
Sudah seminggu lamanya Aliya dan kakek Rio di rawat di rumah sakit, Brayen sudah puluh, dan bisa bekerja sepenuhnya. Mereka berdua bertugas menjaga kakek Rio, sementara yang lainnya menjaga Aliya. Akibat penculikan tersebut Chandra dan Aliya kehilangan anak mereka. Juwita merasa harus sering sering memperhatikan kesehatan mental Aliya, maka dari itu, Juwita meluangkan waktu khusus untuk mengecek keadaan Aliya, dan menghiburnya agar tidak merasa setres.
Juwita baru saja duduk di sofa di ikuti Brayen yang baru saja membantu kakek Rio untuk makan makan bubur kacang hijau. Kakek Rio baru saja terlelap. Juwita tersenyum menggenggam tangan Brayen, Juwita merasa bersyukur kekasihnya itu membantunya dengan sangat tulus.
"Terimakasih," ujar Juwita menyandarkan kepalanya di dada bidang Brayen.
"Hm? Untuk apa?" Brayen mengusap lembut kepala Juwita.
"Karena telah menjaga kakek," ujar Juwita memeluk tubuh Brayen.
"Kan karena aku sudah menganggapnya kakek ku juga. Kau tahu bukan bahwa jika bukan kalian aku tak memiliki siapapun di dunia ini," ujar Brayen mengecup kepala Juwita.
Ponsel Juwita berbunyi, membuat Juwita segera membuka ponselnya, dan melihat penelfon. Brayen mengernyitkan keningnya bingung melihat Indri, sang asisten yang menelfon kekasihnya. "Angkat sayang, aku ingin dengar," ujar Brayen.
Juwita segera menekan tombol hijau, dan membesarkan suaranya. "Halo assalamualaikum nona Juwita," terdengar suara Indri menyapa Juwita dari ujung sana.
"Iya Indri bagaiman?" Juwita memandang ke arah Brayen yang sejak tadi memandang wajahnya dengan pandangan bingung dan curiga.
"Sudah saya kumpulkan semua non, sekarang saya kirimkan melalui email," ujar Indri sopan di ujung sana.
"Jadi kesimpulannya apa?" Juwita memandang ke arah ponselnya.
"Nyonya Weni memang benar melakukan perselingkuhan," ujar Indri membuat Juwita menghela nafasnya. "Ternyata laki laki itu adalah mantan nyonya Weni sebelum menikahi suaminya saat ini."
"Yang..." Brayen memeluk erat pinggang Juwita kala melihat gadis itu menutup matanya rapat rapat, terlihat jelas raut kekecewaan Juwita.
"Cari tentang Karin, cari tahu apakah dia anak dari papa Damar atau bukan," ujar Juwita memang sejak awal merasa curiga pasalnya adik tirinya tak ada miripnya sama sekali dengan tuan Damar dan nyonya Weni.
"Baik nona, assalamualaikum."
"Walaikum salam..." Juwita segera menenggelamkan wajahnya di dada bidang Brayen. Perasaan kecewa dan malu terhadap apa yang di lakukan ibunya membuat Juwita memilih menenggelamkan wajahnya di dada Brayen.
Brayen mengerti akan sikap yang di tunjukkan oleh Juwita, Brayen segera mengusap lembut punggung kekasihnya. Mengecup pipinya berkali kali agar segera tenang, dan berhenti menangis. "Sudah ayo jangan seperti ini," ujar Brayen mengecup seluruh wajah Juwita.
"Kau tidak malu bukan bersama dengan ku?" Juwita memandang wajah Brayen dengan sendu.
__ADS_1
"Sayaaaangg... dengar ya... kau saja menerima masa lalu ku, padahal itu murni perbuatan ku, kesalahan ku. Tapi kenapa kau harus malu dengan ku? Kenapa begitu? Padahal ini adalah perbuatan mama mu, tak ada sangkut pautnya dengan mu, itu di luar kendali mu," ujar Brayen menautkan kening mereka.
"Terimakasih..." ujar Juwita tersenyum, Juwita kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang Brayen. Cukup lama Juwita menenggelamkan wajahnya, kini gadis itu membuka email-nya, Juwita memberanikan diri untuk melihat wajah laki laki yang menjadi selingkuhan ibunya.
