CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter

CEO Belok Kesayangan Ibu Dokter
Isi perjanjian


__ADS_3

Juwita mulai membuka lembaran isi perjanjian pacaran kontrak mereka, kemudian mulai membacanya.


...*Saya yang bertanda tangan di bawah ini:...


pihak pertama.


Nama: Brayen Lyansi.


Umur : dua puluh sembilan tahun.


Pihak kedua.


Nama: Juwita


Umur: ....


Dengan sadar dan tanpa paksaan, berjanji untuk membuat masa kontrak berpacaran selama enam bulan lamanya, dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut.



Tidak boleh ikut campur urusan pribadi.


Tidak boleh jatuh cinta.


Karena pihak pertama merupakan pasien pihak kedua, maka pengobatan pun hanya akan di bayar separuhnya saja.


Pihak kedua harus membantu pihak pertama menyingkirkan beberapa pemberitaan negatif di media, tentang pihak pertama.


Pihak kedua harus mengantarkan makan siang untuk pihak ke dua.


Pihak pertama maupun pihak kedua, dilarang keras berdekatan atau memiliki hubungan, dengan lawan jenis, maupun sesama jenis.

__ADS_1


Perjanjian ini tidak boleh di ketahui oleh siapa pun.


Jika ada salah satu pihak, baik pihak pertama maupun pihak kedua, melanggar salah atau syarat yang tersebut, maka perjanjian ini secara otomatis di bubarkan.



Sekian ini surat perjanjian ini.


Brayen Lyansi. Juwita.


Tanda tangan. Tanda tangan*


"Berarti kita harus tampil di publik dong?" Juwita memandang ke arah Brayen.


"Tidak juga, kita harus terlihat menyembunyikan hubungan, namun juga harus terhendus oleh media," jelas Brayen, membuat Juwita mengangguk ngangguk.


"Hm, ok. Berarti aku tinggal menambah umur ku, dan juga nama panjang ku," ucap Juwita segera menulis umur, dan nama panjangnya.


"Memangnya berapa umur mu?" Brayen memandang ke arah Juwita penasaran.


Bagus juga namanya. Lirih Brayen di dalam hatinya.


"Ok perjanjian kita di mulai malam ini," Juwita segera meletakkan pena di atas kertas, tepat setelah dirinya menandatangi perjanjian tersebut di atas materai enam ribu.


"Sip deal," mereka segera berjabat tangan. Dengan isi pikiran masing masing.


Juwita dengan kepuasan akan terlepas dari bayang bayang perjodohan bisnis, dari keluarga mamanya. Sementara Brayen dengan bayang bayang akan keluar dari berita yang menyangkut tentangnya.


Tangan mereka masih saling berjabat, mata mereka saling bertemu, senyum saling tersungging kan, namun ada sesuatu yang berbeda dengan hati.


Aku tak akan pernah jatuh cinta dengan mu. Mereka berkata dalam hati, tat kala mata mereka masih saling beradu pandang.

__ADS_1


"Sudah kan? Kau kembali sana ke apartemen mu," ucap Juwita melepaskan jabat tangan mereka.


"Enak saja, aku akan menginap di sini, aku mengantuk sekali. Ini sudah sangat larut malam," ucap Brayen berdiri merenggangkan tulang punggung nya.


"Ya sudah, kau tahu bukan kamar tamunya? Matikan lampu sekalian," Juwita segera meninggalkan Brayen menuju kamarnya.


Brayen diam memperhatikan punggung Juwita, yang segera menghilang dari balik pintu kamarnya, Brayen kemudian melangkahkan kakinya menuju saklar lampu, dan mematikannya. Kemudian berjalan menuju kamar tamu. Brayen segera membersihkan diri, dan memutuskan hanya mengenakan jubah mandi saja, dirinya tak memiliki pakaian di sini. Brayen mengambil ponselya dan menghubungi sekertarisnya untuk mengantarkan pakaian besok pagi, ke rumah Juwita. Brayen kemudian menutup matanya untuk terlelap.


......................


Pagi telah tiba, Brayen membuka matanya, Brayen segera mengirimi kembali pesan kepada sekertaris nya agar lebih cepat. Brayen kemudian segera bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Brayen kembali keluar dengan hanya menggunakan jubah mandi, berjalan menuju dapur Juwita.


Perutnya tiba tiba lapar, ketika mencium aroma masakan Juwita. Brayen mendekat ke arah Juwita dan berdiri tepat di samping kompor, Brayen menyandarkan tubuhnya, bersidekap di samping Juwita.


Brayen memperhatikan penampilan Juwita, dari atas hingga ke bawah. Pakaian putih, dengan rok selutut, pas di badan. Tepat sekali, menampakkan lekuk tubuh dari Juwita, yang memang indah di mata. Diam diam Brayen mengakui itu. Entah kenapa lekuk tubuh Juwita begitu menggoda matanya untuk memandanginya terus. Terlebih apron di tubuhnya, justru semakin membuat Juwita tampak seksi dan cantik.


Tidak tidak tidak Brayen! Ingat kau tidak boleh jatuh cinta, mengagumi nya saja kau tidak boleh. Brayen membantah isi pemikirannya sendiri. Lagian kan aku belum sembuh, masa secepat ini? Chandra saja butuh waktu yang lama.


"Selamat pagi pacar pura pura ku, jangan jatuh cinta, berat kalau tidak di balas," goda Brayen, membuat Juwita hanya menggeleng. Brayen mencoba berbagai cara untuk menepis pemikirannya sendiri.


"Tidak usah banyak menyapa, sana pergi ke meja makan," Juwita tak mengalihkan pandangannya sedikitpun, Juwita terus asyik memasak omlet telurnya.


"Iya, kenapa kau galak sekali menjadi wanita?" Brayen bersungut kesal dan menegakkan tubuhnya.


Mata Juwita membulat ketika melihat Brayen hanya mengenakan jubah mandi, pemandangan indah seketika menyapu mata Juwita. Pandangan Juwita ternodai dengan pemandangan indah dari perut kotak kotak ala Brayen.


Sadar Juwita, jangan terpesona dengan pasien belok mu, Juwita segera menggelengkan kepalanya, menepis semua pemikirannya.


"Iya memangnya kau? Jadi lelaki kok lembut sekali," gumam Juwita sembari mendengus kesal.


"Cerewet kau," kesal Brayen segera meninggalakan Juwita dengan segala pikiran anehnya.

__ADS_1


"Kau yang cerewet, apa di pikir rumah ku ini rumah makan?"


Guys jangan lupa like, dan komentar ya. Karena hal itu memberikan semangat kepada othor untuk rajin update, kalau perlu beri dukungan dan vote ya guys.


__ADS_2