
Pagi harinya, Brayen terbangun dan menemukan dirinya masih saja sendiri. Brayen semakin panik dan kesal kepada diri sendiri. Sebenarnya Brayen lebih kepada mengkhawatirkan Juwita, entah kemana gadis tersebut, Brayen segera menyegarkan dirinya. Bayang Juwita kembali hadir di kala Brayen mengedarkan pandangan matanya di kamar yang biasa mereka tiduri.
"Juwita sayang, awas saja jika ketemu, aku benar benar akan mengurung mu dan memeluk mu sampai aku puas," gumam Brayen, menggeram, Brayen pagi ini harus kembali ke kantor, demi menandatangi beberapa berkas, setelah itu, kembali mencari Juwita, dan menemui tuan Damar.
Brayen saat ini memasuki restoran yang telah di pesannya. Brayen melihat tuan Damar telah duduk sembari memainkan ponselnya.
"Selamat siang om," sapa Brayen segera duduk.
"Siang Brayen, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Brayen menggeleng, tampaknya Karin takut membicarakan kejadian kemarin di kantor nya.
"Om berjanji bukan untuk menjaga Karin, agar tidak berbuat macam macam kepada saya?" tuan Damar mengangguk membenarkan. "Lalu begitu, kenapa kemarin Karin datang, dan membuat masalah, sehingga Juwita salah faham terhadap saya?"
Tuan Damar terkejut mendengar putrinya kembali membuat masalah, tampak jelas kemarahan di wajah tuan Damar. "Mohon maaf kan saya, saya akan mendisiplinkan Karin. Lalu bagaiman dengan Juwita?"
"Sampai saat ini saya tidak dapat bertemu dengannya, sepertinya dia akan ke suatu tempat, namun tak akan memberitahu kan kepada saya," ujar Brayen menarik nafasnya dalam, tampak seorang pelayan meletakkan pesanan mereka di atas meja, sembari makan siang, karena sejak pagi Brayen tak makan apapun.
"Bisa tolong om? Tolong sampaikan kepada Juwita permintaan maafan dari om?" Tuan Damar membuat Brayen memandang ke arahnya. "Sebenarnya kemarin saat Weni masih menjadi pacar ku, aku tak pernah tahu bahwa dirinya telah menikah, dan memiliki anak."
Brayen terperanjat mendengar pernyataan tersebut, sungguh dirinya terkejut bahwa nyonya Weni sungguh sangat hebat.
"Aku akhirnya menikahinya, karena dia hamil. Weni mengatakan bahwa itu anak ku, dan akhirnya kami menikah."
"Hingga suatu hari, seorang anak kecil datang saat kami telah usai merayakan ulangtahun Karin yang kedua tahun, dan bersiap untuk pulang. Anak itu mengaku anak dari Weni."
"Saat aku bertanya, Weni bilang tak mengenalinya, dan melemparkan uang kepada anak itu, dan segera memintaku untuk melajukan mobil. Awalnya aku bingung, kenapa anak itu mengejar mobil kami, hingga Weni meminta ku untuk mempercepat laju kendaraan."
"Memangnya om tidak tanya kepada keluarganya?" Brayen menyela cerita tuan Damar. Tuan Damar menggeleng, sebagai jawaban dari pertanyaan Brayen.
"Mereka bilang Juwita masih lajang, dan belum pernah menikah."
__ADS_1
"Kau tahu gadis kecil itu siapa?"
"Juwita?" Brayen mencoba menebaknya.
"Benar sekali, semenjak saat itu aku merasa bersalah kepada anak itu, namun Weni terus meyakinkan ku," tuan Damar menerawang jauh, mengingat semua masa lalu.
"Lalu kenapa om ingin menjodohkannya?" Brayen penasaran, mengentikan makannya.
"Itu bukan rencana ku, namun keinginan Weni. Sebenarnya aku lebih memilih Karin, namun Weni menginginkan Juwita," ujar tuan Damar tersenyum miris.
Brayen menarik nafasnya dalam dalam, tak menyangka, bahwa cerita Juwita akan semiris ini. Padahal biasanya dia terlihat sangat tegar.
"Aku selalu mencoba mengawasi Juwita secara diam diam, mencoba membantu jika ada kesulitan. Aku mencoba membantu Juwita untuk masuk ke dalam universitas yang ia inginkan, karena kebetulan aku mengenal pemiliknya. Aku juga membantu Juwita masuk ke rumah sakit tersebut, karena juga mengenal pemiliknya."