Alangkah terkejutnya Juwita ketika melihat wajah selingkuhan ibunya, wajahnya memiliki beberapa kemiripan dengan wajah Karin. Juwita semakin yakin akan kebenaran tersebut. Juwita memandang sendu ke arah Brayen, namun wajah Brayen masih terkejut.
"Yang selingkuhan mama mu itu sahabat papa mu yang, mereka terkenal bersahabat di dunia bisnis, mereka sangat kompak," ujar Brayen memandang wajah Juwita, dengan wajah terkejut.
"Yang dia punya istri, istrinya lumpuh setahun yang lalu, setelah kecelakaan, memiliki satu orang putra pewaris dari laki laki itu," ujar Brayen.
Juwita memandang Brayen, kali ini Juwita benar benar malu dengan tingkah ibunya, entah bagaimana ia bisa memberitahukan kepada ayah tirinya. "Ini papa harus tahu atau tidak?"
"Sayang, seburuk apapun kenyataan, papa mu harus mengetahuinya, setidaknya kamu mengurangi rasa bersalah mu kepada papa mu, terhadap kelakuan Tante Weni," Brayen mengusap lembut lengan Juwita.
"Apa dia akan menerimanya?" Juwita memandang ke arah Brayen, Juwita tak dapat membayangkan keterpurukan papanya, terlebih jika mengingat almarhum ayah nya, yang dulu di tinggalkan oleh nyonya Weni. "Aku takut papa akan sama seperti ayah."
"Sayang, cepat atau lambat papa mu harus mengetahui hal ini, pasalnya semakin lama ini tersimpan akan sangat menyakitkan," ujar Brayen menasehati Juwita. "Sayang kau harus tahu, semakin lama bangkai di tutupi maka akan semakin bau pula, sama halnya sebuah kebohongan, semakin lama di simpan akan semakin menyakitkan. Lebih baik mengetahuinya sekarang, sebelum semuanya terlambat."
Juwita mengangguk mulai menekan tanda kirim untuk tuan Damar, Juwita masih sedikit takut. Bayang bayang ayahnya yang dulu terpuruk membuatnya semakin kalut. "Sayang aku di sini, kita di sini untuk papa mu, buka kah kau seorang dokter jiwa? Kau tahukan bahwa ini tak baik untuk di simpan? Kita akan menguatkan papa mu bersama sama, jangan sampai seperti almarhum ayah mu."
"Hm... Terimakasih," Juwita hendak mengirimnya namun mengurungkan niatnya kembali. "Jangan sekarang, minta dia untuk kembali sekarang saja, aku tak ingin dia kembali dengan terburu buru."
Juwita pun mulai menelfon tuan Damar, tak butuh waktu lama tuan Damar mengangkatnya. "Halo assalamualaikum sayang, kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
"Walaikumsalam pah. Papa bisa kembali dalam waktu ini tidak?" Juwita sedikit berhati hati.
"Iya sayang nanti papa usahakan, kalau papa bisa pulang besok papa pulang, lagian adek adek kamu akan pulang dari luar negri juga," ujar tuan Damar dari ujung sana.
"Tapi pa, papa bisa jangan beritahu mama? Kita buat kejutan," ujar Juwita tak ingin rencananya di halangi oleh nyonya Weni. Juwita tanya betul watak mamanya. Nyonya Weni pasti akan mengentikan segala rencananya, pasalnya akan menggoyangkan posisinya sebagai nyonya besar tuan Damar, dan statusnya sebagai wanita kesayangan tuan Reymond akan terungkap.
Sementara anak kesayangannya, Karin? Tentu saja semua akan berpengaruh, karir yang Karin bangun akan hancur seketika. "Pah bisa kah ini hanya antara kita?"
"Tentu saja sayang, nanti papa ke sana kamu dan Brayen yang menjemput, biar tidak ada yang tahu," ujar tuan Damar di ujung sana.
"Iya pah, sampai jumpa. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Walaikumsalam."
Sambungan telepon terputus, Juwita hanya mengeratkan pelukannya ke arah Brayen, Brayen mengusap sayang punggung milik Juwita.
