CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Makan malam


__ADS_3

Mereka berbincang bincang selagi menunggu makanan datang, Juwita melirik ke arah Karin yang terus memperbaiki posisi duduknya, berusaha menonjolkan dirinya, agar terlihat seksi di mata Brayen.


Aduh percuma saja kau melakukan hal itu, asal kau tahu dia masih berstatus pasien ku. Yang artinya dia masih sakit, alias belok. Juwita hendak tertawa geli melihat tingkah Karin, yang di matanya lebih seperti ulat bulu.


"Itu adik mu lagi apa? Aneh sekali. Bergerak gerak terus, mejanya jadi goyang terus ini," bisik Brayen merasa tidak nyaman.


"Biasalah lagi mencoba menarik perhatian mu," balas Juwita, membuat Brayen menggeleng pelan.


Karin yang merasa kesal melihat kebersamaan Brayen dan Juwita, pura pura berdiri dan dengan sengaja menyenggol air putih di atas mejanya, dan tepat mengenai baju Juwita.


"Eh kau tak apa kan?" Brayen dengan sigap segera mengambil tisu dan mencoba mengeringkannya.


"Eh, eh iya," ucap Juwita terkejut, dirinya tak menyangka kalau terjadi sesuatu yang diluar dugaan.


"Ayo ke toilet dulu," tawar Karin.


Juwita mengernyit dirinya sedikit curiga Karin merencanakan sesuatu. "Eh engga engga usah nanti juga," tolak Juwita.


Brayen yang mengerti keadaan Juwita segera melepas jasnya dan meletakkannya di atas paha Juwita. Karin kesal melihat hal itu, wanita itu mengeraskan rahangnya. Diam diam Brayen melirik Karin, Brayen tahu ini adalah unsur kesengajaan dari adik tiri Juwita.


"Ehem, kayaknya kamu sayang banget dengan Juwita, Brayen," nyonya Weni membuka suara, memecahkan kekacauan.

__ADS_1


"Iya Tan, dapatinnya sudah. Ya kan sayang?" Brayen mengecup pipi Juwita, Juwita hanya tersenyum ke arah Brayen, ini adalah kali kedua Brayen mengecup pipinya malam ini.


Untung sedang ada mereka, kalau tidak ku terbangkan kau ke luar angkasa. Juwita


"Dia gemesin banget sih Tan."


Tak lama kemudian makanan datang, membuat mereka segera menyantap makanan masing masing. Namun Brayen tidak makan, dirinya hanya memotong motong dagingnya.


"Nak Brayen kok cuman di potong potong?" Tuan Damar memandang heran ke arah Brayen.


"Tidak apa apa om," ucap Brayen segera menukar piringnya dengan piring Juwita. "Ini untuk Juwita om."


Bak seorang kekasih Brayen menukar steak yang telah di potong potong nya dengan milik Juwita, yang belum sempat gadis itu potong.


Nyonya Weni dan tuan Damar sangat senang, karena berfikir mampu mendapatkan kartu as dari Brayen, yang akan ia jadikan sebagai tameng. Lain halnya Karin yang merasa kepanasan sendiri melihat kemesraan buatan, Brayen dan Juwita.


Setelah selesai makan malam, mereka segera pamit, pulang ke rumah masing masing. Brayen segera mengambil alih kunci mobil Juwita, dan meminta Juwita untuk menunggunya sejenak, saat berbincang bincang dengan tuan Damar.


"Om kami pulang dulu ya," Brayen segera pamit mewakili Juwita yang tampaknya telah mengantuk. Brayen sengaja mengambil alih mobil Juwita, karena melihat gadis itu tampaknya telah mengantuk berat. Brayen tahu penyebabnya, pasalnya tadi Juwita tampaknya meminum obat secara diam diam, setelah mereka selesai makan malam.


"Oalah mampir ke rumah om dulu," tawar tuan Damar sembari tersenyum.

__ADS_1


"Tidak, terimakasih atas tawaran nya om. Tapi kayaknya Juwita udah ngantuk banget, dia pasti kecapean tadi, soalnya seharian tadi kami tidak istirahat," ucap Brayen ambigu, membuat tuan Damar, nyonya Weni, dan Karin salah faham. Sementara Juwita tampaknya tidak begitu peduli dengan ucapan Brayen, atau lebih tepatnya mungkin dirinya sudah kehilangan setengah kesadarannya.


"Ehem, kamu tidak bawa mobil?" Nyonya Weni berusaha mencairkan kecanggungan yang tiba tiba melanda mereka.


"Bawa, tapi melihat Juwita tampaknya sangat kelelahan, jadi saya akan membawa mobilnya, untuk mobil saya nanti biar asisten saya yang mengambilnya," Brayen tersenyum memegang pinggang Juwita, yang tadi hampir limbung. Brayen segera membawa kepala Juwita untuk bersandar di dadanya.


"Jadi kamu ngantar Juwita dulu?" Nyonya Weni tampaknya sangat penasaran.


"Engga Tan, biasanya kalau libur gini saya lebih sering nginap di rumahnya." Brayen mengusap lembut kepala Juwita, menarik sebuah kursi kosong meminta Juwita untuk segera duduk. "Duduk dulu sayang."


Brayen menuntun Juwita, sementara Juwita hanya menurut saja, Brayen segera menarik Juwita, agar bersandar di perutnya. Brayen curiga akan lama mereka mengobrol nya, tampaknya mereka masih ingin mengintrogasi Brayen.


"Ka, ka, kalian ngapain?" Karin tampak sangat terkejut, sungguh semua di luar ekspektasi nya.


"Cuman tidur aja, ga lebih kok. Cuman saling menghangatkan dan melepas penat aja kok," ucapan Brayen seolah memanas manasi Karin. "Lagian saya tidak akan melakukan apapun, jika kami belum menikah, saya mencintai Juwita, dan saya menghormatinya, dan akan menjaganya."


Brayen berkata seolah sangat yakin dengan kata katanya. Mengisyaratkan bahwa dirinya adalah laki laki sejati. Padahal bahkan terpikir untuk jatuh cinta saja belum.


"Tante bangga dengan sikap kamu, Tante harap kamu tidak kebablasan," Nyonya Weni mencoba untuk bersikap bijaksana, dirinya ingin terlihat berwibawa di depan calon menantu palsunya.


"Ah ya Tan, kalau begitu saya permisi dulu ya," Brayen segera menggendong Juwita, menuju ke dalam mobil Juwita.

__ADS_1


"Karin, seharusnya kamu mencari pasangan seperti Juwita, lihat pacarnya sudah kaya raya, lembut, perhatian. Nah kamu? Siapa tau Edi? Laki laki yang tak sepadan dengan kita, dan hanya memanfaatkan mu."


Volt guys biar semangat updetnya, jangan lupa like komentar dan favorit ya.


__ADS_2