
Juwita terbangun, tepat pukul lima subuh. Brayen saat ini tengah memeluknya posesif, seolah mereka adalah sepasang kekasih. Juwita menggeleng, ia mengerti betul dengan perasaan sakit yang di alami oleh Brayen. Dulu ia juga pernah mengalaminya, terlebih jika ia mendengar dari cerita Brayen, bahwa dirinya tak memiliki siapa siapa. Wajar saja jika Brayen terpukul, terlebih mungkin saja Brayen dulu telah menjadikan Chandra sebagai sandaran. Juwita menggeleng, ikut meratapi nasib pasiennya satu ini.
Juwita segera bergegas ke kamar mandi, kemudian menyiapkan minuman hangat, dan obat pereda pusing. Pasalnya jika habis minum minuman keras, maka akan menimbulkan pusing sebagai efek sampingnya. Tak lupa Juwita menyiapkan sarapan untuk mereka, untung saja hari ini Juwita tidak ada jadwal di rumah sakit, jadi dirinya dapat bersantai di rumah, sembari menunggu pasien luar biasanya sadar dari tidur.
Namun ada yang aneh dengan dirinya, pasalnya bibirnya terasa bengkak, Juwita sejak tadi berpikir apa dia alergi dengan lipstik yang baru saja ia beli kemarin? Atau bibirnya di gigit semut? Juwita masih memikirkannya, sembari memotong motong alat dan bahan untuk memasak nasi goreng.
Brayen terbangun dan mendapati dirinya tertidur di tempat asing, Brayen berfikir keras memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing. Brayen menggeleng, kemarin dirinya terlalu banyak menenggak alkohol. Brayen kembali mencoba mengingat potongan potongan cuplikan tadi malam. Ah, ternyata dokter jiwanya yang membawa dirinya ke kamar ini, tapi ini milik siapa? Brayen tak mengingatnya lagi. Brayen segera bangun, dan berjalan terseok-seok menuju kamar mandi.
Brayen kemudian mencoba membuka pintu kamar yang di tempatnya, melihat sekeliling, ternyata itu di rumahnya Juwita, di samping kamarnya ada piguran Juwita, Aliya dan kakek Rio, yang tengah tersenyum. Saat itu Juwita mengenakan toga wisuda. Riasannya menambah kecantikan wanita itu, Brayen diam diam menyadari hal itu.
Brayen segera mencari pemilik rumah, mencarinya di setiap ruangan, hingga akhirnya terdengar suara minyak panas, yang tengah menggoreng sesuatu, Brayen tahu itu pasti dari dapur, meskipun Brayen cukup tak yakin ia akan menemui pemilik rumah tersebut.
Ternyata benar Juwita saat ini tengah asyik menggoreng sesuatu yang Brayen tak ketahui. Brayen memilih duduk di bar mini, yang tepat berhadapan ke arah tempat memasak Juwita, yang tengah asyik memasak, diam diam Brayen kembali memuji gadis di hadapannya.
Si al, kenapa dia terlihat menggemaskan sih?
Brayen diam diam melirik ke arah baju kaus, yang sedikit kebesaran, di apit oleh apron abu abu, sementara bawahannya hanya mengenakan celana pendek.
Lucu, Brayen diam diam tersenyum melihat pakaian gadis tersebut.
Setelah selesai memasak, Juwita segera berjalan berbalik arah, hendak mengambil dua piring, namun dirinya dikejutkan dengan kehadiran Brayen di mini bar miliknya.
"Lailaha illallah... Brayen kau sedang apa di situ? Kau membuatku terkejut," protes Juwita, untung saja dirinya tidak memiliki penyakit jantung, jika ia, dirinya akan sangat kesulitan.
"Sorry ga bermaksud," Brayen sedikit menggaruk tengkuknya tidak enak. "Lagi masak apa? Sepertinya menggugah selera," Brayen mengalihkan perhatian Juwita.
__ADS_1
"Oh ya sudah, aku harus menata dulu," Brayen hanya mengangguk, mengulurkan tangan untuk membantu Juwita.
"Sip makasih," tidak apa Juwita tersenyum cengengesan,
Mereka mulai bercerita tentang banyak hal, mereka sama sama merasa tidak kesepian lagi. Setelah sarapan, bunyi ponsel mengejutkan Brayen dan Juwita.
