CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Sarapan pagi


__ADS_3

Akhirnya sekian banyak drama yang di saksikan Brayen, jam kerja Juwita selesai, dan waktunya untuk Juwita kembali. Brayen yang melihat Juwita menyenderkan tubuhnya di kursi kebesarannya, sembari memijit pangkal hidungnya. Dapat melihat bahwa Juwita sangat lelah.


Kejadian tadi pasti hanya hal kecil yang di terjadi pada Juwita, Brayen sangat yakin bahwa Juwita setiap hari mengalami hal yang lebih besar.


Awalnya Brayen tak menyangka akan seperti ini kejadiannya, ia pikir kekasihnya itu hanya akan mengalami masa tanya jawab, layaknya yang ia saksikan kemarin saat pengobatan Jojo, namun hari ini membuktikan bahwa pekerjaan Juwita sangat berat.


"Sayang ayo duduk di sofa dulu, kita makan dulunya," Brayen berdiri di samping Juwita dan mengusap lembut pipi Juwita.


"Aku capek banget, mau tidur rasanya," ucap Juwita menikmati usapan lembut di wajahnya.


"Iya kita makan dulu, baru pulang, kamu pasti capek banget," Brayen mencubit gemas pipi Juwita.


"Hm," Juwita hanya mengerucutkan bibirnya.


"Hm?" Brayen bingung sendiri dengan jawaban hm Juwita. Namun saat memperhatikan wajah Juwita, dengan mata terpejam. Brayen tersenyum melihat tingkah Juwita yang ternyata udah setengah sadar.


"Aaaa," Juwita yang hampir terbuai, tiba tiba badannya seperti tengah melayang di udara.


Ternyata Brayen yang mengangkat Juwita, dan membawa gadis itu ke atas sofa. Brayen mendudukkan Juwita di sofa panjang, dan mendudukkan dirinya di samping Juwita.


"Kamu membuat ku terkejut. Huh... Untung jantungku tidak apa apa," ujar Juwita mengusap lembut dadanya.


"Hust diam sayang, ayo makan," ujar Brayan segera menyuapi Juwita.


"Makasih, kamu perhatian banget deh,"ujar Juwita tersenyum hangat.


"As well, karena kamu adalah yang terbaik," Brayen mengusap lembut kepala Juwita.


"Hm," Juwita mengangguk sembari mengunyah makanannya.


Ketika tengah asyik suap menyuap tiba tiba suster yang biasa membantu Juwita membuka pintu ruangan. "Dokter mau... Eh ada pacarnya, lupa saya," suster itu cengengesan sendiri, wajahnya sedikit memerah, karena melihat kemesraan di hadapannya. "Ya sudah saya permisi."


Seusai makan, Brayen segera menggandeng tangan Juwita untuk pulang. Beberapa suster dan dokter tersenyum senyum sendiri melihat kemesraan yang di tampilkan sepasang kekasih tersebut.

__ADS_1


Brayen segera membuka mobilnya untuk Juwita, setelah menutup pintu, Brayen berlari ke bangku sebelah. Brayen tersenyum ketika melihat Juwita menyenderkan punggungnya di kursi penumpang, Brayen sedikit mengusap kepala Juwita. Brayen menghidupkan mesin dan segera melakukan mobilnya.


Brayen menghentikan mobilnya ketika jalurnya mendapatkan lampu merah, "Sayang tadi kamu setiap hari menghadapi yang seperti itu terus ya?" Brayen mengernyitkan keningnya, pasalanya Juwita tak menjawab. Brayen mengalihkan pandangannya ke kursi penumpang.


"Hm, rupanya ketiduran. Pasti capek banget ya?" Brayen memandang wajah Juwita dengan lekat. Meskipun Brayen sudah terbiasa melihat wajah Juwita saat tertidur, namun entah kenapa, tetap saja Juwita terlihat sangat cantik. "Aku beruntung sekali memiliki mu, tapi apa kau akan selalu bersama ku? Padahal banyak laki laki yang sempurna untuk mu di luar sana."


Brayen tersenyum, mengingat betapa kecilnya kepercayaan dirinya. Brayen mendekat dan mengecup puncak kepala Juwita.


Pip... Bunyi klakson yang nyaring dari area belakang membuat Brayen terkejut, Brayen dapat melihat pergerakan tiba tiba Juwita, menandakan gadis itu sedikit terganggu, Brayen mengusap lembut kepala Juwita, Brayen segera kembali mengendarai mobilnya.


Brayen membuka pagar rumah Juwita yang terbilang mewah, kemudianl kembali ke mobil, masuk ke dalam pagar. Brayen kembali menutup pagar, berlari menuju teras rumah untuk membuka pintu utama. Laki laki itu kemudian membuka pintu penumpang, dan memandangi wajah kekasihnya, kemudian mengangkat tubuh Juwita, ke dalam rumah hingga ke kamar. Brayen kembali ke ruang tamu, mendekat ke arah pintu yang tadi tak sempat ia kunci.