Brayen menatap nanar tuan Damar, ternyata laki laki itu tak seburuk yang ia pikir kan, bahkan Brayen berpikir bahwa tuan Damar juga merupakan korban. Yang lebih mengejutkan adalah, Brayen tak melihat kebohongan di mata tuan Damar.
Brayen bahkan kehilangan seleranya, kini memanggil pelayan. Brayen segera membayar makan siang mereka, yang bahkan sebagian tak tersentuh. Brayen segera meminta anak buahnya untuk kembali ke kantor. Namun belum sempat anak buah Brayen menyalakan mesinnya. Ponsel Brayen berbunyi.
"Halo Indri," ujar Brayen bingung.
"Tuan tadi nona Juwita datang dan menunggu sebentar, namun sekarang pergi lagi," ujar Indri.
"Kenapa tidak memberi tahu ku?" Brayen terdengar sangat emosi.
"Tadi saya mencoba memanggil tuan berkali kali namun tak juga tuan angkat," ucap Indri gugup.
Brayen mematikan sambungan telepon nya, dan benar saja panggilan tak terjawab sangat banyak dari Indri. Brayen kembali merutuki kebodohannya. "Ke rumah sekarang."
Mereka telah sampai di rumah Juwita, Brayen memeriksa kamar Juwita, namun ternyata koper Juwita telah tiada.
__ADS_1
Brayen kembali menelfon kakek Rio, dan kakek Rio mengatakan bahwa Juwita menelfon nya dengan nomor baru, kakek Rio pikir Juwita menghubungi Brayen juga.
Brayen kembali menelfon Angel, Angel juga mengatakan hal yang sama. Tak ada petunjuk sama sekali, Brayen kemudian terfikir Aliya.
Lama Brayen menelfon Aliya, namun tak di angkat juga, namun tak lama kemudian Aliya mengangkatnya.
"Halo," Aliya terdengar tenang di ujung sana.
"Hm... Al aku boleh bertanya tidak?" Brayen sedikit ragu untuk bertanya.
"Kenapa? Tanya aja, ga apa apa kok," jawab Aliya santai.
"Hm, makasih ya," kata Brayen masih diliputi rasa sedikit bimbang.
"Iya jadi lo mau nanya apa?"
"Hm, kau tau tidak Juwita ada di mana?" Brayen mengeluarkan nafas beratnya. Lama Brayen tak mendengar suara Aliya, membuatnya sedikit bingung, mungkin di tempatnya saat ini sudah malam, dan waktunya beristirahat. "Al kau masih di sana ya? Apa aku menganggu ya?"
"Aaa, iya gue denger kok. Tadi lo nanya si Juwita kan? Gue ga tau Bray, kemarin sih terakhir dia wa sama gue, terus dia bilang mau liburan sebentar, gue ga nanya sama dia mau kemana, terus tadi pagi gue hubungin rupanya nomor nya udah ga aktif," jelas Aliya kepada Brayen, memang begitu lah adanya. Kemarin memang mereka masih bersuah di group, hingga akhirnya Juwita mengatakan bahwa dirinya hendak liburan, dan membuat Aliya dan juga Angel saling meminta untuk di belikan oleh oleh.
"Oh, dia tidak bilang ke mana gitu?" Brayen tampaknya sangat lesu ketika mengatakan hal tersebut.
"Ga, gue kemarin nanya, dia cuman bilang rahasia, biar baliknya bisa surprise. Gue juga ga bisa nanya terlalu banyak, soalnya gue kenal banget sama dia. Kalau udah bilang gitu, dia tandanya ga mau di tanya lebih banyak, jadi gue sama Angel diam, biar nanti pas balik dia cerita ke mana aja," Aliya kembali berbicara panjang lebar kepada Brayen. "Tapi dia emang gitu kok kalau lagi setres. Emang dia ga ngomong sama lo? Lo lagi berantem sama dia?"
"Eh iya, biasalah," Brayen akhirnya memutuskan untuk menjawab dengan sedikit kekehan, demi menetralisir rasa gugupnya.
"Oh, jangan lama lama, Juwita itu orangnya setia, tapi kalau dia udah muak dengan sikap orang, biasanya dia akan menjauh, lama kelamaan dia bisa minta putus. Nah kalau sudah putus dia susah di ajak balikan," jelas Aliya.
"Nah sesi curhatnya besok aja lagi Bray, gue lagi mau garap garapan dengan bini' gue," terdengar suara Chandra dari ujung sana, membuat Brayen semakin sakit kepala.
__ADS_1