CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Brayen terbangun ketika sebuah hajat memaksanya untuk bangun. Brayen tiba tiba hendak membuang air kecil. Brayen tersenyum sebentar ketika melihat wanita yang kini menjadi istrinya tengah tertidur dengan wajah kelelahan. Brayen beranjak dari tempat tidur kemudian berjalan menuju kamar mandi, memenuhi hajatnya yang membuat nya terbangun di tengah malam.


Setelah menyelesaikan hajatnya, Brayen segera kembali kembali tempat tidur, matanya enggan terpejam. Brayen terus menyusuri wajah istrinya yang terlelap. Brayen mengecupnya dengan gemas. Adrenalin Brayen kembali meningkat di dalam dirinya. Terlebih ketika melihat tubuh mulus istrinya.


"Sayang kamu," Brayen mengecup bahu polos istrinya.


"Hm..." Juwita hanya menggeliat merespon sentuhan Brayen. Matanya tertutup sebentar kemudian kembali tertutup. Brayen tersenyum kembali membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Brayen mengusap lembut pipi Juwita. Rasanya tak percaya bahwa mereka telah menikah dan kini mereka telah bebas melakukan segalanya. Brayen menutup matanya kembali terlelap dan menyusul mimpi istrinya itu.


......................


Pagi menjelang Juwita terbangun, wanita itu terus mengerjapkan matanya beberapa kali, malas untuk beranjak dari tempat tidur. Rasanya lelah masih menghampirinya meski telah beristirahat setelah pacuan kuda semalam.


Juwita menutup matanya ketika mengingat kejadian semalam. Rasanya ia masih tak percaya dengan apa yang mereka lakukan. Juwita melirik wajah suaminya, yang tengah memeluknya dengan erat. Mereka telah menikah, mereka kini telah resmi. Semua itu semakin membuat wajah Juwita memerah karena malu, Juwita kembali menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Brayen membuka matanya perlahan, dan mendapati istrinya tengah menutup wajahnya dengan telapak tangan, Brayen tersenyum melihatnya. Brayen mengulurkan tangannya ingin melihat wajah istrinya yang tertutupi itu. Namun Juwita semakin mengeratkan tangannya, tak ingin wajah memerahnya terlihat oleh Brayen. Akhirnya Brayen perlahan bangun dan membuka tangan istrinya yang menutupi wajah cantik wanita yang kini sah secara agama dan negara. Brayen tersenyum ketika melihat wajah memerah Juwita.


"Kenapa di tutupi hm?" brayen tersenyum melihat wajah malu malu dari Juwita. Juwita terus menutup matanya, hingga Brayen mengangkat wajah Juwita dengan tangannya. "Ayo kenapa hm?"


"Malu," cicit Juwita dengan wajah yang semakin memerah, Brayen gemas segera mengecup kedua pipi Juwita.


"Kenapa malu? Apa kita melakukan sebuah kesalahan?" Brayen kembali memandang lekat wajah istrinya.


"Hm..." Juwita tak menjawab, malu rasanya mengatakannya. Sungguh pertanyaan Brayen semakin membuat Juwita malu.


"Lalu?" Brayen tersenyum menawan, kembali mengangkat wajah Juwita agar mata mereka bersitatap.

__ADS_1


"Soal semalam," ujar Juwita memberanikan diri memandang wajah Brayen, mata abu abu itu memandangnya tajam seolah menombak dan menikam dirinya hingga ke jantung, Nafas Juwita seakan tercekat jantungnya berdegup dengan kencang, Juwita hanya berharap suaminya itu tak mendengarkan nya. Dengan wajah bantal semakin membuat Juwita memerah, wajah Brayen semakin terkesan seksi dengan rambut yang berantakan.


"Oh... istri ku malu mengingat pacuan kuda semalam?" Brayen semakin menggoda istrinya yang masih terlihat cantik saat baru bangun tidur. Melihat wajah istrinya yang semakin memerah membuat Brayen terkekeh geli. "Sudah berapa banyak ya kita mengantarkan para calon Brayen junior?"


"Jangan begitu... aku malu," Juwita melipat bibirnya ke dalam, kembali menundukkan wajahnya, sungguh dirinya semakin maju, suaminya itu berhasil membaca pikirannya.