Brayen melepaskan jas kebesaran Juwita, sepatu, kaus kaki. Brayen segera masuk ke kamar mandi, dan keluar membawa handuk basah lalu menyeka lengan, kaki, leher, dan wajah Juwita dengan handuk basah.


Setelah selesai, Brayen beranjak pergi ke kamar mandi, membersihkan diri, sekaligus menenangkan si dedek Bray yang telah bangun. "Sabar sabar nanti ada masanya, dasar Chandra lak*nat," umpat Brayen.


Brayen kembali ke kamar dan melihat Juwita yang masih terlelap. Brayen membaringkan tubuhnya mengecup puncak kepala, jidat kedua mata, pipi, hidung, dagu, dan terakhir. bibir Juwita. Brayen berbaring dan memeluk Juwita.


Pagi harinya, Brayen bangun terlebih dahulu, mengapal lafal Al-fatihah, dan doa sholat subuh. Hanya ini yang di miliki Brayen, tidak ada yang lain.


Juwita tak kunjung bangun membuat Brayen mendekati Juwita, dan mencoba memeriksa keadaan Juwita, namun tampaknya baik baik saja, bahkan nafasnya teratur. Brayen kembali berbaring, dan memeluk Juwita. "Kamu pasti kecapean banget, kita bangun terlambat saja ya sayang." Juwita merapatkan tubuhnya merasakan hangatnya pelukan dari Brayen.


...----------------...


Juwita terbangun dengan keadaan di peluk Brayen. Membuatnya tersenyum hangat, Juwita menyusuri wajah Brayen dengan telunjuknya.


"Sayang banget kayaknya," ujar Brayen meraih jari jemari tangan Juwita, yang mengusap wajahnya, kemudian mengecup nya satu persatu.


"Apaan sih," ujar Juwita dengan wajah yang memerah. "Aku mau mandi dulu."


Juwita segera bangun dengan wajah memerah, Juwita menuju kamar mandi. Juwita sedikit menutup pintu kamar mandi dengan keras, sontak saja membuat Brayen terkekeh.


"Idih malu malu," Brayen segera membuka selimut, dan turun dari tempat tidur. Brayen melangkah menuju kamar mandi, dan mengetuk pintu. "Aku akan memesan makanan untuk kita."

__ADS_1


"Aku kan ada," Juwita berteriak dari dalam kamar mandi.


"Kamu capek," ujar Brayen, kemudian melangkah keluar.


Brayen segera mengambil ponselnya, untuk memesan makanan. Brayen melangkah menuju kamar tamu, membersihkan dirinya.


Hanya butuh beberapa menit Brayen telah selesai membersihkan tubuhnya, Brayen segera keluar menuju pagar rumah, setelah kurir makanan menelfon nya.


"Wit ayo makan," ujar Brayen setelah meletakkan bubur ayam kesukaan Juwita di mangkok.


"Iya sebentar," ujar Juwita segera keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan kaus oblong, dan celana bokser. Juwita tersenyum ketika melihat bubur ayam kesukaannya ada di atas meja.


Namun ekspresi Brayen berubah ketika melihat Juwita mengenakan bokser di atas lutut, Brayen mendekat ke arah Juwita dan mengecup kening Juwita. "Lain kali kalau ada cowok lain di rumah, selain aku jangan pakai pakaian seperti ini ya," Brayen mengusap lembut pipi Juwita, dan memintanya untuk duduk di kursi.


"Siap," ujar Juwita tersenyum manis.


Baru saja Brayen menyuap bubur ayam tersebut, tiba tiba ponsel Brayen berbunyi. Brayen segera mengeluarkan ponselnya yang berada di saku celana miliknya.


"Halo," Brayen mengangkat telfon dan membesarkan suaranya.


"Maaf tuan, tadi tiba tiba ada klien yang meminta untuk bertemu," ujar Indri dari balik telfon.


"Hm, jam berapa?" Brayen kembali menyuapi dirinya makan, sembari melirik Juwita yang tampak masih asyik dengan bubur ayam nya.


"Jam sepuluh tuan," ujar Indri.


"Iya aku akan ke asana," Brayen segera mematikan ponselnya, kemudian mengusap lembut kepala Juwita. "Aku ke kantor nanti ya, kamu nanti siang datangnya pakai taksi saja, biar aku yang mengantar kamu ke rumah sakit." Juwita mengangguk tersenyum ke arah Brayen.


Hai guys maaf kemarin tidak bisa up, karena othor sibuk, ada pesanan buat kue.



Sekian keterangan dari othor, sampai jumpa di episode selanjutnya. Jangan lupa like komentar, beri hadiah, dan vote ya, biar othor semangat terus.

__ADS_1


__ADS_2