita dan Brayen mereka telah berkumpul, Juwita tampak cantik dengan kebaya modern, untuk akad nikah. Seorang MUA ternama sekelas Ivan Gunawan sengaja ia sewa untuk pernikahan sederhana mereka. Hanya beberapa wartawan yang boleh masuk. Juwita duduk di atas meja rias tengah di rias dengan sangat teliti oleh MUA nya.


"Ciah penganten udah cantik guys, wajahnya sudah di dempul pakai foundation, terus mana pengantin prianya?" Angel datang dengan hebohnya bersama dengan Aska si sampingnya. "Ini ya? Ini ya?" Angel menunjuk Aska dengan hebohnya. "Oh ya lupa kan jones."


Mua nya terkekeh mendengar kehebohan wanita cantik dengan wajah blasteran dan nada suara bicara yang masih belepotan. "Maklum bak ya, emang gitu kalau masih kecil."


"Kecilnya aja gitu gimana gedenya?" ujar Aska menoyor kepala sepupunya.


"Ck... dasar kejam," ujar Angel cemberut. "Eh mbak kita pernah kerja sama ya?"


"Iya kemaren saat pemotretan kan mbak," ujar MUA tersebut masih ingat dengan Angel, Angel memang beberapa kali menggunakan jasanya untuk beberapa even. Namun hari ini ia tidak bisa pasalnya MUA langganannya itu harus mengurus sahabatnya yang akan melakukan akad, MUA itu di boking selama acara berlangsung.


...----------------...


Di tempat lain Brayen tampak sangat gugup dengan acara hari ini, ia terus menghafal lafal yang harus ia hafal. Tuan Omer tampak terus menemaninya, mencoba menenangkannya, berharap agar Brayen tenang, tuan Omer tahu betul ketegangan dari Brayen. Nyonya Mona datang membawa jas dan air mineral untuk Brayen. Chandra dan Aliya datang ke kamar Brayen, melihat seberapa tegangnya laki laki itu.


"Ayo... kalau kau gagal tiga kali, maka kau akan di anggap tidak berjodoh, dan secara otomatis dia harus di nikahkan dengan laki laki lain," mendengar hal tersebut semakin membuat Brayen gugup wajahnya pucat, keringat jagungnya semakin tampak, semua orang melotot ke arah Chandra. "Siapa kakak dari Arnita itu pasti datang hari ini, sepertinya dia menyukai Juwita. Secara kan mereka sering bertemu di aliansi persatuan dokter Indonesia, meski berbeda ahli."


"Chandra..." semua orang kecuali Brayen serentak meneriaki nama Chandra, membuat Chandra terkekeh geli terlebih melihat wajah pucat Brayen.


Chandra semakin tersenyum kala melihat wajah pucat dari Brayen. Chandra bahkan harus menahan senyumnya sebelum di marahi oleh yang lain.


"Sudahlah Brayen Chandra hanya bercanda, paling kalau salah hanya di suruh ulang, tak ada yang namanya yang seperti itu, ayo hapalkan lagi," Aliya segera memberikan catatan kecil tersebut ke arah Brayen.


Brayen hanya mengangguk kemudian membaca kertas tersebut dengan tangan yang sedikit bergetar. Hal itu semakin membuat Chandra hendak tertawa, namun lagi lagi mendapat pelototan dari para wanita.


"Ayo berangkat kita harus segera sampai, Chandra ikut dengan mobil mama dan supir, biar papa yang menemani Brayen," tuan Omer memberi ide kepada yang lain. Tuan Omer tahu betul bahwa jika Brayen berada di satu tempat dengan Chandra, pastinya Brayen akan semakin di buat tertekan oleh Chandra, tuan Omer tahu betul bagaimana kelakuan Chandra.


Mereka segera menaiki mobil menuju rumah mempelai wanita, Brayen terus membaca isi kertas tersebut sesekali meremas tangannya gugup.


.


.


.


.