"Katu tahu sayang? Bahwa menurut penelitian, lelaki memiliki stamina yang lebih berpacu di lapangan pribadi ketika di pagi hari, dan juga seorang laki laki memiliki kualitas spe*rma yang bagus di pagi hari, dan itu sangat bagus untuk masa pem*bua*han,* Brayen mulai menyingkap selimut mereka, kemudian memandang lekat leher, hingga dada atas istirnya yang telah terlukis banyak tato tak permanen, yang di buat dalam semalam, dan bisa hilang hingga tiga hari.


"Kau mengarangnya," Juwita mencoba menutupi tubuhnya, membuat Brayen menggeleng.


"Tidak... aku telah mencarinya sebelum kita menikah," Brayen menyingkir kan tangan istrinya, kemudian mulai mengusap lembut tempat yang sensitif.


"Emh... a...am... amk... aku masih sangat lelah... ah..." Juwita bergumam terbata bata, matanya ia pejamkan, tangannya mengepal sprei.


"Aku akan bekerja kau hanya perlu mengeluarkan suara seksi mu saja," ujar Brayen, segera menyingkap kaki istrinya ke pundaknya, memulai pacuan kuda di arena pribadi miliknya. Dan pagi itu perpacuan panas kembali terjadi.


......................


Juwita menjentikkan rambut basahnya ke arah Brayen yang masih tertidur lelap. Hal itu membuat Brayen terganggu tidurnya. Brayen membuka matanya melihat Juwita yang tengah duduk di sampingnya dengan rambut yang basah, Brayen segera bangun dan tersenyum ke arah Juwita.


"Morning sayang," Brayen mengusap lembut wajah Juwita.


"Morning morning... ini siang tahu, sudah jam satu," ujar Juwita. "Mandi dulu sana."


"Iya sayang aku mandi ya, jangan kangen," Brayen meninggalkan kecupan di pipi kanan Juwita dan segera beranjak dari tempat tidur.

__ADS_1


Juwita hanya menggeleng melihat tingkah suaminya, pikirnya mana bisa ia merindukan jika hanya sebatas kamar mandi dan kamar tidur saja. Juwita menyiapkan pakaian untuk suaminya, baju suaminya masih berada di dalam koper, jadi Juwita segera mengangkat dan membukanya, meletakkannya di atas tempat tidur kemudian turun ke lantai dasar untuk makan siang. Juwita meminta maid menyiapkan makan siang untuk mereka, Juwita membantu maid menatanya.


Brayen turun dari kamar dengan menggunakan stelan baju hari hari, Brayen yang melihat Juwita tengah menyiapkan makan siang untuk mereka tersenyum. Brayen segera meminta para maid untuk meninggalakan mereka.


"Hm... aku belum sempat memeluk mu tadi," ujar Brayen mengecup lembut pipi Juwita.


"Ih jangan malu, malu di lihat maid," Juwita dengan wajah memerah meminta Brayen untuk melepaskannya.


"Hm... tidak mereka tidak ada," Brayen terus mengecup seluruh wajah Juwita.


"Ya sudah mari kita makan siang," ujar Juwita mencoba untuk melepaskan diri.


"Aku punya kejutan untuk mu," Brayen tersenyum memandang ke arah Juwita.


"Apa?" Juwita tampak penasaran, segera membalikkan tubuhnya menghadap Brayen.


"Tada... tiket ke Sydney," Brayen tersenyum cerah, namun Juwita mengerutkan keningnya bingung. Ia tak pernah tahu jika di Sydney ada kereta api Express seperti halnya di India.


"Memangnya di sana ada kereta seperti di India?" Juwita bertanya dengan wajah bingung.


"Ada dong sayang, kita akan buat anak lainnya di sana," goda Brayen.


"Apa sih, ayo makan. Pikiran mu itu terus," protes Juwita, memandang kesal ke arah Brayen. Namun Brayen dapat melihat semburat merah di pipi Juwita.


"Namanya sudah gol sekali, ya pengen terus dong sayang, apalagi proses nya sungguh enak luar biasa," ujar Brayen terkekeh sembari tersenyum melihat Juwita yang tengah salah tingkah.

__ADS_1


"Makam sana, nanti kita bilang sama kakek."


__ADS_2