
Selasa, hari ketiga.
Para turis turun dari kabin kereta masing masing, mengikuti pemandu, untuk melihat sekitaran kota biru. Mereka di pandu untuk menaiki benteng Mehrangarh Fort.
Mehrangarh fort merupakan salah satu benteng paling besar di India. Dengan berjalan kaki para turis menikmati setiap sisi keindahan kota itu, melihat aktifitas warga, bahkan berinteraksi dengan warga. Para turis tampak sangat antusias, di tambah dengan cahaya matahari yang tampak akan tenggelam di ufuk barat, semakin cantik lah pemandangan kota tersebut.
"Apa kau lelah?" brayen Memandang sejenak ke arah Juwita, kemudian kembali memandang ke arah pemandangan, Juwita menggeleng tersenyum ke arah Brayen.
"Tentu saja tidak, ini sangat indah untuk ku. Bahkan aku fikir tidak akan seindah ini," Juwita terus memperhatikan sekitar.
"Rasanya aku ingin mencium mu di sini," tutur Brayen segera melingkarkan tangannya di pundak Juwita.
"Hust, kita tidak bisa bahasa masyarakat setempat, jangan sampai kehilangan rombongan," pukas Juwita membuat Brayen terkekeh.
__ADS_1
Mereka terus berjalan menapaki setiap jalan, menuju Mehrangar Fort yang semakin menjulang ke atas. Seperti benteng-benteng kebanyakan yang terletak di atas bukit, jalan menuju Mehrangarh Fort juga menanjak. Semakin tampaklah rumah para penduduk dari atas, dan para turis semakin mengerti kenapa kota ini di juluki dengan kota biru.
Ini seperti berolah raga di sore hari, setelah seharian tadi hanya berada di dalam kabin, untuk menikmati perjalanan panjang mereka. Butuh tenaga yang banyak dan waktu yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di puncak benteng, Juwita tersenyum memandang pemandangan kota.
Brayen dan Juwita terhipnotis, kala melihat indahnya panorama alam, perbaruan warna jingga langit, sangat terlihat sempurna terpadu dengan kota yang berwarna biru.
Rumah warga lebih banyak di cet dengan warna biru, sehingga jika terlihat dari atas benteng, biru mendominasi kota tersebut. Di tambah dengan panorama alam yang indah semakin membuat para turis berdecak kagum. Brayen dan Juwita mengambil beberapa pose di sana, mengabadikan momen-momen ketika mereka berada di tempat tersebut.
"Aku rasa kita harus lebih banyak melakukan perjalanan, ini akan sangat bagus, pasalnya kita dapat melihat setiap keindahan dunia," Entah sudah yang keberapa kalinya Brayen mengecup pelipis Juwita. Juwita hanya tersenyum mengangguki nya.
Museum Mehrangarh menampilkan peninggalan-peninggalan barang berharga milik para bangsawan pada zamannya, seperti rengga gajah, tandu, peti harta karun, dan lukisan. Kuil Chamunda Mataji adalah tempat ibadah yang terletak di salah satu ujung benteng. Saya memutuskan untuk tidak masuk ke dalam kuil setelah melihat antrian pengunjung lain yang hendak beribadah. Kuil Chamunda Mataji ramai dikunjungi ribuan orang pada Festival Dussehra atau Hari Durga Puja.
Jika melihat sesuatu yang indah, waktu memang berjalan dengan cepat, atau kita yang melupakan berjalannya waktu. Kini mereka harus berpuas diri dengan melanjutkan perjalanan menuju tempat destinasi selanjutnya. Meskipun banyak turis yang ingin melihat matahari tenggelam dari benteng tersebut, namun mereka harus menelan pil pahit, kala mereka harus melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Mereka berjalan kaki kembali menuju old clock tower market. Menara Jam, atau Clock Tower, adalah bangunan terkenal yang dikelilingi hiruk pikuk Pasar Sardar dan pemandangan yang ditandai dengan tiga gerbang di sisi utara dan selatan.
Akhirnya mereka tiba dengan lelah di antara padatnya hiruk pikuk pasar, membuat para turis terkesima, merasa berbaur dengan masyarakat setempat.
Menara ini dibangun oleh Maharaja Sardar Singh selama masa pemerintahannya di tahun 1880-1911. Para turis kemudian di persilahkan untuk mengunjungi tujuh ribu kios yang ada di tempat tersebut, mencari cendra mata sebagai oleh oleh. Juwita dan Brayen tentu saja bersemangat, mereks segera melakukan shoping ria, membuat Brayen tersenyum ketiak melihat Juwita sangat antusias.
Mereka kembali ke kerumunan setelah melakukan aktifitas berbelanja dengan sangat riang gembira. Tampaknya matahari kini telah tenggelam, hanya sedikit menyusahkan warna jingga di langit Jodhpur. Lampu lampu temaram kini mulai di hidupkan. Pemandu wisata segera mengajak para turis untuk makan malam di tempat yang telah di tentukan.
Setelah selesai, pada pemandu wisata akhirnya kembali ke kabin, dan wisatawan kembali ke kabin masing masing.
Brayen menunggui Juwita untuk membersihkan pakaiannya, Juwita baru selesai mengenakan pakaian lengkap dan segera keluar dari tempatnya, sementara Brayen segera masuk ke kamar mandi. Namun sebelum Brayen masuk, Brayen harus di buat cemberut dengan kata kata Juwita.
"Ingat tidurlah di tempat tidur mu, jangan di tempat ku," ujar Juwita berlalu. Brayen menggigit bibirnya kemudian dengan lesu berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Juwita merebahkan tubuhnya menghadap jendela, dan segera menutup matanya. Hanya butuh beberapa menit akhirnya Juwita terlelap. Brayen yang baru saja keluar dari kamar mandi tersenyum. Brayen mendekat ke arah Juwita mengibaskan tangannya berkali kali di depan wajah Juwita. Namu gadis itu tampak tak bergeming, menandakan gadis itu telah tertidur lelap.
Brayen segera mendekat ke arah Juwita dan mulai merebahkan tubuhnya di samping Juwita, Brayen memeluk tubuh Juwita, dan ikut terlelap.