
^^^Brayen kau tidak apa apa kan? Kenapa perasaan ku menjadi tidak enak?^^^
Juwita menjadi resah sendiri, meminta di antar untuk kembali ke kamarnya. Juwita segera mencomot ponselnya, dan menelfon Brayen.
Brayen melihat ponselnya menyala, menampakkan nomor Juwita, hanya menggigit bibirnya. Brayen sangat ingin mendengar suara Juwita saat ini, namun ia hanya bisa menatap ponselnya. Ia tak bisa menggeser tombol apapun. Telfon dari Juwita terhenti, membuat Brayen menghela nafas kasar nya.
^^^Kenapa baru sekarang? Aku sangat merindukan mu, kenapa hal ini bisa terjadi?^^^
Tak lama kemudian pesan masuk ke dalam ponselnya, Brayen semakin memejamkan matanya, menggigit bibirnya.
"Ya tuhan selamatkan aku, aku berjanji jika dari hambah mu yang mana saja yang menyelamatkan ku, maka aku akan masuk ke dalam agamanya," teriak Brayen putus asa, hanya kepada Tuhan saat ini ia bisa berharap. Ponselnya telah rusak, tanda tanda asistennya tak juga ada.
"Wit bagaiman aku bisa keluar dari sini, aku merindukan mu, bagaiman jika aku tidak keluar?" Brayen mulai putus asa.
Brayen ingat Juwita sering menyebut nama Tuhan Juwita. "Ya Allah ya Tuhan ku..."
Do'a itu terlintas di pikiran Brayen, ketika melihat Juwita memanjatkan do'a nya.
"Ya Allah selamatkan hambah mu," ucap Brayen tiba tiba. Brayen hanya tahu itu, ia selama ini hanya dekat dengan Juwita.
Tiba tiba Brayen mendengar suara orang orang yang tengah berbincang, dalam bahasa yang tak ia mengerti sepenuhnya.
"Ada orang di atas? Tolong... tolong saya," teriak Brayen dari bawah sana.
"Dangar kada? Ada urang, di sekitar sini," terdengar suara laki laki yang semakin jelas.
"Hen lah di pandiri pun, kada jua handak mandangar, kadada urang, handak ngapai jua lah kasini," ucap satu nya, Brayen pikir orang itu terdengar berdebat.
"Hai siapapun di atas sana tolong saya, saya jatuh di lubang," teriak Brayen sekuat tenaga.
"Wai, dangar kada'? Ada urang bapadah minta tolong," ujar satunya lagi memasang telinga.
"Ada orang tolong saya, saya di bawah," teriak Brayen sekuat yang ia bisa.
"Hen, kada dangar jua?" ucap salah satunya.
"Eh, iya lah, kena hulu, cari sumber suara gan orang orang bapadah," ucap yang satunya lagi.
"Astaghfirullah Masya Allah, urang Madian, kasini hulu', bule Dian," ucap salah satunya uang memandang ke arah bawah, dengan menggunakan senter.
"Kahena hulu, aku nelpon bos," ucap yang satunya segera mengambil ponselnya.
"Handak batelpon bos pulak, tolong dulu, kada bisa aku manolong sendirian," protes satunya.
Brayen mendengar pertengkaran yang sama sekali tak di mengerti nya, hanya ada beberapa kata yang di mengerti nya.
"Jadi menolong tidak?" Brayen memandang jengah kedua orang yang berada di atasnya. Kedua orang itu tampak masih sibuk bertengkar.
"Ah iya lupa Ulun, bapandir awan hinyak kadadak habis habisnya," ujar salah satunya.
"Hah?" Brayen menghela nafas kasarnya, ingin marah tapi dirinya berada di posisi bawah, benar benar di bawah.
"Hen lah baterai ku habis," ucap salah satunya, hendak mengulurkan tangannya.
"Tinggi jua leh, kada bisa, cari batuan sana," ucap yang tengah memegang senter tersebut.
__ADS_1
Brayen tak dapat melihat secara langsung wajah keduanya, pasalnya sangat gelap dari tempatnya.
"Ha ada urang," ucap yang tenagah memakai senter. "Awan lampu, kawan mu leh bule'?"
"Tolong panggil yang bernama Indri," ucap Brayen.
"Wai cewek, kahinak huluk," laki laki itu terlihat samar menarik nafasnya dalam dalam.
"I N D R I!"ucap kedua nya serentak. Seketika semua rombongan terhenti, dan berjalan ke arah sumber suara.
"Hah kalian siapa?" terdengar suara Indri dari atas sana.
"Indri saya ada di bawah," ucap Brayen dari bawah lubang.
"Hah tuan, bagaiman mungkin. Kami mencari anda dari tadi," ucap Indri panik, segera meminta tim pencari untuk mengeluarkan bantuan.
Setelah berhasil keluar, Brayen segera di papah oleh beberapa orang untuk keluar dari hutan tersebut, di ikuti oleh kedua orang yang tengah berjalan di belakang rombongan, di belakang Indri.
"Indri," salah satunya memanggil nama Indri. Membuat wanita itu memandang ke arah kedua pemuda tersebut.
"Ah kalian yang menemukan tuan kan? Mari ikut saya," ucap Indri sopan.
"Weh setia awan bos leh," ucap salah satunya.
"Bukan ini sudah akhir bulan, nanti gaji saya tidak di bayar lagi," jujur Indri, membuat kedua pemuda tersebut tertawa.
Sesampainya mereka di penginapan, Brayen segera di turunkan di lobi dengan keadaan yang sungguh sangat buruk.
"Tuan saya panggilkan dokter ya," ujar Juwita sopan.