Sementara tanpa mereka sadari kakek Rio terbangun, dan mendengar semua perbincangan mereka. Diam diam kakek Rio bersyukur bahwa keluarganya lah yang membesarkan Juwita. Jika tidak, mungkin Juwita akan memiliki sifat dan watak yang sama dengan milik nyonya Weni. Namun kakek Rio juga bersyukur, bahwa Juwita mendapat pendamping sebaik Brayen, yang tampak amat sangat menyayanginya. Bahkan hingga Juwita terpuruk saat mengetahui kelakuan ibunya, Brayen lah yang memberi tempat sandaran untuknya.
Sungguh kakek Rio dapat melihat betapa Brayen sangat mencintai Juwita, laki laki itu memperlakukannya seolah ratu. Hal itu merupakan hal yang paling membahagiakan untuk kakek Rio.
.
.
.
Dua hari berlalu, sesuai janji tuan Damar kembali ke ibukota menemui Juwita secara diam diam, hanya dirinya dan beberapa anak buahnya yang mengetahuinya. Tuan Damar segera duduk di sofa milik Juwita, sembari menonton acara televisi secara acak. Tak lama kemudian kedua adik tiri Juwita datang. Arham dan Vania. Mereka berkenalan terlebih dahulu dengan Brayen. Mereka tidak sangat akrab, membuat tuan Damar tersenyum hangat, rasanya ia memiliki keluarga yang hangat. Tak ada emosi yang terselip di sana, bahkan kehadiran istrinya saja mungkin tak akan membuatnya sehangat itu.
"Pah... Sebenarnya Juwita ingin mengatakan sesuatu. Ini tentang mama," ujar Juwita dengan wajah yang sangat serius.
"Mama kamu kenapa?" tuan Damar tampak sangat penasaran.
"Iya kak mama kenapa? Ga kenapa napa kan?" Vania ikut menimpali. Arham mendekat ke arah Juwita penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh kakaknya.
"Ini," Juwita memberikan semua salinan bukti perselingkuhan nyonya Weni dalam bentuk kertas. "Mama selingkuh pah selama ini."
"Hah? Tidak mungkin," tuan Damar terlihat tak percaya.
"Iya pah, Ini berawal dari kemarin saat Wita melihat mama keluar dari hotel dengan laki laki, tapi itu bukan papa. Wita penasaran, jadi Wita menelfon keberadaan papa, ternyata papa di rumah, sedangkan mama sedang keluar dengan teman kata papa," ujar Juwita menarik nafasnya. Juwita bahkan mempersiapkan beberapa cctv hotel, cctv kafe dan beberapa foto dan video kemesraan tuan Reymond dan nyonya Weni saat ini, yang tengah berlibur di Bali.
Tuan Damar melihat semua bukti tersebut diam tak percaya, terlebih selingkuhan dari istirnya adalah sahabat baiknya sendiri. "Bagaimana mungkin?"
"Pah satu lagi, Karin ternyata bukan anak papa. Menurut analisis Wita Karin itu maka om Reymond, pasalnya om Reymond adalah mantan mama, sebelum akhirnya menikah dengan papa," ujar Juwita, memberikan tes-DNA mengenai Karin dan tuan Damar yang di lakukan secara diam diam.
Tuan Damar terdiam mendengar pengakuan tersebut, tuan Damar memang merasa tak menyentuh nyonya Weni sebelum menikah, tapi entah apa yang terjadi ketika dirinya mabuk, ternyata nyonya Weni tertidur di sampingnya dengan badan te*lan*jang.
Tuan Damar menutup matanya demi menyusun setiap kenangan tersebut, dan beberapa tingkah aneh tuan Reymond dan nyonya Weni. Setiap kepingan di kepalanya tersusun dan membuat dirinya paham dengan tingkah aneh keduanya.
__ADS_1
"Maaf pah, maafkan Wita," Juwita menunduk sedih, membuat Brayen segera mendekatinya, dan memeluknya erat. Brayen tak ingin Juwita merasa kembali bersalah.
"Tidak sayang, bukan kamu yang salah. Papah Haris berterimakasih untuk ini. Papa harap kalian tidak meniru perbuatan mama kalian, biarlah ia melakukan hal itu, kalian jangan," tuan Damar mencoba untuk terlihat tegar. Juwita tahu pasti itu sangat menyakitkan.