Sementara di tempat lain, tuan Reymond tengah bersiap siap untuk mengenakan pakaian untuk ke acara pernikahan Brayen dan Juwita, sebenarnya Juwita sedikit keberatan untuk mengundang mereka berdua, terlebih Juwita menghargai papa tirinya. Namun bujukan papa tirinya dan Brayen membuat Juwita akhirnya mengundang keduanya.


Namun hubungan mereka tak seindah ketika mereka masih berstatus pacar gelap, kini mereka tidur di tempat terpisah, nyonya Weni juga tak memperdulikannya, nyonya Weni memiliki kesibukan tersendiri sekarang, entah itu apa, hanya dirinya yang tahu, bahkan tuan Reymond selaku suaminya saja jika bertanya nyonya Weni hanya membalasnya dengan sinis bahkan menyinggung soal permasalah ekonomi, yang mana tuan Reymond hanya mampu memberinya tiga juta per bulan.


Tuan Reymond sudah mengenakan pakaian lengkap hendak memanggil nyonya Weni di kamar sebelah, yang dulu di gunakan Andi. Namun melihat nyonya Weni yang masih belum bersiap siap tuan Reymond bingung sendiri.


"Kau tidak pergi?" tuan Reymond di bingung sendiri melihat kelakuan istrinya yang hanya memainkan ponselnya.


"Tidak mereka tak mengundangku," ujar nyonya Weni santai.


"Di dalam undangan tersebut tertulis nama mu dan juga nama ku," ujar tuan Reymond.


"Aku tak tertarik, tak ada untungnya untuk ku," mendengar hal tersebut tuan Reymond kembali memutar tubuhnya hendak keluar. Namun suara nyonya Weni menghentikan langkahnya.


"Bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan? Apa kau bahagia dengan ini semua?" nyonya Weni memandang kesal ke arah tuan Reymond, memang uang tiga juta semua untuknya dan makan semua tuan Reymond yang mengaturnya, namun semua itu tak cukup untuknya.


"Apa wajahku terlihat bahagia?" tuan Reymond memutar tubuhnya menghadap nyonya Weni.


"Aku tahu kau tidak bahagia, aku mampu melihat betapa besar rasa cinta mu terhadapnya," ujar nyonya Weni sinis ke arah tuan Reymond.


"Lalu apa mau mu?" tuan Reymond memandang jengah kepada wanita yang satu minggu lalu berstatus menjadi istrinya.


"Lalu apa hubungan kita selama ini?" nyonya Weni justru mempertanyakan hubungan mereka.

__ADS_1


"Aku tak tahu," tuan Reymond menghela nafasnya.


"Kau melakukannya seolah aku menggoda mu," nyonya Weni mulai kembali menaikkan oktaf suaranya.


"Lalu kau ingin mengatakan bahwa selama ini aku memaksa mu?" tuan Reymond memandang sinis ke arah nyonya Weni.


"Reymond, Kau yang menginginkan kita bersama selama ini," nyonya Weni memukul bantal yang ada di sampingnya.


"Tapi aku juga tak bisa bila kehilangan istri ku," ujar tuan Reymond jujur.


"Mantan istri! Camkan itu! Mantan istri mu," nyonya Weni semakin menggeram kesal, ia kesal kenapa di saat yang seperti ini ia masih saja kalah dengan Iwa, padahal wanita itu telah cacat secara fisik.


"Lalu apa? Dia memang mantan istri ku, aku salah melepaskannya," tuan Reymond semakin jengah dengan kelakuan nyonya Weni. Bukan ia tak tahu kelakuan wanita itu di belakangnya.


"Lalu apa! Kau menyesal dengan kita sekarang? Lihatlah kau memang laki laki yang suka mengenang masa lalu," nyonya Weni terkekeh sinis melempar ponselnya seolah benda yang ada di tangannya itu sangat murah.