"Sudah di ringkus tuan, dan korbannya sudah di bawa ke rumah sakit, saat ini tengah kritis, kami juga telah menghubungi keluarganya. Dan mengurus ke berangkatkan wanita itu, agar si Jogjakarta saja di rawatnya," ujar Indri meruntuhkan satu persatu.
Seluruh karyawan dan pengunjung terkejut melihat keadaan Brayen, yang sangat memprihatikan. Mereka tak tahu apa apa, pasalnya Juwita melakukan pencarian secara diam diam, takut jika nyawa bosnya akan dalam masalah.
"Oh ya ganti ponsel ku, pasalnya sejak tadi Juwita menelfon ku, besok segera adakan rapat besar besaran," ujar Brayen melihat ponselnya yang sejak tadi terus bergetar, menampakkan nama Juwita.
^^^Hm... Sekarang saja begini, nyawa berbahaya pun, yang di ingat dan di khawatirkan pacar nya, padahal jelas jelas pacarnya tidak apa apa. ^^^
Umpat Indri, di dalam hati. "Baik tuan," ujar Indri segera menelfon anak buahnya yang berharga di depan penginapan.
"Oh ya kalian berdua terimakasih banyak, kalau bukan kalian pasti saya masih berada di dalam lubang tersebut," ujar Brayen tersenyum. Kedua pemuda tersebut ikut mengangguk.
"Ih kadapapa, kebetulan kami lewat."
"Kalian mau apa, sebut saja, nanti kalau bisa saya akan kabul kan," ujar Brayen.
"Hah lah benar? Kada babual kan?" Brayen mengernyit ke arah Indri.
"Tuan tidak bohong kan?" ujar Indri.
"Ah tidak," jawab Brayen.
"Nah mamak kami sakit, handak berobat kadada, eh tidak ada uang," ujar salah satunya.
"Ah, rumah kalian di mana? Terus kalian kenapa malam malam ke hutan?" Brayen memandang ke arah keduanya.
__ADS_1
"Kami mencari kelinci hutan, sama ayam hutan, untuk makan," ujar salah satunya. "Rumah kami di ujung jalan sana, yang kayu."
"Hah rumah kalian itu? Yang sebelum belokan di sebelah sana kan?" Tanya Brayen memandang keduanya dengan sangat serius.
"Iya..." ucap salah satunya dengan wajah malu.
"Kalian kerja?" tanya Brayen lagi.
Sementara Indri sibuk menjemput dokter suruhannya, untuk membalut luka tuannya.
"Tuan dokter sudah ada," ujar Indri.
Brayen hanya mengangguk. "Jawablah."
"Kami buruh bangunan, tapi uangnya kami hemat untuk biaya berobat mamak."
"Tunjukkan rumah kamu malam ini, biar anak buah saya yang membawa mama kalian ke rumah sakit, lalu mulai besok kalian bekerja di sini sebagai office boy, mau? Gajinya dua juta perbulan," ujar Brayen.
"Hah babanar tuan? Ya Allah terimakasih banyak, ya Allah," keduanya melakukan sujud syukur, di hadapan Brayen. Bukan untuk menghormati Brayen namun untuk mensyukuri nikmat yang di berikan kepadanya.
"Tuan ini ponselnya," ujar Indri kembali.
"Indri carikan saya ustadz di sekitar sini, besok siang saya ingin bertemu dengannya," ujar Brayen, kemudian meminta salah satu pengawalnya untuk memapahnya ke kamar.
Sementara Indri memenuhi permintaan tuannya, dan mengurus kedua kakak dan adik tersebut. "Ayo ikut malam ini kita urus mama kalian, terus besok kamu masuk pagi, nah kamu masuk malam."
"Terimakasih banyak," ujar keduanya.
"Oh ya bawa pakaian kalian dan ibu kalian sekalian, serta surat surat penting kalian," Indri segera membuka pintu mobil.
"Untuk apa?"
"Besok rumah kalian akan kami renovasi," jawab Indri.
"Ya Allah baik nya, kami kada minta kok. Tapi kalau di kasih Alhamdulillah," ujar salah satu laki laki tersebut.
"Aku Juwita," Juwita mengulurkan tangan menjabat kedua orang tersebut.
"Madiana," "Ayen."
"Ah kalian jangan tersinggung dengan sikap tuan, yang lupa memperkenalkan namanya, bukannya dia tidak ramah, tapi dia khawatir dengan pacarnya yang terus menelfon nya," ujar Indri berbasa basi.
Sementara di penginapan, Brayen baru saja selesai membersihkan dirinya dan Bebe lukanya. Brayen segera melepas kartu ponselnya yang telah retak, kemudian memasangkannya ke nomor lain.
Brayen sedikit meringis, ketika melihat wajahnya penuh plester, dan terdapat beberapa perban di kaki dan juga lengannya.
Brayen segera memindahkan data datanya. Setalah selesai Brayen segera mencari kontak Juwita, dan menelfon nya dengan sistem video.
"Halo," terdengar jelas nada khawatir Juwita.
"Kau belum tidur? Kenapa terdengar sangat khawatir? Kau sudah makan?" Brayen memberikan pertanyaan beruntun. Brayen tersenyum melihat wajah Juwita yang terlihat begitu khawatir.
"Aku... aku mengkhawatirkan mu, kau tak apa?" Juwita tampak malu malu di ujung sana. "Wajah mu kenapa?" Juwita tampak memperhatikan layar yang menampakkan wajah Brayen.
"Aku baik baik saja, ini tadi hanya ada kecelakaan kecil, tapi bukan apa apa," ujar Brayen tersenyum.
__ADS_1
^^^Wit bolehkan aku merindukan mu, bukan sebagai teman ataupun sahabat?^^^