
Siang ini Juwita telah bersiap siap untuk pergi ke kantor Brayen, seperti biasa Juwita membawakan makanan untuk kekasihnya. Juwita telah memesan taksi untuk mengantarkan nya ke kantor Brayen. Juwita segera masuk ke dalam taksi, ketika taksi itu datang.
Juwita segera turun dari taksi tersebut, setelah membayarnya. Karena sudah mengetahui ruangan Brayen, Juwita merasa tidak perlu izin kepada resepsionis. Juwita segera memasuki lift, dan menekan tombol lantai yang di tempati oleh Brayen.
Ting.
pintu lift terbuka, Juwita segera berjalan menuju ruangan Brayen. Namun sebuah telfon mengejutkannya. Juwita menerima telfon tersebut, seiring dengan Indri membukakan pintu ruangan Brayen untuk Juwita.
Sekertaris Brayen, Indri pun terkejut melihat posisi tuannya yang bisa di bilang intim dengan adik tiri Juwita, Karin. Juwita menjatuhkan tempat makanannya, Juwita segera berlari dengan tergesa gesa ke lantai bawah. Brayen yang mendengar bunyi nyaring, segera mendorong dengan kasar tubuh Karin.
"Aku benar benar akan mengatakan nya kepada ayah mu, aku tak perduli bagaiman ia akan menghukum mu. Dan aku pastikan perusahaan mu tak akan bisa bekerja sama dengan siapapun, selama kau yang memimpin perusahaan tersebut," ucap Brayen menjambak rambut Karin.
Karin meringis membuat Indri mengerti bahwa ada kesalah pahaman di sini, namun yang jadi masalah adalah Juwita yang melihat mereka.
"Tuan, tuan! Tolong hentikan ada sesuatu yang harus tuan ketahui," Indri menarik nafasnya dalam dalam bersiap untuk menerima teriakan dari tuannya. "Tadi nona Juwita melihat anda dengan ..." Indri tak meneruskan ucapannya, namun hanya memberi lirikan ke arah Karin.
"Seret dia keluar, dan jangan pernah membiarkan nya masuk ke kantor ku lain kali. Kantor ini terlarang untuknya, dalam keadaan apapu," Brayen segera berlari keluar ruangan, namun langkahnya terhenti ketika melihat tempat makan Juwita berserakan di lantai. Brayen menutup matanya. "Wit."
Brayen berlari ke lantai bawah mencari Juwita, namun tak kunjung menemukannya. Brayen semakin frustasi. Brayen menggigit bibirnya mencoba menelfon Juwita, namun tak di angkat juga. Brayen semakin gelisah, namun hatinya kembali gusar ketika melihat Karin yang tengah di seret oleh beberapa satpam.
"Campakkan wanita murahan itu secara tidak terhormat di depan, berani sekali dia memegang ku, hingga membuat Juwita salah paham," hardik Brayen membuat Karin semakin kehilangan wajah di hadapan semua karyawan Brayen.
Brayen kembali menelfon Juwita, namun tampaknya sangat sibuk, tanpa pikir panjang Brayen segera berlari kembali ke ruangannya, demi mengambil kunci dan tas kerjanya.
Brayen kembali ke lantai bawah, dengan wajah panik. Brayen segera menuju ke parkiran mobilnya, namun di cegat oleh anak buahnya. "Biar saya saja bos."
Brayen hanya mengangguk masuk ke dalam kursi penumpang. Lama Brayen menelfon Juwita namun sekarang justru sibuk. "Kemana bos?"
"Rumah Juwita, sekarang dan cepat," perintah Brayen semakin gelisah. Takut Juwita akan meninggalkan nya. "Cepat!"
Mobil melaju dengan kencang, hingga sampai di rumah Juwita, hanya butuh lima belas menit. Brayen membuka kunci rumah Juwita, namun tampak ya Juwita tak ada di rumah. Brayen Kembali ke dalam mobil, Brayen memutar otak ke mana Juwita pergi, Brayen terpikir kakek Rio. Brayen segera ke kantor kakek Rio untuk menanyakan tentang keberadaan Juwita.
"Kemana bos?"
__ADS_1
"Ke Winata group sekarang!"
Mobil melaju kencang hingga ke Winata group, namun saat kan menemui kakek Rio, ternyata kakek Rio tengah mengadakan rapat penting dan itu membuatnya harus menunggu.
Tak lama kemudian kakek Rio keluar, membuat Brayen berdiri menghampiri kakek Rio. Semua orang tercengang melihat seorang Brayen datang menghampiri kakek Rio, terlebih saat ini menyalimi kakek Rio.
"Loh tumben, biasanya ke rumah Bray, ada apa? Kamu ada masalah sama Juwita," tepat sasaran, kakek Rio bertanya tepat sasaran, membuat Brayen menganggukkan kepalanya. "Ada apa? Kalian bertengkar?"
"Tidak kek, Juwita salah faham tadi, dan Brayen sudah mencarinya di rumah, tapi tidak ada," ujar Brayen panik.
"Salah faham kenapa? Awas saja kau menyakiti cucuku," ujar kakek Rio dengan tatapan tajam ke arah Brayen.
"Tidak kek jadi ..."
Flashback.