"Wah kau memperlakukan benda itu sangat murah, bahkan kau harus mengumpulkan uang pemberian ku selama satu tahu. Apa kau mendapat uang dari laki laki lain di luar sana?" tuan Reymond menyinggung nyonya Weni dengan sinis.


"Hah? Kau pikir aku mau hidup susah dengan mu?" Nyonya Weni justru kelepasan berbicara, dirinya seolah mengakui kehilangannya seminggu yang lalu, tepat setelah mereka menikah, seorang laki laki, atau yang lebih tepatnya mantan kekasihnya dulu sebelum menikah dengan ayah Juwita mengajaknya bertemu, nyonya Weni tahu betul siapa pria itu, ia akhirnya menyetujuinya, bahkan menggoda laki laki yang jelas jelas telah beristri. Dan karena tubuhnya yang memang terjaga dan terawat maka pria itu pun tergoda. Nyonya Weni mengarang cerita bahwa suaminya senang melakukan kekerasan dalam rumah tangga, hingga akhirnya pria itu pun mulai bersimpati dan akhirnya mereka menjalin hubungan tepat di dua hari setelah mereka bertemu kembali.


"Wah kau mengakuinya, cepat sekali," tuan Reymond tergelak, tak ada rasa sakit di sana, yang ada hanya rasa kesal karena telah kehilangan mantan istrinya.


"Kau tahu? Kau tahu alasan ku meninggalkan ayah Juwita? Karena dia jatuh miskin! Lalu bagaimana dengan diri mu yang sekarang? Apa bedanya?" bak kata pepatah sudah terlanjur basah ya mandi sekalian, nyonya Weni seakan membicarakan perselingkuhannya secara terus terang.


"Jadi karena uang? Baiklah aku menceraikan mu sekarang, dan kita tak punya hubungan apapun," ujar tuan Reymond memandang sinis ke arah nyonya Weni.


"Tentu saja! terimakasih aku akan sangat bahagia dengan pacarku ini," nyonya Weni segera mengumpulkan pakaiannya ke dalam koper dan meninggalkan tuan Reymond sendirian.


Tuan Reymond termenung, hanya dalam hitungan hari bahkan baru genap satu minggu kini dirinya kembali menyandang status duda, tuan Reymond berjalan ke arah kaca besar berbentuk cembung menampakkan pemandangan luar, ia mampu melihat nyonya Weni menaiki taksi di luar pagarnya. Tuan Reymond terkekeh sendiri, dunia ini lucu dan berhasil mempermainkannya, awalnya ia di beri kesenangan dengan na*fsu lalu ia di jatuhkan dengan kesedihan. Tak ingin bersedih berlama lama, akhirnya ia menuju ke tempat acara pernikahan Juwita dan Brayen, selain ia menghadiri acara tersebut, ia juga ingin meminta maaf kepada sahabatnya. Jikapun ia tidak di terima kembali dalam hubungan pertemanan tersebut, maka maaf saja cukup untuknya.


.


.


.


.


"Saya terima nikah dan kawin Juwita Putri Adnan binti Daud Adnan dengan maskawin tersebut dibayar tunai," suara Brayen mengucapkan akad terdengar nyaring dengan satu kali tarikan nafas.


Semua orang juga merasakan ketegangan tersebut, Juwita yang berada di lantai dua pun merasakan ketegangan tersebut. Juwita me*re*mas tangannya ketika Brayen mengucapkan ijab Kabul dengan menggenggam tangan kakek Rio. Dengan tangan yang gemetar dan dingin Brayen mampu mengucapakan ya dengan fasih.


"Bagaimana saksi? Sah?" penghulu memandang ke arah para saksi. Bahkan yang menjadi penghulunya adalah seorang ustad yang berasal dari Kalimantan, yaitu pak Yusuf. Orang yang membuat Brayen mengucapkan dua kalimat syahadat.


"Sah..." ujar para saksi bersorak gembira. Mereka ikut merasakan kelegahan di sana.


