
"Kalau begitu kau menganggap ku teman?" Juwita memandang lurus ke langit langit kamarnya, dengan chant putih gading.
"Hm, aku rasa lebih dari teman," Brayen segera mengambil jari jemari Juwita kemudian menautkan jari jemari mereka. Brayen sesekali menggigit jari jari Juwita, dengan gemas.
^^^Entah lah wit, saat kah bersama ku, dan saat kau ada di dekat ku, yang kurasa bukan pertemanan, namun melebihi itu. Aku gak tahu apa, dan aku tak berani berspekulasi.^^^
"Seperti bersahabat?" Juwita kembali menanyakan tentang posisi mereka.
^^^Yah tentu saja, hanya seperti itu, hanya itu yang bisa kau janjikan bukan?^^^
Juwita merasa kembali selangkah mendekati bara api, Juwita menutup matanya rapat, mencoba pasrah, dan ikhlas dengan seluruh jawaban Brayen. Juwita takut akan luka tersebut, namun juga tak ingin did kukung oleh rasa penasarannya.
"Entah lah aku belum pernah punya," jujur Brayen, Brayen memang tidak pernah memiliki seorang sahabat selama ini. Terakhir kali Chandra adalah yang terdekat, namun kini ia bingung harus meletakkan Chandra di posisi yang mana.
^^^Kau lebih dari itu Wit, Kau seolah menjadi segalanya bagi ku.^^^
Brayen memeluk tubuh Juwita, mengecup rambut Juwita hingga beberapa kali, rasanya ia ingin berlama lama di samping Juwita.
"Kalau begitu mari bersahabat untuk ke depannya," ujar Juwita dengan segala gelombang kekecewaan yang menghempaskan air ke arah batu karang dengan kencang.
^^^Ya kita hanya cocok bersahabat saja, namun aku yang salah, yang menambah rasa di pertemanan kita.^^^
Ini lah sulitnya jika memiliki rasa yang terpendam, di dalam hubungan persahabatan dan pertemanan, sulit untuk mengungkap kan, namun rasanya gatal ingin mengungkapkannya.
"Hm," Brayen kembali hendak mengecup bi bir Juwita. Namun tida tiba ponselnya berbunyi. "Halo..."
"Tuan pesawat nya akan segera berangkat setengah jam lagi, mohon segera ke bandara," kata yang di ujung sebrang sana.
"Ck... mengganggu," Brayen berdecak kanbali mengecup rambut Juwita. "Aku akan sangat merindukan mu, hati hati di sini, jangan terlalu memikirkan banyak hal."
Juwita mengangguk, Bryan segera menyambar jasnya, berjalan keluar meninggalkan Juwita. Sementara Juwita segera membalikan tubuh nya. Setelah Brayen keluar dari kamar.
^^^Sebenarnya apa aku ini untuk mu Brayen? Kau pikir ada seorang teman yang ber*ciu*man? Kenapa kau memperlakukan ku selayaknya kekasih namun menganggap hubungan kita seperti hanya pertemanan? Apa yang harus aku lakukan? Apakah ini semua hanya sebatas pertemanan kita? Kalau begitu aku harap perasaan ku akan hilang setelah kepergian mu.^^^
Juwita menetes kan air matanya, meratapi nasib percintaan nya. Entah kenapa nasib percintaan Juwita selalu kandas sebelum di mulai.
^^^Kenapa cinta sesakit ini? Jika aku tahu sebelumnya, maka akan akan pergi? Aku pikir dengan mu tidak akan sesakit ini Brayen, tali ini lebih sakit.^^^
Juwita mulai terisak.
^^^Kenapa aku berfikir kau ada pembalut luka ku, kala kekecewaan ku kepada ibuku. Namun ternyata kau juga adalah luka yang seharusnya tak ku dekati sejak awal.^^^
"Akhiri saja semua, akhiri perasaan ku,"
Cklek. Pintu kembali terbuka, membuat Juwita buru buru menyeka air matanya. Menyebabkan tangannya sedikit perih.
__ADS_1
"Ada apa?" Juwita mencoba bertanya dengan tenang.
"Ada yang tertinggal," ucap Brayen segera mendekat.
Brayen tersenyum melihat sedikit sisa air mata Juwita. Brayen juga tak ingin meninggalkan Juwita, jika saja ia bisa. Namun pekerjaan berkata lain, dirinya harus pergi ke sebrang pulau untuk melihat masalah anak cabangnya.
"Jangan menangis, aku akan bekerja keras agar cepat selesai, jika sudah aku akan segera pulang, dan menjaga mu," ujar Brayen.
^^^Wit seandainya bisa aku akan membawamu ikut, tapi tak mungkin karena kau baru saja mengalami kecelakaan.^^^
"Si... Siapa juga yang menangis. Tadi, hm... Ah Tadi aku hanya sedikit kelilipan," ujar Juwita sedikit gugup.
"Baiklah, mata ini jangan sering sering kelilipan ya kalau aku jauh di sana. Brayen mengecup kedua mata Juwita. Oh ya jangan bingung kalau kau susah menghubungi ku, di sana aku akan sangat sibuk karena harus cepat, aku akan mengabari mu jika ada waktu senggang,"
"Barang mu mana? Katanya ada yang tertinggal,"
"Ah oh ya aku jadi melupakannya,"
Brayen kembali dan mengecup bibir Juwita dengan sedikit ******* di sana.