Brayen saat ini tengah menunggui Karin, yang katanya akan segera memasuki ruangannya. Awalnya Brayen sedikit ragu, mengingat bagaimana kelakuan Karin dahulu, namun tuan Damar meyakinkannya, bahwa Karin tak akan berbuat macam macam. Jika Karin berbuat macam macam maka tuan Damar sendiri yang akan memberikannya hukuman, jadi pada akhirnya Brayen menyetujuinya.
Awalanya semua berjalan dengan baik, hingga akhirnya Brayen tiba tiba hendak membuang hajatnya, Brayen segera bergegas ke kamar mandi, dengan meminta Karin untuk menunggunya di sofa. Namun saat Brayen keluar, tiba tiba Karin mengalungkan tangannya ke leher Brayen membuat Brayen sangat terkejut dan juga murka di saat yang bersamaan.
"Jadi Juwita melihatnya dan salah faham?" Kakek Rio memicingkan matanya.
"Iya jika kakek tak percaya, saya ada rekaman cctv nya kek," ujar Brayen segera menyodorkan ponselnya.
"Tidak, tidak perlu. Ck, anak itu, masih saja bertingkah," kesal kakek Rio. "Ya sudah kakek telfon Juwita dulu ya."
Lama kakek Rio menelfon Juwita, namun tak kunjung di angkat, membuat kakek Rio menghela nafas. "Tak di angkat Brayen."
"Ya sudah, nanti kalau ada kabar tolong sampaikan kepada saya ya kek," ujar Brayen segera menyalami tangan kakek Rio. "Oh ya kek tolong kirimkan nomor temannya yang satunya."
"Ya sudah, hati hati sana," ujar kakek Rio, segera mengirim nomor Angel ke pada Brayen.
Brayen tiba di dalam mobil, membuat anak buahnya segera menghidupkan mobilnya. "Kemana bos?"
__ADS_1
"Kemana saja, yang penting keliling dulu," ujar Brayen gelisah.
Brayan menelfon Angel hendak menanyakan keberadaan Juwita. Lama nomornya berdering, hingga akhirnya Angel mengangkatnya.
"Halo."
"Halo Angel ya? Ini saya Brayen, pacar Juwita," ujar Brayen dengan nafas berat.
"Ya kak, kenapa?"
"Juwita ada sama kamu?" tanya Brayen lugas.
"Hah? Tidak kak, Angel sedang di kampus, coba kakak cari di rumah sakit."
Brayen menepuk jidatnya, kenapa tidak terpikir rumah sakit, bahkan berkeliling hingga beberapa kali. Dan menghabiskan banyak waktu. "Iya terimakasih Ngel," ujar Brayen. "Ke rumah sakit tempat Juwita bekerja."
Seketika mobil di bawa ke rumah sakit. Saat mencapai rumah sakit, Brayen segera berlari menyusuri lorong, menuju ruangan Juwita, semua tampak sepi, tampak tak ada pasien. Brayen mencari suster yang biasa menemani Juwita. Akhirnya di lorong ketiga yang Brayen susuri, suster tersebut tampak, tengah tersenyum dengan teman temannya.
"Siang suster," ucap Brayen, mencoba untuk tenang.
"Iya, eh pacarnya dokter Juwita?" Suster tersebut mengenali Brayen.
"Iya, Juwita masuk? Kok ruangannya tampak sepi?" Brayen mencoba tersenyum santai.
"Ah pasti dokter Juwita lupa memberi tahu mu, bahwa mulai hari ini dokter Juwita sudah mendapat cuti akhir tahun."
Seketika tubuh Brayen seperti hendak limbung mendengarkannya, ia segera pamit, berjalan tergesa gesa ke arah mobil. Brayen memegangi jantungnya yang serasa ingin lepas dari tempatnya. "Wit, Wit, Wit. Kenapa tidak mendengar penjelasan ku dulu sayang," Brayen menutup mata nya erat. "Ke rumah sekarang, aku yakin pasti dia belum juga pergi."
Saat sampai di rumah Brayen, Brayen melihat koper Juwita tergelak di samping lemari, Brayen segera membongkar isi koper Brayen, demi mengetahui ke mana Juwita akan berangkat. Namun tak juga menemukannya. Brayen akhirnya memilih untuk merebahkan badannya di tempat tidur, menunggu kepulangan Juwita.
Malam tiba, ternyata Brayen tertidur, dan mendapati suasana masih sangat gelap, Brayen segera menelfon Juwita, namun ternyata ponselnya tidak aktif, Brayen. semakin panik dan mencari Juwita di setiap ruangan. Brayen tak menemukannya.
Brayen kembali menelfon Angel dan kakek Rio, namun ternyata mereka pun belum mengetahui keberadaan Juwita. Karena terlalu panik, Brayen dengan tidak sabaran menelfon sepasang kekasih yang tengah berbulan madu. Brayen mengepalkan tinjunya, sembari mengigit bibirnya, bolak balik seperti sebuah setrika panas. Namun nihil, bahkan pasangan yang tengah berbulan madu tersebut tidak mengangkat telfonnya.
__ADS_1
Brayen segera menelfon tuan Damar, dan memintanya untuk bertemu besok siang. Brayen kembali merebahkan badannya, Brayen yakin Juwita pasti akan pulang, karena belum membawa kopernya.