Angel datang bersamaan dengan Juwita hendak menjemput pengantin wanita. "Ayo kak, kita pergi sekarang," Juwita tersenyum menyambut uluran tangan kedua sahabatnya. Mereka segera turun ke lantai satu, dan melihat semua orang tengah memandang kagum ke arahnya. Brayen ikut memandang ke arahnya, memandang betapa mengagumkannya wanita yang telah menjadi istrinya beberapa menit yang lalu, jika saja boleh ia akan segera menghampiri dan memeluknya dengan mengatakan bahwa mereka telah menikah dan resmi di mata agama maupun di mata negara.


Juwita duduk di samping Brayen membuat pandnagan laki laki itu tak pernah lepas dari wajah Juwita. Wanita itu bersemu melihat tatapan laki laki yang beberapa menit lalu menghalalkannya.


"Silahkan pengantin pria pasangkan cincinnya, dan pengantin wanita bersalaman dengan pengantin prianya," ujar pak Yusuf selaku penghulunya.


Brayen meraih cincin dan menyematkannya di jari Juwita, kemudian Juwita menyalami tangan Brayen selaku imamnya sekarang. "Silahkan pengantin pria kecup puncak kepala istri mu, bacakan sholawat untuk istri mu," Brayen melakukan sesuai dengan perintah membuat Juwita meneteskan air matanya.


"Tu lihat satu kali," tuan Omer mengejek Chandra yang duduk di sampingnya. Aliya bahkan terkekeh mendengarnya.


"Cih... berapa lama dia latihan?" Chandra tak terima kalah dari Brayen yang semala ini ia takut takuti.


"Tu lihat dia tersenyum ke arah mu," nyonya Mona ikut memanas manasi keadaan ketika Brayen tersenyum penuh kemenangan ke arah Chandra seolah mengatakan 'kau adalah pecundang, lihat aku hanya satu kali.'


"Cih... mau apa dia? Mau pamer satu kali?" Chandra mengeram kesal melihat senyum Brayen.


"Jangan begitu, lihat dia sangat keren sekarang," Aliya memuji penampilan Brayen yang memang sangat keren, entah kenapa akhir akhir ini ia senang sekali melihat Brayen, namun terkadang tak ada angin dan hujan ia ingin sekali menjambak rambut Brayen. Dan Brayen harus pasrah pasalnya ia meminta tolong kepada Aliya untuk membantunya latihan mengucapkan akad nikah.


"Kau jangan bilang begitu ya, tutup matamu," Chandra segera menutup mata Aliya, ia tak rela jika Aliya mengagumi laki laki lain di hadapannya.


"Dasar posesif, jangan terlalu begitu dengan ibu hamil," ujar nyonya Mona menggoda Aliya dan Chandra.


"Benar yang?" Chandra memandang Aliya tak percaya.


"Mana ku tahu," Aliya menaikkan kedua bahunya.


"Nanti coba kalian periksa, kasihan mama melihat Brayen akhir akhir ini, bahkan dia mengatakan bahwa Aliya tampaknya hamil, karena Aliya terkadang menjambaknrambutnya dengan gemas hingga membuatnya meringis harus kehilangan rambutnya beberapa lembar," uajr nyonya Mona menyadari kelakuan aneh menantunya.


"Memangnya bisa begitu? Kok kamu gitu?" Chandra memandang kesal ke arah Aliya.


"Entah rambutnya bikin aku gemas, pingin ku Jambak terus."


Hai selamat untuk Zyanra, yang telah Menag give away. dan ngomong ngomong semoga hasil ujian kamu sesuai dengan yang kamu inginkan ya.



Zyanra picture


ngomong ngomong ini sebanyak tiga ribu tujuh ratus kata loh, khusus untuk kalian semu... terimakasih banyak. 😘😘😘


Untuk yang telah berpartisipasi dalam give away terimakasih banyak. Ngomong ngomong ini terbitnya jam satu dini hari loh wkwkwk.

__ADS_1


__ADS_2