"Aku pasti akan sangat merindukan mu," Brayen
^^^Aduh bagaimana ini? Aku bisa bisa tidak akan pernah melupakan nya jika begini,"^^^
Sementara Brayen baru saja sampai di bandara, tanpa sengaja melihat Chandra keluar dari pintu keluar bandara, Brayen berjalan mendekati Chandra.
"Kau sedang apa?" Brayen menepuk pundak Chandra, sehingga membuat Chandra terkejut.
"Aku baru saja mengantar klien ku," ujar Chandra tersenyum.
^^^Bagaimana aku mengatakannya? Ah si al kenapa ini sangat sulit sih?^^^
"Oh," hanya itu yang mampu Brayen keluarkan.
Tapi Chandra dapat melihat keraguan di wajah Brayen. Tampak seperti ingin menyampaikan sesuatu namun hatinya ragu. "Ada apa?"
"Entah lah, aku hanya sedikit merasa resah," ujar Brayen, sedikit berhati hati.
"Atas dasar apa?" Chandra bertanya dengan wajah penasaran.
"Entah, rasanya berat meninggalkan Jakarta kali ini," Aku berat ingin meninggalkan Juwita di sini. "Entah, rasanya aku ingin membawanya ikut serta," Brayen mendesah hingga beberapa kali.
"Aku rasa kau mulai menyukainya," ujar Chandra.
"Entah lah," Brayen tampak sangat ragu.
__ADS_1
"Kau harus tanyakan pada hatimu, atau kau harus berjauhan dulu baru menyadari perasaan mu, renungkan selama di sana," ujar Chandra menasehati Brayen.
Brayen hanya mengangguk mengerti maksud Chandra, namun hatinya tetap gundah, dan resah.
"Tuan anda di sini? Kita harus ke berangkat sekarang," ujar Indri asisten Brayen.
"Hm, Chandra titip Juwita ya," ucap Brayen, membuat Chandra mengangguk.
Brayen segera cek in, dan segera masuk ke dalam pesawat, Brayen segera duduk di tempatnya, dan merebahkan kepalanya. Brayen menggeleng ketika mengingat wajah Juwita.
^^^Wit perasaan apa yang ku miliki padamu? Apa itu rasa yang lain? Aku tak bisa jauh begini, bahkan baru sebentar saja aku sangat merindukan mu.^^^
Brayen memejamkan matanya, ingatannya kembali melayang kepada di mana ia mengecup bi bir Juwita, mengingat bagaimana ia menggigit hidung Juwita, bagaiman ia mencium mata Juwita. Juwita itu adalah fatamorgana yang nyata untuknya.
Brayen membuka ponselnya, dan memandangi wajah Juwita yang tengah tertidur. di dalam dekapannya. Brayen tersenyum mengusapnya hingga beberapa kali.
^^^Juwita aku belum yakin dengan perasaan ku, namun aku juga takut kau tak menerima ku, karena tak pantas untuk mu, yang terlalu sempurna untukku.^^^
Tiba tiba Brayen di serang rasa tidak percaya diri. Brayen memejamkan matanya, merasa bahwa dunia tidak adil untuknya.
^^^Ya Tuhan... Tapi aku tidak tahu Tuhan yang mana, jika saja aku memang cinta dengan Juwita, buat aku pantas untuk nya, buat aku memiliki percaya diri yang tinggi.^^^
Hingga sore menjelang Juwita masi tertidur di dalam kamar, Kakek Rio berjalan ke arah kamar tamu, kakek Rio hendak melihat keadaan cucu angkat nya. Kakek Rio membawa satu nampan makanan, berisi lauk pauk, dan nasi untuk Juwita.
"Juwita ayo bangun, kata maid kamu tadi tidak makan siang," ujar kakek Rio dengan lembut, kakek Rio nyeri sendiri melihat perban di setiap tangan Juwita.
"Hm, iya kek," ujar Juwita sedikit menggeliat.
"Tadi saat sampai di Kalimantan, Brayen menelfon kakek dia bilang ponsel kamu tidak bisa di hubungi," perkataan kakek Rio mengejutkan Juwita.
"Oh masih mati kek," ujar Juwita mencoba untuk terlihat biasa saja.
"Ya sudah makan dulu, minum obat, baru kabari Brayen." ucap kakek Rio, segera keluar dari kamar Juwita.
"Iya kek," ujar juwit.
Juwita segera menyantap makanannya, dan meminum obatnya. Setelah itu ia membuka ponselnya dan melihat beberapa pesan Brayen yang telah Brayen kirim.
...Wit ini aku sudah di Kalimantan, tadi aku telfon kamu ga aktif, masih mati mungkin ponsel kamu...
...Wit ini aku sudah sampai di penginapan, bagus banget tempatnya, nanti kalau kamu cuti kita kesini deh....
...Wit masih belum aktif ya, ya sudah kamu istirahat dulu, nanti malam mungkin aku akan sibuk, jadi mungkin tidak akan bisa menghubungi kamu....
......Wit ini aku sedang mencoba menyelesaikan secepat yang aku biasa, tadi Chandra mengatakan pernikahan mereka akan lebih cepat dari rencana, jadi aku akan sedikit kesulitan menghubungi kamu.......
__ADS_1