"Halo," Juwita segera mengangkat telfonnya dan menghubungi orang yang tadi menelfon nya.
"Halo Wit tolongin gue," ucap Aliya dengan sedikit terburu bur meraih, ia harus menekan suaranya.
"Hah ponsel mu di mana Al?"
"Di tahan kakek, Chandra ketahuan mantan belok, kakek marah besar. Dan mau batalin pernikahan gue sama Chandra," ucap Aliya di seberang sana.
"Iya, iya terimakasih ya, gue tutup dulu, soalnya takut ketahuan kakek," seketika sambungan terputus, menandakan Aliya benar benar memutuskan telfon merek.
Brayen memandangi Juwita dengan penuh tanda tanya. Juwita terlihat sedikit panik, namun tetap mencoba menenangkan diri. Lagi lagi dirinya terpana melihat cara gadis itu menenangkan dirinya.
"Al kenapa?" Brayen memberanikan diri untuk bertanya ketika Juwita tampak lebih baik.
"Chandra ketahuan dengan kakek, dan sekarang kakek mengancam mereka untuk membatalkan pernikahan mereka, padahal sudah di depan mata," Juwita sedikit lesu ketika mengatakan hal tersebut.
Brayen juga seketika terkejut, entah dirinya harus senang atau sedih, yang jelas kini dirinya punya kesempatan. Namun dari sudut hatinya yang terdalam juga ingin sembuh, entah apa sebabnya. "Jangan berfikir macam macam, kau tahu selangkah kau ingin bermacam macam, maka tinga langkah aku akan menggagalkan nya. Ingat Chandra kini telah sembuh, dan sekarang kau yang akan ku sembuhkan."
Brayen berdecik mendengan ancaman dari Juwita, sebenarnya dirinya juga ingin sembuh, namun perjalanan panjang masih jauh di depan mata. Brayen merutuki isi pikirannya, dirinya lupa bahwa dokter di hadapannya itu seperti peramal ulung, yang tahu semua isi kepala dirinya.
__ADS_1
"Iya iya, kau tenang saja," ucap Brayen mendengus kesal.
"Sekarang kita bersiap siap untuk ke rumah kakek, kita akan menjelaskan semua kepada kakek," ucap Juwita memerintah, membuat Brayen berdecik tak suka.
"Aku? Aku sedang tidak bersemangat, kan aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan mereka. Kau memintaku untuk melupakan Chandra bukan? Nah sedang aku lakukan," ucap Brayen enteng menggedikkan bahunya.
"Ada! Pokoknya kau harus membantu ku, harus!" Juwita tak ingin di bantah kali ini. Ini mengenai sahabatnya, tentang Aliya, tentu saja dirinya tidak akan tinggal diam.
"Tidak, pokoknya aku mau bekerja, aku tidak ada waktu untuk itu," Brayen meninggalakan meja makan, berdiri hendak menelfon managernya.
"Jangan berbohong kau, ini jelas jelas hari sabtu, mana ada pekerja kantoran yang bekerja," Juwita tersenyum puas ke arah Brayen. Dirinya memang, karena memang bagi kantoran. Brayen merutuki kebodohannya.
"Aku tak mau! Sudah malas aku, tak ada gunanya aku mengurus yang seperti itu," ucap Brayen kembali hendak melangkah.
"Kau jangan keras kepala begini Brayen, begini mereka bisa saja batal menikah, kau tahu ini akan sangat menyakitkan jika berada di posisi mereka," ucap Juwita, mencoba membujuk Brayen agar membantu mereka.
"Ayo lah, aku akan lebih lebih keras lagi membantumu, hingga kau sembuh total, jika perlu aku akan membantumu mencarikan jodoh, yang tidak mempermasalahkan masa lalu mu," ucap Juwita kembali mencoba membujuk Brayen.
"Tidak aku tidak mau berurusan lagi dengan mereka," kekeh Brayen tetap melangkah.
Juwita segera berlari menyusul Brayen, dan menggenggam tangannya. "Kali ini saja," Brayen tanpa sengaja melihat mata Juwita, mata imut itu menampakkan kesedihan di wajahnya. Brayen tak tega sendiri di buatnya.
"Iya, iya, ya sudah kita ke sana."
Volt guys biar semangat updetnya, jangan lupa like komentar dan favorit ya.
__ADS_1